Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Takdir Untuk Shaula


__ADS_3

...BAB 34...


...TAKDIR UNTUK SHAULA...


...a novel by youmaa...


...โTakdir yang menarik dengan plot twist yang dikemas apik dalam sebuah naskah penuh misteri.โž...


...Happy Readingโ™ฅ...


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"SOOBIN."


Shaula berusaha mengejar Soobin dengan langkah lebarnya sejak beberapa detik lalu. Namun setelah teriakan tersebut, laki-laki itu langsung menghentikan langkahnya.


Hal tersebut sontak membuat Shaula juga ikut menghentikan langkah.


Setelah itu dia langsung berlari dan memeluk erat Soobin yang belum membalikkan badannya. Gadis itu sama sekali tidak memperdulikan hal lain, selain dunianya saat ini.


"Semua tidak seperti yang kamu pikirkan," sahut Shaula, pelan.


"Aku hanyaโ€”"


"Aku tidak memikirkan hal yang sedang kamu pikirkan," potong Soobin.


Hal itu langsung membuat Shaula mengendurkan pelukannya dan mendongak untuk dapat melihat wajah Soobin. Nampak dari raut mukanya saat ini, jika gadis itu teramat terkejut.


"Lalu kenapa kamu meninggalkanku tadi?" tanya Shaula.


Soobin terdiam. Setelah itu suasana hening pun mulai menguasai atmosfer yang ada didekat mereka berdua. Keduanya nampak tidak saling mengeluarkan sepatah kata apapun.


GREP!


Soobin membalikkan badan dan langsung memeluk Shaula. Karena hal tersebut, sontak membuat sang empunya terkejut setengah mati.


"Aku senang kamu menemukan takdirmu," sahut Soobin.


Shaula terdiam dengan perkataan Soobin yang sama sekali tidak mengandur unsur kemarahan. Nada bicaranya juga masih lembutโ€”sama seperti bisanya.


Disisi lain, Shaula ingin mengutuk dirinya sendiri karena dia sudah melewati batas kepercayaan diri. Padahal Soobin tidak merasa salah paham sama sekali, gadis itu sungguh malu akan sikapnya tersebut.


Sikapnya sungguh memalukan dirinya dalam beberapa detik saja.


Mendadak terdengar suara tawa renyah yang keluar dari bibir Soobin. Setelah itu dia langsung menakup pipi gembul Shaula dan mengamati gadis itu lamat-lamat.


"Lihatlah. Pipimu merah," celetuk Soobin.


Soobin tidak henti-hentinya tertawa. Karena hal tersebut, sontak membuat Shaula semakin keki akan sikapnya. Dia tidak tahu lagi apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


Sepertinya dia akan gila karena sikap manis Soobin.


Shaula langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. "Tiโ€”tidak! Pipiku tidak memerah," elaknya.


"Mungkin hanya karena udara disini terasa dingin," lanjutnya.


Beruntung sekali jika udara disini dingin, jadi hal ini bisa dia jadikan alasan untuk mengelak. Dia berharap jika Soobin akan percaya alasan klisenya itu dan melupakan hal memalukan itu.


"Ah~ baiklah," balas Soobin


Shaula bernapas lega ketika mendengar balasan dari Soobin yang nampaknya menyetujui alasannya. Setelah itu dia langsung mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas, sehingga menampakkan kedua dimple yang dimilikinya.


Sebuah senyum manis dari Soobin.


Setelah itu, Soobin langsung duduk diatas kursi yang berada tidak jauh darinya. "Kamu tidak berubah sama sekali," katanya.


"Bahkan kamu tetap saja tidak mengakui apa yang ada dalam hatimu," lanjutnya.


Shaula binggung dengan perkataan dari Soobin yang sama sekali tidak dia mengerti. Karena hal tersebut, membuatnya langsung mengerutkan alis binggung.


Soobin menepuk tempat kosong yang ada disampingnya, berniat untuk menyuruh Shaula duduk disana. Tanpa mengatakan hal apapun lagi, gadis itu langsung duduk disamping Soobin.

__ADS_1


Suasana masih hening.


Jujur saja, Shaula masih canggung untuk mengeluarkan sepatah kata karena ulahnya tadi. Mereka nampak masih diam satu sama lainnya, tanpa berniat mengatakan sesuatu.


