Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Distinendae


__ADS_3

...BAB 19...


...DISTINENDAE...


...a novel by youmaa...


...❝Percayalah jika aku akan menjadi penyelamat untukmu.❞...


...Happy Reading♥...


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


"Kamu akan segera menerima kekalahanmu, Raja Demon!"


Suara berat dari Jin membuat kedua orang laki-laki itu terkejut setengah mati—terutama untuk sang raja. Karena hal tersebut, membuat sang raja menggertakkan giginya setelah sinar itu menghilang.


Sinar itu berasal dari Moon Goodnes.


Shaula langsung muncul dari balik ounggung Jin, lalu melempar peluru jarum yang dibawanya. Dalam waktu yang sama para profesor muncul dan diikuti oleh tuan Hwang.


Profesor Aludra berlari dari balik pintu dengan pedang yang ada ditangannya saat ini.


JREP!


Napas Profesor Aludra nampak tersenggal karena tersebut. Saat ini, sang raja telah dikalahkan oleh sang kepala sekolah Hogwart. Dalam hitungan detik, tubuh dari Raja Demon langsung lenyap menjadi abu.


Kening Profesor Aludra berkerut ketika melihat hal tersebut.


"Apa ini?" gumam sang profesor.


SLAPP!


Terdengar suara tawa yang entah berasal dari mana. Semua orang yang berada diruangan itu mendadak terkejut.


"Dasar bodoh, kalian mau membunuhku dengan cara ini?"


Mereka semua terus mencari keberadaan sang raja yang entah dimana. Ternyata dugaan Profesor Aludra mengenai Raja Demon adalah benar adanya.


Yang berada di istana ini hanyalah bayangan saja.


"Apa yang dilakukan Raja Demon?" sahut Shaula.


"Hogwart!" seru Profesor Sean, menginterupsi.


"Kita harus segera kembali ke Hogwart segera."


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


"Apa yang harus kita lakukan?"


Shaula gelisah dengan rencana yang disusun oleh teman lintas waktu ini. Para profesor kembali ke Hogwart dengan perasaan yang campur aduk, namun dirinya tetap tinggal ditempat.


Tentu saja karena ulah teman lintas waktunya ini.


Keberadaan Shaula di negara Demon saat ini, tengah menjadi incaran para penyihir hitam. Karena hal inilah dia memilih bersembunyi disuatu tempat yang sekiranya sulit untuk dijangkau oleh penyihir hitam.


Ditempat ini, dia tinggal bersama dengan El yang nampak tengah berjongkok.


"Kenapa aku justru mengkhawatirkan keberadaan kita ditempat ini?" sahut El.


Shaula menatap El yang saat ini tidak melihatnya sama sekali. Laki-laki itu ternyata secara diam-diam kabur dari pengawasan para profesor untuk kembali ke Hogwart.


"Shaula."


Seruan dengan suara berat itu membuat keduanya langsung melemparkan tatapannya ke arah sumber suara berasal. Shaula tercengang akan kedatangan sosok laki-laki yang saat ini tengah berdiri didepan pintu goa.


"Soobin?" gumam Shaula, pelan.


Soobin langsung berlari untuk masuk ke dalam goa. Napas laki-laki itu tersenggal karena baru saja berlari.


Soobin menatap El dengan tatapan datar. "Kenapa kamu tidak kembali ke Hogwart?" tanyanya.

__ADS_1


El memainkan bola matanya. "Justru itu yang juga ingin kutanyakan padamu," desisnya.


"Kau tahu, aku terjebak dalam istana terkutuk itu," balas Soobin.


Shaula mengernyitkan alis dalam ketika mendengar perkataan Soobin. Namun pikirannya saat ini berkutat pada Adara dan Se Hwa yang masih berada di istana Demon.


"Lalu bagaimana dengan Adara dan Se Hwa?" tanya Shaula dengan nada cemas.


"Adara sudah kembali. Tapi Se Hwa tidak ikut kembali," balas Soobin.


Shaula membulatkan matanya. "Bagaimana bisa?" serunya dengan menaikkan beberapa oktaf.


Soobin menatap Shaula dengan sorot mata tajamnya. Dia tidak kunjung mengatakan hal tersebut, laki-laki itu masih diam dengan pikirannya.


"Kamu pasti tidak akan percaya apa yang aku katakan ini."


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


"Jadi, apa tujuan kalian memanggilku ditengah malam seperti ini?"


Saat ini Shaula tengah berdiri dibelakang tujuh orang laki-laki yang tudungnya sudah terbuka. Hal itu membuat dia dapat melihat tekukan wajah tampan dari setiap pemiliknya.


Nam Joon membalikkan badannya dan melangkah mendekatkan dirinya ke arah Shaula dengan air muka yang nampak serius.


"Kami hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat," pinta Nam Joon, datar.


Shaula tersentak karena permintaan yang baru saja dilontarkan oleh Nam Joon. Laki-laki berdimple itu mengirim sebuah kode untuk memberitahu teman-temannya untuk melakukan sesuatu. Kode dari sang pemimpin itu sempat membuat mereka mengganggukkan kepala.


Perlahan mata Shaula dikejutkan dengan kemunculan sebuah portal hitam yang sengaja dibuka oleh Suga.


