
...BAB 7...
...PENGHUNI DANAU...
...a novel by youmaa...
...βTidakkah kalian bisa melihatku sekarang?β...
...Happy Readingβ₯...
...π π π π...
"Sudah paham apa tugas kalian semua?"
Madam Aluna menugaskan semua murid semester dua untuk menjalankan sebuah misi. Shaula nampaknya sangat antusias dan suka dengan misi ini.
Tapi ada hal yang lain yang membuatnya kesal, dia diharuskan satu tim bersama dengan El dan Ankaa. Kenapa harus mereka berdua? Kedua makhluk itu selalu saja membuatnya kesal.
Tapi hal itu sedikit ternetralisir oleh keberadaan Soobin ditim ini.
"Lagi-lagi pangeran angkuh itu," gumam Shaula seraya menghela napasnya gusar.
Adara menatap Shaula, lalu telapak tangannya yang dingin mendarat mulus diatas pundak Shaula. Karena hal tersebut, membuatnya sedikit tersentak karena sentuhan dari Adara yang dingin.
Dia bukan hantu bukan?
Adara memasang air muka terkekuk. "Kali ini aku tidak bersamamu," sahutnya.
Shaula menghela napasnya pelan. "Tidak apa. Kerjakan tugas ini dengan baik tanpaku," katanya.
Adara menggangguk pelan. "Baiklah," katanya yang nampak tidak rela.
"Yang terpenting dalam misi ini adalah kekompakan. Jadi saya harap setiap tim harus kompak demi melakukan misi ini atau kalian akan saya hukum," sahut Madam Aluna.
Shaula nampak tidak yakin akan hal ini. Dia merasa jika timnya tidak akan kompak jika ada Ankaa dan El yang disatukan dalam satu tim.
Karena dia tahu jika kedua laki-laki ini tidak saling akur satu sama lain.
"Ingat satu hal, kalian jangan pernah ceroboh dalam hal apa pun. Karena ada beberapa bahan ramuan yang dijaga oleh makhluk gaib," imbuh Madam Aluna.
"Ah~ juga, jangan sampai kalian melakukan kesalahan fatal," lanjutnya.
Mendengar hal tersebut, Shaula ingin menceburkan dirinya dalam samudra saja. Kenapa dirinya harus terjebak dalam drama konyol tim menyebalkan ini?
Mimi peri tolonglah aku, batin Shaula.
...π π π π...
"Jangan membatahku, apa kamu tidak tahu jika aku ini seorang pangeran?" sungut Ankaa, ketus.
Telinga Shaula pengar mendengar perdebatan tidak berguna dari kedua makhluk dibelakangnya. Mulut kedua laki-laki itu seperti anak perempuan saja. Hanya hal inilah yang terjadi disepanjang perjalanan mereka.
Ingin rasanya Shaula mengikat kedua pangeran ini disebuah pohon dan meninggalkannya disana.
"Aish, kenapa mereka berisik sekali?" gumam Shaula, pelan.
Soobin berjalan didepan Shaula. Mendadak dia menulikan pendengarannya karena ulah kedua laki-laki yang masih berdebat satu sama lain.
Sudah sejak tadi pula, dia berusaha untuk menahan rasa kesal dan niatnya untuk mengikat mereka berdua.
Perjalanan ini sangat melelahkan. Hal yang paling menyebalkan adalah setiap tim dilarang menggunakan sapu terbang oleh Madam Aluna. Apakah wanita itu tengah menguji muridnya?
"Aku sudah bilang jika kamu membatahku. Kamu akan terima akibatnya," sungut Ankaa.
Shaula meremat ujung roknya kuat, lalu memutuskan untuk mensejajarkan langkahnya dengan Soobin. "Berapa lama lagi kita sampai?" tanyanya
Soobin menatap peta itu dengan tatapan yang nampak serius. "Seharusnya tempatnya tidak jauh dari sini," jawabnya dengan mata yang tidak lepas dari benda itu.
