Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Minute Maze


__ADS_3

...BAB 12...


...MINUTE MAZE...


...a novel by youmaa...


...❝Kamu selalu nampak bersinar seperti ini di kegelapan yang gelap.❞...


...Happy Reading♥...


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


Shaula ingin segera sampai ke dalam kelasnya, karena dirinya hampir terlambat. Ketika dia melewati persimpangan, ada sesuatu yang menghambat jalannya.


BRUK!


Shaula yang baru saja melewati percabangan jalan, mendadak menabrak seseorang—lebih tepatnya adalah seseorang yang menabraknya.


"Aish, kenapa kamu menabrakku?" sungut Shaula seraya memunguti bukunya.


"Kamu yang tidak melihat jalan."


Shaula langsung mendongakkan tatapannya ke arah sang lawan. Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah sosok El Nath yang berdiri menjulang dengan kedua tangan yang tenggelam disaku celananya.


El mengulurkan tangannya untuk mengambil buku yang berada disamping kakinya. "Kamu selalu saja galak padaku," katanya.


Shaula langsung beranjak dari posisinya yang terjongkok. Dia mendongak ke arah dimana buku itu berada ditangan El—dia meninggikan buku miliknya.


"Jangan menggangguku, pangeran Regulus. Aku sama sekali tidak berniat untuk hal konyol itu," kata Shaula, ketus.


El semakin meninggikan buku yang saat ini dipegangnya ketika Shaula yang hendak mengambilnya. Karena hal tersebut, sang empu langsung mendang tulang kering laki-laki itu.


Hal tersebut, membuat El mengaduh kesakitan.


"Hei, apa yang kamu lakukan!" sungut El, ketus.


Shaula menatap sang lawan bicara itu dengan tatapan datar. "Menurutmu?" sambarnya dengan salah satu alis yang naik.


El menatap Shaula dengan pandangan yang menyempit karena menahan rasa sakit dikakinya. Tendangan gadis ini memang tidak main-main—kuat juga ternyata.


Shaula langsung meninggalkan El tanpa mengatakan hal apapun lagi.


GREP!


Langkah gadis itu mendadak terhenti ketika El yang seenak jidat mencekal pergelangan tangannya. Pandangannya saat ini sepontan terlempar ke arah sang lawan bicara dengan tajam.


"Lepas," desis Shaula.


Apakah terjadi sesuatu pada laki-laki ini? Lihatlah, sekarang dirinya justru mencekal tangan Shaula secara tiba-tiba seperti ini.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," kata El.


Shaula menepis cekalan tangan El dengan kasar. "Aku tidak punya waktu," singkatnya.


Setelah mengatakan hal tersebut, Shaula langsung meninggalkan tempat. Ingin rasanya dia mengutuk laki-laki itu menjadi katak atau tikus.


"Jika aku menyukaimu, bagaimana?" seru El dengan suara lantangnya.


DEG!


Shula tersentak, sehingga langkahnya mendadak terhenti ditempat. Sepontan dia membalikkan badan dengan kening yang terlipat.


"Jangan bergurau, aku—"


"Aku serius," potong El.


Shaula terkejut untuk yang kedua kalinya. Namun haruskah dirinya mempercayai apa yang dikatakan oleh laki-laki ini?


Haruskah?


"Kamu pasti gila," desis Shaula.


"Aku—"


"El Nath."


Arah tatapan Shaula sepontan terlempar ketika telinganya tidak sengaja mendengar suara. Ternyata pelukunya adalah Soobin yang baru saja datang dengan air muka yang datar.


Dia merasa jika Soobin datang tepat waktu.

__ADS_1


Soobin menatap Shaula sekilas, lalu dirinya langsung menarik gadis itu ke belakang punggungnya. Karena hal tersebut, membuat sang empunya terkejut dengan tingkah laki-laki yang ada didepannya saat ini.


"Apa tadi yang kamu katakan?" tanya Soobin, dingin.


El menghela napasnya gusar, lalu mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas. "Ini urusanku dengan Shaula, kenapa kamu menjadi ikut campur?" desisnya.


"Karena aku berhak tahu," balas Soobin.


El tergelak karena perkataan yang baru saja Soobin lontarkan padanya itu. "Ah~ benarkah? Memangnya kamu ini siapa?" tanyanya dengan nada sarkasme.


"Dia milikku," balas Soobin.


DEG!


Shaula terkejut ketika telinganya mendengar apa yang baru saja Soobin katakan padanya. Apakah dirinya tidak salah mendengar atau semacamnya?


Benar bukan, jika dirinya diakui adalah milik Soobin?


