Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Terowongan Waktu


__ADS_3

...BAB 25...


...TEROWONGAN WAKTU...


...a novel by youmaa...


...❝Hanya ada dalam sekali pandang, ketelitian adalah hal yang paling utama.❞...


...Happy Reading♥...


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


Shaula tercengang dengan tempat yang saat ini dipijakinya. Hamparan padang rumput yang luas dengan udara sejuk yang menghembus wajahnya. Dia sama sekali tidak menyangka jika legenda yang selama ini hanyalah dongeng, kini didepan matanya sendiri.


Lembah Moratorium.


Kakinya melangkah secara perlahan memasuki padang rumput yang luas itu, hingga manik matanya terpikat pada pohon rimbun. Setahunya, padang rumput jarang terdapat sebuah pohon—bahkan tidak ada sama sekali.


"Hena, ayo pergi dari sini," sahut Shaula.


Hena sepontan melemparkan tatapannya ke arah Shaula, lalu mengekori gadis itu tanpa melontarkan sepatah kata apapun.


Ketika langkah keduanya sampai pada pohon dengan daun merah muda itu, lantas tatapan mereka mendongak. Jujur saja, mereka sama sekali belum pernah melihat pohon secantik ini.


"Sepertinya ini adalah golden three," gumam Shaula, pelan.


Ternyata pohon yang selama ini Shaula baca pada beberapa buku diperpustakaan, memang bukanlah sebuah lelucon. Namun dia juga baru menyadari sebuah fakta jika hanya penyihir tertentu saja yang dapat menemukan pohon ini.


Apakah dirinya seistimewa itu?


Shaula menekuk lutut dan menjadikannya sebagai tumpuan untuk duduk. Perlahan tangannya terulur menyentuh batang yang ditumbuhi lumut berwarna ungu.


Secara perlahan, sentuhan dari Shaula menimbulkan sepercik cahaya yang terbang secara abstrak. Karena hal tersebut, membuat dirinya mendongakkan pandangan mengikuti sepercik cahaya berwarna emas itu.


Sedangkan Hena tercekat ditempat karena baru saja melihat sebuah keajaiban yang indah.


Berkat cahaya tersebut, butiran benih dandelion mulai berterbangan tertiup angin. Mendadak suasana tersebut menjadi damai dan nampak sangat indah.


Shaula perlahan menegakkan badannya dengan tatapan yang sama sekali tidak lepas dari suasana sekitar. Air muka gadis itu nampak terkejut, namun ada sedikit guratan senyum yang tercetak pada wajhnya.


Tiba-tiba muncul sebuah cahaya yang mengelilingi tubuh Shaula disertai dengan angin kecil yang membuat surainya berterbangan. Nampak wajah yang lebih terkejut dari sebelumnya.


Perlahan sayap berwarna emas muncul dari balik punggung Shaula secara tiba-tiba. Karena hal tersebut membuat Hena menganga melihat perubahan temannya itu.


"Legenda elang emas ternyata memanglah ada."


Sayap itu perlahan terkepak sehingga membuat angin berhembus karena kepakan lebar itu. Kaki Shaula yang awalnya mendarat diatas tanah, perlahan terangkat.


Dia langsung meraih tangan Hena dan membawanya terbang menjauhi tempat tersebut. Gadis dari asrama Hufflepuff itu membawa temannya menuju ke sebuah terowongan yang sama sekali tidak dia ketahui.

__ADS_1


Mereka pun mendarat tepat pada mulut terowongan yang luas tersebut.


"Hena, sebenarnya aku tidak terlalu yakin dengan ini. Tapi firasatku mengantarkan kita untuk melewati terowongan ini," kata Shaula.


Hena mengalihkan tatapannya ke arah Shaula dengan sorot mata penuh tanya. "Baiklah, kita akan melewatinya bersama," balasnya.


Tanpa pikir panjang, mereka langsung melangkahkan kaki masuk menuju ke dalam terowongan itu. Bahkan tanpa diketahui oleh keduanya, mereka memasuki lorong waktu yang mengantarkan ke arah Hogwart.


ZLAP!


.........


Cakrawala cerah dengan warna biru muda indah yang menjadi pemandangan yang pertama kali Shaula lihat. Pandangannya seolah menipunya jika mereka berdua benar-benar tengah berada pada asrama Hufflepuff.


Apakah mereka berdua tidak salah melihat?


Hena menyenggol lengan Shaula pelan. "Shaula, apakah kita tidak sedang bermimpi?" sahutnya.


Shaula langsung melempar tatapannya ke arah Hena dengan kedua alis yang naik. Sebagai jawaban, dia hanya menggelengkan kepalanya pelan.


BRUGH!


"Hei, kenapa kalian berdiri ditengah jalan?"


Shaula tersentak ketika tubuhnya baru saja ditabrak oleh salah seorang murid. Dia benar-benar terkejut ketika hal yang saat ini tengah dialaminya bukanlah mimpi.


