
...BAB 8...
...BOLA KRISTAL...
...a novel by youmaa...
...βKegelapan itu ada dibalik cahaya yang aku pancarkan ke dunia.β...
...Happy Readingβ₯...
...π π π π...
"Benar apa kata Soobin, ternyata seru juga bolos kelas."
Shaula sedang malas berada masuk ke kelas Astronomi untuk saat ini, hanya karena dirinya satu kelas dengan Ankaa. Sebuah alasan yang klasik memang, tapi hal itulah kenyataannya.
"Pangeran sialan. Dia bisa membuatku darah tinggi dan keruput nanti," gumam Shaula, kesal.
Shaula pun menyandarkan punggungnya pada naungan pohon oak yang pernah dikatakan oleh kedua temannya. Sejenak dirinya melupakan kelelahan yang akhir-akhir ini selalu saja menyelimuti pikirannya.
Angin sepoi-sepoi berhembus pelan membelai surai coklat Shaula, sehingga anak rambut gadis itu berterbangan. Perlahan, ketenangan pun mulai tercipta datang dalam pikiran dan hatinya saat ini.
"Kenapa kamu tidak masuk kelas?"
Shaula tersentak ketika telinganya mendengar suara dari seseorang. Sepontan dia membuka mata dan menegakkan badan, namun sosok ini bukanlah seorang profesor yang sempat dia pikirkan.
Lantas Shaula terkekeh pelan karena hal tersebut. "Aku tidak suka kelas Astronomi," katanya.
Hena mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas. "Mungkin kita sama," katanya.
Manik mata Shaula berbinar. "Benarkah?" tanyanya diakhiri dengan kekehan.
Hena menggangguk pelan. "Aku membencinya karena terlalu banyak hal yang harus dihafal," balasnya.
"Sepertinya aku harus sering bolos mulai sekarang," lanjutnya.
Shaula tidak percaya hal mengejutkan yang dikatakan oleh Hena. "Jika kamu terus-terusan membolos dan tidak lulus, bagaimana?" sambarnya.
Hena membulatkan matanya ketika dirinya baru saja menatap ke arah Shaula. "Hei, jangan seperti itu juga!" sungutnya.
"Kenapa kalian ada disini? Kembali ke kelas kalian sekarang.
Shaula tersentak dengan bias suara itu, mungkin juga untuk Hena. Ketika tatapan keduanya terlempar ke arah sumber suara, manik mata mereka kontan membulat.
"Profesor Nebula," gumam Shaula, terkejut.
Kedua gadis itu membungkuk berkali-kali karena kemunculan dari profesor itu. Sang profesor hanya diam dengan sikapnya dengan kedua tangan yang dia kaitkan dibelakang punggung.
"Maafkan kami, profesor. Kami akan segera masuk ke kelas," final Shaula.
Setelah mengatakan hal tersebut, Shaula langsung menarik Hena untuk beranjak dari tempat tersebut. Sepbelum Profesor Nebula memberitahu Profesor Sean, sebaiknya keduanya langsung meninggalkan tempat.
"Ah~ kenapa harus muncul Profesor Nebula disini?"
...π π π π...
Shaula baru saja keluar dari perpustakaan dengan buku yang dia genggam saat ini. Dia mendapat tambahan tugas Astronomi karena profesor itu melaporkannya pada Profesor Sean.
Habislah sudah nasibnya ini.
Shaula membawa langkahnya hingga ke ruang laboraturium. Namun mendadak langkahnya itu terhenti ketika dirinya melihat sepercik cahaya dari bawah celah pintu.
Cahaya itu berwarna putih bersih.
Karena rasa penasaran yang mengganggu pikirannya, Shaula pun mendaratkan punggungnya pada dinding. Sesekali dia melirik ke arah pintu yang saat ini tertutup tersebut.
Matanya dibuat terkejut dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya.
Kedua alis Shaula terangkat sempurna. "Hena?" gumamnya, pelan.
Kerena pintu yang sedikit terbuka itu, dirinya dapat melihat jika Hena tengah memainkan bola kristal yang berada diatas meja. Dalam pikirannya saat ini, untuk apa gadis itu menggunakan bola kristal itu?
Shaula pun menyelinap masuk ke dalam ruang laboratorium itu dan bersembunyi dibalik rak buku yang menghalanginya dengan Hena saat ini. Beruntungnya, pintu itu terhalang oleh rak buku.
Jadi ketika Shaula memasuki ruangan ini, dia tidak diketahui oleh Hena.
BRAK!
Tanpa sengaja buku yang ada dirak tersebut jatuh, sehingga menimbulkan suara bising. Shaula langsung mendekap mulutnya dengan posisi terjongkok.
"Siapa disana?" seru Hena.
Hening sesaat.
__ADS_1
"Keluar kamu. Jika tidak, aku akan menyerangmu saat ini juga," lanjutnya.
