
...BAB 30...
...CAN'T YOU SEE ME?...
...a novel by youmaa...
...❝Sekarang bisakah kamu melihat keberadaanku?❞...
...Happy Reading♥...
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
"Bukalah matamu. Aku ingin kamu ikut aku pergi dari tempat ini."
Shaula sontak terkejut ketika dia merasakan ada genggaman tangan dengan sebias suara yang secata tiba-tiba muncul. Karena hal itu, sontak membuatnya membuka mata dan memutuskan untuk mengikuti laki-laki itu.
Gadis itu sama sekali tidak melontarkan sepatah kata apapun sejak tadi. Dia hanya bisa pasrah dengan tarikan laki-laki ini—Choi Soobin.
Dia membawa Shaula berlari meninggalkan ruang laboratorium tersebut menuju ke taman dekat asrama Hufflepuff. Setelah menghentikan langkah, keduanya mengatur napas yang masih berderu tidak beraturan.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Soobin, pelan.
Shaula menggangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan yang Soobin lontarkan. Setelah mendengar jawaban atas pertanyaannya, Soobin mengangkat kedua sudut bibirnya tipis.
Namun hal itu tidak dapat menyembunyikan dimple yang dimilikinya.
Soobin mendaratkan pàntatnya diatas rerumputan dengan kedua lutut yang tertekuk. "Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan ditempat itu?" tanyanya.
Shaula langsung melemparkan tatapannya ke arah Soobin. "Aku tidak sengaja mendengar suara gaduh yang terdengar dari dalam ruang laboratorium," balasnya.
Soobin membuang mukanya ke arah lain, bermaksud untuk menutupi rasa geramnya. Secara sembunyi-sembunyi, dia menggertakkan giginya.
"Jadi mereka berulah lagi," gumam Soobin, pelan.
Ketika Shaula mendengar suara gumaman dari Soobin, sontak membuatnya langsung duduk disamping laki-laki itu. Air mukanya yang penuh tanya tersebut, langsung terlempar ke arah sang lawan bicaranya.
Shaula menaikkan salah satu alisnya. "Maksudmu?" tanyanya.
Soobin menatap Shaula sekilas. Namun beberapa detik setelahnya, laki-laki itu kembali membuang mukanya ke arah lain. Karena sikap dingin dari Soobin, membuat Shaula mendengus pelan. Namun dia merasakan jika laki-laki itu juga mengetahui hal yang saat ini tengah terjadi.
"Shaula," sahut Soobin.
Shaula langsung melemparkan tatapannya ke arah Soobin dengan kerjapan mata. Namun setalah itu, tidak ada kata yang terlontar dari mulut laki-laki bermarga Choi itu.
Justru yang terlihat adalah raut muka Soobin langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
"Ada satu hal yang ingin aku bicarakan padamu," kat Soobin, lagi.
DEG!
Entah karena hal mengganjal apakah yang langsung membuat degupan jantung Shaula tidak teratur. Pikirannya sudah berlarian kemana-mana hanya karena ucapan dari Soobin, bahkan dia berpikiran mengenai pengungkapan cinta dari laki-laki itu.
Apakah dia terlalu percaya diri?
Soobin memeluk kedua lulutnya dengan menundukkan kepala. "Aku hanya ingin mengatakan jika—"
"HEI! KALIAN KENAPA MASIH DISANA?"
Teriakan itu sontak membuat perkataan Soobin tertahan diujung bibir. Shaula sudah ingin mengutuk seseorang yang saat ini seenak jidat memotong pembicaraan diantara keduanya.
Shaula langsung melemparkan tatapan tajam ke arah murid asrama Gryffindor dan Ravenclaw yang saat ini tengah berjalan ke arah mereka. Dia langsung membuang mukanya ke arah lain karena kesal dengan hal ini.
Soobin mengernyitkan alis dalam. "Ada apa?" tanyanya.
Murid dari asrama Ravenclaw dan Gryffindor itu tidak langsung menjawab pertanyaan, namun mereka masih mengatur napas yang tidak teratur. Sepertinya mereka baru saja berlari menyusuri lorong untuk menuju ke tempat ini.
"Kosongkan lorong segera," jawab murid asrama Gryffindor.
Shula yang sejak awal melipat kedua tangan sontak melepaskannya, setelah mendengar balasan tersebut. Nampak juga dengan kedua alis gadis itu yang perlahan mengendur dengan bahu yang merosot.
Setelah mengatakan hal tersebut, kedua murid itu pergi meninggalkan Soobin dan Shaula.
Soobin menghela napasnya pelan. "Aku sudah menduga ini sebelumnya," sahutnya.
