Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Sosok Misterius


__ADS_3

...BAB 24...


...SOSOK MISTERIUS...


...a novel by youmaa...


...❝Katakan mantra ajaibnya, aku akan datang dengan kejutan lain hanya untukmu.❞...


...Happy Readingβ™₯...


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


"Soobin?"


Shaula langsung melepas dekapan itu secara kasar, kemudian dia langsung berlari menuju ke arah Soobin. Namun ketika mengetahui jika dirinya akan mendekati, laki-laki itu langsung enyah.


Dia melempar sesuatu ke arah tanah. Shaula menyadari jika benda yang baru saja dilempar oleh Soobin adalah sebuah Lily Putih.


"Soobin, tunggu!" seru Shaula seraya mengejar Soobin.


Karena mendengar namanya yang baru saja dipanggil, Soobin langsung menghentikan langkah. Shaula juga melakukan hal yang sama, namun dia bersikeras menjaga jaraknya dengan laki-laki itu.


"Kenapa kamu kabur ketika aku memanggilmu?" sambar Shaula dengan napas menggebu.


Langkah lebar Soobin membuat gadis itu setengah berlari. Memang langkah dari laki-laki itu membuat langkah pendek dari gadis itu dipercepat.


Soobin membalikkan badan dengan air mukanya yang nampak datar. "Kenapa?" tanyanya.


"Kenapa? Aku butuh jawaban bukan pertanyaan darimu," sungut Shaula seraya membuang muka.


Soobin melangkahkan kakinya untuk memotong jarak diantara keduanya. Karena hal tersebut, membuat gadis itu tercekat dengan perubahan wajah yang sangat nampak.


Jarak meraka kini terkikis dengan menyisakan satu langkah.


"Aku hanya ingin meletakkan bunga Lily itu dikolam dekat asrama Hufflepuff," kata Soobin, singkat.


Shaula meneguk salivanya susah payah karena hal yang dilakukan oleh Soobin. Walaupun kata yang dilontarkan oleh laki-laki terdengar dingin, tidak menutupi jika hal ini membuat jantungnya berdegup kencang.


Shaula menghela napasnya samar, lalu melempar tatapannya ke arah Soobin dengan salah satu alis yang naik. "Itu saja?" tanyanya.


Soobin menggangguk. Setelah mendengar hal tersebut, Shaula melemparkan tatapan tajamnya ke arah sang lawan bicara. Lalu dirinya langsung meninggalkan lokasi tersebut tanpa mengatakan apapun.


"Shaula," sahut Soobin.


Karena hal tersebut, membuat sang empunya sepontan menghentikan langkah. Dia nampak sama sekali tidak memiliki niat untuk membalikkan badan.


"Aku akan pergi sejenak untuk menjalankan tugas," kata Soobin.


"Lalu?" tanya Shaula, singkat.


"Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu mengenai kode batu pelangi itu," jawab Soobin.


Shaula langsung teringat kode batu pelangi yang sampai saat ini belum terungkap. Karena mendengar topik tersebut, dia langsung membalikkan badannya ke arah Soobin.


"Tapi kenapa kamu menyuruhku untuk menjawabnya sendiri jika saat ini kamu mengatakan jawabannya?" tanya Shaula dengan salah satu alis yang naik.


"Karena saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya," balas Soobin.


Perasaan Shaula mendadak tidak enak ketika mendengar jawaban dari Soobin yang terdengar khawatir. Namun dia berusaha menepisnya jauh-jauh, lalu mengangkat kedua sudut bibirnya tipis.


"Katakan," kata Shaula.


"Aku mencintaimu."


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Hukuman yang paling membosankan adalah menjadi panjaga perpustakaan. Karena Shaula yang tidak memperhatikan penjelasan dari Madam Aluna, sehingga membuat dirinya menjadi dihukum.


Padahal Shaula berharap akan dihukum untuk membersihkan tempat didekat danau asrama Ravenclaw. Mungkin dia bisa saja bertemu dengan seseorang disana yang sejak semalaman berkeliaran dipikirannya.


Choi Soobin.