Soobin mengode Shaula untuk menjauh darinya dan langsung diangguki oleh gadis itu.


"Ah~ benarkah itu? Aku ingin tahu dari Shaula langsung jika seperti itu," kata El.


Shaula meneguk salivanya dengan susah payah.


"Ya, Soobin adalah kekasihku saat ini."


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


Shaula tengah duduk dengan kedua lutut yang tertekuk dan kedua tangan yang meleluknya erat. Saat ini, dirinya tengah berada dibawah naungan pohon dekat asrama Ravenclaw.


Walaupun sudah ada larangan bagi murid asrama luar untuk memasuki area asrama lain, namun hal itu sama sekali tidak membuat Shaula jera. Gadis itu masih melakukan hal ini tanpa rasa bersalah setelah memasuki area ini.


Karena merasa bosan, dirinya memutuskan untuk melempar bebatuan kecil ke arah sungai yang berada didepannya saat ini.


"Sedang apa kamu disini?"


Shaula sepontan melemparkan tatapannya ke arah sang lawan bicara tanpa mengatakan apapun. Lantas dia langsung mendaratkan dagunya diatas lutut dengan air muka tertekuknya.


"Ah~ Tuan Hwang, hanya bosan. Makanya aku kemari," balas Shaula, pelan.


Tuan Hwang mengangkat kedua sudut bibirnya, sehingga hal tersebut memamerkan kedua dimple yang berada diujung bibirnya. Laki-laki itu langsung duduk disamping gadis itu dengan helaan napas pelan.


Shaula menggeleng pelan. "Tidak," balasnya, singkat.


Sang lawan bicara hanya tersenyum singkat mendengar hal tersebut. Setelah itu, Shaula langsung menghela napasnya dengan salah satu tangan yang memainkan pasir.


"Tuan Hwang, apakah ada hal kecil yang anda tahu tentang negara Demon?" tanya Shaula.


Sang lawan bicara menyangga tubuhnya dengan kedua tangan dengan kepala yang menengadah diantara udara yang menghembus. Setelah itu, dirinya langsung menatap Shaula dengan tatapannya yang tenang.


"Tentu. Aku mengetahuinya lebih dari yang saat ini kamu bayangkan," balas tuan Hwang.


Manik mata Shaula langsung membulat. Dirinya langsung menegakkan punggung dan mengalihkan tatapannya ke arah sang lawan bicaranya.


"Sungguh? Bisakah anda ceritakan padaku?" sahut Shaula, antusias.


Tuan Hwang terkekeh pelan karena sikap Shaula yang baru saja dilontarkan oleh gadis itu. "Baiklah, aku akan menceritakannya," balasnya.


Shaula bersorak dalam hati dan langsung memasang sikapnya yang terlihat sangat siap mendengarkan cerita dari sang lawan bicara.


"Dulunya kedua negara yang kita kenal, yaitu Kuan dan Demon adalah satu negara yang damai. Namun ada hal yang membuat keduanya menjadi terpecah belah," jelas tuan Hwang.


Shaula terdiam sejenak. Sepertinya dirinya baru saja tahu mengenai hal ini karena tidak ada cerita yang menurutnya tepat dari berbagai sumber.


"Ada dua pangeran didalam kerajaan. Namun salah satu pangeran menginginkan dirinya menjadi raja, tapi tidak dihendaki oleh sang raja yang bertahta saat itu," lanjutnya.


Kedua alis Shaula naik sebelah. "Tidak dikehendaki? Apakah pangeran itu adalah yang termuda dikerajaan?" tanyanya.


Tuan Hwang menggeleng. "Tidak. Pangeran itu adalah yang tertua dikejaraan," balasnya.


"Lalu?" tanya Shaula dengan kening berkerut.


"Karena pangeran itu hanyalah putra dari seorang selir bukan dari seorang ratu. Karena kerajaan hanya akan mengangkat putra mahkota dari anak ratu," kata tuan Hwang.


"Karena sang pangeran tersebut marah. Dia pun dipengaruhi oleh penyihir hitam untuk bergabung dan menghancurkan kerajaan Kuan," lanjutnya.


"Apakah raja itu adalah raja kerajaan saat ini?" tanya Shaula, lagi.


Tuan Hwang menggangguk pelan. "Sepertinya," katanya.

__ADS_1


"Shaula, kenapa kamu ada disini?"


Padahal sedang asyik mendengarkan cerita dari tuan Hwang, mendadak Soobin datang dari arah lain. Karena hal tersebut, membuat gadis itu sedikit tersentak dengan kehadiran darinya.