"Dasar penyihir bawahan sialan, kenapa kamu selalu mengangguku!"
"Hei, siapa yang mengganggumu! Mengganggumu adalah hal yang sama sekali tidak berguna."
Karena sudah tidak tahan lagi, Shaula pun membalikan badannya dengan tatapan tajam. "Kalian bisa diam?" kataku, dingin.
"Kenapa?" tanya Ankaa dan El, kompak.
"Jika aku mendengar ocehan tidak berguna kalian, aku tidak segan-segan akan mengikat kalian berdua dipohon," ancamku, ketus.
"Mengikat?" tanya Ankaa, tidak percaya.
Shaula mengulurkan tangannya. Setelah itu, sulur pohon yang ada disekitar tempat ini merambat ke arah Ankaa dan El.
"Hei! Lepaskan kami," seru Ankaa mencoba melepaskan lilitan sulur itu.
Shaula mengela napasnya dan menghentakkan tangannya. Dalam hitungan detik, sulur itu pun lepas dari tubuh kedua pangeran itu.
__ADS_1
"Kalian sedang apa?" tanya Soobin.
Tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang, membuat kami semua terkejut. Disisi lain, Soobin merentangkan tangannya diantara udara dengan mata yang terpejam.
Sepontan Shaula bersembunyi dibalik punggung tegap milik Soobin. "Ada apa ini, Soobin?" tanyanya.
Sorot mata Soobin menatap ke setiap sudut yang ada ditempat ini. Lalu tangan itu mengeluarkan tongkat sihirnya, kemudian menggunakannya untuk melakukan sesuatu.
Ternyata Soobin tengah mengendalikan angin itu.
"Angin apa tadi?" tanya Shaula dengan nada takut.
Nampaknya Shaula sangat menakuti angin. Melihat hal tersebut, Soobin mengulurkan tangan dan mengelus puncak kepala gadis itu.
"Jangan takut," kata Soobin, singkat.
Karena tingkah Soobin, membuat Shaula tersentak. "Baiklah," katanya, pelan.
Ankaa menghampiri kedua insan berbeda itu. "Oh, bagus sekali. Kami berdua menjadi nyamuk diantara kalian," katanya, ketus.
Shaula melempar tatapan tajamnya ke arah Ankaa, lalu mengulurkan tangan diantara udara.
"Berhenti! Apakah kamu akan megikatku lagi?" potong Ankaa.
"Siapa kalian semua? Pergi dari sini."
Shaula menatap ke arah sumber suara itu berasal. Ketika manik matanya menangkap sosok makhluk, matanya kontan membulat. Makhluk itu nampak seperti iguana raksasa, namun sepertinya dia adalah naga.
"Pergilah dari sini. Aku tidak ingin melawan makhluk lemah seperti kalian," ucap sang naga.
Shaula menepis rasa takutnya itu sejauh mungkin. "Tidak, kami tidak akan pergi!" sergahnya.
Sang naga tertawa renyah. "Murid Hogwart seperti kalian tidak cukup kuat untuk melawanku," katanya, lagi.
Shaula menatap ke arah sang naga, hendak mencari kelemahan yang berada pada makhluk itu. Manik matanya langsung terpaku pada cula yang berada didahi makhluk itu.
Pasti benda itu adalah kelemahannya.
"Pasti bunga itu ada didalam goa," sahut Soobin, lirih.
Hal lainnya yang terjadi, nampaknya Ankaa akan menyerang naga itu dengan pedang yang ada digenggamannya saat ini. Apakah laki-laki arogan itu mengetahui letak kelemahan makhluk raksasa ini?
Shaula pikir tidak.
"Enyah dari hadapanku, naga sialan!" seru Ankaa.
"Ah~ ada-ada saja laki-laki itu," hela Shaula.
Sang naga sepontan menghempaskan Ankaa dengan sekali serangan menggunakan ekornya. Hempasan itu cukup kuat, sehingga membuat laki-laki itu terpental beberapa meter.
