
...BAB 9...
...KODE BATU PELANGI...
...a novel by youmaa...
...❝Sekarang, pahamkah kamu dengan semua teka-teki ini? Teruslah menebaknya jika kamu masih menyimpan rasa penasaran.❞...
...Happy Reading♥...
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
"Bagus sekali, sekarang kamu berani melawan perintah seorang calon raja."
Langkah Shaula mendadak terhenti, ketika matanya mengangkap dua laki-laki tengah bersebat didepan loker. Lantas matanya menyempit untuk dapat melihat dua laki-laki itu dengan jelas.
Lantas kedua alisnya terangkat.
Kedua tangan Shaula langsung terkepal kuat, ketika manik matanya itu menatap tingkah angkuh yang sangat mengganggu penglihatan. Saat ini, matanya menangkap Soobin yang tengah menatap sengit si pangeran angkuh.
Siapa lagi jika bukan Ankaa Magellanic.
"Anak itu lagi. Selalu buat masalah," gumam Shaula, kesal.
Tanpa pikir panjang, Shaula langsung mendekat ke arah mereka dengan langkah dentum. Mungkin hal ini akan sedikit konyol karena dia ikut campur dalam urusan orang lain.
Tapi dia sama sekali tidak menyukai tingkah dari si pangeran Magellanic itu.
"Berhenti bersikap angkuh, pangeran sialan!" teriak Shaula dengan gahar.
Kedua laki-laki itu sepontan melemparkan tatapannya ke arah Shaula dengan alis yang terangkat sempurna. Namun beberapa detik kemudian, Ankaa langsung melipat kedua tangannya didepan dada.
Ankaa menatap Shaula datar. "Kamu lagi. Aku sudah pernah mengatakan hal ini padamu sebelumnya," katanya.
"Jangan pernah ikut campur urusanku," lanjutnya.
Shaula berdecak. "Jangan kebanyakan berkata, pangeran Magellanic. Disini kamu tidak bisa memandang rendah siapapun," desisnya.
Ankaa mengangkat salah satu sudut bibirnya dengan air muka sakartisnya. "Sungguh? Tahu apa kamu soal Hogwart?" balasnya.
"Tahu apa? Kau tidak membaca tulisan itu?" kata Shaula dengan salah satu tangan mengarah ke arah sebuah poster.
Tidak ada yang rendah, karena hanya ilmu yang mampu membuat seseorang tinggi.
Air muka Ankaa langsung berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Dengan tangan terkepal dan wajah yang menampakkan guratan kemarahan, dia langsung melengos begitu saja dari tempat tersebut.
Shaula menatap sengit ke arah Ankaa dengan mata elangnya. "Menangnya dia pemilik Hogwart?" gumamnya, kesal.
"Dasar laki-laki sialan," lanjutnya.
"Kenapa kamu membantuku lagi?"
Shaula langsung melemparkan tatapannya ke arah Soobin dengan kedua alis yang mengakat sempurna. "Kenapa? Aku hanya memberitahunya saja," balasnya.
Soobin melemparkan tatapan datar ke arah sang lawan bicara. "Kamu tidak perlu membantuku," katanya, datar.
"Baiklah. Jika itu maumu, aku tidak bisa memaksa," final Shaula.
Soobin membuang mukanya ke arah lain. "Ya, memang itulah yang aku pikirkan," sahutnya seraya melipat kedua tangan.
Shaula hanya bergumam dan langsung meninggalkan tempat. Namun sesuatu hal langsung menghentikan langkahnya, sehingga dirinya membalikkan badan.
Soobin mencekal pergelangan tangan gadis itu.
"Jika aku merubah pikiranku, bagaimana menurutmu?" tanya Soobin.
Shaula mendadak tersetak dengan perkataan dari Soobin. Dia tidak mengerti dengan perkataan yang sempat dilontarkan oleh laki-laki itu kepadanya.
"A—apa maksud dari perkataanmu?" balas Shaula, kikuk.
Soobin menatap Shaula dengan manik mata tajamnya, namun masih dengan muka yang datar. Mendadak pasukan oksigen yang ada diparu-paru Shaula lenyap dalam hitungan detik.
Jantungnya naik turun dengan detak pacuan yang tidak karuan. Karena hal ini, dia pun meneguk salivanya dengan susah payah—seolah seperti ada yang mengganjal ditenggorokannya.
Astaga, kenapa dia tampan sekali? batin Shaula.
GREP!
__ADS_1
Tanpa mengatakan hal apapun, Soobin menarik tangan Shaula. "Ikut denganku," katanya, singkat.
