Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Hari Kelulusan Yang Mengejutkan


__ADS_3

...BAB 33...


...HARI KELULUSAN YANG MENGEJUTKAN...


...a novel by youmaa...


...โKeinginanmu menjadi kenyataan sekarang. Apakah kamu siap untuk menerima resiko lain?โž...


...Happy Readingโ™ฅ...


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


Hari kelulusan pun tiba. Shaula merasa jika waktu berlalu dengan begitu cepat tanpa terasa. Dia tidak menyangka jika durinya melewati begitu banyak peristiwa.


"Apakah seragamku ini sudah rapi?" tanya Adara.


Sejak tadi Adara terus mengatakan hal tersebut dengan perasaan senang. Namun lain halnya dengan Shaula yang menatap datar temannya itu. Hal yang lebih menarik perhatian adalah ada raut wajah sedih yang tercetak pada muka Shaula.


Apa yang membuat gadis itu sedih?


TIK!


"Shaula?" sahut Adara seraya menjentikkan jari.


Shaula sedikit tersentak karena mendengar perkataan dari Adara. Setelah itu dia hanya ber-oh ria dengan air muka binggung.


Adara menatap temannya itu dengan sorot maya yang penuh selidik. "Kenapa mukamu kusut hari ini?" tanyanya.


"Kau tahu ini adalah hari kelulusan," lanjutnya.


Shaula yang tadinya menatap pantulan dirinya yang ada dicermin, langsung mengalihkan pandangannya ke arah Adara. Dia mengerjapkan matanya, sedangkan sang lawan bicaranya itu hanya menatapnya datar dengan kedua tangan yang terlipay didepan dada.


"Apa?" tanya Shaula.


Adara mendengus, lalu memalingkan wajahnya dari Shaula. "Lupakan saja," finalnya.


Shaula menggendikkan bahunya acuh, kemudian dia memutuskan untuk beranjak dari kursinya. Tanpa melontarkan sepatah kata apapun, secara sepontan dia menarik Adara yang masih setia dengan posisinya.


Karena hal tersebut, sontak membuat sang empunya protes. Sedangkan Shaula nampaknya sama sekali tidak memperdulikan hal tersebut. Sebaiknya mereka harus segera ke auditorium agar tidak ketinggalan acara kelulusan.


Shaula menepis pikirannya jauh-jauh mengenai nasibnya setelah lulus nanti.


Ketika keduanya sampai pada ruang auditorium, pemandangan yang pertama kali terlihat adalah murid dengan seragam asrama masing-masing. Pada setiap wajah semua orang, nampak guratan senyum bahagia.


"Eh, kamu mau kemana?" sungut Adara seraya menarik Shaula.


Karena tarikan dari ujung pakaian Shaula, membuat sang empu terjinjit. "Lepaskan aku, Adara!" serunya, memprotes.


Pada akhirnya Shaula pun mengalah dan menduduki kursi yang ada dibelakangnya. Manik matanya langsung terpaku pada seorang laki-laki dengan pakaian rapi yang nampak sangat berwibawa.


Dia adalah putra mahkota kerajaan Kuan.


Shaula tercengang ketika melihat ketampanan dari sang pangeran. Tanpa dia sadari, tercetak sebuah senyuman tipis yang menghiasi wajahnya saat ini.


Adara yang sejak tadi bercerita panjang lebar, justru menjadi terabaikan. Karena menyadari jika Shaula tidak memperhatikan perkataannya, dia langsung memukul gadis itu pelan.


"Aduh," gaduh Shaula seraya mengelus pundaknya pelan.


Adara mendengus pelan. "Memangnya hal menarik apa yang membuatmu mengabaikanku?" protesnya.


Shaula mengusap tengkuknya pelan. "Ah~ itu. Aku kagum pada pangeran mahkota," balasnya.


Adara mengikuti arah pandangan Shaula. Ketika menemukan objek yang temannya itu maksud, dia langsung membulatkan mata dengan mulut yang sedikit menganga.


"Astaga, apakah ini mimpi? Kenapa dia datang kemari," gumam Adara dengan bahu merosot.


TUK!


Shaula memukul Adara pelan, karena gadis itu yang berbicara melantur. Setelah insiden kecil yang menyebalkan tersebut, sang empunya langsung menatap tajam Shaula.


"Apa?" sahut Shaula, datar.


Adara langsung memalingkan tatapannya ke arah lain. Hingga beberapa detik kemudian, acara pun dimulai.


"Muridku semuanya, kita kedatangan tamu istimewa."


Suara itu berasal dari depan yang diduga sebagai Profesor Aludra. Setelah mengatakan panjang lebar, Mars yang ada dikursinya langsung berdiri dan membungkuk singkat.

__ADS_1


"Saya pangeran kerajaan Kuan mengucapkan selamat untuk semua murid Hogwart atas kelulusan kalian. Saya harap kalian akan menjadi penyihir yang hebat," kata Mars, penuh wibawa.


