
...BAB 29...
...PENCURIAN KRISTAL...
...a novel by youmaa...
...❝Pejamkan matamu sejenak jika kamu ingin melihat keberadaanku sekarang.❞...
...Happy Reading♥...
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
Sang cakrawala mulai mengubah warnanya menjadi jingga kemerahan. Mengingat jika si penyinar hari yang sebentar lagi akan berpulang karena kelelahannya selama sehari yang menyinari sang pertiwi.
Semburan jingga yang berpadu dengan gumpalan awan yang juga mengikuti warna cakrawala itu nampak begitu indah.
Keindahan alam yang Tuhan ciptakan ini teramat sempurna. Ketenangan jiwa seakan-akan berlabuh begitu saja dalam hati. Menatap matahari yang dalam hitungan jam lagi akan tergantikan dengan sang raja malam.
Shaula baru saja kembali dari kelas pemeliharaan makhluk gaib. Namun raut muka itu terlihat lelah, sehingga menghiasi senjanya ini. Hal tersebut dikarenakan oleh tingkah makhluk gaib yang tadinya membuat gadis itu kesal.
Jika saja dia tidak berada disekolah sihir, sudah dipastikannya jika makhluk aneh itu akan lenyap begitu saja.
Shaula berjalan gontai menuju ke asrama selama sepanjang perjalanan. "Ah~ lelah sekali hari ini," helanya.
BRUGH!
Telinga Shaula secara tiba-tiba menangkap suara gaduh yang entah datang dari mana. Sebenarnya dia tidak yakin suara itu berasal dari ruangan sebelah mana.
Tapi dia merasa jika suara itu berasal dari ruang laboraturium.
Shaula pun melemparkan tatapannya pada pintu laboratorium dengan tatapan waspada. Secara tiba-tiba, perasaannya mendadak tidak enak tanpa alasan yang jelas.
"Sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ruangan ini," gumam Shaula, pelan.
Menepis perasaan tersebut, Shaula pun langsung menempelkan telinganya dipermukaan pintu. Karena melakukan hal tersebut, dirinya dapat mendengar secara samar—dia mendengar dua orang yang tengah mengobrol.
Ternyata dugaannya sebelumnya memanglah benar. Jika ada orang yang berada didalam ruangan laboratorium ini.
"Bagus. Sepertinya kita harus segera melaksanakan rencana ini dengan lancar."
Shaula tercekat karena telinganya mendengar suara tersebut dengan jelas. Dia memutuskan untuk terus mendengarkan apa yang akan direncanakan dua orang ini.
Namun suara ini terdengar asing ditelinganya. Sebenarnya siapa kedua orang yang tengah berbincang ini?
"Tunggu dulu."
Shaula tersentak ketika telinganya mendengar suara yang nampaknya tengah menyadari sesuatu hal. Tubuhnya mendadak menegang, sehingga dia meneguk salivanya dengan susah payah.
"Sebaiknya kita segera keluar dari sini. Ada yang menguping pembicaraan kita."
DEG!
Jantung Shaula perpacu lebih cepat ketika perasaan yang sebelumnya dia pikirkan itu benar. Dia pun langsung menjauh dari area pintu dan segera berlari meninggalkan tempat.
GREP!
Shaula terkejut ketika tangannya ditarik oleh seseorang dari balik tembok. Karena hal tersebut, membuat sang empunya langsung memejamkan matanya karena takut.
"Ikut aku pergi dari sini."
.........
Nampak dua makhluk yang tengah berdiri didepan pintu ruangan laboraturium Hogwart. Tempat yang menyimpan bola kristal kebanggan sekolah sihir ini.
Mereka tidak bodoh untuk tidak mengetahui jika ruangan ini terdapat pengamanan yang sengaja dipasang secara tersembunyi. Namun, mereka sangat beruntung jika hal itu sama sekali tidak berpengaruh terpenggaruh terhadap mereka.
"Dasar para profesor bodoh, mereka tidak memasang pengamanan sihir untuk menangkal makhluk seperti kita," gumam makhluk bertubuh kurus.
Makhluk yang memiliki tubuh lebih gemuk itu pun berdecak, lalu dia memukul temannya itu dengan keras.
"Aish, cepat kita masuk. Jangan pergunakan waktu berharga kita hanya untuk menggerutui para profesor itu," katanya.
Keduanya langsung memasuki ruangan laboraturium dengan menembus pintu ruangan itu. Hanya dengan cara semudah itu, mereka bisa mencuri bola kristal kebanggaan Hogwart.
Tanpa menunggu lagi, kedua makhluk gaib itu perlahan merusak sistem keamanan kristal itu.
BRUGH!
__ADS_1
Tanpa sengaja, makhluk bertubuh kurus itu menyenggol rak buku yang ada dibelakangnya. Sontak, hal itu membuat rekannya melempar tatapan tajamnya ke arah makhluk itu.
"Kecerobohanmu itu bisa membuat kita tertangkap," sungutnya, berbisik.
