Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Stuck Time


__ADS_3

...BAB 18...


...STUCK TIME...


...a novel by youmaa...


...❝Bersiaplah untuk permainan ruang dan waktu yang akan mempermainkanmu saat ini.❞...


...Happy Reading♥...


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


"Tidak akan aku biarkan kamu menyakiti dia."


Shaula perlahan membuka mata ketika telinganya mendengar sebuah bias suara yang terdengar berat. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah sosok berjubah hitam dengan kepala tertunduk.


Pemilik suara berat itu kini tengah berdiri dihadapan Shaula dengan sebagian wajah yang nampak.


Shaula tercekat ketika baru menyadari—dia merasa mengenal suara dari sosok didepannya ini sebelumnya. Laki-laki yang berada didalam pikirannya, namun dia tidak tahu pasti itu.


"Ka—kamu?" sahut Shaula, terkejut.


Tubuh Shaula mendadak gemetaran ketika laki-laki itu perlahan membuka tudung yang saat ini dipakainya. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah patahan wajah dingin nan pucat.


"Ba—bagaimana bisa kamu?" lanjutnya.


Laki-laki berdecak pelan karena perkataan yang baru saja Shaula lontarkan padanya. "Jangan terlalu banyak bicara, cepat pergi selamatkan teman-temanmu," pintanya.


Shuala binggung dengan perkataan yang baru saja laki-laki itu lontarkan padanya. Mendadak perasaannya merasa tidak enak setelah mendengar pemaparan dari sang lawan bicara.


Shaula menggangguk pelan sebagai jawaban.


"Lepaskan aku!"


Langkah Shaula mendadak terhenti ketika telinganya secara samar mendengar sebuah seruan. Dia langsung berlari menuju ke sumber suara berasal, hingga manik matanya menangkap Adara yang diseret oleh penyihir hitam.


Shaula menutup mulutnya tidak percaya. Secara diam-diam, gadis itu meremat ujung seragamnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.


Ketika hendak melangkahkan kakinya, manik mata Shaula secara tidak sengaja melihat sosok Hena yang berdiri didepan salah satu penjara bawah tanah.


"Hena?" gumam Shula, berbisik.


"Sialan kau, Hena! Kenapa kamu berkhianat seperti ini?"


Shaula mendengar suara Adara yang meneriaki nama Hena. Niatnya untuk menyelamatkan Hena mendadak sirna ketika melihat tabiat gadis itu yang palsu.


Yang saat ini adalah menyelamatkan Adara dari cengkraman Hena.


Shula enyah dari sana secara diam-diam dan memilih untuk bersembunyi dibalik tembok, jauh dari tempat tadi. Sekarang dia harus segera menyusun rencana lain untuk menyelamatkan Adara.


DRAP DRAP DRAP..


Tiba-tiba telinga Shaula tidak sengaja mendengar langkah kaki yang sepertinya dari penjaga istana. Karena hal tersebut, membuat jantungnya berpacu lebih cepat, ditambah dengn keringat dingin mengalir deras dari dahinya.


Perlahan dia memejamkan matanya.


PRANG!


Shaula tersentak ketika telinganya justru mendengar suara pukulan dari benda yang terbuat dari besi. Perlahan matanya terbuka lebar setelah mendengar suara nyring tersebut.


"Makan itu, penjaga sialan!"


Shaula terkejut setengah mati ketika telinganya mendengar suara dari laki-laki yang nampak asing. Dia memejamkan mata kembali dengan menekuk lutut, lalu kepalanya ditenggelamkan diantara kakinya.


"Jangan takut, aku ada dipihakmu."


Bias suara itu membuat Shaula terkejut. Awalnya Shaula mengira jika laki-laki asing ini adalah bala tentara dari kerajaan Demon, melainkan pikirannya itu salah.


Suara lembut itu memecahkan pikiran buruknya mengenai laki-laki ini.


Shaula mengumpulkan keberanikan untuk membuka matanya secara perlahan. Pandangannya mendongak, sehingga manik matanya langsung disunguhkan oleh sosok tampan yang saat ini sedang berjongkok didepannya.


"Kamu baik-baik saja, bukan?" tanya laki-laki itu, lembut.


