Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Megical Portal


__ADS_3

...BAB 16...


...MEGICAL PORTAL...


...a novel by youmaa...


...❝Jalan menuju ruang yang berbeda telah terbuka dan misi yang baru akan dimulai.❞...


...Happy Readingβ™₯...


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Shaula merasa tidak mengerti dengan jalan pemikiran Soobin saat ini. Dia mengajaknya untuk memasuki pintu masuk rahasia yang berada disamping tangga di gedung utama Hogwart.


Tempat sama yang dilewati oleh para profesor.


Pikiran Shaula berlarian kemana-mana saat ini, karena dia merasa binggung dengan niat Soobin. Sebenarnya apa alasan dibalik semua yang sekarang terjadi dan mengajak dirinya untuk melakukan ini?


Apakah untuk menyelamatkan Se Hwa atau mengalahkan Raja Demon?


"Jangan sampai ada murid yang mengetahui hal ini. Terutama para auror dari semua asrama."


Jantung Shaula mendadak terhenti karena perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Profesor Aludra. Soobin menatap Shaula sekilas lalu menggengam tangan gadis itu secara tiba-tiba.


"Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku," sahut Soobin.


Shaula tercekat akan perkataan yang baru saja Soobin lontarkan padanya.


"Bagaimana dengan tuan Hwang? Dimana beliau?"


Shaula dan Soobin nampak terkejut ketika telinga mereka berdua secara tidak sengaja mendengar nama tuan Hwang. Mendadak Shaula teringat akan perkataan laki-laki paruh baya itu.


Apakah identitas tuan Hwang telah diketahui oleh para profesor?


"Aku ditugaskan Raja Magellanic untuk menjaga Ankaa selama disini."


Mendadak perkataan tuan Hwang terngiang dalam pikiran Shaula. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang menyangkut dikepalanya saat ini. Tentang semua hal yang terjadi dalam Hogwart, hingga perkataan Ankaa menenai liontin yang dipakainya saat ini.


Shaula merasa tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.


"Shaula, kenapa kamu melamun?" tanya Soobin seraya menepuk pundak gadis itu.


Tepukan dari Soobin membuat sinyal kesadaran Shaula terpanggil, sehingga gadis itu menatap ke arah sang lawan bicara. Dia menggeleng sebagai jawaban yang baru saja dilontarkan oleh Soobin.


"Kita akan mendatangi tempat ini nanti malam," kata Soobin.


"Kalian sedang merencanakan sesuatu?"


Keduanya sedikit tersentak karena bias suara yang saat ini mengacaukan suasana. Lantas arah tatapan mereka pun terlempar ke arah sumber suara.


Ternyata pelakunya adalah El Nath.


El menaikkan alisnya sebelah dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada. "Katakan padaku," sahutnya, lagi.


Soobin menatap dengan pandangan datar yang dia lemparkan ke arah El. "Kenapa aku harus mengatakannya padamu!" sungutnya.


"Karena aku berhak mengetahuinya," balas El.

__ADS_1


"Aku juga seorang auror. Tugasku untuk menyelamatkan seseorang," lanjutnya.


Soobin menaikkan alisnya sebelah. "Apa maksudmu? Jangan mengarang cerita," katanya.


El menghela napasnya pelan. "Aku tahu kalian akan pergi menyelamatkan murid Slytherin yang diculik oleh penyihir hitam, bukan?" tanyanya, tepat.


"Dia adalah teman satu asramaku. Jadi aku sebagai auror, berkewajiban untuk menyelamatkannya," lanjutnya.


Yang dikatakan El memang benar, dia adalah auror dari asrama Slytherin. Jika mereka menolak kehadiran laki-laki itu untuk ikut, sama saja mereka melanggar peraturan seorang auror.


"Baiklah, aku izinkan kamu ikut. Tapi ajak Ankaa untuk ikut bergabung, karena salah satu teman kita perlu bantuan."


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya terpaksa melakukan hal itu untuk keamanan kerajaan ini."


Sang raja menghela napas, lalu memijit pelipisnya pelan. Dirinya sudah dibuat pusing dengan kabar yang didapatnya dari para pengawal kerajaan. Bahkan tanpa mengatakannya sekali pun, sang raja sudah mengetahuinya.


"Aku tahu itu. Tapi kenapa kamu mengikut sertakan gadis itu juga?" tanya Raja Demon, gahar.


Sang pengawal membungkuk. "Karena saya dan penyihir lain melihat keberadaan para profesor Hogwart disekitar istana," katanya.


Raja Demon beranjak dari tempatnya duduk dengan air muka yang berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. "Apa?" katanya.


"Benar, Yang Mulia. Beberapa pengawal terluka sayatan pedang dari kedua profesor itu tadi," balas sang pengawal.


Diam-diam, sang raja mengepalkan tangannya kuat, hingga buku jarinya memutih. Kemudian kepalan itu memukul meja yang berada disampingnya kuat.


BRAK!


"Sebaiknya kita beralih ke rencana lain."


