Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Mars Starley


__ADS_3

...BAB 23...


...MARS STARLEY...


...a novel by youmaa...


...❝Kali ini biarkan mata hatimu yang bekerja.❞...


...Happy Reading♥...


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


Shaula membuka mata, sehingga cahaya yang menerpa penglihatannya perlahan nemasuki retinanya. Ketika menegakkan badan, mendadak rasa sakit langsung menyerang tubuh dan kepalanya. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah ruangan gelap nan lembab.


Bayangan benda berjajar perlahan menjadi jelas dan sekian lama semakin terlihat. Shaula membulatkan membulatkan mata ketika sadar bahwa dirinya tengah berada didalam penjara bawah tanah.


"Bèdebah brèngsek! Dia sekarang malah mengurungku dipenjara bawah tanah," sungut Shaula seraya menendang sel besi yang ada didepannya.


Setelah itu, manik matanya secara tidak sengaja menangkap sosok menunduk yang berada jauh didepannya—penjara terpisah lain. Dia menyempitikan pandangan agar dapat melihat dengan jelas.


Shaula kontan membulatkan matanya dengan perasaan terkejut.


"HENA!" teriak Shaula dengan suara lantang.


Berkat suara toa yang dimilikinya, membuat teriakan itu menggema diseluruh sudut ruangan. Gadis itu mengoyang-goyangkan jeruji besi yang sudah lapuk termakan usia.


Dia justru berteriak layaknya orang kesetanan.


Sejak tadi Shaula terus mencoba menggunakan mantra Alohomora untuk membuka jeruji besi yang berad dihadapannya. Setelah mencoba berkali-kali, usahanya ternyata tidak sia-sia.


Dia berhasil membuka gembok besi yang sayangnya tidak dilindungi oleh mantra apapun. Dia pun menggunakan mantra yang sama untuk membuka gembok yang mengunci pintu jeruji yang mengurung Hena.


"Hena, bangun. Katanya kamu adalah gadis yang kuat," sahut Shaula seraya menepuk-nepuk pipi Hena.


"Mana mungkin pejuang justru teler seperti ini!" lanjutnya.


Shaula memejamkan matanya dengan kedua tangan yang dia rentangkan ke arah Hena. Saat ini gadis itu mencoba untuk menghilangkan mantra penghipnotis itu dari temannya.


Usahanya ternyata tidak sia-sia.


"Shaula?" gumam Hena seraya bangkit dari posisinya.


DRAP DRAP DRAP..


Tiba-tiba telinga Shaula tidak sengaja menangkap suara langkah kaki. Tidak hanya satu, melainkan akan ada beberapa orang yang datang menghampiri penjara bawah tanah ini.


"Sial. Mereka datang lagi," gumam Shaula.


Hena mengangkat kedua alisnya ke atas. "Ada apa?" tanyanya.


GREP!


Shaula langsung menarik tangan Hena untuk pergi dari penjara itu sesegera mungkin sebelum mereka ketahuan. Langkah mereka langsung terhenti pada balik tembok karena ada para penyihir hitam yang melintas.


Shaula kembali menarik tangan Hena untuk segera beranjak dari istana kegelapan ini.


"Apa yang terjadi?" sahut Hena.


Langkah mereka terhenti tepat pada gorong-gorong air yang nampak begitu gelap. Napas keduanya mendadak tersenggal karena berlari menyelamatkan diri.


"Nanti saja aku bercerita padamu," balas Shaula seraya mengatur napasnya.


Manik mata Shaula tidak sengaja menatap ada sebias cahaya yang nampak dari kejauhan. Tanpa mengatakan apapun lagi, keduanya langsung pergi meninggalkan tempat yang mereka jejaki.


Hingga langkah mereka sampai pada ujung terowongan air.


"Wah~" kata mereka, kompak.


Manik mata keduanya langsung disuguhkan dengan pemandangan luar biasa yang begitu memanjakan mata. Rerumputan hijau yang luas dengan banyak hamparan bunga dandelion yang tumbuh.


Ditambah dengan udara yang bersih dan sejuk membuat suasana menjadi lebih sempurna.


"Tempat ini keren sekali!" seru Shaula dengan mata terpejam seraya merentangkan tangan dan badan yang memutar.


Hena mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat yang saat ini dipijakinya. Karena hal tersebut, membuatnya mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas—membentuk sebuah senyuman.

__ADS_1


"Jadi keberadaan Lembah Moratorium itu memang ada."


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


Soobin masih terjebak dalam istana kegelapan ini seorang diri. Bahkan dia sama sekali tidak mengetahui apakah teman-temannya sudah kembali ataukah belum.