Shaula menggangguk sebagai jawaban, tanpa mengatakan apapun. Diam-diam dia menatap seragam yang dipakai oleh sang lawan bicara, namun seragam itu nampak tidak asing baginya.


Bukankah itu adalah seragam murid Asrama Gryffindor? batin Shaula.


Laki-laki bertubuh tegap itu mengangkat salah satu alisnya, karena merasa binggung dengan tatapan gadis yang ada didepannya saat ini. Sepontan dia menatap seragam yang dipakainya saat ini, bisa saja gadis ini merasa aneh.


"Ada yang salah denganku?" tanya laki-laki itu.


Shaula tersentak kecil ketika bias suara itu muncul kembali ke dalam telinganya. Karena hal tersebut, membuat sinyal kesadarannya kembali dalam hitungan detik.


Shaula ber-oh ria dengan nada kikuk. "Ti—tidak, aku hanya—"


"Hyung, kamu baik-baik saja 'kan?"


.........

__ADS_1


"Perasanku tidak enak, aku takut akan ada hal buruk yang terjadi pada Shaula."


Sejak tadi Adara terus mondar-mandir seperti setrika dengan menggigit salah satu jarinya. Karena hal tersebut, membuat Se Hwa menghela napas panjang.


"Kamu lebih mengenal Shaula daripada aku, Adara. Percayalah jika dia dapat menjaga diri karena dia adalah seorang auror yang hebat," sahut Se Hwa.


Adara berdecak pelan, lalu menghela napasnya frustasi. "Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu dengan nada tenang?" protesnya.


Se Hwa mengangkat kedua alisnya. "Bukankah kamu mempercayai dia?" sahutnya.


Adara menatap ke arah Se Hwa, lalu menghampiri gadis cantik nan lembut itu. Saat ini air muka gadis itu menatap lamat-lamat sang lawan bicara.


Karena tatapan dari Adara, membuat sang empunya merasa kikuk. Kemudian dia menjauhkan tubuh gadis itu secara lembut dengan air muka tenangnya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Se Hwa.


Adara menghela napasnya pelan. "Sepertinya kamu tidak mungkin menyukai Soobin," katanya, asal.


Se Hwa mengangkat salah satu alisnya ke atas. "Soobin? Maksudmu adalah Choi Soobin murid asrama Ravenclaw?" tanyanya.


Adara mengusap dahinya pelan. "Memangnya, Soobin yang mana lagi?" dengusnya.


Se Hwa tertawa pelan. "Apa kamu bercanda? Mana mungkin aku menyukai Soobin?" balasnya diiringi tawa lembut.


"Tidak ada tempat untukku dihati Soobin."


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


"Hyung, kamu baik-baik saja 'kan?"


Shaula mengernyitkan alis dalam ketika telinganya mendengar panggilan asing itu. Kira-kira bahasa mana yang mereka pakai saat ini?


Namun hal yang paling menarik bagi Shaula adalah seragam yang saat ini dipakai oleh kedua laki-laki asing didepannya ini. Dia tidak salah lihat, jika itu adalah lambang dari asrama Gryffindor dan Ravenclaw.


Laki-laki bergigi kelinci itu menatap Shaula, kemudian melemparkan senyumannya pada gadis itu. Sepertinya kehadirannya itu mengejutkan sang lawan bicara, karena secara tiba-tiba datang.


"Oh~ kedatangan kami pasti sudah membuatmu terkejut," kata laki-laki bergigi kelinci itu.


Shaula masih terbungkam tanpa melontarkan sepatah kata apapun dari mulutnya. Nampaknya dia tidak memiliki niatan untuk menjawab apa yang saat ini dikatakan oleh sang lawan bicara.


"Baiklah aku akan mengatakan hal ini padamu," sahut laki-laki itu, lagi.


"Namaku Jeon Jung Kook dan ini adalah Kim Seok Jin," lanjutnya.


Jung Kook menatap Jin sekilas, seolah-olah meminta izin untuk memperkenalkan diri. Setelah itu hal tersebut langsung diangguki oleh sang empu.


"Kami juga murid Hogwart," sahut Jung Kook, lagi.


Namun kenapa mode seragamnya sangat berbeda?