Mendadak jantung Shaula berdetak lebih cepat dari biasanya, ditambah dengan aliran keringat yang membasahi dahinya. Dia merasakan jika saat ini Hena mulai mendekat ke arahnya.
Tapi kenapa Shaula menjadi setakut ini?
Sebenarnya Shaula ingin menggunakan ilmu teleportasi yang dimilikinya. Namun kekuatan itu tidak akan bekerja jika si pengguna ilmu itu dalam situasi ketakutan.
Oleh karena itu Shaula tidak menggunakannya saat ini.
BUAGH!
Tiba-tiba ada sesuatu benda yang menimpa punggung Shaula. Hingga kesadaran gadis itu lenyap dalam sekejap.
...π π π π...
"Shaula, bangun. Apakah kamu merasa lebih baik?"
Shaula perlahan membuka matanya ketika sahutan yang menusuk ke dalam telinganya itu. Ketika mata gadis itu terbuka sepenuhnya, dirinya terkejut ketika menyadari jika dirinya tengah berada diruang penyembuhan.
Shaula menatap gadis yang berada disampingnya.
"Adara?" sahut Shaula seraya bangkit dari posisinya.
Adara mengangkat kedua alisnya dengan bahu yang merosot. "Aku binggung bagaimana bisa kamu berada dilorong asrama Hufflepuff," katanya.
Manik hazel milik Shaula kontan membulat ketika Adara mengatakan hal tersebut secara gamblang. Bahkan seingatnya dia baru saja keluar dari perpustakaan, hanya itu.
"Kenapa bisa berada disana?" tanya Shaula.
Adara mendengus lalu mengendikkan bahunya acuh. "Mana aku tahu," sungutnya.
Shaula sibuk dengan pikirannya mengenai hal aneh yang terjadi padanya. Bagaimana bisa dia berada dilorong asrama Hufflepuff?
Adara menopang dagunya diatas bangsal yang aku duduki. "Kamu tahu? Soobin yang membawamu sampai ke sini," sahutnya.
Manik mata Shaula kontan membulat dan langsung melempar tatapannya ke arah Adara. "Apa?"
...π π π π...
"Bagaimana bisa ada seseorang yang memasuki ruang laboraturium, lalu mengambil kristal?"
Profesor Aludra dibuat kerkejut dengan berita hilangnya bola kristal yang dapat melihat masa depan itu. Laki-laki itu memijit pangkal hidungnya pelan, karena hal ini kepalanya dibuat pusing.
"Bukankah kita sudah memasang alat pengintai dan sinar pengaman dengan sempurna?" tanya Profesor Aludra.
Profesor Nebula menggangguk. "Benar. Tapi sepertinya pelaku itu mengetahui cara bagaimana merusak sistem keamana itu," balasnya.
Profesor Aludra melepaskan kacamata beningnya. Laki-laki itu duduk dengan tangan yang dia lipat diatas meja. Tatapan horror sang profesor membuat siapa pun bergidik ngeri ketika melihatnya.
Seram juga tatapan profesor satu ini.
"Jadi seperti itu caranya mencuri," gumam Ptofesor Aludra.
"PROFESOR!"
Tiba-tiba ada suara seseorang. Ketika sosoknya itu muncul, ternyata dia adalah murid asrama Slytherin. Karena hal tersebut, membuat beberapa profesor itu terkejut.
Apakah murid ini lupa cara megetuk pintu?
Profesor Nebula mengelus dadanya karena kelakuan muridnya tersebut. "Astaga, kamu ini. Bisakah kamu mengetuk pintu terlebih dulu?" helanya.
Sang murid membungkuk. "Maaf, Profesor Nebula. Tapi ini adalah keadaan darurat," katanya.
Alis Profesor Aludra menyatu. "Ada hal darurat apa?" tanyanya.
Murid dari asrama Slytherin itu masih mengatur napasnya yang tersenggal. Apakah dia lelah karena berlari ke tempat ini?
Lantas apa alasannya untuk berlari?
"Adaβ"
Profesor Aludra sudah mulai kesal dengan permainan berbelit-belit ini. "Katakan dengan cepat. Ada hal apa yang ingin kamu katakan padaku," sungutnya.
"Di danau asrama kami adaβ"
Murid Slytherin itu masih mengatur napasnya yang tidak beraturan. Bisakah dia mengatur napas terlebih dahulu baru mengatakan hal darurat ini?
"Penunggu danau," final murid itu.
Profesor Aludra terkejut dengan bahu yang perlahan merosot. Berarti benar apa dugaannya sebelum ini, jika ada hal yang tidak beres tentang danau asrama Slytherin itu.
"Kapan kamu melihatnya?" tanya Profesor Aludra.
__ADS_1
"Pukul sembilan," balas murid itu.
