Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Pintu Masuk Rahasia


__ADS_3

...BAB 15...


...PINTU MASUK RAHASIA...


...a novel by youmaa...


...❝Lihatlah dengan sepenuh hati, jangan hanya melalui kilasan pandangan.❞...


...Happy Readingβ™₯...


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Kehadiran Madam Aluna membuat binggung murid yang saat ini tengah berada dikelas. Seharusnya saat ini adalah waktu pembelajaran Profesor Sean, namun yang datang bukan sang profesor tampan itu.


"Madam Aluna? Bukankah hari ini adalah waktunya Oseanografi?" sahut salah satu murid.


Adara dan Shaula juga nampak binggung dengan kehadiran guru cantik itu. Sekarang bukan waktunya untuk kelas ramuan, melainkan kelas Oseanografi.


"Benar, saya yang akan mengajarkan karena Profesor Sean sedang ada keperluan yang mendesak," balas Madam Aluna.


Kelas pun dimulai dengan suasana hening. Namun pada pertengahan kelas, Adara secara tidak sengaja melihat keberadaan El yang tengah berdiri didepan pintu.


Sepertinya laki-laki itu meminta Adara untuk memanggil Shaula.


Adara pun menyenggol Shaula yang saat ini sedang membaca buku yang ada diatas mejanya. Karena hal tersebut, membuat sang empunya langsung melamparkan tatapannya ke arah lawan bicaranya.


"Apa?" tanya Shaula, berbisik.


Adara menunjuk El menggunakan dagunya. "Tuh, kamu dipanggil sama El," katanya.


Shaula mengerutkan kening, lalu menatap ke arah El yang saat ini melambaikan tangan padanya. Namun dia merasakan ada senggolan yang berasal dari Adara.


"Ada apa denganmu dan El hm?" goda Adara seraya menaik turunkan alisnya.


Shaula berdecak, lalu beranjak dari duduknya. Dia nampak tidak memperdulikan perkataan Adara dan memilih untuk melangkahkan kakinya ke meja Madam Aluna.


"Maaf, madam. Saya izin keluar sebentar," kata Shaula.


Hal itu langsung diangguki oleh Madam Aluna. Setelah itu Shaula melanjutkan langkahnya keluar dari kelas untuk menemui El.


Shaula saat ini tengah berdiri didepan El dengan tatapan datarnya. "Ada apa? Kamu tidak melihat jika aku ada kelas?" sungutnya.


"Aku hanya ingin memberimu ini," kata El seraya memberi apel merah ke Shaula.


Shaula mengerutkan kening. Dia tidak langsung menerima apel pemberian dari El, melainkan hanya menatapnya.


El berdecak. "Apel ini tidak aku beri racun," sahutnya.


"Memangnya kamu mengira aku akan meracunimu?" lanjutnya, ketus.


Shaula hendak menyabet apel itu, namun ada seseorang yang memegangnya terlebih dulu. Keduanya itu terkejut ketika manik mata mereka menatap sosok Soobin yang seenaknya menyabet apel itu.


Tanpa mengatakan apapun, Soobin langsung menggigit apel itu dan pergi dari sana.


"Hei, itu untuk Shaula bukan untukmu," sungut El.


Soobin membalikkan badannya. "Tidak ada bedanya untukku," finalnya.


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Shula duduk termenung seraya memandang langit dari balik jendela samping lorong dengan tumpukan buku yang berada disampingnya. Kedua tangannya terlipat diatas tepi jendela dengan kaki yang tersilang.


"Kenapa ada disini?"


Suara berat menginterupsi ke indera pendengaran Shaula, hingga membuatnya melemparkan pandangan. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah sosok El yang ikut berdiri disampingnya.


"Sedang menunggu kelas," balas Shaula.


Arah tatapan El juga terlempar pada langit cerah yang saat ini menjadi pemandangannya. Sedangkan Shaula menatap laki-laki itu dengan salah satu alis yang naik.


"Kenapa kamu mengikutiku?" sambar Shaula.


El hanya melemparkan tatapannya singkat ke arah Shaula, lalu kembali ke tatapan awalnya. "Aku hanya sedang bosan," balasnya.


