Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Hanggang Prince


__ADS_3

...BAB 36...


...HANGGANG PRINCE...


...a novel by youmaa...


...❝Seseorang yang akan membuat alur yang mengikatmu selamanya.❞...


...Happy Reading♥...


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


"Ka—kamu? Bagaimana bisa kamu berada disini?"


Shaula kontan membulatkan matanya ketika pandangannya bertemu dengan sang lawan bicara. Air mukanya langsung berubah, ketika dia mengetahui jika dia adalah Lee Soobin.


Laki-laki itu mengangkat kedua sudut bibirnya, lalu membungkukkan badan. Dia sangat tampan dengan setelan pakaian kerajaan yang nampak cocok dengannya.


"Salam cinta dariku, yang mulia," sahut Soobin.


Shaula terkekeh pelan ketika dia mendengar hal tersebut dari mulut Soobin. Setelah itu dia melemparkan tatapannya ke arah belakang—seperti melihat ke keadaan.


Shaula menarik ujung pakaian Soobin untuk menjauh dari tempat mereka berdiri. Dia membawa laki-laki itu menuju ke perpustakaan yang ada didekat paviliun kerajaan.


Ketika sampai pada depan pintu kerajaan, tangan Shaula mendadak dicekal oleh Soobin.


GREP!


"Ada sesuatu yang membuatku datang kemari," kata Soobin.


Shaula melepas cekalan itu, lalu melipat kedua tangannya didepan dada. "Katakan," balasnya.


Soobin mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas. "Aku memang datang untuk menemuimu," katanya.


Shaula menaikkan salah alis. "Lalu?" tanyanya.


"Tapi ada hal lain yang juga akan aku lakukan di kerajaan ini," sahut Soobin.


Setelah mengatakan hal tersebut, Soobin langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam perpustakaan. Karena hal tersebut, sontak membuat Shaula mendengus kesal atas sikap menyebalkan dari laki-laki itu.


"Soobin! Katakan padaku," seru Shaula.


Soobin napaknya sedang mencari buku yang ada dirak. Sedangkan Shaula masih terus menyerbunya dengan berbagai pertanyaan, namun sama sekali tidak diindahkan olehnya.


Soobin meletakkan telunjuknya tepat didepan Shaula.


"Ssstt~ jangan banyak bertanya. Aku ingin membaca dan kamu jangan menggangguku," kata Soobin, datar.


Shaula membulatkan mata dengan tatapan tajam yang terlempar ke arah Soobin. Dia sudah kesal karena pertanyaannya sama sekali tidak diindahkan oleh Soobin, sekarang dia justru membuat Shaula semakin kesal.


Kenapa Soobin justru membuatnya gemas?


"Aku belum selesai bicara, Soobin!" seru Shaula dengan menaikkan beberapa oktaf.


Soobin hanya menatap Shaula dengan tatapan datar seraya memegang buku di salah satu tangannya. Dia pun menutup buku yang tadinya sempat dibacanya sedikit.


"Bisakah kamu diam sebentar? Ini perpustakaan bukan hutan," gerutu Soobin.


Shaula hanya mendengus kesal.


"Tadi kamu tidak berteriak di hutan itu. Tapi sekarang kamu berteriak," lanjutnya.


Karena perasaan kesal yang tidak dapat Shaula tahan lagi, sontak dia langsung melempar bantal sofa ke arah Soobin. Benda itu justru mengarah tepat pada dahinya, sehingga membuat sang empu menatap Shaula tajam.


Soobin memungut bantal sofa itu, lalu menaikkan salah satu alisnya. "Jadi kamu ingin perang bantal?" katanya.


Soobin meletakkan bukunya diatas meja, sedangkan Shaula hanya menatapnya dengan datar. Laki-laki itu pun mendekatkan tubuhnya ke arah Shaula, hingga membuat gadis itu mundur beberapa langkah.


Karena hal tersebut, membuat punggung Shaula menabrak dinding. Hal yang paling menyebalkan adalah laki-laki itu justru mengunci pergerakannya. Setelah itu, dia mengulurkan tangan dan mendaratkannya tepat pada dahi Soobin.


"Aku akan terlebih dulu mengerjaimu," sahut Shaula, datar.


Setelah mengatakan hal tersebut, Shaula langsung mendorong tubuh Soobin pelan. Sehingga membuat tubuh bongsor laki-laki itu terhuyung beberapa langkah.


Bukannya marah atau kesal, dang empunya justru terkekeh geli.


Shaula merogoh bantal sofa berwarna merah bata, lalu langsung melemparkannya pada Soobin. Keduanya langsung terlibat perang dengan saling memukul dengan bantal sofa. Tatapan Shaula nampak sengit, sedangkan laki-laki itu hanya menatap dengan datar.


"Aku hanya bercanda, Shaula. Kenapa kamu menanggapinya serius?" protes Soobin.


Kemudian Shaula melangkahkan kaki menuju ke arah Soobin. Namun laki-laki itu lebih gesit darinya, sehingga dapat dengan mudah menghindari gadis itu.

