
...BAB 35...
...KRISTAL SNOW CHERRY BLOSSOM...
...a novel by youmaa...
...โHaruskah aku percaya dengan salju pertama dengan cinta sejati?โ...
...Happy Readingโฅ...
...๐ ๐ ๐ ๐...
Disebuah hutan yang terletak diujung area kerajaan adalah tempat dimana saat ini Shaula menjejakkan kaki. Siapa sangka jika dibalik hutan neraka ini terdapat sebuah surga yang tidak banyak orang mengetahuinya.
Peta yang diberikan El adalah tempat ini.
Shaula mengedarkan pandangan ke setiap sudut. "Tempat yang sangat cantik," katanya.
Shaula mendatangi tempat ini secara diam-diam dengan bantuan dari El. Gadis itu langsung pergi menyelinap dari pesta, tanpa diketahui oleh seorang pun disana.
Shaula pun memutuskan untuk mendekat ke bawah naungan pohon bunga Mognalia yang tengah bermekaran. Sungguh tempat yang sangat unik, karena pada saat ini adalah memasuki musim dingin.
Tapi bunga Mognalia justru masih bermekaran.
Sudah hampir beberapa jam, Shaula menunggu ditempat tersebut. Lantas dia mendengus kesal karena tidak kunjung seorang pun datang menemuinya. Apakah hal ini hanya keisengan dari El saja?
"El tidak sedang mengerjaiku 'kan?" gumam Shaula, mendengus.
Ketika kekesalan hinggap pada dirinya, manik mata Shaula secara tidak sengaja menangkap sebuah pohon Appricot Valley. Mekaran bunga dengan warna merah muda yang cantik itu, sukses mencuri hatinya dalam sekejap.
Shaula pun memutuskan untuk menghampiri pohon tersebut.
"Bunga yang sangat cantik," gumam Shaula, pelan.
Salah satu tangan Shaula menengadah diantara udara dingin yang berhembus. Dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana bisa bunga dapat tumbuh dengan subur pada musim dingin?
Hal yang sangat unik.
Tanpa Shaula sadari, salah satu kelopak bunga tersebut jatuh bertebaran tertiup angin. Namun salah satunya justru mendarat tepat diatas telapak tangan Shaula. Manik mata hazel itu terus mengamati kelopak bunga dengan warna merah muda itu lamat-lamat.
"SHAULA!"
DEG!
Shaula terkejut ketika indera pendengarannya menangkap sebuah bias suara berat. Suara yang selalu dia rindukan setiap saat dan langsung membuatnya candu.
Shaula menggenggam kelopak bunga itu, lalu membalikkan badan ke arah sang lawan bicara. Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah sosok laki-laki dengan kuda putih yang dia tunggangi.
Manik mata Shaula membulat. "SoโSoobin?" sahutnya, terkejut.
Soobin langsung melemparkan senyum manis, sehingga memperlihatkan dimple yang menghiasi wajah tampannya. Sedangkan Shaula masih terdiam akan pesona yang baru saja laki-laki itu keluarkan.
Setelah itu, Soobin turun dari kuda putih yang nampak tampan itu. Hal mengejutkan lainnya adalah pakaian Soobin yang terlihat layaknya pangeran.
Apakah dia adalah seorang pangeran?
Shaula terdiam. "Jadi, kamu adalah pangeran?" tanyanya.
Soobin mengganguk pelan. "Seperti yang kamu lihat," balasnya.
Soobin nampak menggenggam sesuatu disalah satu tangannya. Benda itu adalah sebuah pecut kecil yang biasanya para pangeran atau raja bawa kemapun mereka pergi.
Benda itu adalah ciri khas bangsawan.
Tanpa mempertanyakan hal lain lagi, Shaula sepontan berhambur memeluk Soobin. Karena hal tersebut, membuat seluruh wajahnya tenggelam dalam dada bidang Soobin.
"Aku merindukanmu," kata Shaula, pelan.
Soobin yang awalnya diam, kemudian dia mengelus puncak kepala Shaula pelan. Namun dia belum membalas pelukan gadis itu sebelumnya. Hal aneh lainnya adalah Soobin hanya terdiam dengan Shaula yang memeluknya.