"Aish," desis El.
Setelah Ankaa, rupanya El juga ikut menyerang naga itu dengan pedangnya. Shaula nampaknya tidak memiliki niat untuk membantu kedua laki-laki itu. Sepertinya hal ini adalah pertunjukan yang menarik untuk ditontonnya.
"Wah~ seru sekali," gumam Shaula, pelan.
Soobin yang tadinya berfokus pada peta, perhatiannya langsung terpaku pada kedua laki-laki itu. Dia nampak terkejut dengan pertarungan antara kedua pangeran angkuh melawan naga penjaga bunga Lily Kuning.
"Kenapa kamu tidak membantu mereka?" tanya Soobin.
Shaula menatap ke arah Soobin sekilas. "Mereka yang memulainya terlebih dahulu. Jika aku membantu mereka pasti aku aku akan kena omelan," jelasnya.
Soobin menggelengkan kepalanya pelan. Lalu dia berlari menuju ke pertarungan itu dengan pedang yang ada ditangannya saat ini.
SLING!
Soobin terbang dengan kekuatan penguasaan angin yang dimilikinya. Dengan sekali tebas, dia berhasil memotong cula naga itu.
Dalam hitungan detik, sang naga ambruk dan menghilang secara tiba-tiba.
Sebenarnya misi ini adalah buat-buatan dari Madam Aluna untuk menguji ketelitian juga kekuatan dari setiap murid. Dari setiap tim, memiliki misi yang berbeda-beda.
Soobin menatap sekilas Ankaa dan El yang saat ini melempar tatapan terkejut mereka padanya. Sedangkan sang empunya langsung membalikkan badan dengan salah satu tangan yang menenteng pedang.
Shaula tersenyum tipis melihat kelihaian Soobin dalam menggunakan pedang itu.
"Kenapa kalian justru melawannya?" sahut Soobin.
Ankaa dan El sepontan membuang mukanya ke arah lain. Nampaknya mereka tidak ingin menatap Soobin yang baru saja menghilangkan pedangnya tersebut. Entah apa yang dipikirkan oleh kedua pangeran itu sekarang.
"Mari, kita menyelesaikan misi ini."
...π π π π...
Setelah menyelesaikan misi yang diberikan oleh Madam Aluna, semua murid membawa bahan ramuan itu ke mejanya.
__ADS_1
"Kerja bagus. Kalian berhasil mendapatkan semua bahan ramuan ini dengan baik," sahut Madam Aluna.
Shaula merasa senang jika Madam Aluna memuji tim mereka. Namun ketika wanita itu menatap ke arah gadis itu, alisnya mengernyit.
"Dimana Ankaa dan El?" tanya Madam Aluna.
Baru saja mengatakan hal tersebut, keduanya langsung muncul dari balik pintu kelas. Karena menatap keadaan babak belur yang terjadi pada kedua pangeran itu, sang madam pun terkejut.
"Kenapa kalian?" tanya Madam Aluna.
El dan Ankaa hanya diam tidak mengeluarkan kata sedikit pun sama sekali. Mereka saling menyikut dengan kepala yang tertunduk.
Habis sudah nasib tim mereka.
"Saya berbicara pada kalian," kata Madam Aluna, penuh penakanan.
Madam Aluna menghela napas, lalu bangkit dari duduknya. "Kalau begitu, kalian saya hukum atas kesalahan ini," lanjutnya.
Wanita itu menatap Ankaa dan El secara bergantian dengan tatapan datar. Sedangkan sang empunya nampak bungkam dengan pikiran masing-masing.
"Kenapa kalian begitu ceroboh?" tanya Madam Aluna, lagi.
"Bersihkan area didekat danau asrama Slytherin sekarang," lanjutnya.
Shaula merasa lega ketika hanya Ankaa dan El saja yang dihukum atas kesalahan yang mereka perbuat. Namun ketika gadis itu membalikkan badannya, sang madam pun memanggilnya.