Makhluk dengan tubuh gempal itu memukul bagian belakang kepala rekannya dengan lumayan keras. Hal itu membuat makhluk bertubuh kurus itu mendengus kesal karena ulahnya.
Dimakah letak kesalahan yang sebenarnya?
"Apa yang kau lakukan?" sambar makhluk bertubuh kurus.
"Aku hanya mengingatkanmu untuk tidak berisik," jawabnya.
Setelah menemukan bola kristal itu, makhluk dengan tubuh kurusnya perlahan memasukkan benda itu ke dalam sebuah peti.
"Bagus. Sepertinya kita harus segera melaksanakan rencana ini dengan lancar," ucap makhluk dengan tubuh gempal.
Tiba-tiba, indra penciumannya tidak sengaja menangkap bau yang sama sekali tidak asing. Perlahan dia berdecak dengan gigi yang dia gertakkan.
"Sial. Gadis itu sepertinya mengetahui rencana ini," gumamnya, pelan.
"Tunggu dulu," lanjutnya.
Makhluk dengan tubuh kurus itu menatap rekannya dengan reaksi yang sedikit terkejut.
Makhluk dengan tubuh gempal itu menatap ke sekeliling penjuru tempat—seperti hendak mencari sesuatu. Lalu dia kembali menatap rekannya dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Sebaiknya kita segera keluar dari sini. Ada yang menguping pembicaraan kita," katanya.
Keduanya mengeluarkan sebuah sihir dengan cahaya yang nampak samar. Cahaya putih itu menyelimuti tiap penjuru tempat yang ada di ruang laboraturium. Perlahan kabut putih itu menghilang bersaman dengan hilangnya kedua makhluk itu.
Kristal itu telah dicuri.
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
Seorang laki-laki melangkahkan kakinya dengan kedua tangan yang dia tautkan dibalik punggung tegapnya. Wajah tampan dengan sorot mata yang tajam membuat aura seorang pangerannya terkuar dengan sangat sempurna.
Seorang putra mahkota kerajaan Kuan memanglah berbeda dari pangeran yang lain.
"Pangeran, anda dipanggil oleh yang mulia raja."
Langkah sang pangeran membawanya menuju ke ruang rapat kerajaan. Kehadirannya langsung disambut oleh para menteri kerajaan, sedangkan sang raja langsung melempar tatapan itu ke arah putranya.
"Bagaimana persiapanmu, putraku?" tanya sang raja.
Sudah Mars duga sebelumnya, jika ayahandanya akan memperbincangkan tetang persiapan berperangnya. Dia hanya meggangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh sang ayahanda.
Sang raja hanya tersenyum singkat.
Mars menatap ke arah peta wilayah kerajaan yang tergelar diatas meja rapat. Matanya perlahan menatap pion-pion yang ada diatas peta itu dengan panah yang berada pada beberapa titik.
Ini adalah strategi untuk menghadapi perang antara kerajaan Kuan dan Hanggang.
"Bagaimana dengan pencarianmu mengenai Shaula?" tanya sang raja.
"Bulan depan adalah hari kelulusan murid Hogwart, ayahanda. Jadi saya dan beberapa pengawal akan menghadiri acara itu," balas Mars.
"Saya sudah memperbincangkannya dengan Profesor Aludra," lanjutnya.
Sang raja mengode kepada seluruh menteri kerajaan untuk keluar dari ruang rapat. Hal itu langsung membuat para menteri membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah pintu itu ditutup oleh seseorang dari luar, sehingga membuat sang raja langsung menatap ke arah Mars.
"Pangeran, jika aku menyerahkan tahtaku sekarang. Apa kamu siap untuk menerimanya?" tanya sang raja.
Sang pangeran menundukkan kepalanya sejenak, lalu menatap ayahandanya dengan sorot mata pasti. "Jika itu adalah perintah. Saya akan selalu siap menerimanya," jawabnya.
Jawaban dari sang pangeran membuat hati sang raja menjadi teduh. Sikap tegas dari dari sang pangeran membuatnya bangga akan putranya itu.
"Ayahanda bangga padamu, pangeran. Kamu adalah mahkota bagi kerajaan ini," sahut sang raja seraya menepuk pundak Mars pelan.
TOK TOK TOK..
Sebuah ketukan membuat pembicaraan sang raja dengan putra mahkota terhenti. Setelah itu pintu itu terbuka sempurna, sehingga memperlihatkan sang ratu dengan raut muka kesal.
Karena hal tersebut, sontak membuat kedua laki-laki berbeda usia itu menjadi saling tatap satu sama lain.
"Ibunda," gumam Mars seraya membungkukkan badan.
__ADS_1
Sang ratu langsung menghampiri sang raja, tanpa membalas salam dari putranya itu. Hal yang sangat berbeda, karena sikap wanita itu selalu lembut.
Mendadak auranya menjadi berubah saat ini, sehingga membuat Mars terkejut dengan perubahan sikap ibundanya.
