
...BAB 13...
...BUKU PENGABUL PERMINTAAN...
...a novel by youmaa...
...❝Dalam keajaiban ada secuil harapan yang kugurat dalam sebuah tulisan.❞...
...Happy Reading♥...
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
"Ka—kamu?"
Shaula mendadak terkejut ketika manik matanya menangkap seseorang yang saat ini tengah berdiri menjulang didepannya. Dia adalah Soobin yang saat ini tengah menatapku dengan tatapan datar yang nampak sengit.
Ketika manik mata Shaula menatap ke setiap penjuru yang ada ditempat ini, dia terkejut setengah mati. Semua pergerakan mendadak terhenti didepan matanya sendiri.
Shaula menatap Soobin dengan tatapan terkejut. "Bu—bukankah, kamu tadi—"
"Nanti saja aku jelaskan. Sekarang aku hanya memastikan jika kamu tidak ikut terhenti," potong Soobin.
Mereka berdua sama sekali tidak mengerti dengan apa yang saat ini terjadi pada waktu. Mendadak semua pergerakan menjadi terhenti secara tiba-tiba dan hal yang paling mengejutkan adalah mereka berdua yang tidak terkena dampaknya.
Apakah ini adalah ulah yang dilakukan oleh seseorang dengan sengaja?
"Kalian?"
Keduanya terkejut ketika sahutan itu mendadak menusuk ke dalam indera pendengaran. Pemandangan yang pertama kali mereka lihat adalah sosok dengan tudung hitam yang berdiri jauh didepan mereka.
"Siapa kamu?" sahut Soobin.
Sosok asing itu tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Soobin. Sejenak dia diam tidak melontarkan kata sedikit pun.
Secara diam-diam, laki-laki itu langsung berlari dengan kecepatan yang sangat cepat. Soobin langsung berlari mengejar laki-laki misterius itu dengan ilmu teleportasi yang dimilikinya.
"Berhenti disana!" seru Soobin.
Bahkan dirinya saat ini dibawa ke daerah dengan padang rumput yang luar dan angin sepoi-sepoi yang ikut melengkapinya. Napas Soobin menggebu ketika dirinya kehilangan jejak dari sosok misterius itu.
"Siapa dia?" gumam Soobin.
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
"Jadi, kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan?"
Shaula merasa jengah dengan perdebatan tidak berujung dengan Adara saat ini. Gadis itu membawa buku kuno yang isinya masih kosong dan mengatakan hal yang tidak mungkin.
Karena hal ini, membuat Shaula lebih memilih untuk diam saja.
"Kamu jangan bercanda, Adara. Itu hanyalah buku kosong yang biasanya digunakan profesor ilmu sihir untuk menulis mantra," hela Shaula, frustasi.
Adara berdecak pelan, lalu mengusap wajahnya pelan. "Coba tulis sesuatu yang kamu inginkan dikertas yang ada dibuku ini," pintannya.
Shaula menghela napas seraya mengusap dahi, sepertinya Adara tengah berkhayal yang bukan-bukan saat ini.
"Adara, buku ini hanya buku biasa. Aku bisa menemukan banyak buku seperti ini di perpustakaan," hela Shaula.
Shaula langsung menelungkupkan dahinya diatas meja. "Aku tidak mau dengar," lanjutnya.
"Shaula, aku belum selesai bicara," teriak Adara seraya menarik kaki gadis itu.
Madam Aluna yang mendengar kegaduhan yang menggangu ketengangan telinganya langsung melemparkan tatapan tajamnya ke arah mereka.
"Hei, kalian berdua! Diam atau keluar dari perpustakaan," kata Madam Aluna, datar.
Mendengar hal tersebut, Shaula langsung beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk keluar dari perpustakaan. Karena hal tersebut, membuat Adara menganga tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh teman satu kamarnya itu.
"Shaula, tunggu aku!" teriak Adara.
Karena hal tersebut membuatnya menjadi panen sorotan dari beberapa murid dan tatapan tajam dari Madam Aluna. Dirinya langsung berlari menyusul Shaula yang sudah beranjak dari perpustakaan sejak tadi.
Shaula menghela napas gusar dengan kedua buku yang berada dipelukannya. "Astaga, kenapa dia berteriak seperti itu?" gumamnya, pelan.
__ADS_1
Adara memepuk pundak Shaula pelan. "Aku akan menunjukkan padamu. Karena aku tidak berbohong mengenai buku ini," sahutnya.
