Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Sangue Puro


__ADS_3

...BAB 17...


...SANGUE PURO...


...a novel by youmaa...


...❝Cahaya terang itulah yang akan menyelamatkanmu dari semua kegelapan yang ada.❞...


...Happy Reading♥...


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


ZLAP!


"Rupanya kalian datang juga."


Shaula tersentak dengan bias suara yang menusuk ke dalam indera pendengarannya saat ini. Ketika itu, dia langsung membalikkan badan dan pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah sosok dengan tudung hitam.


Laki-laki itu berdiri diujung dengan badan yang menghadap singgasana.


Adara tercengang akan apa yang dilihatnya saat ini. Sedangkan ke tiga laki-laki itu berdiri didepan dua gadis yang berada diantara mereka—seperti hendak melindunginya.


Shaula binggung karena portal itu langsung membawa mereka menuju ke singgasana sang Raja Demon. Apakah ini disengaja oleh Soobin atau hal lain?


SLING!


Soobin mengeluarkan pedang naga emasnya dan mengangkat benda itu ke arah depan. Air mukanya nampak sangat dingin dengan tatapan yang menyertainya.


Diikuti oleh yang lain, El dan Ankaa juga mengeluarkan pedang mereka.


Raja Darker tertawa sarkasme. "Oh, kalian sudah berniat sekali untuk menyerangku?" tanyanya.


Shaula menarik Adara untuk tetap berada didekatnya. Setelah itu, sang raja pun membalikkan badannya dan nampaklah seluruh wujudnya.


Tudungnya langsung mengingatkan Shaula pada seseorang. Kemudian dirinya baru saja teringat jika itu adalah laki-laki yang sama seperti yang waktu itu membawanya ke suatu tempat.


"Kau!" seru Shaula, gahar.


Raja Demon terkekeh pelan. "Ah~ kau. Kita bertemu lagi," sahutnya.


Semua pasang mata kini menatap Shaula dengan berbagai macam tatapan. Saat ini bukanlah hal itu yang mengejutkan, melainkan benda yang berada ditangan sang raja.


"Serahkan bola kristal itu padaku!" seru Shaula, gahar.


Raja Demon membuka tudung yang menutup sebagian wajahnya. "Kenapa aku harus memberikan ini padamu?" sahutnya.


"Jadi kamu yang mencuri kristal itu?" sungut Ankaa.


Bola kristal yang saat ini ada ditangan Raja Demon nampak seperti kristal Hogwart. Ternyata biang dari semua pencurian ini adalah ulah raja kegelapan ini.


Ankaa mengangkat pedangnya ke udara, lalu dia melangkahkan kakinya cepat mendekat ke arah Raja Demon. Hal yang paling membuat terkejut adalah wujud sang raja yang berlipat ganda.


Sepontan langkah Ankaa kembali mundur.


El mendesis pelan. "Dia menggunakan ilmu penglabuan," gumamnya.


Sang raja mendekat ke arah ke lima murid itu dan memutarinya seperti kincir. Dengan tawa yang menggelegar, sang raja bersikeras menakuti mereka.


Disisi lain, Soobin memejamkan matanya seraya merentangkan pedangnya ke arah depan. Secara perlahan, pedang naga emas miliknya mulai maju dan sepontan menusuk sang raja.


Dalam hitungan detik, wujud palsu darinya menghilang secara tiba-tiba. Karena hal tersebut, sang raja mengerang kesakitan sehingga suaranya itu menggelegar disepanjang sudut ruangan.


Kepala sang raja itu menunduk. Namun bisa terdengar suara tawa sarkas darinya walaupun hampir tidak dapat didengar.


Soobin peralahan mundur dengan bahu yang merosot secara perlahan.


"Bukan mereka lawanmu saat ini, Raja Demon!"


.........


"Bagaimana bisa kalian berada disini!"


Seruan dari Profesor Sean membuat nyali kelima murid itu menciut. Dia melepas kaca mata beningnya, lalu memijit pelipis pelan. Dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana cara kelima murid ini bisa memasuki kerajaan Demon?

__ADS_1


Dengan terpaksa profesor itu membawa kelima muridnya untuk menjauh dari kerajaan Demon. Beruntung sekali jika muncul keberadaan para profesor dan tuan Hwang disini.


Soobin maju satu langkah dengan kepala tertunduk. "Maafkan kami, profesor. Tapi saya yang membawa mereka semua sampai ke tempat ini," jelasnya.


"Soobin? Jelaskan kepada saya semuanya," sahut Profesor Sean.