"Raja! Ada hal yang ingin kumemperbincangkan denganmu," kata sang ratu.
Mars yang mengerti akan keadaan yang terjadi saat ini, hanya membungkukkan badan lalu pergi meninggalkan ruang rapat. Setelah itu dia kembali menutup pintu tersebut dengan perasaan yang tidak enak.
Sang ratu manatap lurus ke arah peta wilayah kerajaan dengan jari lentiknya yang memegang pion itu. Kemudian dia mengambil salah satunya dan memindahkan benda itu ke sembarang arah.
Melihat tingkah dari permaisurinya itu, membuat sang raja mengernyitkan alis dalam. Apa hal yang akan dibicarakan oleh ratunya itu padanya?
"Ada apa, ratuku?" tanya sang raja.
Ratu Hyegia menatap tajam ke arah sang raja—tatapan yang sama sekali belum pernah dilihat. Sontak hal itu membuat reaksi sang raja menjadi terkejut, sehingga kedua alisnya naik.
Sang raja pun menghela napas pelan. "Ada apa denganmu, ratuku?" tanyanya, lagi.
Sang ratu melempar pion yang tadinya dia pegang ke arah lain, lalu dia melangkah menuju ke hadapan sang raja. Yang membuat raja tidak kalah terkejut adalah tatapan tajam yang sejak tadi wanita itu lemparkan padanya.
Tatapan penuh dengan amarah yang menyelimuti.
Sang ratu memalingkan wajahnya ke arah lain dengan helaan napas yang terdengar kasar. Setelah itu dia membalikkan badan dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada.
"Hentikan perang ini, yang mulia. Aku memintamu dengan paksa," sahut sang ratu.
Karena perkataan dari ratunya itu, sontak membuat kedua bahu sang raja melorot secara perlahan. Hal yang sangat mengejutkan itu, sontak membuat manik matanya membulat sejenak.
Lalu sang raja terkekeh pelan.
"Menghantikan perang? Tapi pangeran sudah bersiap sejak lama untuk perang ini," balas sang raja, lembut.
Sang ratu membuang napasnya gusar. "Pasti kamu juga mengetahui salah satu alasannya, yang mulia. Aku hanya ingin kamu tahu jika—"
"Tidak akan ada penghentian perang," potong sang raja.
Perkataan dari sang ratu sontak terhenti ketika kalimatnya disela oleh raja. Setelah mendengar balasan dari permintaannya itu, sontak membuat air muka sang ratu menjadi terkejut.
"Apa kamu tega melibatkan pangeran dalam hal ini, rajaku?" tanya sang ratu, menginterupsi.
"Apa hanya karena hilangnya liontin hijau itu menghilang, kamu menyalahkan Kerajaan Hanggang?" lanjutnya.
Sang raja tidak bergeming ketika ratunya itu mengetahui alasan mendasar dari perang ini. Namun sebenarnya bukan dalam hal itu saja, ada hal lain yang menyebabkan perang ini terjadi.
Penghinaan itu tidak dapat sang raja terima karena telah menyangkut kerajaannya.
"Bukan hanya itu saja perang ini dapat terjadi, ratuku," balas sang raja.
Meskipun sang ratu mengatakan hal ini dengan nada tinggi, namun sang raja tetap membalasnya dengan lembut. Dia akan tetap memegang omongannya sendiri untuk tidak menyakiti perempuan.
Meskipun itu dari golongan paling bawah sekalipun.
Sang ratu menaikkan salah satu alisnya. "Lantas?" tanyanya.
"Mereka telah mengibarkan bendera perang pada kerajaan kita. Aku tidak ingin jika mereka terus mengganggu rakyat kerajaan," balas sang raja.
"Mereka menahan beberapa rakyat dan memenggalnya tanpa alasan yang jelas," lanjutnya.
Karena balasan dari sang raja, sontak membuat air muka sang ratu berubah seratus delapan puluh derajat. Ternyata dia salah mengenai pemikiran dari sang raja, sehingga dia langsung mendudukkan diri ke atas kursi yang tidak jauh dari tempatnya.
Sang ratu memijat pelipisnya pelan. "Maafkan aku," katanya.
Sang raja langsung mengulas sebuah senyum. Tidak ada sama sekali raut wajah marah yang tercetak pada mukanya saat ini.
"Lapor, yang mulia."
Sebias suara tersebut, sontak membuat sang raja langsung melemparkan tatapan ke arah sumber suara berasal. Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah panglima kerajaan.
"Ada apa?" tanya sang raja dengan kedua tangan tersilang dibekalang punggung.
"Kerajaan Hanggang secara tiba-tiba menyerang penduduk desa, yang mulia," balas sang panglima.
Karena hal tersebut, sontak membuat air muka sang raja berubah. Dia lantas melangkahkan kaki keluar ruangan dengan menenteng pedang disalah satu tangannya.
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
...See you next part~...
__ADS_1