Karena hal tiba-tiba yang dilakukan oleh Soobin, sempat membuat tubuh Shaula sedikit terhuyung ke depan. Perasaannya tidak karuan dengan pikiran yang sudah berlarian kesana-kemari. Namun dia berusaha menepisnya sejauh mungkin.
Dia adalah Lee Soobin—seorang laki-laki misterius yang punya banyak kejutan.
"Hei, kenapa kamu menarikku?" protes Shaula.
Shaula menjadi panik sendiri ketika dirinya dibawa oleh Soobin menyusuri sebuah hutan dengan banyak tanaman rimbun. Hingga langkah mereka sampai didepan tamanan sulur yang sangat rimbun.
Akan dibawa kemana dirinya oleh Soobin?
Langkah mereka pun terhenti tepat didepan tempat ini. Perlahan, cekalan yang mengait dipergelangan tangan Shaula pun terlepas dengan sendirinya.
Kedua alis Shaula menyatu. "Tempat apa ini?" tanyanya.
Soobin menyela sulur itu, hingga manik mata Shaula menangkap banyak bebatuan indah yang bersinar.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Soobin.
Shaula langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat seperti goa itu tanpa mengatakan hal apapun. Sedangkan Soobin menghela napasnya karena gadis yang ada didepannya itu langsung melengos begitu saja.
"Astaga, gadis ini," gumamnya, pelan.
Soobin mengambil beberapa batu yang berwarna seperti pelangi sebelum memasuki ke dalam goa tersebut. Ketika gadis itu sampai pada tepi sungai kecil yang berada digoa ini, datang Soobin dengan batu yang ada ditangannya.
Soobin sepontan memberi beberapa batu itu kepada Shaula. "Pegang," pintanya.
Shaula tersentak ketika telapak tangannya langsung disuguhkan dengan batu yang berwarna pelangi. Dia hanya bisa melakukan apa yang Soobin katakan karena mendadak dia terdiam seribu bahasa.
"Apa yang akan ka—"
Soobin melempar batu pelangi itu ke sungai kecil dengan air sebening kaca. Karena hal tersebut, membuat Shaula menahan ucapannya diujung bibir.
Dia nampak tercenggang dengan tingkah laki-laki yang ada disampingnya ini.
"Hei, bagaimana kamu melakukan hal itu?" sambar Shaula dengan air muka protesnya.
Soobin melemparkan tatapan datarnya pada sang lawan bicara. "Berhenti berkata dan tunggu lemparanku selesai," ketusnya.
Shaula mempoutkan bibirnya. "Baiklah," balasnya, ketus.
Shaula mengerutkan kening. "Menghitungnya? Untuk apa aku—"
"Hitung saja dan diam," potong Soobin, ketus.
Shaula berdecak dan memilih untuk diam. Dia lebih memilih untuk memperhatikan tingkah Soobin daripada melontarkan sepatah kata apapun.
Namun, mendadak pergerakan Soobin terhenti dan berganti melempar tatapannya ke arah sang lawan bicara.
Shaula mengerutkan kening. "Kenapa berhenti?" tanyanya.
"Kamu tahu berapa lemparan pertamaku tadi?" tanya Soobin dengan salah alisnya yang naik.
Shaula menggeleng. "Tidak," balasnya.
Soobin mengusap wajahnya. "Delapan," ketusnya.
Shaula ber-oh ria sebagai jawaban. Lalu Soobin kembali melempar batu itu dengan gadis itu yang memperhatikannya.
"Tiga," sahut Shaula.
Soobin kembali melempar batu yang hanya tersisa satu. Namun kedua alis Shaula mendadak menyatu ketika pantulan yang dihasilkan oleh Soobin hanya satu.
Soobin pun membalikkan badannya. "Jadi sudah ingat angka pantulan batunya?" tanyanya.
Shaula menggangguk dengan air muka kikuknya. Setelah itu mendadak suasana menjadi hening dan hanya menyisakan suara deras aliran sungai.
"Tebaklah," sahut Soobin.
Shaula sepontan mengalihkan tatapannya ke arah sang lawan bicara. "Menebak apa?" tanyanya, polos.
Soobin menghela napas pelan, lalu mendengus kesal. "Angka pantulan batu itu. Memangnya apa lagi?" sungutnya.
Shaula binggung dengan perkataan Soobin. Jika dirinya diharuskan untuk menebak, maka dia harus memikirkannya sekeras mungkin.
Kenapa tebakan ini sangat rumit?
__ADS_1
Soobin membersihkan tangannya dari debu. "Aku tidak akan memberitahumu tentang hal itu," finalnya.