Soobin mengulurkan tangannya dengan jam teleportasi yang berada digenggamannya. Karena hal tersebut, sontak membuat sang profesor terkejut.


"Dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya sang profesor.


Soobin mendongakkan kepalanya. "Saya mendapatkannya sejak saya menjadi murid Hogwart," balasnya.


Mendadak sang profesor tidak bergeming. Karena kediaman dari Profesor Sean, sempat membuat Soobin binggung. Hal apakah yang dipikirkan oleh sang profesor?


"Kita perlu bicara empat mata, Choi Soobin."


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


SLING!


Shaula bersama dengan yang lain secara diam-diam menyelinap ke dalam istana tanpa sepengetahuan para profesor. Mereka tidak bisa tinggal diam, hanya karena tabiat mereka adalah seorang murid.


Kedua teman mereka memerlukan bantuan.


"Anak-anak sialan. Kalian akan menerima akibatnya!"


Seruan dari sang panglima perang itu membuat ketiga laki-laki itu menyerangnya. Namun kode yang diberikan oleh El menghambat langkah Soobin dan Ankaa. Laki-laki dari asrama Slytherin itu ingin mengalahkan sang panglima seorang diri.


"Kalian pergi ke tempat lain. Biar aku saja yang mengalahkannya," pinta El.


"Aku akan tinggal disini bersamamu," sahut Ankaa.


"Soobin, kamu bawa kedua gadis itu menjauh dari sini!" lanjutnya.


Soobin menggangguk pelan, lalu membawa lari kedua gadis itu untuk menjauh dari tempat tersebut. Ketika mereka telah menjauh dari medan perang, langkah ini membawa ketiganya menuju ke sebuah ruangan bawah tanah.


"Aku akan mencari Se Hwa dan kalian cari Hena," pinta Soobin.


Ada rasa sakit ketika Shaula mendengar hal tersebut dari Soobin. Hatinya mengatakan jika dirinya harus ikut bersama dengan laki-laki itu untuk pergi menyelamatkan Se Hwa.


Hingga akhirnya Shaula pun menyanggupi permintaan dari Soobin, lalu dia menggangguk.


Soobin mendekat ke arah Shaula secara perlahan. Setelah itu salah satu tangannya terangkat dan mendarat diatas puncak kepala gadis itu. Karena hal tersebut, membuat sang empunya tersentak.


Sedangkan Adara menutup mulutnya menggunakan salah satu tangannya.


"Jangan terluka," kata Soobin seraya mengusak surai coklat milik Shaula.


Shaula menggangguk dengan kikuk, ditambah air muka yang terkejut. Setelah itu Soobin langsung berhambur pergi dari tempat tersebut dengan senyuman tipis.


Senyuman tipis itu membuat salah satu pipi milik Soobin tercetak sebuah dimple.


Adara melongo tidak percaya. "Apa mataku salah melihat? Dia memiliki dimple dan senyum yang manis," katanya.


Shaula tersenyum tipis dengan manik mata yang tidak lepas dari punggung tegap milik Soobin. "Sepertinya aku tenggelam oleh senyumannya," gumamnya.


"Apa kamu mengatakan sesuatu?" sahut Adara.


Shaula tersentak ketika mendengar perkataan dari Adara. Setelah itu, sang empunya memejamkan matanya sekejap lalu menatap ke arah sang lawan bicara.


"Ah~ tidak," balas Shaula.


.........


Soobin berlari menuju ke arah lain, karena nalurinya membawa langkah kaki ini menuju ke tempat lain. Setelah menyusuri lorong lanjang, laki-laki itu menghentikan langkahnya didepan pintu besar yang nampak megah.


Tanpa pikir panjang, Soobin langsung membukanya secara perlahan.


CEKREK..


Mata Soobin disuguhi dengan suasana ruang baca yang nampak nyaman dengan warna gelap. Ekor mata milik laki-laki itu tidak henti-hentinya menatap ke setiap sudut ruangan yang ada ditempat ini. Dia nampak melangkahkan kakinya perlahan untuk memasuki lebih dalam ruangan ini.


"Selamat datang, Choi Soobin."

__ADS_1


Langkah Soobin terhenti ditempat ketika telinganya menangap sebias suara. Sepertinya dia mengenal suara ini, namun tidak tahu pasti dimana.


DRAP DRAP DRAP..


"Berhenti disana," potong Soobin dengan suara dingin.


Langkah gadis itu langsung terhenti ditempat karena seruan dari Soobin. Hanya nampak bayangan yang dapat laki-laki itu lihat disamping kakinya. Tatapan tajam yang saat ini nampak diwajahnya, membuat aura Soobin berbeda dari biasanya.