Semoga saja mereka semua sudah kembali ke Hogwart."


Kedua tangannya terlipat diatas jendela menara yang terbilang sangat tinggi dengan dagu yang mendarat dilipatan itu. Manik matanya menatap langit gelap itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bagaimana dengan keadaanmu, Shaula?" gumam Soobin.


CEKREK..


Telinga Soobin secara tidak sengaja mendengar sebuah suara pintu yang baru saja dibuka. Bahkan untuk sekedar menatap pelaku dari si pembuka pintu pun dia enggan untuk melemparkan pandangan.


"Kenapa kamu tidak memakan makananmu?"


Sahutan dingin itu sama sekali tidak membuat Soobin bergeming. Gadis itu pun menghela napasnya pelan dengan lalu membalikkan badan. Lebih baik dia kembali ke tempatnya daripada harus berurusan dengan laki-laki dingin itu.


"Baiklah, jika kamu tidak ingin berbicara denganku. Aku ada di—"


"Se Hwa," potong Soobin dengan nada dingin.


Se Hwa membalikkan badan dan menatap datar sang lawan bicara. "Kenapa?" tanyanya.


"Lepaskan teman-temanku," balas Soobin, singkat.


Se Hwa mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas. "Ah~ maksudmu Ankaa, El, Hena dan—"


Perkataan Se Hwa tertahan pada ujung bibir, karena dia merasa kesal dengan gadis itu. Gadis yang dapat membuat Soobin berpaling darinya dan juga sosok yang merenggut takdirnya.


"Shaula," lanjutnya.


Soobin membuang mukanya ke arah lain, karena dirinya merasa muak dengan muka Se Hwa. Gadis itu membuatnya malas untuk sekedar melemparkan tatapan barang sedetik sekalipun.


Se Hwa menjentikkan jarinya. "Baiklah, aku akan melepaskan mereka dan mengizinkan mereka untuk kembali," balasnya.


"Tapi kedua teman perempuanmu itu kabur," lanjutnya.


Se Hwa melangkahkan kakinya ke arah kursi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Lalu dia menyilangkan kaki dengan kedua tangan yang mendarat diatas lutut.


"Soobin, apakah kamu mengetahui kejutan lain dari Shaula yang belum kamu ketahui?" sahut Se Hwa, menginterupsi.


Soobin menaikkan alis sebelah. "Maksudmu?" tanyanya.


"Shaula memiliki liontin galaksi yang merupakan identitas kerajaan Kuan," balas Se Hwa.


Soobin mengendurkan alis dengan bahu yang perlahan merosot. Telinganya sama sekali tidak salah menangkap informasi, jika Shaula adalah putri kerajaan Kuan.


Sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan baginya.


"Jangan bercanda," desis Soobin.


Se Hwa berdecak pelan, lalu menegakkan tubuhnya menjadi posisi berdiri. Dia melangkahkan kaki menuju ke rak buku yang berada didepannya. Lantas jemari lentiknya itu terulur dan mengambil salah satu buku secara acak.


"Aku serius," kata Se Hwa seraya membalikkan halaman buku.


Setelah itu gadis itu menutup buku yang tadinya dibuka. Lalu dia melempar tatapannya ke arah Soobin dengan sebuah senyuman yang tercetak.


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


DRAP DRAP DRAP..


Suara derap kaki yang beradu itu menimbulkan suara gesekan yang memekakkan telinga. Dengan kedua tangan yang terlipat dibelakang punggung, laki-laki itu nampak sangat berwibawa dengan pakaian kerajaannya.


TOK TOK TOK..


Dia mengetuk pintu yang semulanya tertutup. Dalam hitungan detik, para pelayan wanita membuka pintu untuknya dengan kepala tetap tertunduk. Aura dari sang pangeran memang sangat berpengaruh dimana dia berpijak.


"Ibunda ratu," sahutnya.


Karena sahutan tersebut membuat sang empunya langsung melemparkan tatapannya ke arah sang lawan bicara. Setelah menurunkan padang yang ada ditangannya, wanita itu pun langsung membalikkan badan.


"Ada apa, putraku?" tanya sang ratu.

__ADS_1


Pangeran tampan yang memiliki sikap tenang dan bijaksana ini adalah penyihir yang hebat. Dia adalah putra mahkota yang akan menjadi pemimpin kerajaan Kuan, menggantikan posisi ayahnya.


Mars Starley.


Seorang pangeran yang selalu mengeluarkan sikap dinginnya setiap kali menatap wajah sang lawan bicara. Namun jangan heran jika dihadapkan dengan sang ibunda, laki-laki ini menjadi lembut.