"Kamu mau kemana?" sahut Madam Aluna.
Shaula membalikkan badannya dengan air muka binggung. "Bukankah hanya El dan Ankaa saja yang mendapat hukuman itu?" tanyanya.
"Saya tidak bilang seperti itu."
.........
Shaula kesal karena dirinya juga ikut andil dalam hukuman ini. Bahkan dia sudah mengira jika dirinya akan mendapatkan hukuman hanya karena pertengkaran kedua pangeran itu.
"Ini semua gara-gara ulahmu itu."
"Hei, kenapa harus aku yang disalahkan? Bukankah itu juga ulahmu?"
Bahkan dalam hukuman, mereka berdua masih saja bertengkar seperti ini. Dia berpikir jika menjadi satu tim dengan kedua pangeran ini adalah pilihan yang buruk.
Karena pertengkaran mereka, hukumanlah yang menjadi hadiahnya.
Karena ocehan kedua pangeran ini, membuat mereka berempat panen sorotan dari beberapa murid Slytherin yang berkeliaran disini. Ingin rasanya Shaula menceburkan diri ke dalam danau yang berada didepannya saat ini.
Sejak tadi Shaula meremat kuat ujung sapu lidi yang dipegangnya saat ini. Karena tidak tahan dengan tingkah kedua pangeran ini, dia pun membalikkan badannya.
"Diam kalian, sialan!" seru Shaula setengah teriak.
Tanpa sadar, tanah yang dipijak oleh Shaula itu tiba-tiba menyerang kedua laki-laki tersebut. Karena hal itu, membuat keduanya terpental dan terjembab diantara semak-semak.
Shaula pikir itu akan menjadi hukuman mereka.
Soobin membulatkan mata ketika dirinya menatap kedua pangeran itu masuk ke dalam semak-semak karena ulah Shaula. Lantas dia menghampiri gadis itu dan menepuk pundaknya pelan.
"Seharusnya kamu tidak melakukan hal itu," sahut Soobin, datar.
Shaula menghela napasnya gusar, lalu menatap tajam Soobin. "Sebaiknya kamu tidak ikut campur dalam masalah ini," desisnya, ketus.
"Aduh pinggangku," hela El seraya bangkit dari posisinya.
Shaula menatap datar kedua pangeran angkuh tersebut yang mencoba untuk berdiri. Dia pun melihat kedua tangannya didepan dada.
"Diam dan selesaikan hukuman ini," final Shaula.
Setelah hampir tujuh belas menit, Shaula meletakkan sapu itu disamping pohon. Bisa saja mereka menggunakan ilmu sihir untuk membersihkan tempat ini, namun kenyataan kembali menampar mereka.
Karena ini adalah sebuah hukuman bukan tugas.
Setelah selesai, Shaula pun duduk ditepi danau, lalu kedua telapak tangannya menakup untuk mengambil air. Beruntungnya, kedua pangeran itu sudah enyah dari tempat ini.
Sedangkan Soobin tengah tidur dibawah pohon dengan tangan yang menjadi bantal. Sepertinya laki-laki itu nampak lelah karena hal ini.
Shaula membalikkan badannya, lalu manik matanya langsung disuguhkan oleh patahan wajah milik Soobin yang terngah tertidur. Bahkan ketika tertidur pun, laki-laki itu nampak sangat tampan dan damai.
SREKK SREEKK..
Ketika dirinya tengah sibuk dengan menatap Soobin, telinganya secara tidak sengaja menangkap suara. Manik mata hazel miliknya langsung terlempar pada semak-semak yang tidak jauh darinya saat ini.
"Siapa lagi?" gumam Shaula, pelan.
Shaula tersentak ketika obsidian miliknya menangkap sosok yang asing baginya.
"Penghuni danau," katanya, pelan.
__ADS_1
...π π π π...
...See you next part~...