Merasa tidak ada balasan pelukan dari Soobin, gadis itu langsung melepasnya.
"Kenapa kamu tidak membalas pelukanku?" tanya Shaula, menginterupsi.
Soobin hanya terdiam. Dia nampak tidak ada niatan untuk membalas pertanyaan dari Shaula, walaupun hanya sepatah kata sedikit pun.
"Apakah kamu tidak merindukanku?" lanjutnya.
Soobin masih terdiam dengan bibirnya yang mengatup rapat. Air mukanya langsung berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.
Hal yang nampak ganjal sejak beberapa menit yang lalu.
Soobin menghela napasnya pelan. "Apakah kamu akan menikah dengan El?" tanyanya, menginterupsi.
__ADS_1
DEG!
Mendadak Shaula merasa sesak ketika indera pendengarannya mendengar sepatah kalimat itu keluar dari mulut Soobin. Hingga dia menggelengkan kepala dan menepis fakta itu jauh-jauh.
Shaula mendaratkan telunjuknya diatas permukaan bibir Soobin. "Aku ingin jika kamu tidak membahas itu," pintanya.
"Hal itu memang benar. Tapi aku tidak akan terima hal itu," lanjutnya.
Soobin menatap Shaula penuh arti dengan tatapan bening itu. Kemudian dia menakup pipi gadis itu dan mencium singkat bibirnya. Karena tindakan laki-laki tersebut, sontak langsung membuat Shaula terkejut setengah mati.
"Aku tahu hal itu. El yang menyuruhku untuk datang menemuimu," balas Soobin.
Shaula menatap ke arah Soobin dengan air muka yang masih nampak terkejut. "Jadi dia merencanakan hal ini," gumamnya.
Soobin melangkah mundur untuk sedikit menjauh dari Shaula. Lalu salah satu tangannya menarik tali yang menghubungkannya dengan kudanya. Setelah itu, dia mengajak makhluk tersebut berjalan menyusuri hutan.
Tentu saja, ditemani oleh Shaula sendiri.
Soobin menatap ke arah depan. "Aku rasa kamu akan menerimaโ"
"Aku tidak mau menjadi permaisurinya," potong Shaula, ketus.
Suara dengan nada ketus tersebut, sontak membuat Soobin langsung menatap ke arah Shaula. Nampaknya laki-laki tersebut terkejut, karena terlihat dari air mukanya saat ini.
Setelah itu Soobin menghela napas pelan. "Dia sama sekali tidak memperbaiki keadaan," balasnya.
"Justru dia hanya memperburuk keadaan," lanjutnya.
Shaula langsung mengendurkan kedua alisnya setelah mendengar penjelasan dari Soobin. Dia pun mempercepat langkahnya untuk dapat menyetarakan dengan Soobin.
Shaula kembali mengerutkan alis. "Memperburuk keadaan?" tanyanya, binggung.
"Apa maksudmu dengan kalimat itu?" lanjutnya.
Soobin menggeleng pelan sebagai jawaban. Karena reaksi tersebut, justru membuat Shaula curiga dengan laki-laki tersebut. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.
Soobin langsung mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas. "Lupakan saja," katanya.
Setelah itu, Soobin menggenggam tangan Shaula erat. "Ayo! Ikutlah denganku ke suatu tempat," lanjutnya.
Shaula hanya menggangguk sebagai jawaban. Dia pun menaiki kuda putih dengan dibantun oleh Soobin. Keduanya pun membelah hutan neraka, hingga mempertemukan dengan sebuah tempat yang begitu indah.
Didalam pikiran Shaula saat ini, sudah berlarian mengenai banyak hal tentang Soobin. Bahkan dia baru mengetahui identitas sebenarnya seorang Lee Soobin yang baru saja terungkap. Dia masih tidak percaya jika laki-laki manis itu adalah seorang pangeran.
Apakah selama ini Soobin menyembunyikan identitasnya itu?