Tanpa Shaula sadari, jika Mars tengah memperhatikannya dari jauh. Tentu saja tidak ada yang mengetahui jika gadis itu tengah diperhatikan oleh sang pangeran.


"Akhirnya aku tahu dirimu, adikku."


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Pangeran, apa kamu yakin akan menghadiri acara itu?" sahut sang raja.


Mars menggangguk pelan dengan arah pandangannya yang tertuju pada tanah. Dia membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat pada ayahnya tersebut.


"Saya yakin, abeoji. Saya yang akan menjemput tuan putri sendiri," balas Mars.


Sang raja menghela napasnya pelan, lalu mengaitkan tangan dibalik punggung. "Baiklah, jika itu maumu, putraku," katanya.


"Panglima akan mengantarkanmu ke sana," lanjutnya.


Mars terkekeh pelan. "Tidak perlu, abeoji. Saya bisa pergi dengan beberapa pengawal saja," tolaknya secara halus.


Sang raja tertawa pelan atas jawaban dari putranya tersebut. Dia sangat mengenal Mars, putranya itu tidak ingin menonjolkan gelar bangsawan yang dimilikinya saat ini. Itulah hal yang sangat menarik dari seorang Mars.


"Saya meminta izin abeoji untuk pergi menjemput tuan putri," sahut Mars seraya menekuk salah satu lututnya.


Sang raja mengangkat kedua sudut bibirnya tipis, lalu menepuk pundak Mars pelan. "Aku percayakan semua padamu," balasnya.


Setelah mengatakan hal tersebut, Mars langsung bangkit dari posisinya dan segera menaiki kereta kuda. Dia hanya pergi dengan satu pengawal dan sang panglima menaiki kuda dengan satu kusir yang mengendalikan kereta kuda tersebut.


Perlahan kereta kuda tersebut mengecil seiring dengan berjalannya waktu, hingga kendaraan tersebut lenyap dari pandangan sang raja.


Setelah itu, sudut bibir sang raja terangkat ke atas sehingga menampakkan sebuah senyum. Akhir-akhir ini suasana hati sang raja mendadak menjadi berwarna karena dirinya menemukan tuan putri setelah sekian lama.


"Semoga saja putriku tidak ikut merasakan penderitaan ini."


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Minggir dari sini. Aku tidak ingin duduk bersampingan denganmu!"


Seruan dengan nada ketus tersebut sukses membuat Ankaa menjadi pusat perhatian bagi beberapa murid. Bahkan dalam acara kelulusan pun, laki-laki itu masih saja bertengkar dengan El.


Kedua pangeran tampan itu masih memperdebatkan hal sepele seperti sekarang.


"Kenapa mereka berada disana," gumam Shaula, pelan.


Adara yang mendengar suara gumaman Shaula, langsung melemparkan tatapannya ke arah gadis itu. Setelah itu dia mengalihkan tatapan ke arah belakang dengan air muka polosnya.


Adara sepertinya mengetahui hal apa yang membuat Shaula kesal.


Adara menyenggol lengan Shaula pelan. "Sepertinya mereka akan kompak suatu saat nanti," bisiknya.


Shaula langsung mengalihkan tatapannya ke arah Adara dengan tatapan horror. "Jangan menebak hal yang tidak akan pernah terjadi," balasnya.


"Maksudmu?" tanya Adara dengan salah satu alis yang naik.


"Lihat saja nanti," final Shaula.


Setelah mengatakan hal tersebut, Shaula langsung melempar tatapannya ke arah depan. Dia mencoba menulikan telinganya untuk tidak mendengar pertengkaran El dan Ankaa yang tidak ada ujungnya.


Shaula tidak bisa melakukan hal itu.


Karena sudah merasa kesal dan tidak ingin merusak acara dengan kekuatan yang dimilikinya, Shaula lebih memilih untuk meninggalkan tempat. Adara langsung menatap Shaula, ketika dirinya baru saja beranjak dari tempat duduk.


Adara menaikkan salah satu alisnya. "Mau kemana? Acara ini belum selesai," sahutnya, binggung.


"Kamar mandi," balas Shaula, singkat.


Sebenarnya jawaban tersebut hanyalah sebagai alasan Shaula saja. Setelah mendengar hal tersebut, Adara hanya menggangguk sebagai balasan. Nampaknya dia sama sekali tidak tertarik untuk mempertanyakan hal lain.


Mungkin karena Shaula yang sudah beranjak dari sana terlebih dahulu.


Shaula menghela napasnya gusar ketika dirinya baru saja menginjakkan kaki keluar. Karena tidak memperhatikan jalan, dia menabrak seseorang yang membuatnya terhuyung.


Namun dengan sigap, orang tersebut langsung mencekal pergelangan tangan Shaula.


GREP!


Shaula terkejut ketika tubuhnya kembali tertarik dan jatuh pada dada bidang. Dia perlahan membuka matanya ketika menyadari jika itu memanglah benar seseorang.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu harus berhati-hati dalam berjalan."