"Ta—tapi kenapa pakaian kalian—"


"Kami terjebak dalam dimensi waktu ini, bahkan alasan untuk menjawabnya pun kami tidak tahu," sela Jung Kook.


Jin menatap ke sekeliling penjuru istana dengan tatapan binggung. Lalu tatapannya beralih ke arah Shaula dengan air muka yang terlihat khawatir.


"Sepertinya kami harus menyelamatkanmu segera," ucap Jin, tiba-tiba.


"Tapi bagaimana dengan—"


"Tidak ada waktu untuk menanyakan hal apapun," potong Jin.


Tanpa persetujuan, Jin langsung menggandeng tangan Shaula. Karena hal tersebut sempat membuatnya tersentak dengan tarikan dari laki-laki tampan ini.


"Ikutlah kami ke suatu tempat dulu."


.........


"Kita sudah sampai."


Saat ini kaki Shaula telah kembali menjejaki tanah. Namun dia merasa jika tempat ini sama sekali tidak asing bagi penglihatannya. Tanah yang saat ini dia pijaki mengeluarkan sinar terang yang nampak cantik.


Manik mata Shaula kontan membulat. "A—apa kita berada di Moon Goodnes?" tanyanya dengan nada terkejut.


Jin tersenyum tipis setelah mendengar perkataan dari Shaula. "Kamu benar. Ini adalah Moon Goodnes," katanya.


"Sumber kekuatan utama penyihir seperti kita," lanjutnya.


Jung Kook menelisik ke sekeliling penjuru tempat yang ada ditempatnya berpijak. "Hyung, aku khawatir jika penyihir hitam itu akan berhasil menghancurkan bulan ini," sahutnya.


Shaula menatap ke arah Jung Kook dengan tatapan binggung. Mendadak perasaannya tidak enak setelah mendengar perkataan dari laki-laki manis itu.


"Menghancurkan bulan ini? Maksudmu apa?" sungut Shaula, terkejut.


Mendengar hal tersebut, membuat Jin dan Jung Kook saling menatap satu sama lain. Apakah ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh kedua laki-laki ini padanya?


Kenapa saat ini keduanya justru terdiam?


"Kami sebenarnya sudah mengetahui rencana dari penyihir hitam itu apa. Tapi kami hanya memastikannya jika desus yang selama ini tersebar memang benar adanya," jelas Jung Kook.

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan Jung Kook, Shaula terdiam dengan pikirannya sendiri. Dia menghela napasnya frustasi lalu menganga dengan gelengan kepala yang menyertainya.


"Rencana? Maksudmu adalah menculik Se Hwa dan menangkapku serta teman-temanku?" tebak Shaula.


Jin menggendikkan bahu. "Aku tidak sepenuhnya yakin. Tapi sepertinya mereka punya rencana lain," balasnya.


Shaula binggung dengan apa yang dikatakan oleh Jin—semua hal ini membuatnya binggung. Sebuah permainan yang sangat rumit dengan sekenario yang tersusun rapi tanpa bisa dimengerti seorang pun.


Kira-kira hal gila apa lagi yang akan dilakukan oleh penyihir hitam itu lagi?


Dalam pikiran Shaula saat ini terpikirkan akan penculikan Se Hwa yang membuatnya juga para profesor terjun kedalam medan perang. Bukan hanya itu, semua hal ini juga mengundang para auror ikut menyelamatkannya.


Shaula baru sadar, jika hal ini hanya pengalihan perhatian.


"Tapi kenapa mereka menculik Se Hwa?" tanya Shaula, asal.


Jung Kook menggaruk tengkuknya yang sepertinya tidak terasa gatal. "Bukankah dia adalah murid Slytherin?" tebaknya.


Shaula menggangguk pelan sebagai jawaban. Karena responnya tadi, membuat kedua laki-laki itu kini saling tatap satu sama lain dengan sorot mata yang sulit ditebak.


"Mereka pasti memanfaatkan kekuatan Se Hwa."


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


"Siapa kau?"


Laki-laki bertudung hitam itu menyeringai tajam ketika telinganya mendengar seruan dari sang lawan. Mungkin dapat dijatakan jika seringaiannya itu dapat mengalahkan Raja Demon sekali pun.


Bayangkan saja.