Sebuah tepukan dan suara lembut dari Soobin sontak membuyakan lamunan Shaula. Gadis itu langsung melemparkan tatapannya ke arah sang lawan bicara dengan air muka terkejut.
Shaula bergumam sebagai jawaban.
Gadis bersurai coklat itu baru menyadari jika dirinya saat ini tengah berada ditengah puluhan pohon Aprikot. Kelopak bunga berwarna merah muda itu bermekaran, sehingga menambah kesan cantik.
Secara perlahan, angin berhembus pelan menyapu puluhan kelopak bunga hingga berterbaran kemana-mana. Dibalik kisah seram dan horror dari hutan nereka, ternyata ada surga tersembunyi dibaliknya.
Shaula mengangkat kedua sudut bibirnya, lalu tangannya mengadah diantara udara.
"Bukankah sekarang bukan waktunya bunga Aprikot ini mekar?" sahut Shaula.
"Sekarang memasuki musim dingin," lanjutnya.
Soobin terkekeh pelan setelah mendengar sahutan dari Shaula. Lalu dia turun dari kuda putih tersebut dan membantu gadis itu juga turun.
"Itu adalah hal istimewa dari hutan surga," balas Soobin.
Soobin melangkahkan kakinya menuju salah satu pohon Aprikot tersebut. "Banyak kisah indah yang terjadi di hutan surga ini," lanjutnya.
Shaula mengedarkan pandangan ke setiap sudut yang ada ditempatnya berpijak. Ketika pandangannya kembali ke Soobin, dia melihat laki-laki itu duduk dibawah naungan pohon Aprikot.
Diatas tumput hijau, Soobin duduk disana. Lalu dia menepuk tempat kosong yang ada disampingnya, sehingga langsung membuat Shaula mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Duduklah disampingku," pinta Soobin.
Tanpa pikir panjang, Shaula melangkahkan kakinya menuju ke arah Soobin yang tidak melunturkan senyumnya. Senyuman laki-laki itu sama sekali tidak pernah berubah sejak pertama kali mereka bertemu.
Mereka berdua duduk menikmati suasana.
Pandangan Soobin langsung jatuh pada langit jingga yang perlahan menggelap. Ditambah dengan angin yang menyapu kelopak Aprikot, sontak langsung membuat senja kali ini semakin indah.
"Ada satu keinginan yang sudah sejak lama aku impikan," sahut Soobin.
Sahutan dari Soobin langsung membuat arah pandangan Shaula terlempar ke arahnya. Dia pun menegakkan punggung dan menghadap menatap patahan wajah tampan Soobin.
"Apa hal yang kamu inginkan?" tanya Shaula.
Soobin mengangkat salah satu sudut bibirnya, lalu sorot mata bening itu langsung bertemu dengan manik mata Shaula. Netra indah itu langsung membuat hati gadis itu mendayu-dayu dalam hitungan detik.
__ADS_1
"Menikah denganmu," balas Soobin.
Setelah Soobin mengatakan hal tersebut, secara tiba-tiba salju pun mulai turun menjatuhi pipi Shaula. Dia sedikit tersentak karena benda berbentuk kristal nan dingin itu membuat pipinya terasa dingin.
"Salju turun," gumam Shaula.
Soobin sedikit tersentak ketika Shaula mengatakan jika salju turun. Dia langsung mengangkat kedua sudut binirnya ke atas dan mendongakkan pandangan.
Salju pertama turun di hutan surga.
"Semoga permintaanku terkabul. Walaupun dalam kehidupan selanjutnya," gumam Soobin, pelan.
Semakin lama, salju semakin berjatuhan secara koloni. Namun nampaknya kedua insan tersebut masih tetap setia berdiri ditempat.
Pikiran Soobin langsung terpaku pada kisah legenda tentang cinta sejati dan salju pertama. Dia harap kisah tersebut memang benar adanya. Jikalau tidak terjadi sekarang, dia harap akan terjadi suatu saat nanti.
Tanpa mereka sadari, keduanya telah terikat oleh benang merah yang mengikat secara abadi.
Soobin sedikit terkejut. "Ah~ sepertinya kita harus mencari tempat untuk berteduh," katanya.
