
...BAB 31...
...RUANG DAN WAKTU...
...a novel by youmaa...
...❝Permainan waktu yang selalu mengejarmu setiap saat.❞...
...Happy Reading♥...
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
BRAK!
Manik mata Shaula kontan membulat ketika pintu yang ada dihadapannya langsung tertutup. Karena hal tersebut, membuat suara yang menggema dari bantingan pintu tersebut.
Pencahayaan yang awalnya terang, langsung menggelap dengan sedikit cahaya yang nampak. Hal tersebut tidak membuat nyali Shaula langsung turun, dia masih setia memeluk erat buku itu.
"Berikan buku itu, gadis manis."
Shaula tetap bersikeras untuk melindungi buku yang ada dipelukannya saat ini. Karena dia harus menjaga dengan nyawanya, bahkan apapun yang akan terjadi nanti.
"Aku tidak akan memberikannya pada siapapun. Bahkan itu termasuk kamu," kata Shaula, penuh penekanan.
"Hancurkan Hogwart sekarang!" seru hantu itu.
Setelah mengatakan hal tersebut, secara tiba-tiba muncul beberapa hantu dengan tubuh kurus yang terbang mendembus jendela. Shaula yang melihat hal tersebut, sontak tersentak dengan hal tersebut.
DRAP DRAP DRAP..
Langkah kaki itu membuat Shaula secara tidak sadar memundurkan langkah, sehingga membuat punggungnya menabrak pintu. Perlahan muncul bayangan memanjang yang napak jelas diatas lantai.
Karena hal tersebut, membuat Shaula semakin mengeratkan cengkraman pada buku tersebut.
Hantu itu menyerang Shaula. "Berikan buku itu," ucapnya.
Shaula langsung menghindari serangan itu dengan sigap, walaupun perasaannya saat ini terkejut setengah mati. Bahkan napasnya saat ini menjadi tersenggal karena serangan itu tidak hanya sekali saja menyerangnya.
Hantu perpustakaan dengan tubuh gempal itu mengangkat salah satu sudut bibir. "Kamu hanya memiliki dua pilihan, Shaula!" katanya.
"Berikan buku itu atau Hogwart yang akan hancur," lanjutnya.
TIK!
Setelah mengatakan dua pilihan tersebut, laly makhluk itu menjentikkan jarinya. "Ah~ bagaimana jika kita ganti saja pilihannya," sahutnya.
Shaula takut jika pilihan ini akan berdampak pada orang lain. Dia tidak ingin jika orang lain harus terlibat dalam masalahnya ini.
"Aku tidak akan memberikannya walaupun kau memberikan pilihan," balas Shaula.
Hantu itu terkekeh sarkasme. "Oh iya? Bagaimana jika orang yang kamu cinta saat ini menjadi korbannya?" tanyanya.
Shaula langsung menggertakkan gigi kuat. "Jangan pernah sekali-kali kamu menyentuhnya, makhluk sialan!" serunya, lantang.
Setelah mendengar jawaban dari Shaula, justru membuat makhluk itu lebih mengencangkan tawanya. Sontak membuat seluruh ruangan menggema karena suara tersebut. Setelah itu dia melipat kedua tangan, lalu menatap jemari dengan tatapan layaknya seorang psikopat.
Dia berdecak pelan. "Sayangnya rekanku sudah melancarkan aksinya untuk menyingkirkan laki-laki itu," katanya.
Shaula mengepalkan tangannya kuat. Makhluk ini sudah membuatnya marah dengan rencana konyol yang licik. Dengan napas yang tersenggal, perlahan bentangan sayap elang muncul dari balik punggung gadis itu.
Sorot mata teduh yang tadinya ada dalam tatapan Shaula langsung berubah menjadi tajam. Manik mata coklatnya kontan berubah menjadi merah menyala.
Air muka hantu itu langsung berubah seratus delapan puluh derajat. "A—apa kau?" katanya.
Mendadak perkataannya tertahan diujung bibir karena melihat perubahan wujud dari Shaula. Makhluk itu perlahan memundurkan langkah dengan bahu dan alis yang perlahan merosot.
"Lawan aku jika kamu menginginkan buku ini," kata Shaula dengan tatapan tajam.
"Kamu berurusan denganku. Bukan dengan orang lain," lanjutnya.
__ADS_1
Hantu itu nampaknya tidak menyerah begitu saja, sontak dia kembali terkekeh. "Jadi kamu mau melawanku?" tudingnya.
Telinga Shaula merasa panas karena perkataan dengan nada meremehkan itu. Lalu dia mengangkat salah satu sudut bibir ke atas—membentuk seringaian kecil.