"Astaga, Soobin. Aku terkejut," hela Shaula seraya mengelus dada pelan.


Soobin menghela napasnya pelan, lalu membuang mukanya ke arah lain. Setelah hal itu, laki-laki itu langsung menarik gadis itu untuk berdiri dari posisinya.


"Bukankah sudah ada larangan untuk tidak berkeliaran keluar asramamu?" sungut Soobin.


"Kau tahu jika hal ini bahaya?" lanjutnya.


Shuala berdecak pelan. "Apanya yang bahaya? Bahkan saat ini tidak ada apa-apa," balasnya.


"Sebaiknya kamu mengantarnya kembali, Soobin. Jika kamu mengkhawatirnya," sahut tuan Hwang, menginterupsi.


Soobin langsung melempar tatapan datarnya ke arah tuan Hwang. "Aku tidak mengkhawatirkannya," sungutnya.


Tuan Hwang terkekeh kecil karena mendengar apa yang baru saja Soobin katakan. Bahkan dirinya itu tahu jika laki-laki ini tengah berdusta dengan mengatakan hal yang berbalik.


Shaula menatap Soobin. Mendadak ada hal yang terpikir oleh pikirannya, sepertinya mengerjai laki-laki ini akan sedikit seru untuknya.


"Benar apa kata tuan Hwang, Soobin. Kamu harus me—"


Soobin mendesis tajam. "Baiklah, aku akan mengantarmu kembali ke asrama Hufflepuff," potongnya, kesal.


Shaula melipat kedua tangannya didepan dada dengan air muka yang nampak menyebalkan dimata Soobin. Karena hal tersebut, sang empunya langsung melemparkan tatapannya ke arah lain.


"Atau jangan-jangan kamu tengah mencemburuiku bersama dengan tuan Hwang," tebak Shaula, asal.


Soobin berdecak karena hal yang dikatakan oleh Shaula, lalu dia menarik tangan gadis itu tanpa mengatakan apapun. Dia langsung mengeluarkan sapu terbangnya dan menaiki benda itu tanpa pikir panjang.


Sedangkan tuan Hwang hanya terkekeh geli karena tingkah Soobin yang terkesan menggemaskan itu.


Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh Shaula baru saja. Tapi benarkah jika Soobin tengah tenggelam dalam api kecemburuan sekarang?


Mungkin saja seperti itu.


Setelah itu, keduanya langsung terbang meninggalkan tuan Hwang. Mendadak suasana menjadi hening—tidak ada sedikit pun pembicaraan yang terjadi diantara mereka berdua.


"Kamu membicarakan apa dengan tuan Hwang?" sahut Soobin.


Shaula menahan tawanya dibalik punggung Soobin. "Jadi benar jika kamu mencemburui diriku dengan tuan Hwang," balasnya.


TUK!


Soobin menyentil dahi Shuala menggunakan jarinya pelan. "Jangan terlalu percaya diri karena hal ini," sungutnya.


Bahkan dalam penerbangan ini pun, Soobin masih sempat untuk menyentil dahi milik gadis itu. Lalu apakah laku-laki ini tidak takut jika mereka akan tertabrak pohon atau apapun?


Benar-benar terlihat sangat santai sekali.


"Baiklah, jika kamu tidak ingin memberitahuku," final Shaula.


"Memberitahu apa?" ketus Soobin dengan tatapan yang dia lempar sekilas ke arah Shaula.


"Hal itu," balas Shaula, singkat.


Soobin berdecak pelan. "Berhenti bicara atau aku akan melemparmu dari disini," sungutnya.


Shaula langsung diam karena perkataan yang Soobin lontarkan padanya hingga mereka menginjakkan kaki kembali ke tanah. Setelah melakukan hal itu, Soobin langsung pergi menggunakan sapu terbangnya.


"Dasar laki-laki aneh. Kemarin saja mengatakan jika aku miliknya tapi sekarang dia malah bersikap ketus," gerutu Shaula, kesal.


BRUK!


"Aduh," gaduh Shaula.


Karena sibuk menggerutui Soobin, gadis itu menjadi tertabrak seseorang. Hal tersebut membuatnya jatuh mengenaskan diatas lantai lorong asramanya.


"Makanya, jangan suka melamun."


Shaula tercenggang dengan suara saat ini mengalun masuk ke dalam telinganya. Hingga dirinya pun memutuskan untuk mendonggakan pandangan untuk dapat melihat sang lawan bicara.


"Ka—kamu?"


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


...See you next part~...

__ADS_1


__ADS_2