Shaula langsung melempar tatapannya ke arah Hena dengan kedua sudut bibir yang terangkat. Keduanya nampak sangat senang, hingga saling bergandengan tangan dengan posisi berhadapan.


Karena tingkah absurd dari keduanya, membuat murid dengan seragam Hufflepuff itu mengerutkan alis. Lalu dia membenarkan letak kacamatanya yang melorot dan melempar tatapan heran ke arah dua lawan bicaranya itu.


"Sinting," gumam murid tersebut.


Setelah mengatakan hal tersebut, murid asrama Hufflepuff itu pun langsung beranjak dari tempat. Daripada dirinya ikut gila karena ulah dari Hena dan Shaula, lebih baik dia pergi saja.


Shaula menatap ke arah Hena. Dia baru saja tersadar jika gadis itu memakai seragam asrama Slytherin, yang berarti dirinya juga memakai seragam asramanya.


"Cubit aku, Hena. Ini bukan mimpi bukan?" sahut Shaula.


Hena mencubit pipi Shaula cukup keras, sehingga membuat sang empunya meronta kesakitan. Jika dia merasakan sakit, berarti hal ini bukanlah mimpi.


Tanpa mereka sadari sudah banyak tatapan sinis hingga heran yang terpusat ke arah mereka berdua saat ini. Mungkin hal gila yang saat ini terpikirkan oleh setiap murid adalah Hena dan Shaula sudah sinting.


Shaula mendadak termenung. Ada sesuatu hal yang membuatnya langsung merubah air mukanya seratus delapan puluh derajat.


"Apakah perang itu juga nyata?"


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


Malam yang begitu indah dengan hamparan bintang yang bertaburan dicakrawala gelap. Peraduan antara suara binatang nokturnal dengan angin membuat malam ini menjadi terlihat sempurna.

__ADS_1


Sayangnya, keberadaan sang rembulan tidak ikut untuk melengkapi keindahan malam ini.


Shaula menghela napas panjang seraya menatap ke arah langit. Saat ini dirinya tengah duduk dikursi yang ada ditaman asramanya seorang diri.


"Malam ini memang cocok untuk menghabiskan waktu seorang diri."


Ketika tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, mendadak telinga Shaula mendengar sebias suara berat. Karena hal tersebut, membuatnya langsung melemparkan tatapannya ke arah sumber suara.


Hingga manik matanya menangkap sosok El yang berdiri tidak jauh darinya dengan kedua tangan tersilang dibalik punggung. Air mukanya tetap datar, namun sama sekali tidak mengurangi ketampanannya.


El melempar sebuah senyum tipis, namun sepertinya Shaula tidak menyadari hal tersebut karena senyuman itu bahkan tidak nampak. Dia langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Shaula seraya melepas silangan tangannya.


"Aku boleh duduk disini?" tanya El.


Shaula menggangguk pelan sebagai jawaban—tentu saja tanpa menatap sang lawan bicaranya. Karena telah mendapat persetujuan dari sang empu, El langsung mendaratkan pantàtnya diatas kursi yang dingin karena suasana.


Shaula nampaknya tidak memperdulikan kehadiran dari El. Terlihat dari tatapannya yang teralih ke arah lain daripada menatap laki-laki dari asrama Slytherin ini.


"Ada sesuatu hal yang ingin aku katakan padamu," sahut El.


Shaula menatap sekilas sang lawan bicaranya, lalu kembali membuang tatapannya ke arah lain. Dia menghela napas pelan, lalu mendaratkan dahunya pada telapak tangan yang sikunya bertumpu pada lutut.


"Katakan saja," balas Shaula.


GREP!


Secara mengejutkan, El langsung mendaratkan telapak tangan dinginnya itu diatas tangan Shaula. Sontak hal tersebut membuat gadis itu terkejut setengah mati.


Lalu dirinya langsung menepisnya pelan.


"Apa maksudmu?" sungut Shaula.


El bangkit dari duduknya, lalu menghentikan langkah tepat didepan gadis itu. Kemudian dia membungkuk seraya menggengam tangan Shaula erat.


"Kamu tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui maksudku, Shaula. Kamu hanya pura-pura tidak tahu," kata El.


Shaula langsung menepis cekalan El dan berdiri dengan raut wajah yang nampak kesal. "Dengarkan aku, El Nath. Aku juga tidak sebodoh itu untuk menerimamu begitu saja," katanya.


El mengangkat kedua sudut bibirnya keatas tipis. "Itulah yang membuatku jatuh hati padamu," ucapnya.


Shaula sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran dari putra mahkota kerajaan Regulus itu. Bahkan tingkah laki-laki ini sama sekali tidak dapat ditebak karena sikap dinginnya itu.


GREP!


Sepontan El langsung menarik pergelangan tangan Shaula hingga gadis itu jatuh dalam dekapannya. Namun ada sesuatu hal yang membuat manik mata Shaula tercekat—ada seseorang yang berdiri jauh dari tempatnya berdiri.


"Soobin?"


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...

__ADS_1


...See you next part~...


__ADS_2