__ADS_1


Kedunya pun terlibat kejar-kejaran, layaknya seperti kucing dan tikus.


"Soobin, mau lari kemana kamu!" seru Shaula, kesal.


Soobin dapat dengan mudah menghindari pukulan yanh Shaula daratkan padanya. Air mukanya berubah menjadi menyebalkan saat ini, sehingga membuat Shaula makin kesal setengah mati.


"Hei! Aku hanya bercanda," sahut Soobin.


Soobin melompati kursi. "Hentikan, Shaula!" serunya.


Shaula mengenggam bantal sofa diatas kepalanya. "Tidak akan. Aku akan membalas kejahilanmu," sungutnya.


Malam itu menjadi semakin konyol. Suara gaduh dari keduanya sukses mengundang banyak pegawai kerajaan untuk menempelkan telinganya dipermukaan pintu. Hal itu sontak membuat mereka menahan tawa karena ulah tuan putri kerajaan dengan seorang pangeran.


"Sepertinya tuan putri akan segera menikah dengannya," sahut salah satu diantara mereka.


"Kalian sedang apa?"


.........


Sang raja melangkahkan kaki dengan kedua tangan yang bertaut dibalik punggung. Menghabiskan waktu dengan berjalan mengelilingi istana adalah hal sering dia lakukan setiap hari.


Namun saat ini adalah keadaan yang berbeda karena dirinya tengah mencari putrinya. Hingga manik mata hitam milik sang raja langsung menangkap seorang laki-laki dengan pakaian kerajaan tengah berbincang dengan putrinya.


Mereka berada didepan pintu perpustakaan kerajaan.


"Siapa laki-laki itu?" gumam sang raja.


Mata sang raja memicing untuk dapat melihat dengan jelas seorang laki-laki yang bersama dengan putrinya. Setelah dia mengamati, sepertinya mereka terlihat sangat akrab—layaknya saling mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun.


"Bukankah dia akan menikah dengan El Nath?" gumam sang raja, lagi.


"Tapi laki-laki itu bukanlah dia," lanjutnya.


Sang raja menghela napanya pelan. Dia merasa jika putrinya tidak akan bahagia jika menikahkannya segera. Namun disisi lain, dia merasa khawatir dengan putrinya itu karena banyak sekali orang yang akan menyingkirkannya.


Dia hanya ingin putrinya memiliki seorang pelindung.


Kebetulan sekali, ada panglima kerajaan yang lewat dari arah depan. Ketika menyadari jika ada sang raja, dia langsung memberi hormat pada si pemimpin kerajaan.


Sang raja melempar tatapannya ke arah perpustakaan kerajaan. "Apakah kau tahu siapa laki-laki tampan tadi?" tanyanya.


"Sepertinya dia adalah tamu kerjaan, yang mulia," balas si panglima kerjaan.


Sang raja hanya ber-oh ria. Lalu dia menyuruh panglima kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Laki-laki paruh baya itu pun kembali melanjutkan langkahnya, hingga beberapa pegawai kerajaan membuat langkahnya terhenti.


"Sepertinya tuan putri akan segera menikah dengannya."


Sang raja mengaitkan kedua tangannya dibalik punggung dengan air muka datar. "Kalian sedang apa?" tanyanya.


Karena sahutan dari sang raja, sontak membuat para pegawai kerajaan bubar. Mereka langsung kembali pada pekerjaan masing-masing dan pergi meninggalkan sang raja setelah membungkukkan badan.


"Ada apa dengan mereka semua?" gumam sang raja.


Manik mata sang raja langsung terlempar pada pintu perpustakaan yang tertutup. Dari balik pintu itu, dia dapat menatap kedua orang yang ada didalam sana. Dia bahkan baru mengetahui jika itu adalah putrinya dengan seorang pangeran yang diduga sebagai tamu kerajaan.


Sang raja langsung membuka pintu. Hal tersebut langsung membuat keduanya melemparkan tatapan ke arah pintu.


"Kenapa tamu kerajaan datang bersama dengan tuan putri?" sahut sang raja.


Soobin membungkukkan badan ketika menyadari jika ada kedatangan sang raja. Sedangkan Shaula nampak terkejut ketika tahu jika ayahnya sudah berada didepan pintu dengan wibawanya.


"Jadi ada keperluan apa, pangeran?" tanya sang raja.


Soobin merogoh sakunya dan mencari keberadaan kertas yang sempat diberikan oleh ayahnya untuk diberikan kepada sang raja Kuan. Setelah itu, dia langsung memberikan undangan itu.


Soobin kembali melangkahkan kaki menuju Shaula. "Aku harus pergi karena ada urusan yang mendesak," bisiknya.


Shaula menggangguk. "Baiklah. Besok temui aku lagi," balasnya.


Soobin menggangguk pelan dengan kedua sudut bibir yang dia naikkan tipis. Namun gadis itu sama sekali tidak mengetahui jika ada segurat kesedihan yang tergambar pada air muka Soobin.


Karena hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu.


