Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Portal Ilusi


__ADS_3

...BAB 22...


...PORTAL ILUSI...


...a novel by youmaa...


...โBulan bersinar hari ini, ruang kosong dalam ingatanku.โž...


...Happy Readingโ™ฅ...


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Shaula!"


Soobin berteriak memanggil nama dari gadis itu. Dia mempercepat langkahnya untuk memasuki istana kegelapan. Secara tiba-tiba gadis itu menghilang dari pengawasannya.


Melihat hal tersebut, membuat El juga berlari mencari keberadaan gadis itu. Sedangkan Ankaa hanya bisa cengo dengan tingkah teman-temannya ini.


"Hei, kenapa kalian meninggalkanku!" seru Ankaa dengan nada jengah.


"Siapapun, tolong aku."


Telinga Ankaa mendadak mendengar sebuah suara yang sepertinya adalah seorang perempuan. Lalu dia langsung berlari menuju ke arah sumber suara berasal.


.........


Sorotan matanya menjelaskan semua hal tanpa dia mengatakannya sekaligus. Tatapan tajam yang penuh arti itu, terus melangkahkan kakinya menuju sumber suara yang berdenggung ditelinganya.


"Selamatkan aku... Selamatkan aku."


Salah satu tangan Soobin menggengam kuat diantara gagang pedangnya. Pedang sang elang hitam yang selalu dia sembunyikan dibalik tongkat sihirnya.


Laki-laki itu berlarian masuk ke dalam lorong, hingga membuat suara menggema muncul karena peraduan antara kaki dan lantai. Dia menendang pintu yang setiap kali ditemuinya.


BRAK!


Manik mata tajam milik Soobin sama sekali tidak lepas dari tempat yang selalu dia lewati. Pikirannya terus terpaku dengan gadis yang selama ini telah membuatnya gila.


Perasaannya mendadak menjadi tidak enak.


Sejak tadi Soobin berkeliaran bebas didalam istana, namun dia belum kunjung menemukan keberadaan gadis itu. Bahkan dia juga sama sekali tidak menemukan satu pun penyihir hitam yang berada diistana ini.


Apakah istana ini kosong?


Napas Soobin tersenggal, hingga langkahnya mendadak terhenti pada anak tangga yang mengarah pada puncak menara. Hanya tempat itu saja yang belum dijekakinya sejak tadi. Tanpa berpikir panjang, laki-laki itu langsung berlari menyusurinya.


Setelah menaiki anak tangga itu, sampailah dia pada ujung anak tangga. Manik mata hitam legam miliknya langsung dipertemukan dengan sebuah pintu yang tertutup rapat.


Soobin mengibaskan pedangnya, lalu beberapa detik kemudian benda itu berubah menjadi tongkat sihir. Lalu dia memakai mantra Alohomoraโ€”berguna untuk membuka pintu terkunci yang tidak dilindungi oleh sihir.


BRAK!


Pintu terbuka lebar dengan bunyi yang memekakkan telinga. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah tempat kosong yang sama sekali tidak ada seorang pun disini.


"Shaula!" seru Soobin seraya mengedarkan pandangan.


Napasnya yang masih tersenggal itu sama sekali tidak membuat langkah dari Soobin terhenti. Sorot matanya terus menyusuri setiap sudut yang ada ditempat ini.


"Hai lagi, Choi Soobin."


Soobin terdiam ketika telinganya mendengar suara gadis yang pernah didengarnya saat ini. Secara diam-diam, laki-laki itu meremat kuat tangan sehingga urat nampak pada pergelangannya.


"Jadi selama ini kau yang menjadi pelaku utama dalam sekenario konyol ini?" sahut Soobin, dingin.

__ADS_1


Soobin memutuskan untuk membalikkan badan dengan manik mata tajam yang terlihat gahar. Nampak gadis cantik yang berada dijauh didepannya tengah berdiri dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada.


Air mukanya yang datar, membuat Soobin ingin melenyapkan gadis menyebalkan itu segera.


"Bรจdebah gila! Dasar kau penyihir licik," desis Soobin dengan nada gahar.


"Bagus sekali penyamaranmu itu, Se Hwa," lanjutnya.


Se Hwa menatap Soobin dengan kedua sudut bibir yang naik ke atasโ€”membentuk sebuah senyuman sarkasme. Gadis lugu yang selama ini dikiranya hanyalah gadis pendiam dan lembut, ternyata salah.


Sebenarnya dia adalah penyihir yang licik.


"Bagus bukan sekenario ini?" kata Se Hwa seraya merentangkan kedu tangannya diantara udara.


Se Hwa mulai melangkahkan kakinya pelan menuju ke arah dimana Soobin berdiri. "Pencurian Kristal Hogwart," katanya seraya memutari tubuh Soobin.


"Penculikan diriku sendiri," lanjutnya.


Se Hwa menghentikan langkahnya tepat pada hadapan Soobin dengan senyuman yang sama sekali tidak hilang dari wajah cantiknya. Karena hal tersebut, membuat Soobin membuang mukanya ke arah lain dengan tatapan dingin.


"Kau tahu sesuatu? Hena tidak bersalah dalam hal ini," kata Se Hwa, lagi.


Soobin mengendurkan alisnya dengan bahu yang perlahan merosot. "Maksudmu apa?" desisnya, dingin.


"Dia hanyalah umpan saja bagiku."


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


BRUGH!