Shaula mendongakkan pandangan agar dapat melihat seseorang yang ada dihadapannya.


Pemandangan yang pertama kali terlihat oleh matanya adalah seorang laki-laki dengan pakaian kerajaan. Setelah menyadari jika sang lawan bicara adalah anggota kerajaan.


Dia adalah Mars Kuan.


"Paโ€”pangeran?" kejut Shaula seraya menjauh dari dekapan tersebut.


Mars langsung melipat kedua tangannya dibalik punggung. "Kenapa keluar auditorium? Bukankah acara ini belum selesai?" tanyanya.


Shaula terdiam karena dia binggung harus menjawab apa. Perasaan terkejutnya itu langsung membuat bibirnya bungkam dalam beberapa detik.


"Aku berbicara denganmu. Tatap mataku jika aku berbicara denganmu," sahut Mars, lagi.


Shaula menundukkan kepalanya karena dia sama sekali tidak berani menatap langsung sang pangeran. Dengan kedua tangan yang saling bertaut dan keringat yang mengalir deras, dia tetap diam.


Shaula meneguk saliva dengan susah payah. "Maafkan saya mengenai hal yang terjadi baru saja terjadi, paโ€”"


"Panggil aku eoraboni," potong Mars.


DEG!


Shaula langsung menatap sang pangeran dengan manik mata yang membulat. Dia merasa sangat terkejut dengan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh sang pangeran.


Tubuhnya mendadak mematung.


Shaula menaikkan pandangannya ke arah Mars. "Apa maksud dari perkataan tadi, pangeran?" tanyanya, binggung.


Karena balasan tersebut, sontak membuat Mars tertawa renyah. Sebuah tawa yang nampak lembut itu membuat Shaula semakin binggung dengan tingkah pangeran ini.


"Apa kalimatku tadi kurang jelas?" sahut Mars seraya terkekeh.


"Ah~ aku tahu jika kamu pasti terkejut, Armetha Shaula," lanjutnya.


Shaula semakin dibuat terkejut ketika Mars menyebut namanya tanpa dia memberitahu laki-laki itu. Dia sama sekali tidak mengerti dengan arah pembicaraan ini, bahkan dia sempat mengira jika ini adalah bahan candaan.


Bisa saja Mars yang ada didepan Shaula saat ini adalah wujud lain dari murid iseng yang ingin mengerjainya.


"Baiklah ini tidak lucu. Apa kamu adalah murid Hogwart?" sahut Shaula.


Mars menaikkan alisnya sebelah, lalu menautkan kedua tangannya dibalik punggung. "Sepertinya kamu belum percaya jika aku memanglah Mars," balasnya.


Dia mengulurkan kedua tangannya. "Peganglah kedua tanganku," lanjutnya.


Shaula menyempitkan pandangan dengan air muka datarnya. Lalu dia langsung menerima uluran tangan tersebut sehingga mereka saling menggengam tangan.


Mars memejamkan matanya. "Pejamkan matamu," pintanya.


Shaula hanya memejamkan matanya, tanpa mengatakan hal apapun. Setelah itu, secara tiba-tiba ada ingatan kilas balik layaknya film dokumenter.


"Kalian harus mencari keberadaan tuan putri sekarang, dia itu masih bayi."


Shaula sepontan melapaskan genggaman tangannya dari Mars dengan mata yang kontan membulat. Dia juga memundurkan langkahnya sedikit menjauh dari sang pangeran. Dia jadi mengetahui salah satu fakta yang begitu mengejutkannya.


Dia adalah putri kerajaan Kuan.


"Jadiโ€”"


Kalimat Shaula langsung tertahan diujung bibir karena perasaan terkejutnya. Dia masih tidak mengerti dengan fakta yang baru saja diketahuinya, hingga dia larut dalam pikirannya.


GREP!


Tanpa Shaula sadari, Mars langsung berhambur memeluk tubuh mungilnya. Pelukan itu nampak sangat eratโ€”seperti pelukan pelepas kerinduan yang mendalam.


"Eoraboni sangat merindukanmu, adikku," kata Mars, lirih.


"Eoraboni akan membawamu pulang ke istana," lanjutnya.


Shaula hanya bisa mengerjapkan matanya, tanpa menolak pelukan dari sang kakak. Jujur saja dia masih terkejut dengan hal ini, sehingga membuat dirinya terdiam seperti sekarang.


Tanpa dia sengaja, Shaula menangkap seseorang yang ada jauh dari tempatnya berdiri. Air mukanya langsung berubah seratus delapan puluh derajat ketika menyadari jika itu adalah laki-laki yang sangat dia kenal.


Shaula langsung melepas pelukan dari Mars dan berhambur pergi dari sana untuk menghampiri Soobin. Gadis itu langsung meneteskan bulir bening dari pelupuk matanya.


"Soobin, kamu salah paham."

__ADS_1


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


...See you next part~...


__ADS_2