Shaula pun menggangguk dan langsung menarik pergelangan tangan Soobin. Keduanya pun berakhir dengan berlarian dibawah guyuran salju.
Soobin langsung melepas jubahnya dan menjadikan benda itu sebagai pengganti payung.
"Aku harap kamu adalah cinta sejatiku," gumam Soobin, pelan.
"Aku akan selalu menantimu, walaupun itu dalam kehidupan selanjutnya sekali pun."
...๐ ๐ ๐ ๐...
"Astaga, kamu kemana saja putriku! Abeoji sampai pusing mencari keberadaanmu," sahut sang raja.
Baru saja Shaula kembali dari hutan surga, namun sang raja langsung mengomelinya. Namun hal itu justru membuat gadis itu tersenyum sendiri.
"Apa kamu tidak tahu jika hujan salju?" lanjutnya.
Shaula hanya mendengar omelan dari sang raja dengan kedua sudut bibir yang naik. Bukannya merasa bersalah, gadis itu justru tersenyum layaknya diberi penghargaan.
Karena hal tersebut, sontak membuat sang raja mengusap wajahnya pelan.
"Mars, sepertinya adikmu ini sudah gila," sahut sang raja.
"Lihatlah! Bukannya merasa bersalah dia malah tersenyum seperti itu," lanjutnya seraya terkekeh.
Sedangkan Mars dan sang ratu ikut tertawa geli mendengar perkataan dari sang raja. Setelah itu sang ratu menghampiri Shaula dan memeluk pundak putrinya.
Sang ratu mengangkat kedua sudut bibirnya. "Raja, sepertinya putri kita sedang dilanda cinta. Apakah raja tidak menyadarinya sejak tadi?" sahutnya.
BLUSH!
Pipi Shaula langsung memerah dalam hitungan detik. Sepertinya perkataan dari sang ratu langsung membuat gadis itu menjadi salah tingkah. Karena hal tersebut, sontak membuatnya langsung membuang muka.
"Eomma!" seru Shaula.
Mars sepertinya juga tertarik untuk menggoda adiknya itu. Dia pun melangkahkan kaki mendekat ke arah sang adik dan mendaratkan kedua tangannya diatas pundak Shaula.
"Sepertinya yang dikatakan eomma benar," kata Mars.
Mars mencubit pipi gembul milik Shaula. "Lihatlah pipimu semerah cherry," lanjutnya.
Shaula meringis ketika pipinya dicubit oleh kakaknya. Karena hal tersebut, sontak membuat sang empunya mendengus lalu memalingkan wajah.
"Siapa laki-laki yang membuatmu seperti ini?" goda Mars.
"Apakah dia adalah pangeran El Nath?" lanjutnya.
Air muka Shaula langsung berubah seratus delapan puluh derajat dari semula. "Aku akan pergi ke perpustakaan," finalnya.
Melihat perubahan muka sang adik, Mars langsung menyadari jika Shaula tidak nyaman dengan ranah pembicaraan ini. Mungkin hanya dia yang tahu mengenai hal itu, sayangnya kedua orang tuanya sama sekali tidak mengetahuinya.
.........
Ketika Shaula hendak berjalan menuju ke perpustakaan, secara tidak sengaja dirinya menabrak seseorang. Mungkin semua hal itu adalah kesalahannya, karena dia tidak memperhatikan jalan.
BRUK!
Shaula secara tidak sengaja menjatuhkan mahkotanya, lalu dia langsung mengambil benda itu. Namun ada tangan lain yang mengambil benda itu, selain tangannya sendiri.
"Anda baik-baik saja, tuan putri?"
DEG!
Tubuh Shaula langsung menegang ketika indera pendengarannya mendengar surara berat ini. Sebuah bias suara yang sama sekali tidak asing ditelinga. Setelah itu, dia langsung mendongakkan pandangannya ke arah sang lawan bicara.
"Kaโkamu? Bagaimana bisa kamu berada disini?"
__ADS_1
...๐ ๐ ๐ ๐...
...See you next part~...