Sang profesor yang tadinya terbebani oleh masalah hilangnya kristal, kini ditambah dengan kemunculan penghuni danau. Belum lagi mengenai masalah waktu lampau tentang isi undangan terbuka dari Negara Demon bahkan yang belum usai.
Kepala sang profesor rasanya ingin pecah saat itu juga.
"Kerahkan pasukan untuk menangkap hantu danau itu."
...π π π π...
"Kalian sudah tahu soal bola kristal?"
Shaula dan Hena mengerutkan kening ketika mendengar pengucapan yang baru saja dilontarkann oleh Adara. Keduanya kemudian saling tatap satu sama lainnya dengan pemikiran masing-masing.
Mendadak pikiran Shaula terpaku pada Hena yang kemarin lusa dipergokinya berada di ruang laboratorium. Namun dia mencoba untuk menepis pemikirannya mengenai hal itu, bisa saja dia salah melihatnya.
"Bola kristal? Kenapa dengan jimat itu?" tanya Hena dengan kening mengkerut.
"Hilang," balas Adara, singkat.
"HILANG?" seru Shaula dan Hena, kompak.
Tentu saja mereka berdua terkejut. Menurut informasi yang beredar, sistem keamanan yang melindungi jimat Hogwart itu terbilang sangat ketat dan mematikan.
Bayangkan saja, siapa yang dapat menyelinap dengan sistem keamanan seketat itu tanpa meninggalkan jejak?
Shaula menopang dagunya dengan kedua sikunya yang mendarat diatas meja. "Bagaimana bisa benda itu hilang? Bukankah sistem keamanannya begitu ketat?" sahutnya.
Adara menggendikkan bahu. "Entahlah. Tapi aku sedikit salut dengan pelaku itu," jawabnya.
TUK!
Shaula memukul kepala Adara pelan. "Hei, bagaimana bisa kamu mengatakan demikian? Pelaku itu salah, kau tahu?" sungutku, ketus.
Adara mempoutkan bibir. "Tapi aku hanya salut saja, apakah itu adalah suatu tindak kejahatan?" katanya.
"Lagi pula, aku hanya mengatakan apa yang ada dalam pikiranku," lanjutnya.
Shula memutar bola matanya jengah seraya menepuk dahinya. Begitu polosnya seorang bernama Adara ini, mungkin jika dia bukan temannya akan sedikit berbeda.
Hena menghela napasnya, lalu melipat kedua tangannya diatas meja. "Apa kalian tidak mencurigai sesuatu mengenai hal ini?" sahutnya.
Karena perkataan dari gadis itu, membuat Shaula dan Adara melemparkan tatapan mereka ke arahnya. Mungkin perkataan dari Hena benar adanya, jika ada seseoang yang menjadi otak pencurian ini.
"Mencurigai siapa? Bahkan kita tidak ada bukti sedikit pun," hela Adara, frustasi.
Shaula menggangguk. "Benar apa kata Adara, tidak ada bukti untuk mencurigai seseorang," timpalnya.
Hena menatap Shaula dan Adara secara bergantian. "Aku punya ide, bagaimana jika kita kumpulkan bukti itu dan tangkap pelakunya," katanya, antusias.
Adara dan Shaula saling tatap satu sama lainnya. "Menangkap pelakunya?" kata mereka, kompak.
Hena bergumam, lalu melambaikan tangannya untuk mengode kedua temannya mendekat. Setelah mengatakan rencana yang disusunnya, keduanya pun menggangguk paham.
"Boleh," sahut Shaula.
Adara menggangguk. "Baiklah, jika seperti itu," katanya.
Hena mengangkat kedua sudut bibirnya. Kemudian air mukanya berubah seratus delapan puluh derajat dari aslinya ketika baru saja melihat waktu saat ini.
Hena menepuk dahinya pelan. "Astaga, aku ada kelas. Aku akan menemui kalian nanti," katanya seraya meninggalkan tempat.
Adara melambaikan tangan. "Jangan terlalu banyak bolos!" teriaknya.
Dari kejauhan, Hena mengangkat kedua jempolnya seraya dengan senyuman yang tercetak diwajahnya. Setelah punggung sempit milik gadis itu penyap, tidak ada saling cakap antara Adara dan Shaula.
Suasana mendadak hening.
Sejak tadi, Shaula terdiam mengingat kejadian tidak logis yang sempat dialaminya kemarin lusa. Bukankah itu adalah hari dimana jimat Hogwart itu mengghilang?
TUK!
Shaula tersentak ketika pundaknya ditepuk oleh Adara. Seketika itu dia langsung melemparkan tatapannya ke arah sang lawan bicara.
"Kamu kenapa?" tanya Adara.
"Ah~ tidak. Aku pergi ke kelas dulu," final Shaula.
Adara menggangguk. Setelah itu Shaula pun meninggalkan dari tempat duduknya dengan pikiran yang campur aduk.
"Permainan apa ini?"
...π π π π...
__ADS_1
...See you next part~...