"Izinkan saya untuk ikut mencari keberadaan putri, ibunda," kata Mars seraya membukkan badan.


Sang ratu menghela napasnya pelan seraya mengelus puncak kepala putranya itu dengan lembut. Seulas senyum langsung terukir diwajah cantik sang ratu.


"Bagaimana bisa aku melarangmu?" balas sang ratu.


"Tidak secepat itu, pangeran."


Mendadak suara berat langsung menguar ke dalam telinga Mars. Tanpa melihat pun dia sudah dapat menebak jika pemilik suara itu adalah sang ayah.


Raja dari kerajaan Kuan.


Sang raja menatap putranya itu dengan tatapan datar yang biasanya dilemparkan setiap saat. Sepertinya sang raja tidak mengizinkannya mencari keberadaan adiknya itu.


"Kamu tidak perlu melakukan hal itu, anakku. Karena itu terlalu mengundang resiko," balas sang raja dengan kedua tangan yang terlipat dibelakang punggung.


Raut muka sang raja langsung berubah seratus delapan puluh derajat, lalu melemparkan sebuah senyum tipis. Bahkan sebelum itu, Mars tahu jika ayahnya itu sedang bercanda.


"Pergilah, putraku. Jendral akan ikut denganmu," sahut sang raja.


.........


Menurut informasi yang didapatkannya dari sang panglima, adiknya itu berada di Hogwart. Karena ingin melihat keberadannya, laki-laki tampan itu memutuskan untuk mengunjungi sekolah sihir itu.


Karena kedatangan sang pangeran, membuat semua pasang mata tercenggang. Lantas mereka langsung menundukkan kepala ketika sang pengeran memasuki area Hogwart.


"Salam, pangeran. Ada yang bisa saya bantu?" sambut Profesor Aludra dengan senyuman.


Mars melempar senyum pada sang kepala sekolah Hogwart ini. Kemudian dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru tempat yang ada ditampatnya berpijak.


"Bahkan setelah sekian tahun, sekolah ini sama sekali tidak pernah berubah," gumam Mars.


Profesor Aludra tersenyum mendengar perkataan dari sang pangeran. Dia menjadi teringat dimana Mars masih menjadi murid di Hogwart. Laki-laki itu adalah murid Hufflepuff yang paling pintar.


Hingga akhirnya dia dipilih sebagai auror.


"Saya hanya ingin menanyakan sesuatu pada anda, Profesor Aludra," sahut Mars dengan nada serius.


Profesor Aludra membuka jalan seraya tangannya yang mengulur ke arah kantornya. Keduanya langsung memutuskan untuk segera menuju ke ruangan sang kepala sekolah Hogwart itu.


Sang pangeran duduk diatas kursi, sedangkan sang kepala sekolah berdiri didepannya—dia tidak berani duduk. Melihat hal tersebut, membuat Mars menghela napasnya pelan karena tingkah semua orang yang selalu menghornatinya secara berlebihan.


"Duduklah, profesor."


Setelah mendengar sahutan tersebut, barulah sang profesor duduk dikursinya. Dia menegakkan punggung dengan tatapan yang sedikit tertunduk.


"Lupakan jika saya adalah seorang pangeran. Ini bukanlah di kerjaan Kuan, tapi ini adalah Hogwart. Seharusnya saya yang menghormati anda," jelas Mars dengan nada penuh kebijaksanaan.


Profesor Aludra terkekeh pelan mendengar perkataan yang baru saja sang pangeran lontarkan padanya. Bahkan sikap rendah hati dari sang pangeran sama sekali belum berubah sejak dulu.


"Ada keperluan apa, pangeran?" tanya Profesor Aludra.


Mars menggangguk singkat. "Bisa anda perlihatkan daftar nama dari murid asrama Hufflepuff pada saya?"


Kedua alis sang profesor mendadak menaut. "Murid asrama Hufflepuff? Apakah ditahun anda?" tanyanya.


Mars menggeleng. "Pada tahun ini," balasnya, singkat.


"Tunggu sebentar, saya akan mencarikannya."


Setelah mengatakan hal tersebut Profesor Aludra langsung berhambur pergi untuk mencari data dari semua murid asrama Hufflepuff. Setelah cukup lama mencari, sang profesor langsung kembali.


Profesor Aludra memberikan semua data dari murid asrama Hufflepuff. "Ini, pangeran."


Mars langsung mencari satu persatu yang ada didata tersebut. Hingga satu nama dari seorang gadis menarik perhatiannya.


"Ternyata kamu berada disini."


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...

__ADS_1


...See you next part~...


__ADS_2