Shaula tidak pernah melihatnya selama seminggu terakhir ini, semenjak laki-laki itu mengatakan akan ada tugas. Dalam pikirannya saat ini langsung terpaku tentang tugas apa yang kira-kira dilakukan olehnya?


Sebuah tepukan sepontan membuat sinyal kesadaran Shaula mrnjadi terkumpul kembali. Setelah menatap sang pelaku, ternyata berasal dari murid dengan buku yang ada didekapannya.


"Kenapa kamu yang menjadi penjaga perpustakaan?" tanya murid tersebut.


Laki-laki berkacamata bulat itu menatap Shaula dengan sorot mata binggung. Karena sahutan dari sang lawan bicara, membuat gadis itu hanya menatapnya dengan kerjapan mata saja.


TIK!


Tiba-tiba ada suara jentikan jari yang secara tidak sopan terdengar ke indera pendengaran Shaula. Setelah mendengar suara nyaring itu, dia langsung menggelengkan kepala pelan.


"Ah~ Madam Aluna yang menyuruhku untuk menjadi penjaga perpustakaan untuk sementara waktu," balas Shaula.


Laki-laki itu hanya menggangguk sebagai respon atas jawaban yang baru saja dilontarkan oleh Shaula. Dia pun segera mencatat peminjaman buku yang diambil oleh murid dari asrma Slytherin tersebut.

__ADS_1


Setelah selesai mencatat tanggal pengembalian, Shaula memberikan buku itu pada murid tersebut.


"Jangan lupa mengembalikannya tepat waktu," kata Shaula dengan kedua sudut bibir yang terangkat ke atas.


Murid tersebut langsung menyabet buku itu seraya menatap Shaula dengan sorot mata tajam. Air mukanya langsung berubah seratus delapan puluh derajat sejak bertemu dengan Shaula.


Ada apa dengan murid ini?


"Hei, aku ini langganan perpustakaan. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal konyol itu?" sungut murid tersebut.


Shaula menghela napas pelan, lalu mengusap wajahnya. "Ya, aku tahu. Terlihat dari semuanya," katanya.


"Jangan meβ€”"


Sebelum Shaula mengatakan hal lainnya lagi, ternyata laki-laki itu sudah enyah dari tempatnya. Karena sikap menyebalkan itu, membuatnya mendengus pelan dengan helaan napas pelan.


"Aneh," gumam Shaula, pelan.


Daripada memikirkan hal yang konyol mengenai pengunjung tadi, Shaula lebih memilih untuk menggendikkan bahuβ€”sebaiknya dia membaca buku Oseanografi saja. Sebenarnya bukan tanpa alasan, jika dirinya membaca buku membinggungkn itu.


Tentu saja alasannya adalah nilai Oseanografinya jelek.


GUBRAK!


Shula mendesis pelan ketika telinganya secara tidak sengaja mendengar suara gaduh. Karena suara tersebut, langsung membuat konsentrasinya buyar dalam hitungan detik.


Siapa lagi yang berada diperpustakaan?


Shaula yang menyangga kepalanya, lantas mendesis pelan. "Apa mereka tidak tahu jika ini perpustakaan?" gerutunya.


GUBRAK!


Shaula mencoba untuk tidak beranjak dari tempat, karena dia malas memeriksanya. Dia menggeleng pelan, lalu kembali fokus pada buku yang ada diatas meja.


PRANG!


Sekali lagi, telinga Shaula mendengar suara bising itu. Dia pun bangkit dari posisi nyamannya dengan kedua tangan yang menggebrak meja.


"Apakah dia bisa tenang sebentar saja," sungut Shaula, kesal.


Langkah dentum-dentum dari Shaula membawanya pada sela-sela rak buku. Namun ketika manik matanya jatuh pada tempat tersebut, sama sekali tidak ada seorang pun disana.


Hanya ada buku yang berserakan diatas lantai.


Shaula menghela napas pelan. "Pasti ini kerjaan murid lain," gumamnya.


Shaula pun langusung memungut buku yang jatuh dan mengembalikannya ke tempat semula. Namun ketika dia menegakkan tubuh, secara tiba-tiba ada sosok yang muncul dihadapannya.