Soobin berdecak pelan. "Katakan sesuatu. Apa aku harus mencari topik terlebih dahulu?" sungutnya.


Shaula menahan tawanya dengan susah payah karena perkataan yang Soobin katakan. Dia sangat menyukai jika Soobin kesal seperti saat ini.


Laki-laki ini sungguh sangat menggemaskan.


Soobin membuang mukanya ke arah lain. "Tertawa saja jika ingin melakukannya," katanya, ketus.


Shaula langsung tertawa lepas. "Aku suka membuatmu kesal," balasnya.


Soobin memutar bola matanya malas. "Terserah," katanya.


TIK!


Soobin menjentikkan jarinya. "Aku akan memberimu kejutan setelah acara penobatanmu."


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


Shaula terkejut ketika dirinya saat ini menjadi pusat perhatian pada acara kelulusan. Raut muka semua murid nampak terkejut ketika mengetahui jika dia adalah putri kerajaan Kuan.


Siapa yang menyangka dan bisa menebak hal mengejutkan ini?


Adara masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan takdir temannya, begitu pula dengan Hena. Sepertinya hanya Profesor Aludra yang nampak sangat santai tanpa nampak sedikit pun ekspresi terkejut.


"Terima kasih, profesor. Kalau begitu saya permisi," kata Mars, lembut.


Profesor Aludra membungkuk singkat sebagai jabawan atas perkataan dari sang pangeran. Sedangkan Shaula hanya bisa berdiri disamping pintu kereta kuda dengan kepala tertunduk.


Dia mendongakkan pandangan dan tatapannya langsung bertemu dengan Soobin. Nampak jika laki-laki itu tengah melemparkan senyuman ke arahnya.


Karena hal tersebut, sontak membuat sang empu langsung ikut mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Aku akan menemuimu nanti."


Adara langsung menarik tangan Shaula dan memeluknya erat, lalu disusul oleh Hena. Mereka bertiga berpelukan satu sama lain ditengah keramaian banyak orang.


"Kami akan merindukanmu, Shaula. Aku harap kita akan bertemu lagi," kata Hena.


Shaula merasa jika ini adalah pertemuan terakhir dengan pada sahabatnya. Walaupun hanyalah kata tersebut yang terlontar dari Hena, hal itu cukup membuat penjelasan.


Akankah mereka bertiga tidak akan bertemu lagi?


"Maafkan aku. Aku harus kembali ke negaraku," sahut Hena, lirih.


Adara semakin memeluk erat kedua temannya itu. "Aku juga harus kembali ke negaraku," imbuhnya.


Shaula langsung melepas pelukan tersebut, ketika kedua temannya itu mengatakan salam perpisahan. Karena tindakan tiba-tiba dari sang empu, sontak membuat keduanya langsung menundukkan kepala.


"Apa kalian akan pergi meninggalkanku?" tanya Shaula dengan nada kecewa.


Adara menggengam erat tangan Shaula dengan seulas senyum yang menyertai wajah cantiknya. Setelah itu dia menggeleng pelan untuk menangkal balasan menyakitkan dari Shaula.


"Walaupun ini salam perpisahan kita, aku tidak ingin juga mengakhiri persahabatan ini. Kalian akan tetap menjadi temanku," jelas Adara.


Mereka pun saling memeluk satu sama lain, hingga suara dari Mars terdengar lembut melalui telinga Shaula.


"Adikku, kita harus segera memuju istana," sahut Mars, lembut.


Shaula melepas pelukan itu. Kemudian dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kereta kuda yang ada dibelakangnya. Namun pergerakannya langsung terhenti ketika suara dari seseorang menguar ke dalam indera pendengarannya.


"Tunggu!" seru Adara.


Langkah Shaula langsung terhenti ketika seruan tersebut terdengar, lalu dia membalikkan badan menatap ke arah Adara. Setelah itu, gadis tersebut mengeluarkan sesuatu dari balik seragamnya.


Shaula terkejut ketika menyadari jika yang tengah diberikan oleh Adara adalah buku pengabul permintaan.


"Simpan ini untukmu," pinta Adara seraya memberi buku tersebut.