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Ankaa menatap Soobin dengan tatapan tajam dan kedua tangan yang terlipat didepan dada. Sedangkan Shaula dan El saling tatap satu sama lainnya karena perkataan yang baru saja Ankaa katakan.


"Apa maksudmu?" sungut El.


Soobin memutar bola matanya malas. "Kalian bisa menyingkirkan ego, bukan? Kita adalah seorang auror," sambarnya.


"Apa kalian tega membiarkan seseorang dalam masalah?" lannjutnya.


Ankaa membuang mukanya ke arah lain. "Baiklah, aku akan bergabung dengan kalian. Tapi ini hanya untuk memenuhi tugasku sebagai seorang auror dan menyelamatkan Se Hwa," katanya.


Shaula menghela napasnya pelan. "Jika aku melihat kalian bertengkar seperti anak kecil lagi, aku akan ikat kalian di menara kerajaan Demon," sungutnya.


Ankaa mendelik tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Shaula. Sedangkan kedua laki-laki itu nampak menahan tawa, karena ekspresi dari pangeran Magellanic itu nampak lucu.


"Bisakah nanti malam kita akan melaksanakan misi ini?" tanya Soobin, menginterupsi.


"Tentu," balas ketiganya, kompak.


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


"Apa? Kamu tidak salah bicara, bukan?"


Shaula tersentak dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Adara. Sebuah pernyataan yang mengejutkan baru saja diketahuinya, bahkan setelah beberapa hari.

__ADS_1


"Jangan bercanda dengan ini, Adara!" sambar Shaula.


Adara mendaratkan dahinya diatas meja sekilas, lalu kembali menatap sang lawan bicara. "Aku tidak mengada-ada. Memang benar jika Hena diculik oleh penyihir hitam," balasnya.


Shaula menjadi khawatir dengan hal yang mengejutkan mengenai hilangnya Hena. Dia bahkan tidak sadar jika akhir-akhir ini, keberadaan Hena tidak ada dimana pun.


Bahkan Adara sekali pun.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Shaula.


Adara menghela napasnya pelan. "Aku mengetahuinya dari teman sebangku Hena," balasnya seraya menundukkan kepala.


Shaula teringat akan sesuatu hal, jika Hena juga seorang murid asrama Slytherin. Pikirannya saat ini terpaku pada pernyataan jika murid dari asrama ini mudah dipengaruhi oleh siapapun.


Tentu saja karena emosi mereka yang tidak stabil.


"Adara," sahut Shaula.


Adara langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Shaula dengan air muka yang tertekuk. Nampaknya gadis itu sangat mengkhawatirkan keadaan Hena yang entah seperti apa sekarang.


"Aku akan mengajakmu bergabung bersamaku untuk menyelamatkan Hena."


.........


"Kamu sudah gila dengan mengajak gadis ini untuk ikut bersama kita?"


Ankaa tersulut karena saat ini Shaula mengajak Adara untuk ikut bergabung dengan para auror. Sedangkan sang empunya hanya menatap datar laki-laki itu, lalu kembali menbuang mukanya.


"Kamu tidak tahu apa resiko yang akan terjadi?" sungut Ankaa.


"Misi ini terlalu berbahaya baginya," lanjutnya.


Soobin menepuk pundak Shaula pelan. "Benar apa kata Ankaa, Shaula. Misi ini terlalu berbahaya untuk Adara," timpalnya.


Adara mendekatkan mulutnya pada telinga Shaula, dia hendak membisikkan sesuatu pada temannya itu. "Yakinkan mereka jika aku dapat menjaga diri," bisiknya.


"Aku sudah kualahan menjaga satu gadis. Aku tidak mau menambah tugas lagi," sambar Ankaa, acuh.


Shaula menatap tajam ke arah Ankaa. "Memang kau pikir dia adalah gadis yang lemah? Adara memiliki kekuatan sama seperti kita," protesnya.


"Sama? Jika seperti itu, mungkin dia akan menjadi auror. Tapi kenyataannya, dia bukanlah seorang auror," ketus Ankaa, menginterupsi.


Shaula membuang mukanya ke arah lain. "Memangnya hanya auror yang berhak disanjung? Apakah penyihir lain tidak berhak untuk mendapatkannya?" sambarnya, tidak ingin kalah.


Ankaa mendengus kesal. "Terserah," finalnya.


BUGH!


El memukul Ankaa dengan cukup keras. Dia sudah jengah dengan berdebatan yang terjadi antara Shaula dengan Ankaa. Perkataan mereka berdua memang benar, namun tidak ada salahnya jika Adara ikut.


"Adara boleh ikut. Kita akan saling menjaga satu sama lain," sahut Soobin.


Shaula mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas ke arah Ankaa. Sedangkan laki-laki itu hanya bisa membuang mukanya ke arah lain denan air mukanya yang nampak kesal.


Ke lima murid itu saat ini tengah berdiri didepan pintu masuk rahasia menuju kerajaan Demon. Mereka saling tatap satu sama lain secara bergantian, lalu mereka memasuki cahaya biru keunguan itu secara kompak.


ZLAP!

__ADS_1


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


...See you next part~...


__ADS_2