"Dengan mengikutiku?" sungut Shaula, menginterupsi.


El menegakkan tubuhnya, lalu mendekatkan wajah ke arah Shaula. Karena hal tersebut, membuat sang empunya sedikit mundur ke belakang.

__ADS_1


BUGH!


Punggung Shaula mendadak menabrak dinding karena ulah dari El. Sedangkan laki-laki itu masih melakukan hal tersebut hingga jarak mereka berdua terkikis.


Napas Shaula mendadak tercekat ketika matanya bertemu dengan patahan wajah El yang tampan.


BRUGH!


Shaula langsung mendorong tubuh El untuk menjauh dari hadapannya. Dia mengambil bukunya dan langsung berlari menuju ke kelas yang sebentar lagi akan dimulai.


El hanya bisa menatap gadis itu dengan sebuah senyum tipis.


"Cantik."


.........


BRUGH!


"Kalau berjalan hati-hati."


Sebuah bias suara berat langsung menginterupsi indera pendengaran Shaula. Karena dia yang terburu-buru, membuatnya menabrak seseorang. Namun sepertinya dia mengenal suara ini dimana pun juga.


"Ankaa?" sungut Shaula, terkejut.


Ankaa menutup kedua telinganya menggunakan tangan. "Kecilkan suaramu, bodoh!" sungutnya.


Shaula mendengus kesal. "Minggir, aku ada kelas!" sambarnya.


"Aku ingin menanyakan sesuatu hal padamu," kata Ankaa seraya menghalangi jalan Shaula.


Shaula berdecak karena jalannya yang dihalangi oleh Ankaa secara tiba-tiba. Padahal sebentar lagi ada kelas dari Profesor Nebula yang harus dia ikuti.


"Baiklah," final Shaula, ketus.


Ankaa menarik Shaula untuk menjauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Hingga mereka sampai pada loker murid yang kebetulan sepi.


"Dari mana kamu mendapatkan liontin itu," tanya Ankaa, to the point.


Shaula mengerutkan keningnya dalam. Bahkan tanpa berbasa-basi, Ankaa langsung menanyakan pada intinya.


"Maksudmu liontin apa?" tanya Shaula balik.


Shaula terkejut ketika mendengar hal yang dilontarkan oleh Ankaa secara tiba-tiba. Bagaimana dia mengetahui hal ini?


Karena setahu Shaula, dia tidak pernah mengeluarkan liontin itu. Bahkan Adara pun tidak mengetahui jika dirinya memakai sebuah kalung dengan liontin berbentuk planet dan juga bintang.


"Dari mana kamu tahu jika aku memakai liontin ini?" tanya Shaula.


Ankaa menatap tajam ke arah Shaula. "Apakah kamu mencuri benda itu?" sambarnya.


Shaula tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini. Bagaimana bisa pangeran Magellanic ini mengatakan hal yang tidak mungkin?


"Jangan asal mengatakan sebuah kenyataan. Aku bahkan tidak mencuri benda ini," protes Shaula, kesal.


Ankaa menaikkan salah satu alisnya. "Lalu?" tanyanya.


"Aku mendapatkannya secara tidak sengaja dan secara tiba-tiba," balas Shaula.


Ankaa melepaskan kedua lipatan tangannya, diikuti dengan bahu yang merosot secara perlahan. Melihat reaksi yang dikeluarkan Ankaa, sang empunya langsung menjentikkan jarinya didepan muka laki-laki itu.


"Hei, kenapa diam?" sahut Shaula.


"Kau tahu liontin itu apa?" sahut Ankaa.


Shaula mengerutkan kening. "Apa?" tanyanya balik.


"Itu adalah lambang kerajaan Kuan."


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


SLING!


Pertarungan terjadi antara kedua profesor dengan para penyihir hitam yang berada di luar area istana kegelapan. Pedang tajam dari keduanya itu mampu mengalahkan para penyihir itu dengan sekali tebas.


SLING!


DRAP DRAP DRAP..

__ADS_1


"Profesor Sean, sebaiknya kita mundur terlebih dulu. Karena banyak sekali penyihir hitam yang datang," sahut Profesor Aludra.