Shaula berdecak pelan, lalu menghela napas. Sepertinya dia sudah menyerah dengan apa yang dikatakan oleh temannya itu.
"Hei, kenapa kamu menarikku!" teriak Shaula.
Tanpa persetujuan dari sang empunya, Adara seenak jidat menariknya tanpa mengatkan hal apapun ataupun meminta persetujuan. Gadis itu tetap menaik Shaula entah menuju kemana.
"Kamu mau membawaku kemana, Adara?" sungut Shaula, ketus.
Adara menghentikan langkahnya saat keduanya sampai pada naungan pohon oak rindang. Kemudian mereka langsung duduk ditempat ini dengan posisi yang tersila.
"Pinjam alat tulismu," sahut Adara.
Shaula mengerutkan kening seraya memberikan pensil miliknya pada Adara tanpa melontarkan perkataan. Setelah itu, dia melihat jika temannya itu menuliskan sesuatu diatas kertas dibuku yang tadinya mereka perdebatkan.
Shaula hanya bisa menatap tingkah Adara hingga gadis itu selesai.
"Kamu sedang apa?" tanya Shaula.
Mendadak sebuah apel muncul diatas buku yang tertutup. Karena hal tersebut, membuat manik mata Shaula kontan membulat karena kemunculan buah tersebut.
"Ba—bagaimana?" sahut Shaula, binggung.
Adara tersenyum puas melihat wajah terkejut yang sempat Shaula lontarkan. "Aku sudah bilang jika buku ini adalah buku pengabul permintaan," balasnya.
"Ini tulislah permintaanmu," lanjutnya.
Shaula menggangguk pelan dengan kikuk, lalu dirinya meraih buku yang Adara sodorkan padanya. Dia langsung membalikkan badan karena dirinya merasa malu dengan apa yang akan dia tulis disana.
"Jangan melihatnya," sungut Shaula.
Adara terkekeh pelan seraya menutup matanya. "Baiklah, aku tidak akan melihatnya," katanya.
"Ah~ aku lupa mengatakannya. Semua permintaan yang sudah tertulis akan lenyap secara perlahan," lanjutnya.
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
Hari ini ada festival spesial di Hogward yang dilakukan rutin sepanjang tahun. Banyak murid yang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan festival spesial ini.
"Aku tidak sabar melihat Blue Rose itu," ucap Adara, antusias.
Mendengar hal tersebut, Shaula terkekeh geli melihat tingkah absurd Adara yang tidak ada habisnya. Dia terus tertawa dengan properti yang berada ditangan. Karena sejak tadi gadis hiperaktif disampingnya terus saja mengoceh tentang festival pada hari ini.
Ah, ada-ada saja.
Langkah Shaula mendadak berhenti, ketika manik matanya menangkap sosok yang berdiri tidak jauh darinya. Saat ini, laki-laki itu tengah sibuk memasang hiasan menggunakan kursi kecil.
Shaula membentuk sebuah senyum tipis.
Senyumannya itu langsung luntur karena manik matanya tidak sengaja menangkap hal yang ganjal—ada orang misterius yang nampak mengintai Soobin.
Matanya lantas memicing tajam untuk dapat menatap gerak-gerik mencurigakan yang dilakukan sosok misterius itu.
"Shaula, kamu sedang lihat apa?" sahut Adara seraya menepuk pundak Shaula pelan.
Sepontan tatapan Shaula terhadap sosok itu buyar dalam hitungan detik, namun matanya tidak lepas dari sosok itu. Ketika matanya melihat ada sebuah anak panah keluar, dirinya langsung melempar benda yang ada ditangannya.
Bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan teriakan dari Adara.
BRUGH!
Shaula langsung menghalangi anak panah itu mrnggunakan portal yang berasal dari kekuatannya. Karena dirinya mendorong Soobin, laki-laki itu saat ini tersungkur dengan posisi duduk.
Karena hal tersebut, semua pasang mata menatap ke arah mereka berdua. Sedangkan Soobin juga nampak terkejut walaupun dengan air muka dingin.
"Astaga, kenapa dia melakukan itu?" sahut salah satu murid.
Shaula menghilangkan portal itu dan berbalik untuk menatap Soobin. Gadis itu menegakkan badan dan menyapu seragamnya dengan air muka santai.
"Ada yang ingin mencelakaimu," sahut Shaula, singkat.
Soobin terdiam sejanak. "Apa maksudmu?" tanyanya, binggung.