TUK!


Mulut Shaula langsung didekap dengan tangan besar tanpa seizinnya.


"Apakah kamu bisa diam?"


Shaula sontak langsung membuka matanya karena mendengar suara yang sangat dia kenal. Ketika manik matanya terbuka, pandangannya langsung menangkap sosok Ankaa.


Lalu Ankaa melepas tangannya yang mendekap mulut Shaula. Dia perlahan menjauh sedikit dari gadis itu seraya mengelus dahinya pelan. Sepertinya buku tadi mengenai dahi laki-laki itu.


Jika memang benar, Shaula tidak akan pernah menyesalinya.


"Kenapa ada disini? Kamu membuatku terkejut setengah mati," sungut Shaula seraya melipat kedua tangannya didepan dada.


"Hanya iseng," balas Ankaa, singkat.


Shaula mengerutkan dahi dalam karena jawaban yang baru saja dilontarkan oleh Ankaa. "Iseng maksudmu?" sungutnya.


Ankaa menggangguk pelan seraya bergumam. Shaula memang benar jika laki-laki ini adalah salah satu dari jenis paling menyebalkan level akhir.


"Aku tidak sengaja melihat ada makhluk aneh yang sedang mengintaimu."


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Sejak tadi Shaula hanya menggaduk-aduk minuman dingin yang ada diatas meja tanpa mau meminumnya sedikit pun. Entah karena hal apa yang membuat dirinya menjadi aneh seperti ini.


Perubahan sikap itu mengantarkan dia untuk membuat Adara dan Hena menatapnya.


"Melamun jangan dijadikan kebiasaan," sahut Adara seraya menyeruput minumannya.


Shaula sepertinya terkejut dengan gumpalan kertas yang sengaja Adara lemparkan padanya. Sedangkan dia hanya menatap datar gadis itu tanpa menjawab pertanyaan yang sempat dilontarkan tadi.


Adara kembali melemparkan kertas pada Shaula.


"Hei!" sungut Shaula.


Bukannya merasa bersalah atas apa yang baru saja dilakukan, justru Adara memasang muka tidak berdosanya. Dia saat ini melipat kedua tangannya didepan dada dengan raut muka yang tidak kalah datar.


"Maaf. Aku sengaja melakukannya," sahut Adara, santai.

__ADS_1


Shaula langsung membuang mukanya, lalu mendesis pelan. Setelah itu kedua tangannya menopang pipi dengan sikut yang mendarat diatas meja.


"Jadi, ada masalah apa lagi?" tanya Hena.


Shaula berdecak. "Apa kalian tahu jika ada tugas khusus untuk murid tertentu?" katanya dengan helaan.


Hena dan Adara yang baru saja mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Shaula, lantas mengerutkan alis. Kemudian mereka berdua saling tatap dengan pikiran masing-masing.


Bahkan mereka yang sudah lama berada di Hogwart, belum pernah mendengar tugas khusus yang dimaksud oleh Shaula. Mungkin lebih tepatnya adalah tidak pernah sama sekali.


Adara ber-oh ria. "Jadi itu yang membuatmu menjadi seperti terlihat seperti vampir seperti ini?" sahutnya.


Shaula merasa tidak percaya akan apa yang baru saja Adara katakan padanya. Lantas dia sepontan mendelik, lalu melemparkan kertas yang ada disamping sikunya ke arah Adara.


"Apa maksudmu aku ini vampir!" sungut Shaula, ketus.


Adara dan Hena tertawa renyah ketika mendengar kalimat seru yang terlontar dari Shaula. Bukannya menjawab pertanyaan darinya, kedua murid itu justru menertawainya.


"Kenapa kalian tertawa!" seru Shaula dengan nada kesal.


Bahkan disaat kesal pun, kedua Shaula mendadak memerah. Hal tersebut justru membuatnya terlihat menggemaskan.


"Sepertinya pujaan hatimu tengah berada ditugas itu," timpal Hena.