"Jadi kamu meremehkan kekuatan lawanmu?" sahut Shaula, dingin.
"Kamu tidak akan bisa melawanku, gadis sialan!" seru hantu itu, gahar.
Shaula terkekeh sarkas. "Kita lihat saja. Siapa yang nanti akan menerima kekalahan," katanya.
"Aku harap kamu tidak akan menyesal dengan perkataanmu," lanjutnya.
Secara perlahan, salah satu tangan Shaula terangkat diantara udara. Buku yang ada digenggaman gadis itu langsung lenyap—berganti dengan tongkat sihir. Dia sengaja menyimpan buku mantra itu untuk dapat memusahkannya melawan musuh.
Melihat hal tersebut, membuat hantu itu mendesis pelan. "Dasar gadis bodoh. Kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu lawan!" serunya, berteriak.
Shaula langsung melempar tatapannya ke arah lawannya. "Bukankah kamu hantu perpustakaan yang mengincar kembali kehidupanmu dengan mantra yang ada dibuku ini?" jelasnya.
SLAP!
Dengan sigap, tubuh Shaula langsung menghindar dari serangan hantu perpustakaan itu. Makhluk itu menyerang dirinya begitu saja tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkannya.
"Jangan sok tahu kamu!" seru hantu itu, dingin.
Shaula mengangkat salah satu alisnya. "Jangan mengira jika aku tidak tahu rencanamu," katanya.
"Aku tahu jika sejak awal kamu mengincar buku ini hanya untuk mengincar kehidupan baru dan kekuasaan," lanjutnya.
Shaula tertawa renyah. "Kamu pikir jika kamu hidupmu itu kembali, kamu akan mendapatkan itu semua?" katanya, lagi.
SLAP!
Nampak guratan amarah yang saat ini tercetak pada raut muka hantu tersebut. Setelah itu dia kembali menyerang Shaula lagi secara bertubi-tubi.
"Persetan dengan hal itu semua!" seru hantu itu dengan menaikkan beberapa oktaf.
"Aku hanya ingin kehidupanku kembali," lanjutnya.
"Aku sangat membencimu dan juga kerajaan Kuan. Aku harap kamu mati ditanganku," imbuh hantu itu, lagi.
Shaula marah karena perkataan dari lawannya. Setelah itu, dia angsung menghempaskan sayap sehingga menimbulkan angin berhembus kencang. Karena hal tersebut, sontak membuat hantu itu terhempas bersamaan dengan buku yang berserakan.
Shaula hanya menatap datar lawannya yang saat ini tengah terkapar didekat rak buku. Setelah itu dia melangkahkan kaki mendekat ke arah sang lawan.
"Kenapa kamu membenciku?" tanya Shaula.
Hantu itu bangkit dari posisinya. "Karena kamu, aku menjadi terbunuh!" serunya.
ZLAP!
.........
Cahaya perlahan menusuk ke dalam indera penglihatan Shaula—dia tidak tahu sejak kapan matanya ini tertutup. Namun hal yang justru membuatnya terekejut adalah saat ini dirinya tengah berada pada sebuah ruangan.
Secara perlahan, dia menegakkan punggung.
Ekor mata Shaula sama sekali tidak lepas untuk sekedar menelisik ke tempat kosong ini. Dia tidak mengingat apapun, bahkan alasan sebelumnya dirinya berada ditempat ini.
"Jangan pernah kamu melupakan kehadiranku."
Tiba-tiba sebuah bias suara berat menusuk ke dalam indera pendengaran Shaula. Setelah mendengarnya, mendadak kepala gadis itu terasa berat sehingga membuatnya memejamkan mata.
Shaula mengaduh pelan. "Ada apa denganku?" tanyanya, bermonolog.
Setelah itu dia langsung mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Namun tidak ada seorang pun yang ada disini—kecuali dirinya.
DUK!
Tiba-tiba sebuah buku bersampul hitam jatuh dari ketinggian, benda itu mendarat tepat didepan Shaula. Sejenak dia termenung karena buku Avada Kedavra yang muncul secara tiba-tiba. Hal yang saat ini dia pikirkan adalah dari mana dia datang dan kenapa buku ini juga ada didepannya.
__ADS_1
Bukankah tadi dia tengah berada di perpustakaan?
Tanpa pikir panjang, tangan Shaula langsung terulur untuk mengambil buku bersampul hitam itu. Setelah itu dia beranjak dari posisinya untuk meninggalkan tempat ini.
"Aku harus pergi dari sini," kata Shaula.