Shaula menatap ke arah sang lawan bicara, lalu menepuk pundaknya pelan. "Mungkin kamu bisa mengatakan itu lain kali," balasnya.
Setelah mendengan beberapa kata dari Shaula, laki-laki itu langsung melemparkan tatapannya ke arahnya. Air mukanya terlihat datar—sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Soobin menghela napas pelan, lalu mendratkan telapak tangannya diatas pundak Shaula. "Kamu harus menjaga buku itu dengan baik. Karena perasaanku mendadak menjadi tidak enak," katanya.
"Berjanjilah padaku untuk tetap bersamaku."
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
Terik matahari yang menyela dedaunan dari pohon oak besar itu nampak sembunyi-sembunyi. Tepatnya dibawah naungan pohon tersebut, ada seorang laki-laki yang menyandarkan punggungnya.
Kedua matanya nampak terpejam dengan buku yang ada diatas pangkuannya. Hembusan angin kecil itu membuat surai hitamnya menari-nari, sehingga memamerkan dahi putih milik laki-laki itu.
Tiba-tiba muncul laki-laki menggenakan seragam asrama Slytherin tengah berdiri didepanya. Tatapan datar itu, sontak membuat sang empu membuka matanya.
Dia adalah Ankaa.
Sang lawan bicara sontak menyabet buku yang ada diatas pangkuan Ankaa. Tatapan datar yang terpampang darinya membuat sang empu langsung menaikkan alis sebelah.
Jangan sampai El dan Ankaa bertengkar lagi.
Ankaa mendengus pelan, lalu kembali memejamkan matanya. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" sungutnya.
El menarik tangan Ankaa tanpa seizinnya, sehingga pangeran kerajaan Magellanic itu menegakkan badan. Karena paksaan yang El lakukan padanya, Ankaa mendengus kesal dan langsung menepis tangan El dari lengannya.
"Apa yang kamu lakukan!" protes Ankaa.
El menaikkan salah satu sudut bibir. "Murid yang lain sedang kelimpungan sekarang. Kenapa kamu malah santai disini?" sambarnya.
__ADS_1
Ankaa menaikkan salah satu alis. Dia benar-benar tidak paham dengan ucapan El saat ini. Bahkan dia sendiri pun tidak tahu apa yang membuat para murid kelimpungan—seperti yang El katakan.
"Ada apa?" tanya Ankaa, ketus.
El berdecak lalu mengusap dahinya gusar. "Kristal Hogwart dicuri lagi," sambarnya.
Ankaa tersentak. "Jangan bicara sembarangan," sungutnya dengan menaikkan beberapa oktaf.
El menghela napasnya pelan, lalu membuang mukanya ke arah lain. "Siapa yang bicara sembarangan?" katanya.
"Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda?" lanjutnya.
Ankaa mengertakkan gigi, lalu tangannya terkepal kuat sehingga membuat buku jarinya memutih. Melihat sang lawan bicaranya itu diam saja, lantas membuat El memukul Ankaa.
"Hei! Kenapa kamu memukulku?" protes Ankaa seraya mengusap tengkuknya pelan.
BUAGH!
Ankaa membalas pukulan yang tadinya sempat El lemparkan padanya. Karena hal sepele tersebut, membuat keduanya terlibat dalam duel tidak jelas lagi.
"Kenapa kamu selalu mencari masalah denganku?" sungut Ankaa, kesal.
DUAGH!
El membalas pukulan dari Ankaa. "Kamu yang membuatku melakukan hal ini," balasnya.
Bukannya membuat strategi untuk mencari keberadaan kristal Hogwart, mereka berdua malah bertengkar seperti ini.
Tingkah konyol kedua pangeran itu selalu saja menghiasi lapangan Hogwart setiap saat. Mungkin hal itu adalah sebuah pemandangan yang biasa bagi murid Hogwart.
Namun kali ini, hal itu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.
"ANKAA! EL! KALIAN IKUT SAYA KE RUANGAN GURU BESAR!"
Suara berat itu kontan membuat keduanya menghentikan pertengkaran. Mereka langsung melemparkan tatapan polos ke arah Profesor Sean yang saat ini tengah berkacak pinggang.
"Profesor Sean?" seru El dan Ankaa, kompak.
Profesor Sean hanya menatap mereka dengan sorot mata datar. Dari balik kacamata beningnya, nampak dengan jelas jika kesabaran profesor itu sudah habis.
"Kali ini tidak akan ada hukuman untuk kalian," sahut Profesor Sean.
Keduanya saling tatap satu sama lain. Karena merasa binggung dengan perkataan sang profesor, sontak membuat keduanya terkejut.