__ADS_1


Shaula menerima buku tersebut. "Tidak, itu adalah milikmu. Seharusnya kamu yang menyimpannya," balasnya.


Adara tetap bersikeras memberikan buku tersebut kepada Shaula. Melihat tidak ada peluang untuk menolak permintaan Adara, gadis itu langsung menerimanya dengan sepenuh hati.


"Aku akan tetap bersamamu melalui buku itu," kata Adara, berbisik.


Shaula langsung mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas, setelah mendengar perkataan dari Adara. Kemudian dia pun menaiki kereta kuda tersebut dan meninggalkan area Hogwart.


Shaula mengambil pena yang ada disakunya, lalu menuliskan kata pada buku pengabul permintaan tersebut. Kedua sudut bibir gadis itu langsung terangkat ketika jemarinya menuliskan kata.


"Setelah ini, aku akan menjemput takdirku."


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


Pesta yang tergelar secara privat itu nampak sangat mewah. Shaula sama sekali tidak mengerti dengan pesta penobatannya sebagai seorang putri, haruslah nampak mewah seperti ini.


Manik matanya mengedar ke setiap sudut ruangan yang ada ditempat ini.


"Bagaimana dengan pesta ini, tuan putri?"


Suara nyaring yang khas itu langsung membuat Shaula melemparkan tatapannya ke arah belakang. Dimana pun dia berada, dia sangat mengenal suara iniโ€”bahkan sangat tidak asing.


Shaula membulatkan matanya. "El Nath?" serunya, terkejut.


Oknum yang membuat Shaula terkejut, justru nampak dengan tatapan datarnya. Dia sama sekali tidak menyangka jika El berada dipesta penobatannya.


"Bagaimana bisa kamu berada disini?" tanya Shaula, menginterupsi.


El menarik Shaula menuju keluar keramaian. Dia seperti hendak mengatakan sesuatu kepada gadis itu, namun tanpa diketahui oleh umum. Ketika sampai pada tempat yang cukup sepi, El melepaskan cekalannya dari Shaula.


Shaula menepis cekalan El segera. "Kenapa kamu membawaku kemari?" tanyanya, datar.


"Jika ingin mengatakan sesuatu, katakan saja disana. Kenapa harus disini?" lanjutnya.


El berdecak pelan. "Berisik," desisnya.


Setelah mengatakan hal tersebut, El langsung merogoh sakunya untuk mengambil sesuatu yang ada dibalik bajunya. Ketika tangannya mengapai benda tersebut, sontak membuat Shaula terkejut hebat.


Itu adalah sebuah cincin.


Shaula melangkah mundur. "Mau apa kau dengan benda itu?" sergahnya, ketus.


El mengerjapkan matanya pelan, padahal dia belum mengatakan hal ini pada Shaula. Namun sepertinya gadis itu sudah paham apa yang akan dia lakukan nantinya.


"Raja Kuan memintaku untuk menikahimu."


DEG!


Shaula terkejut ketika sepatah kata itu keluar dari mulut El. Dia sama sekali tidak tahu akan rencana pernikahan konyol ini, padahal dirinya baru saja dinobatkan sebagai putri.


Bahkan kakaknyaโ€”Mars, belum menikahi seorang gadis. Bagaimana bisa ayahnya ingin menikahkannya dengan pangeran ini?


El melempar cincin itu, sehingga masuk ke dalam danau yang ada disampingnya. Karena tingkah dari laki-laki tersebut, sempat membuat Shaula terkejut.


El menghela napasnya pelan. "Aku tahu kamu tidak mencintaiku," katanya.


"Karena kamu punya seseorang. Dan itu bukanlah diriku," lanjutnya.


Shaula terdiam karena perkataan dari El yang begitu menyayat hati. Dia menjadi merasakan sakit walaupun dia tidak ikut merasakannya.


El merogoh sakunya kembali. "Ambillah peta ini. Pergilah kesana," katanya.


Shaula binggung dengan permintaan El saat ini. Tanpa mengatakan apapun, dia menyabet peta tersebut lalu membukanya.


"Ada seseorang yang menunggumu disana."


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


...See you next part~...


...Penasaran 'kan bagaimana penampilan Princess Shaula dipesta? Ini, Author kasih gambarannya....

__ADS_1



__ADS_2