Setelah itu Soobin langsung beranjak dari posisinya berpijak, meninggalkan Shaula yang masih terpatung ditempat.
"Apa maksudnya?" gumam Shaula, pelan.
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
Nampak Shaula yang tengah bersandar dibawah naungan pohon rimbun. Ditengah udara yang sejuk dengan angin yang menyapu wajahnya secara perlahan. Sungguh tempat yang sangat tenang dan menyejukkan sekali.
Keunggulan asrama Ravenclaw memang terbaik.
Tidak heran jika murid dari asrama Ravenclaw betah berlama-lama berada diasrama mereka ini. Sebuah tempat yang sangat strategis untuk bersantai dan juga tempat yang cocok untuk bersantai.
"Bukankah kamu murid asrama Hufflepuff?"
Sahutan dengan suara berat itu mendadak membuat mata Shaula terbuka. Dia langsung menegakkan punggungnya ketika manik matanya menangkap seseorang yang tengah berdiri didepannya.
"Benar, tapi siapa anda?" tanya Shaula dengan kening berkerut.
"Shaula Seika?" gumam laki-laki itu, pelan.
Shaula tersentak ketika sang lawan bicara mengeja name tag miliknya. Lalu dia pun menegakkan badan dan membungkuk.
"Maaf jika saya lancang untuk datang ke tempat ini," kata Shaula.
Setelah mengatakan hal itu, Shaula langsung meninggalkann tempat. Namun langkahnya terhenti ketika sebuah sahutan terdengar ditelinganya.
"Tunggu. Kenapa kamu terburu-buru sekali?" sahut laki-laki itu.
"Duduklah dulu. Saya adalah Hwang Chang Hyun penjaga tempat ini," balasnya.
"Panggil saja Tuan Hwang," lanjutnya.
Laki-laki itu langsung melemparkan sebuah senyuman kepada Shaula. Ternyata apa yang dipikirakannya mengenai sang lawan bicara salah.
Dia terlalu waspada pada setiap orang, sehingga dia mengabaikan jika laki-laki ini adalah orang baik.
Shaula membungkukkan badannya sembilan puluh derajad. "Maaf, telah mencurigai anda. Saya meminta maaf atas kelancangan ini,"katanya.
Tuan Hwang terkekeh pelan karena sikap yang baru saja dilakukan oleh Shaula. "Aku tahu kamu pasti akan takut karena aku adalah orang asing," balasnya.
Shaula akan mengira jika Tuan Hwang akan marah padanya dan mengutuk dirinya ini. Tapi dia sudah salah sangka sebanyak dua kali pada laki-laki yang terpaut lebih tua darinya ini.
Shaula merasa tidak enak sendiri sekarang.
"Shaula?"
Shaula sepontan melemparkan tatapannya ke arah belakang. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah sosok Soobin yang baru saja datang dengan raut muka datarnya.
"Soobin, dari mana saja kamu?" sahut Tuan Hwang.
Shaula mengernyitkan alis ketika Tuan Hwang memanggil nama Soobin, berarti dia mengenalnya sebelum dirinya. Lalu apa hubungan diantara mereka sebenarnya?
Soobin menatap Shaula sekilas. "Ada kelas Astronomi," balasnya.
Tuan Hwang menatap Shaula dengan tatapan tenangnya, lalu melipat kedua tangan dibelakang punggung. Namun hal yang lain terjadi adalah Soobin yang menarik pergelangan tangan Shaula secara tiba-tiba.
"Hei, apa yang kamu lakukan ini!" protes Shaula.
Tuan Hwang hanya mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas karena tingkah yang Soobin keluarkan tadi. Sedangkan sang empunya hanya bisa pasrah karena tangannya yang tertarik.
"Soobin, kenapa kamu menarikku seperti ini?" sungut Shaula.
Soobin mengusak surai coklat milik Shaula. "Balik ke asrama kamu sekarang," katanya.
"Aku akan mengantarmu," lanjutnya.
Shaula binggung dengan tingkah tiba-tiba dari Soobin. Kemudian laki-laki itu pun mengeluarkan tongkat sihirnya untuk memunculkan sapu terbang.
"Naik," pinta Soobin, singkat.
Shaula masih diam ditempat. Karena permintaannya tidak kunjung diindahkan oleh gadis itu, lantas Soobin berdecak dan menarik gadis itu untuk segera naik diatas sapu terbangnya.
Setelah itu keduanya terbang menembus awan dan atmosfer disiang itu.
"Jangan mengatakan hal gila apapun tentang dirimu kepada Tuan Hwang."
__ADS_1
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
...See you next part~...