Sang lawan bicara pun menggangguk dan langsung berbalik untuk bersembunyi. Jika mereka melawan sekarang, akan ada kekacauan lain yang terjadi.


"Dimana mereka?"


Para penyihir hitam kehilangan jejak kedua profesor itu. Setelah melihat keadaan aman, mereka pun kembali masuk ke dalam istana.


"Sebaiknya kita laporkan ini ke Raja Demon."


.........


Profesor Aludra dan Sean saat ini tengah berada didalam goa es yang berada dihutan kerajaan Demon. Suhu udara yang dingin, membuat keduanya membuat api unggun kecil disana.


"Kita tidak bisa melawan para penyihir itu hanya berdua, profesor!" seru Profesor Sean.


Profesor Aludra menggangguk pelan seraya meletakkan pedang disamping tubuhnya. "Sepertinya kita harus meminta bantuan Profesor Nabula dan tuan Hwang," katanya.


Profesor Sean menaikkan alisnya sebelah. "Kenapa harus tuan Hwang?" tanyanya.


"Apakah anda tidak tahu jika beliau adalah panglima kerajaan Magellanic?" balas Profesor Aludra.


Sang lawan bicara langsung merubah air mukanya seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Nampak sekali raut terkejut dari sang profesor yang saat ini menghiasi wajah tampannya.


Profesor Aludra mengeluarkan sebuah benda yang nampak seperti jam kecil dengan rantai. Dia membuka benda itu dan memutar jarumnya berlawanan arah.


ZLAP!


Mendadak ada sebuah pusaran biru keunguan yang saat ini berada didepan mereka berdua. Ternyata Profesor Aludra membawa jam teleportasi yang dimilikinya.


"Kita akan kembali ke Hogwart untuk mengajak Profesor Nebula dan tuan Hwang."


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Shaula berjalan menyusuri tangga yang berada di gedung utama Hogwart. Kedua tangannya memeluk buku yang saat akan dia kembalikan ke perpustakaan.


Mendadak langkahnya terhenti karena manik matanya yang secara tidak sengaja menatap Profesor Sean dan Aludra yang muncul dari samping tangga. Apakah urusan dari kedua profesor itu telah selesai?


Shaula memutuskan untuk mengikuti kedua profesor itu dengan langkah mengendap-endap.


Memang tidak sopan jika seorang murid membuntuti kepala sekolah dengan wali kesiswaan itu. Namun apa boleh buat, karena rasa penasaran Shaula yang lebih tinggi.


"Profesor Nebula."


Langkah Shaula mendadak terhenti ketika telinganya mendengar suara dari Profesor Sean. Kepalanya menyembul untuk melihat ketiga guru besar Hogwart itu.


"Apakah kalian berhasil menyelamatkan Se Hwa?"


Firasat Shaula benar jika gadis itu yang diculik oleh para penyihir hitam. Walaupun dia sedikit tidak menyukai gadis itu, dirinya tetap merasa khawatir.


PUK!


Shaula terpelonjat ketika pundaknya ditepuk oleh seseorang. Ketika arah tatapannya terlempar ke belakang, manik matanya disuguhkan oleh sosok Soobin.


"Kenapa kamu berada ditempat ini?" tanya Soobin.


Shaula meneguk salivanya susah payah. "Aβ€”aku hanya sedangβ€”"


"Aku tahu kamu pasti curiga dengan urusan para profesor, bukan?" tanya Soobin.


Shaula membulatkan matanya. Bahkan tanpa mengatakannya pun, laki-laki ini sudah mengetahui hal yang ada dipikirannya sekarang.


Sungguh, sebuah firasat yang sangat tepat.


"Aku tahu mereka merencanakan sesuatu untuk menyelamatkan Se Hwa," lanjutnya.


"Mungkin," balas Shaula, singkat.


GREP!


Shaula tersentak ketika pergelangan tangannya dicekal oleh Soobin secara tiba-tiba. Mendadak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


Semoga saja Soobin tidak dapat mendengar detakan jantungnya.


"Ikut aku untuk mengalahkan Raja Demon."


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...

__ADS_1


...See you next part~...


__ADS_2