Langkah ini membawa Shaula menuju ke sebuah lorong berhiaskan garis ungu disepanjang jalan. Sedangkan kedua tangannya masih menggenggam erat buku Avada Kedavra itu.
Dari kejauhan nampak sebuah pintu berwarna hitam. Sontak hal tersebut langsung membuat Shaula berlari menuju ke sana. Namun semakin dia berusaha untuk mendekat ke arah pintu, semakin pula benda itu menjauh.
Langkah Shaula langsung terhenti dengan napas yang tersenggal karena baru saja berlari.
Shaula mencoba untuk mengatur napas. "Kenapa tidak sampai juga?" gumamnya.
WUS!
Tanpa Shaula duga, sebuah angin mendadak berhembus kecang menerpa tubuhnya. Sepontan hal itu membuat gadis itu menghalangi mata dengan salah satu lengannya.
Setelah itu muncul lesatan cahaya neon berwarna ungu muncul bersamaan dengan angin.
"Takdir akan selalu mengejarmu."
Suara misterius itu muncul kembali. Shaula langsung mengambil sikap waspada, sehingga dirinya dapat langsung menyerang jika ada hal mendesak.
"Keluar dari tempat persembunyianmu. Kau tahu ini tidak lucu!" seru Shaula, datar.
Hal ini sama sekali tidak lucu. Kira-kira makhluk menyebalkan mana yang mengerjai Shaula saat ini? Dia ingin mengutuk makhluk itu karena sudah membuatnya binggung.
Shaula berharap jika ini semua adalah mimpi.
"Keluar atau aku akan menyerangmu!" seru Shaula, lagi.
Bahkan setelah mengatakan hal tersebut, tidak ada seorang pun yang muncul. Hanya ada ruangan kosong yang sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Tanpa memperdulikan keadaan, setelah itu Shaula memutuskan untuk meneruskan langkah.
Dia tidak perduli langkah ini akan membawanya kemana. Hal yang terpenting adalah dia dapat keluar dari tempat misterius ini.
Mendadak pikirannya langsung terpaku pada suara misterius tadi. Kalimat singkat yang penuh makna itu, sukses membuat Shaula bertanya-tanya.
Takdir apa yang sebenarnya tengah mengejar Shaula?
Tanpa Shaula duga pintu yang sejak tadi dikejar, saat ini langsung berada didepannya. Dia sedikit terkejut karena kemunculan pintu dengan pahatan angka tujuh belas dengan warna emas itu.
Langkahnya langsung terhenti ketika dirinya baru saja menyadari sesuatu. Shaula ingat jika pahatan yang ada pada pintu tersebut, sama seperti yang tercetak pada sampul buku mantra itu.
Apa hal ini ada hubungannya dengan buku itu?
Shaula langsung menggelengkan kepala pelan. Dia berusaha untuk menepis hal aneh yang ada dalam pikirannya saat ini. Setelah itu dia kembali melanjutkan langkah dengan berakhir tatapan yang terpaku pada knop pintu.
Tanpa pikir panjang, Shaula langsung membuka pintu itu dan mendorongnya secara perlahan.
Pemandangan yang pertama kali Shaula lihat adalah sebuah ruangan dengan beberapa benda usang yang berserakan. Bahkan banyak debu yang menempel pada setiap benda dalam ruangan ini.
Layaknya seperti sebuah gudang tua yang tidak terurus sama sekali—tempat ini penuh dengan debu.
Shaula menggendikkan bahu, lalu memutuskan untuk memasuki ruangan itu. Manik mata hazel miliknya menelisik ke seluruh penjuru tempat ini. Hingga tatapannya langsung terpaku pada sebuah bingkai foto tertutup helaian kain.
Mata Shaula secara tidak sengaja menangkap seorang pria paruh baya dengan pakaian kerajaan. Wajah pria itu nampak sangat tampan walaupun usianya sudah memasuki angka empat puluhan.
Karena penasaran, Shaula membuka kain tersebut untuk dapat melihat foto secara keseluruhan. Dia langsung dikejutkan dengan seseorang yang sangat dia kenal.
"Bukankah ini foto keluarga kerajaan Kuan?" gumam Shaula, pelan.
Hal lain yang justru membuat Shaula tersentak adalah sosok laki-laki dengan tatapan tajam yang mempesona. Namun tatapannya itu justru tertarik pada seorang bayi yang berada digendongan ratu.
Shaula sontak mengernyitkan alis. "Jika mereka adalah keluarga kerajaan dan anak laki-laki itu adalah seorang pangeran, lalu siapa bayi itu?" tanyanya.
"Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya."
__ADS_1
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
...See you next part~...