Gadis itu melipat kedua tangannya didepan dada dengan satu buku yang ada digenggaman. "Kenapa kamu kemari? Ingin melihat istana ini atau ingin menemuiku?" sahutnya.


Soobin membalikkan badannya dengan tatapan dingin yang masih menyertai patahan wajah tampannya. Salah satu sudut bibirnya langsung tercetak sebuah senyuman—sebuah senyum sarkasme.


Saat ini, kedua tangan Soobin yang terlipat didepan dada. "Jauh hari aku sudah tahu soal dirimu itu," katanyaz dingin.


Gadis itu mengangkat kedua sudut bibirnya dengan mulut yang terbuka sedikit. "Sungguh? Wah~ kamu hebat sekali," balasnya seraya menepuk tangan.


Soobin membuang mukanya ke arah lain. "Bukankah kamu adalah putri kerajaan Demon, Alhena Virgoius?" sahutnya dengan nada datar.


Hena tertawa renyah setelah mendengar perkataan Soobin. Lalu dia meletakkan bukunya diatas nakas yang berada tidak jauh darinya.


"Bagus sekali skenario yang kamu buat saat ini," kata Soobin.


"Kamu menyukainya, bukan?" sahut Hena dengan nada antusiasme.


Soobin berdecak pelan. "Hena yang diculik oleh para penyihir hitam secara tiba-tiba. Sepertinya kamu berhasil menjebak kedua sahabatmu terjabak dalam masalah ini," jawabnya.


Hena melempar senyum manisnya. Bahkan dalam keadaan seperti ini, gadis itu tetap tenang dan santai. Namun sepertinya sikapnya itu sama sekali tidak mempengaruhi Soobin yang jauh lebih tenang darinya.


Hena membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya. "Ah~ aku punya kejutan spesial untuk para sahabatku itu," katanya.


Air muka Soobin berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. "Apa yang kamu lakukukan pada mereka?" desisnya.


Hena kembali menatap Soobin dengan tatapan tenangnya. "Hei, kenapa kamu menggunakan nada itu? Aku tidak suka dengan nada bicaramu," balasnya.


Soobin langsung berlari menuju Hena dan mencekram erat kedua bahu gadis itu hingga punggungnya menabrak dinding.


BUAGH!


Karena dorongan yang sangat kuat dari Soobin, membuat suara gaduh yang terdengar. Beberapa buku juga nampak terjatuh dari raknya karena ulah laki-laki itu.


"Aku hanya menyiapkan tempat yang nyaman untuk mereka. Sebaiknya kamu menyelamatkan mereka daripada harus melawanku," jelas Hena.


Soobin menghempas Hena, hingga gadis itu tersungkur diatas lantai. Tanpa mengatakan apapun, laki-laki itu langsung berhambur pergi menuju keluar ruangan.


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


Shaula menarik Adara untuk pergi dari tempatnya semula berdiri. Keduanya langsung mencari keberadaan Hena yang entah disekap dimana. Mata mereka menelisik ke setiap penjara, berharap jika dapat menemukan sahabatnya itu.


"Sebaiknya kita berbencar," pinta Shaula.


Adara menggangguk. "Benar. Jika kita mencarinya seperti ini kita tidak dapat menemukannya," timpalnya.


Shaula menenatap ke Adara, lalu salah satu tangannya itu merogoh ke dalam saku seragamnya. Dia memberi sahabatnya sebuah senter kecil yang entah gunanya apa.


Kening Adara berkerut. "Senter? Untuk apa ini?" tanyanya, binggung.


"Nyalakan benda itu ketika kamu membutuhkan," balas Shaula.


Setelah mengatakan hal tersebut, Shaula langsung berhambur pergi dari sana meninggalkan Adara seorang diri. Gadis itu pun menggendikkan bahu acuh.


Shaula berlari seraya mencari keberadaan Hena, namun belum juga menemukan titik tempunya. Napasnya tersenggal karena dirinya baru saja berlari menyusuri lorong yang terkasan panjang.


DRAP DRAP DRAP..


Tiba-tiba telinga Shaula mendengar suara langkah seseorang, karena hal tersebut dirinya langsung berjongkok ditepi dinding. Mulutnya dia tutup menggunakan kedua tangannya—menahan untuk tidak berteriak.


Shaula memejamkan matanya karena mendadak rasa cemas juga sedikit rasa takut bercampur menjadi satu.


BUAGH!


"Tidak akan aku biarkan kamu menyakiti dia."


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...

__ADS_1


...See you next part~...


__ADS_2