"Apa perlu aku memperkenalkan namaku?" jawab laki-laki itu dengan nada sarkasme.


Raja Demon mendesis pelan karena balasan tidak terduga yang dilontarkan oleh sang lawan bicara.


"Jangan mempermainkanku, bocah sialan!" seru Raja Demon dengan nada gahar.


Laki-laki itu terkekeh sarkasme, bukannya merasa takut dia justru tertawa seperti ini. "Baiklah. Sepertinya kamu terlalu serius dalam hal ini," balasnya, santai.


"Perkenalkan aku Min Yoon Gi atau kamu bisa memanggilku Suga. Aku dari Asrama Slytherin dimasa depan," lanjutnya.


Raja Demon memekik terkejut ketika mendengar jawaban yang baru saja dilontarkan oleh lawan biacranya ini. Mendadak air mukanya berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya.


"A—apa maksudmu dengan kalimat itu?" tanya sang raja.


Suga mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas dengan air muka yang masih nampak dingin. Dia mengira jika Raja Demon adalah raja kegelapan yang memiliki aura paling menyeramkan, tapi baginya sama saja.


Dia mengetahui satu hal untuk melumpuhkan Raja Demon.


Tanpa berniat menjawab pertanyaan dari sang raja, Suga langsung menyerangnya secara membabi buta. Karena kekuatan Slytherinnya itu, langsung membuat sang raja langsung tersungkur diatas lantai.


Sepertinya Raja Demon masih lengah dalam penyerangan ini.


"Kemana kekuatan rajamu itu menghilang?" desis Suga.


Raja Demon menyeka darah yang berada disudut bibirnya secara kasar, lalu tubuh tegapnya itu bangkit dengan amarah yang tersorot tajam dimatanya. Sepertinya Suga telah berhasil memancing amarah sang raja dengan mudah.


"Beraninya kau menyerangku," desis Raja Demon, marah.


Raja Demon mengeluarkan bola kristal dari balik bajunya, lalu mengarahkan benda itu pada Suga. Dalam hitungan detik, sebuah lesatan kekuatan berwarna putih menyala langsung menerjang ke arah laki-laki bermuka pucat itu.


Namun dengan sigap, Suga berhasil menghindari serangan dari sang raja.


"Meleset," gumam Suga, pelan.


Amarah sang raja semakin dipuncak ubun-ubun karena tingkah dari murid Hogwart ini. Sorot matanya berubah menjadi merah karena tingkat emosional yang sedang menguasainya.


Setelah itu, sang raja mengangkat tinggi-tinggi bola kristal itu diantara udara. Hal tersebut sempat membuat Suga menyernyitkan dahi dalam. Apa yang akan dilakukan oleh Raja Demon setelah ini?


Sebuah cahaya biru bercampur hijau mulai berkumpul diantara bola kristal itu. Mendadak manik mata Suga membulat sempurna ketika melihat perpaduan cahaya itu perlahan tercampur.


SLAP!


Suga menahan serangan yang maha kuat itu dengan sisa tenanganya yang tersisa. Kekuatan ini terlalu besar jika hanya ditahannya seorang diri. Dia tetap kekuh dengan pekirannya, jika dia dapat mengalahkan Raja Demon saat ini.


"Sial, kemana mereka semua?" gumam Suga, pelan.


"Menyerahlah, Min Yoon Gi! Aku tidak akan menyakitimu jika kau bergabung denganku setelah ini," sahut Raja Demon.


Suga masih terdiam seraya menahan kekuatan hebat dari bola kristal Hogwart itu. Mungkin rencana ini adalah tindakan bodoh, seharusnya dia tidak menyetujuinya sebelum itu.


Kenapa dia menjadi ikut-ikutan dengan misi konyol ini?


Tanpa mereka berdua sadari, sebuah sinar terang datang menyerang sang Raja Demon secara tiba-tiba. Arah kekuatan itu berasal dari pintu masuk ruangan yang entah muncul karena siapa.


Karena sinar itu, sang raja mengerang kesakitan.


"Sinar apa itu!" seru Raja Demon dengan memalingkan mukanya.


"Kamu akan segera menerima kekalahanmu, Raja Demon."

__ADS_1


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


...See you next part~...


__ADS_2