"Kalian ikut saya ke ruangan Profesor Aludra."
.........
"Profesor Nebula, apa yang terjadi dengan sistem keamanan Kristal Hogwart?"
Didalam ruang kendali sistem keamanan sedang dalam kondisi yang tidak menungkinkan. Para profesor nampak panik karena berita mengebohkan yang baru saja terjadi.
Sejak tadi sang pengendali keamanan—Profesor Nebula tengah melacak si pencuri melalui alat khusus. Namun sejak tadi dia sama sekali tidak dapat menemukannya dari alat pengintai.
"Kenapa hanya ada kabut putih?" gumam Profesor Sean.
"Pencuri itu bukan dari bagian dari bangsa penyihir," sahut Profesor Aludra, pelan.
Karena lontaran kata dari sang kepala sekolah Hogwart, sontak membuat kedua profesor itu menghentikan kegiatan mereka. Keduanya langsung melemparkan tatapan pada Profesor Aludra.
"Hantu Perpustakaan," sahut Profesor Sean.
"Sepertinya saya bisa membantu menangkap hantu perpustakaan itu, profesor!"
Seruan itu sontak membuat ketiga profesor melemparkan tatapan ke arah pintu yang saat ini terbuka. Manik mata mereka menangkap seorang murid Ravenclaw yang berdiri disana.
Beberapa detik kemudian muncul murid Gryffindor dan Slytherin dari balik punggung murid tersebut.
Profesor Sean mengangkat kedua sudut bibienya ke atas. "Kalian datang tepat waktu," sahutnya.
Sang profesor melangkahkan kakinya menuju ke hadapan ketiga laki-laki itu dengan kedua tangan yang tersilang dibalik punggung.
"Jadi, apakah kalian sudah mengerti apa yang akan kalian lalukan?" lanjutnya.
Ketiganya murid tersebut adalah Soobin, Ankaa dan El. Tiga auror yang selau menjadi kebanggan Hogwart karena prestasi dan pengetahuan mereka.
"Kami sudah memiliki rencana," balas Ankaa.
Profesor Sean mengangkat kedua sudut bibirnya ketika mendengar balasan tersebut. "Ah~ ini akan menjadi tugas tambahan nilai untuk kalian. Pihak sekolah juga akan memberikan penghargaan untuk kalian," jelasnya.
Ketiganya membungkuk singkat.
"Kami akan menangkap hantu itu nanti malam."
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
Shaula baru saja kembali dari kelas ramuan. Ketika dia baru saja melangkahkan kaki keluar kelas, manik matanya langsung disuguhi pemandangan yang tidak biasa.
Semua murid nampak berlarian kesana kemari dengan raut muka panik.
Shaula mengerutkan kening. "Mereka kenapa?" gumamnya, pelan.
Hingga akhirnya Shaula hanya menggendikkan bahu dan memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Dia perlu meminjam beberapa buku baru untuk kelas selanjutnya yang akan diikuti.
BRUGH!
"Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu."
Tengah asyiknya berjalan, secara tiba-tiba ada seorang murid yang menabraknya seenak jidat. Tabrakan itu lumayan keras, sehingga membuat buku yang dibawa Shaula jatuh mengenaskan diatas lantai.
Dalam hati, Shaula sudah ingin mengutuk murid tersebut.
Shaula menghela napas pelan. "Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena tidak memperhatikan jalan," balasnya.
__ADS_1
Melihat Shaula yang sedang memunguti buku, membuat murid tersebut ikut membantunya. Ketika tangannya menemukan sebuah buku yang menurutnya aneh, sontak membuat kegiataannya terhenti.
Buku dengan sampul hitam dan hiasan angka tujuh belas—buku mantra Avada Kedavra.
Shaula langsung menyabet buku tersebut ketika dirinya menyadari jika murid itu curiga padanya. Setelah itu dia langsung menumpuknya dengan buku lain, lalu menegakkan badan.
Setelah itu disusul oleh murid tersebut.
Shaula membungkukkan badan sekilas. "Terima kasih sudah membantuku," katanya.
"Kalau begitu aku permisi," lanjutnya.
Setelah mengatakan hal tersebut, Shaula langsung berhambur pergi. Sebaiknya dia mempercepat langkahnya untuk segara menuju ke perpustakaan. Bahkan dia sama sekali tidak perduli akan pemikiran dari murid tersebut.
"Apakah dia tahu mengenai buku ini?" gumam Shaula, pelan.
Setelah itu dia menggelengkan kepala dan mencoba untuk membuang pemikiran itu sejauh mungkin.
"Semoga saja dia tidak mengetahui tentang buku ini," lanjutnya.