Soobin langsung pamit pada sang raja Kuan dan pergi meninggalkan ruangan perpustakaan dengan perasaan campur aduk. Dia meremat dadanya yang terasa sesak, lalu menghela napasnya panjang.


"Aku berjanji akan bersamamu, Shaula."


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


"Tidak! Kamu tidak boleh ikut dalam perang ini."

__ADS_1


Mars yang sudah bersikeras menolak permintaan Shaula untuk ikut andil dalam perang. Sebenarnya dia sedikit terkejut ketika mendengar jika kerajaan Kuan akan berperang dengan Hanggang.


"Eoraboni, izinkan aku mengikuti perang itu," rayu Shaula.


Mars berusaha untuk menulikan pendengarannya dan tetap berfokus pada latihan panahannya. Dia meremat ujung anak panah dengan kuat dan melesatkannya dengan kecepatan yang super.


"Tidak," balas Mars, datar.


Shaula menarik ujung pakaian Mars dan menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya. Namun hal itu sama sekali tidak memperdulikan itu dan memilih untuk berjalan menuju keluar area latihan panahan.


"EORABONI!!" seru Shaula, merengek.


"Tuan putri, perang itu tidak melibatkan perempuan."


Sahutan itu langsung membuat keduanya melemparkan tatapan ke arah sumber suara. Ternyata pelakunya adalah sang ratu yang baru saja mendaratkan kakinya diarea tersebut.


Shaula mendengus kesal. "Baiklah! Aku tidak akan ikut," sungutnya.


Shaula langsung pergi meninggalkan tempat. "Lalu gunanya aku mempelajari ilmu sihir dan perang apa," gumamnya.


.........


Malam hari pun tiba. Shaula langsung membuka matanya setelah gelisah dengan kabar perang yang tadi pagi dia dengar dari Mars. Dia tidak bisa tinggal diam di istana dan tertidur pulas.


Dia harus pergi ke medan perang.


Shaula langsung menyelinap masuk menuju ke dalam ruangan senjata. Dia mengganti pakaiannya dengan beberapa pakaian perang yang berada disana.


Setelah itu, dia menyabet anak panah yang ada disana. Kemudian menyampirkan benda itu pada balik punggungnya. Dia juga mengambil topi alang yang tergeletak diatas meja, lalu memakainya.


Shuala menyelinap keluar dengan cara mengendap-endap, hingga dia berhasil keluar dari kastil.


Kemudian Shaula berlari menerobos hutan dimana perbatasan antara kerajaan Kuan dan Hanggang berada. Dia yakin jika disanalah tempat terjadinya perang itu berlangsung.


Secara perlahan, cahaya matahari pun menyingsing.


Shaula baru sadar jika dia pergi dari istana dari tengah malam hingga pagi hari pun datang. Ketika dia baru sampai pada perbatasan antara dua kerajaan itu, manik matanya langsung disuguhkan dengan perang.


SLAP!


Secara mengejutkan, sebuah anak panah langsung melesat ke arah Shaula. Namun benda itu menancap tepat dibatang pohon yang ada disampingnya. Hal itu langsung membuatnya tersentak setengah mati, karena dirinya hampir saja terbunuh konyol.


"Kenapa membuat terkejut saja?" gumam Shaula, pelan.


Shaula langsung mengambil anak panah yang ada dibalik punggungnya. Lalu dia melangkahkan kaki menuju balik semak-semak dengan sorot mata yang tajam.


Walaupun terlihat samar, Shaula dapat melihat seorang laki-laki dengan kuda putihnya.


Anak panah yang akan dia lepaskan, mendadak melonggar ketika menyadari jika laki-laki itu adalah seseorang yang sangat dia kenal. Manik matanya membulat langsung ketika menyadari hal tersebut.


SLAP!


Shaula tersentak ketika sadar jika ada seseorang yang menyerangnya. Dia pun kembali memasang anak panahnya dan langsung melesatkannya ke arah sang lawan.


Setelah itu, Shaula pun keluar dari tempat persembunyiannya dan memasang cadar hitam. Dia tidak ingin orang tahu jika dirinya adalah putri kerajaan Kuan.


SLAP!


Dengan sigap, anak panah yang Shaula lesatkan langsung membelah anak panah lain yang hendak menyerangnya.


SLING!


"Aish," desis Shaula, pelan.


Shaula terkejut ketika pedang itu membelah cadar yang menutupi mukanya. Lalu dia menutupi muka dengan lengannya. Perlahan dia menurunkan busur dengan air muka terkejut.


Ketika manik mata Shaula menangkap seseorang yang ada jauh didepannya, lantas bahunya merosot secara perlahan. Ternyata benar dugaannya sebelumnya jika laki-laki itu adalah seseorang yang sangat dia kenal.


Shaula mengendurkan alis. "Ini tidak mungkin," gumamnya.


"Pasti aku salah melihat jika dia adalah Soobin," lanjutnya.


SLAP!


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


...See you next part~...


...Pangeran Hanggang yang mana sih? Ini dia....


__ADS_1


__ADS_2