Tubuh Shaula terhempas diatas lantai karena dirinya baru saja diseret oleh Hena menjauh dari ketiga pengawasan temannya. Manik mata merah miliknya saat ini tengah menghiasi wajah cantik yang selama ini tersembunyi padanya.


Namun hal yang lebih mengejutkan dari itu adalah tatapan kosong yang saat ini Hena lemparkan.


Shaula tersentak. "Apa ini? Mantra penghipnotis?" gumamnya.


Hena hanyalah umpan, bukanlah si pelaku utama. Lantas siapa pelaku sebenarnya?


SLING!


Hena mengeluarkan pedang dari sarungnya. Sepontan hal itu membuat Shaula bangkit dari posisinya dan mengibaskan tongkat sihir. Dalam hitungan detik, benda itu berubah menjadi pedang Elang Emas.


Tanpa sadar, sebuah sayap berwarna coklat keemasan muncul dari balik punggung Shaula. Sontak, hal itu membuat sang empunya terkejut ketika menyadari jika dia memiliki kekuatan istimewa.



"Karena ada hal yang indah yang ada dalam dirimu."


Mendadak suara seorang laki-laki yang terdengar asing muncul ditelinga gadis itu. Dia bahkan tidak mengingat apapun mengenai sang pemilik suara yang baru saja menusuk ke dalam indera pendengarannya.


SLING!


Hena menyerang Shaula dengan sangat tiba-tiba, dengan sigap gadis itu menangkis serangan sang lawan menggunakan pedang Elang Emas. Mereka berdua terlibat sebuah pertarungan, hingga membawa mereka menuju jembatan penghubung antar menara kerajaan Demon.


"Kau harus mati, tuan putri."


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Kalian semua, menjauhlah dari tempat ini!"


Teriakan dari tuan Hwang membuat semua murid yang ada didalam gedung langsung keluar ruangan. Berbondong-bondong, semua murid berlarian secara rapi untuk menuju ke lapangan utama Hogwart.


Terlihat juga para profesor yang nampak disana dengan tongkat sihir yang digenggam masing-masing. Semua pasang mata kini menatap ke arah langit dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Ada satu orang yang membuat perhatian mereka terpusat padanya.


SLAP!


Secara mendadak muncul sebuah petir muncul dari tongkat sihir gadis yang saat ini tengah menaiki sapu terbang itu. Serangan itu terjadi bertubi-tubi hingga menyebabkan gadis itu menerima serangan balik dari sejumlah murid Hogwart.


"Semuanya, buat portal untuk melindungi Hogwart!" seru Profesor Aludra dengan nada lantang.


Semua murid menyatukan kekuatan yang mereka miliki, lalu mereka mengangkat tongkat sihir itu tinggi-tinggi. Perlahan sebuah cayaha biru samar berbentuk setengah lingkaran muncul dari balik tanah.


Perlahan lingkaran samar itu semakin membesar hingga memenuhi seluruh area Hogwart.


"Serang Hogwart sekarang juga!" seru gadis misterius itu.


Para penyihir hitam langsung menyerang portal yang dibuat oleh para murid dan profesor. Usaha mereka terus berjalan untuk menghancurkan portal peindung yang saat ini melindungi Hogwart.


"Terus tembus portal perlindungan itu!" sahut gadis itu lagi.


Profesor Aludra menatap tajam gadis yang tadinya adalah salah satu dari murid Hogwart. Tatapan itu terlihat dingin dan seperti hendak menerkam mangsanya.


"Gadis sialan."


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Kau harus mati, tuan putri."


Mendengar sebutan itu, membuat Shaula terkejut setengah mati. Kenapa Hena menyebutnya dengan sebutan itu? Bahkan dirinya bukanlah seorang anggota kerajaan.


SLING!


TRANG!


Kedua pedang itu saling beradu, sehingga menimbulkan suara pergesekan yang bising. Kemampuan Hena dalam bertarung tidak dapat Shaula remehkan, karena dia mendengar sendiri jila gadis ini adalah seorang petarung yang hebat.


Itukah alasan kenapa Hena menjadi umpan?


SLING!


"Tidak akan kubiarkan kamu hidup," sahut Hena seraya mendorong pedang miliknya ke arah Shaula.


Dengan sisa tenaga yang dia miliki saat ini, Shaula bersikeras untuk menahan pedang yang saat ini tengah menyerangnya. Karena hal tersebut, membuat punggung gadis itu tertabrak lantai.


Saat ini, posisi keduanya saling bertumpukan satu sama lainnya dengan Hena yang terus berupaya menyerang Shaula.


"Hena, sadarlah! Kamu dalam pengaruh sihir," kata Shaula seraya menahan serangan Hena.


Namun Hena sama sekali tidak mendengar apa yang baru saja Shaula katakan. Ketika melihat jika lawannya itu lengah, Shaula langsung menendang gadis itu hingga terpental menjauh.


BRUK!


Punggung Hena menabrak dinding menara cukup kuat, sehingga membuatnya memejamkan mata.


DUAR!


Langit gelap itu mendadak mengeluarkan suara gemuruh yang selanjutnya muncul petir yang menyambar. Karena hal tersebut, membuat Shaula mendongakkan pandangan ke arah langit gelap itu.


DUAR!


Petir itu meyambar pada pedang Elang Emas yang saat ini digenggamnya. Sontak hal itu membuat sang empunya terkejut setengah mati.


"Akan kuberikan semua takdir indah ini padamu."


Mendadak pandangan Shaula mulai menggelap secara tiba-tiba.

__ADS_1


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


...See you next part~...


__ADS_2