Ketika dirinya sampai didepan ruang perpustakaan, sontak dia menghentikan langkah. Hal itu karena ruangan yang luas ini kosong tanpa seorang pun yang tinggal.
Shaula kembali melangkahkan kaki nenuju ke dalam ruangan. Jika saja perpustakaan ini sudah ditutup, kenapa pintunya masih terbuka?
Dia mengedarkan pandangannya ke arah setiap sudut yang ada diruangan.
"Kemana penjaga perpustakaan itu pergi?" tanya Shaula, bermonolog.
Pada akhirnya Shaula pun hanya menggendikkan bahu dan memutuskan untuk melanjutkan langkah. Dia mencoba untuk tetap berpikiran positif mengenai hal ini.
Shaula meletakkan buku diatas meja petugas perpustakaan. "Mungkin sedang istirahat," katanya.
Saat ini dia hanya membawa buku Avada Kedavra itu digenggamannya. Setelah itu dia langsung menuju ke rak buku untuk mencari bahan bacaan baru.
"Mungkin akan ada ada festival lagi," katanya seraya mencari buku.
DRAP DRAP DRAP..
Tiba-tiba telinga Shaula tidak sengaja mendengar bunyi langkah. Pergerakan tangannya sontak terhenti karena suara tersebut yang mengganggu telinga.
Mendadak perasaannya menjadi tidak enak.
"Dimana kamu bersembunyi, gadis manis?"
DEG!
Shaula tersentak karena suara tersebut. Sontak dia langsung membulatkan mata ketika menyadari jika suara tersebut tidak asing ditelinganya. Mendadak tubuhnya menjadi gemetaran karena hal yang tidak dia ketahui sebabnya.
"Apa kamu mau bermain petak umpet denganku?"
Shaula tidak bergeming. Hingga manik matanya itu menangkap sebuah bayangan pada ujung rak yang ada disampingnya.
"Aku hanya menginginkan buku mantra itu," katanya.
"Setelah kamu memberikannya padaku, aku akan dengan senang hati melepaskanmu," lanjutnya.
Shaula perlahan memundurkan langkah. Berharap jika makhluk itu tidak akan menangkapnya dan mengambil buku yang ada dalam genggamannya saat ini.
"Baiklah, aku hitung sampai tiga. Jika kamu tidak keluar, aku akan menghancurkan Hogwart sekarang juga."
Shaula meneguk salivanya susah payah. Tanpa sepengetahuannya, keringat dingin mulai mengalir turun melalui pelipis. Karena kedatangan makhluk menyebalkan ini, membuat dirinya gemetaran.
"Itu bukanlah sebuah ancaman tapi pilihan. Berikan buku itu atau Hogwart akan kuhancurkan!"
DEG!
Shaula binggung harus berbuat apa. Dia masih dengan posisi yang sama tanpa bergerak sedikit pun.
"Satu."
Shaula harus segera pergi dari sini untuk dapat menyelamatkan buku ini. Hingga dia pun memutuskan untuk melangkahkan kaki ke arah pintu belakang perpustakaan.
Semoga saja makhluk menyebalkan itu tidak menemukan keberadaannya.
"Dua."
Shaula sampai pada ujung rak panjang yang baru saja dia lewati. Namun ada hal yang justru membuatnya lebih terkejut untuk yang kedua kalinya.
BRUGH!
"Tiga."
Tubuhnya langsung tertabrak oleh sosok gempal dengan pakaian perpustakaan yang berdiri menjulang dihadapannya. Karena hal tersebut, sontak membuatnya bersimpuh dengan buku yang terjatuh disampingnya.
"Aku sudah bilang jika pilih salah satu. Kenapa kamu malah memilih pilihan sendiri?" tanya makhluk itu, dingin.
Manik matanya langsung terpaku pada buku yang saat ini ada disamping tangan Shaula. Kemudian dia mengangkat salah satu ujung bibir, sehingga menampakkan aura seram padanya.
Dia adalah hantu perpustakaan.
Shaula langsung meraih buku itu, lalu memeluknya erat. Setelah itu dia mundur secara perlahan menggunkan kedua kakinya dengan posisi terduduk.
"Berikan buku itu padaku," kata hantu itu, dingin.
"TIDAK!!" seru Shaula.
Suara lantang itu langsung menggema ke seluruh sudut ruangan yang ada pada tempat ini. Dia berdiri lalu langsung berlari menuju ke arah pintu depan, meninggalkan makhluk itu seorang diri.
Beberapa langkah lagi, dia sampai pada pintu.
BRAK!
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
__ADS_1
...See you next part~...