__ADS_1
"A—apa yang terjadi barusan?" sahut Adara.
Shaula melemparkan tatapan ke arah Adara sejenak lalu ke lingkungan disekirarnya—dia dapat melihat jika masih banyak murid yang menatapnya. Sedangkan dia langsung menatap ke arah dimana sosok misterius itu muncul.
"Sial. Dia kabur," gumam Shaula, mendesis.
"Pasti itu adalah negara Demon," sahut Soobin.
Arah pandagan Shaula langsung mengarah pada Soobin yang sepertinya juga menatap ke arah yang sama dengannya. Ternyata firasat keduanya sama mengenai sosok misterius yang berada dibalik semak itu.
Itu adalah klan negara Demon.
"Kamu tidak apa-apa, bukan?" tanya Shaula.
Soobin menggeleng sekilas sebagai jawaban. "Seharusnya kamu tidak melakukan hal itu," balasnya.
Shaula mendengus pelan, lalu melipat kedua tangannya didepan dada. "Setidaknya kamu mengatakan terima kasih padaku," sungutnya.
Soobin menghela napasnya. "Jadi kamu berharap aku akan mengatakan itu dengan membantuku?" balasnya, menjustifikasi.
Shaula melepas lipatan tangannya secara perlahan dengan raut mukanya yang berubah seratus delapan puluh derajat. Bisakah laki-laki dingin ini mengucapkan kata terima kasih padanya?
Apakah dia sudah bosan mengatakannya?
"Sebenarnya tanpa kamu membantuku pun, aku sudah tahu jika akan terjadi seperti ini," sahut Soobin.
Shaula sedikit terkejut. Jadi dia melakukan hal gila tadi adalah sebuah tindakan yang sia-sia? Jika seperti itu, dia ingin sekali mengutuk dirinya sendiri.
"Aku tidak mengharapkan kamu menolongku. Aku bisa menjaga diri sendiri tanpa bantuan darimu," final Soobin.
"Bagaimana jika kamu yang malah terluka karenaku?" lanjutnya.
Setelah mengatakan hal tersebut, Soobin langsung meninggalkan tempat tanpa mengatakan hal apapun lagi. Mendengar perkataan dari laki-laki itu, Shaula sedikit terhenyak karena kalimat akhir yang dilontarkan olehnya.
Apakah Soobin mengkhawatirkan dirinya?
"Hei, kenapa kamu malah diam? Bantu kami menyelesaikan ini."
Shaula tersentak karena sahutan dari murid Raucnclaw yang baru saja menepuk pundaknya pelan. Setelah itu, dia langsung bergegas untuk membantu pekerjaan lainnya bersama murid lain.
"Sebaiknya aku tidak menaruh seluruh hatiku padanya."
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
"Astaga, siapakah laki-laki tampan yang ada didepan panggung sana?"
"Kenapa dia mahir sekali memainkan pedang itu?"
Sejak tadi Adara terus mengoceh mengenai kehebatan seseorang yang saat ini memperlihatkan kemahirannya dalam tarian pedang. Air mukanya langsung berubah seratus delapan puluh derajat karena manik matanya menangkap wajah dari laki-laki itu.
Bukankah itu adalah laki-laki bertudung yang misterius itu?
Shaula mengangkat kedua alisnya ke atas. "Dia?" gumamnya.
Adara sadar karena telinganya mendengar seautu hal yang baru saja Shaula ucapkan. Alisnya yang naik sebelah membuat suasana mendadak menjadi tersekat.
Shaula menatap Adara dengan kerjapan mata.
"Kamu mengenal laki-laki itu?" tanya Adara.
Shaula meneguk salivanya dengan susah payah. Setelah itu, dia langsung beranjak dari tempatnya dan memutuskan untuk keluar dari kerumunan itu.
"Eh, mau kemana?" tanya Adara.
Shaula menguap—namun sebenarnya itu hanyalah sebuah alasan. "Aku mengantuk," katanya.
Adara hanya ber-oh ria. "Baiklah, cepatlah tidur. Aku masih ingin melihat festival," katanya.
Shaula menggangguk pelan sebagai jawaban. Suasana yang saat ini ada disekitarnya benar-benar sepi—hanya ada beberapa murid saja yang berwara-wiri.
Ketika sampai pada persimpangan jalan, tiba-tiba dirinya didekap oleh seorang berpakaian serba hitam dengan tudung panjang.
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
__ADS_1
...See you next part~...