Shaula menghela napas gusar, lalu beranjak dari tempat duduknya. Dia memutuskan untuk pergi ke kelas lebih awal daripada harus gila bersama kedua temannya itu.


"Aku mau ke kelas!" sungut Shaula.


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Suasana mulai menggelap setelah semua murid kembali ke asrama masing-masing. Nampak sang surya yang setengah tenggelam dalam cakrawala jingga diujung barat sana.


Shaula baru saja kembali dari perpuskakaan karena hukuman dari Madam Aluna untuk menjadi petugas perpustakaan. Namun akhirnya hukuman itu berakhir sekarang, jadi dia merasa lega.


"Ah~ akhirnya selesai juga," kata Shaula, bermonolog.


Shaula melangkahkan kaki cepat untuk segera sampai di kamar asramanya. Dia sudah sangat ingin melemparkan tubuhnya yang lelah ini dikasur empuk.


"Ah~ lelah sekali," hela Shaula.


Tiba-tiba secara tidak sengaja salah satu buku yang dibawanya itu terjatuh mengenaskan dilantai. Dia merasa kesal karena buku dengan sampul hitam berukir angka tujuh belas itu juga ikut terjatuh.


Setelah dia memungutnya, Shaula pun memutuskan untuk kembali melangkahkan kaki. Sebentar lagi dia akan segera sampai di asramanya.


Ketika di koridor, dia tidak sengaja merasakan jika ada seseorang yang mengikuti. Namun ketika Shaula membalikkan badan, manik matanya tidak menemukan siapapun disana.


Dia pun memutuskan untuk mempercepat langkah.


"Sepertinya benar apa yang dikatakan Ankaa," gumam Shaula, pelan.


Ketika Shaula sampai didepan pintu kamar asrama, dia segera membukanya dan langsung masuk ke dalam dengan sigap. Sejujurnya dia takut jika dirinya akan mendapatkan masalah lagi.


BRAK!


Bantingan pintu itu sempat membuat Adara terpelonjat kaget. Sedangkan Shaula tengah menempelkan punggung pada pintu yang baru saja dibantingnya.


"Kamu membuatku kaget saja," protes Adara.


Shaula langsung mengunci pintu asrama itu dan berjalan cepat menuju ke tempat Adara berada. Karena reaksi aneh darinya itu, sontak membuat Adara menaikkan alis sebelah.


Adara menatap Shaula datar. "Ada apa?" tanyanya.


Shaula langsung meletakkan bukunya diatas kasur. "Ada seseorang yang mengintaiku," jawabnya, to the point.


Adara membenarkan posisi tubuhnya, sehingga saat ini dia menghadap ke arah Shaula. "Tunggu dulu, maksudmu apa?" tanyanya.


"Mengintaimu?" lanjutnya.


Shaula menghela napas gusar, lalu mengacak-acak surainya secara abstrak. "Aku tidak tahu," balasnya, frustasi.


"Tapi aku sangat yakin jika ada yang mengikutiku menuju kemari," lanjutnya.


Bukannya ikut khawatir, justru Adara tertawa renyah setelah mengatakan hal tersebut. "Kamu jangan bercanda, Shaula!" serunya seraya menepuk pundak Shaula pelan.


"Tidak ada yang mengikutimu. Mungkin itu hanya perasaanmu saja," lanjutnya.


Shaula menaikkan salah satu alis dengan kening berkerut. "Apa mungkin?" tanyanya.


Adara menggendikkan bahu acuh sebagai jawaban atas pertanyaan dari Shaula. Setelah itu dia kembali ke dalam buku bacaannya dan melupakan keberadaan gadis didepannya.


"Ah~ sudahlah! Aku ingin tidur!" final Shaula.


Shaula memilih untuk tidur daripada memikirkan sosok misterius yang entah benar adanya. Mungkin saja jika perkataan Adara ada benarnya, jika itu hanyalah sekedar imajinasinya.


Sebaiknya dia beristirahat untuk mempersiapkan ujian besok.


"Haruskah aku mencari informasi tentang Soobin saat ini dimana?"

__ADS_1


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


...See you next part~...


__ADS_2