"Kita tidak punya banyak waktu. Aku merasa jika ada seseorang yang memantau kita," kata Suga, dingin.


Shaula merasa tidak mengerti dengan seseorang yang dimaksud oleh Suga. Manik matanya langsung menelisik ke seluruh penjuru setiap sudut tempat.


Tanpa meminta izin dari sang empunya, lengan Shaula sepontan ditarik oleh Nam Joon.


ZRAAT!


Seperti teleportasi, tapi sepertinya berbeda.


Shaula memejamkan matanya karena dia merasa takut akan hal ini. Dapat terlihat dari cengkraman tangan kuatnya yang berada digenggaman Nam Joon.


BRUGH!


Karena pendaratan Shaula yang tidak mulus ini, membuatnya jatuh tersungkur diatas tanah yang kering. Karena hal tersebut, sempat membuat seragam yang dikenakannya kotor.


"Bagunlah."


Kepala Shaula langsung dibuat mendongak ketika telinganya mendengar bias suara berat itu. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah pahatan wajah tampan dengan ekspresi masing-masing.


"Telingamu masih bekerja, bukan?" ucap Suga dengan nada ketus.


Shaula langsung bangkit dari posisinya karena perkataan pedas dari Suga. Dia mengibaskan tangan pada seragam untuk membersihkannya.


Dasar aneh, batin Shaula.


"Hei, jangan mengataiku aneh!" sungut Suga.


Mungkin pemikiran Shaula sebelumnya memang benar, memilih untuk diam adalah sebuah pilihan yang tepat. Dia memilih untuk membungkam mulutnya sendiri dan tidak ingin mengatakan apapun meski didalam hati.


Jika Shaula memang masih sayang telinga tentunya.


Tatapan Shaula langsung jatuh pada bangunan megah yang berdiri kokoh jauh didepannya saat ini. Ada rasa tidak asing yang dalam penglihatannya mengenai gedung megah yang ada disana.


"Te—tempat apa ini?" tanya Shaula dengan nada gugup.


Ho Seok mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas. "Aku tahu pasti kamu akan menanyakan hal itu pada kami," katanya.


"Ah~ ini adalah Hogwart ditahun 2086," lanjutnya.


Ketika mendengar hal tersebut, membuat Shaula kontan membulatkan matanya. Dia terlihat sangat terkejut ketika Ho Seok yang baru saja mengatakan jika ini adalah zaman yang sangat jauh berbeda dengan tempatnya yang asli.

__ADS_1


"Shaula, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ji Min seraya menepuk pundak Shaula.


Shaula baru saja kembali pada kenyataan setelah tepukan yang didapatkannya dari Ji Min. Laki-laki itu sangat mirip dengan Ankaa—mungkin sama, namun hanya berbeda orang dan juga kepribadian.


Ji Min cenderung lebih lembut dari Ankaa.


Karena keterkejutan dari Shaula membuat Ji Min terkekeh geli. Namun hal itu justru membuat Shaula tercekat dengan tawa dari laki-laki manis itu. Dari suara hingga patahan wajahnya sangat mirip dengan Ankaa.


Tae Hyung mengusap muka Ji Min dengan gusar. "Ji Min-ah, jangan membuatnya terpesona dengan senyumanmu itu," sungutnya.


"Lihatlah pipinya memerah karenamu," lanjutnya.


Ji Min berdecak kesal karena perkataan dari Tae Hyung. "Bilang saja kamu iri denganku," sungutnya.


Tae Hyung mengendikkan bahunya acuh seraya memutar bola matanya malas karena ulah Ji Min. Keduanya selalu saja memperdebatkan sesuatu hal yang tidak penting.


Hal itu justru membuat yang lainnya menahan tawanya—kecuali Suga.


"Sudahlah. Kalian membuang waktu saja," sungut Suga dengan nada ketus.


Shaula merasa tercenggang dengan sikap ketus yang sejak tadi Suga keluarkan. Namun dilain sisi laki-laki manis itulah yang juga menyelamatkannya. Sepertinya pemikiran buruk mengenai Suga tidaklah seburuk apa yang dia kira.


Suga memiliki sisi manis yang tersembunyi.


"Kami membawamu datang ke tempat ini untuk menjelaskan kedatangan kami waktu itu," sahut Jin, menginterupsi.


Jin melirik Suga sekilas yang nampak sedang bersantai dengan posisi tiduran dengan kedua lengannya yang dijadikan bantal. Secara tiba-tiba sang empunya sepontan membuka matanya dan membalas lirikan Jin dengan muka datarnya.


"APA?!" sembur Suga.


Jin mendengus karena semburan dari Suga, lalu dia melipat kedua tangannya didepan dada. "Sebaiknya kamu yang harus menjelaskan semuanya ini, Min Yoon Gi!" serunya dengan penuh penekanan.


"Malas," final Suga, singkat.


Nam Joon menatap kedua seniornya itu dengan tatapan binggung. "Baiklah. Sepertinya aku yang harus menjelaskan semuanya," helanya.


"Kami berasal dari dunia paralel," lanjutnya.


Shaula menganga karena binggung dengan perkataa Nam Joon yang terkesan ambigu. Karena air muka dari gadis itu, membuat sang empunya menggaruk tengkuknya.


"Ah~ tepatnya kami dari galaksi Bima Sakti dan kamu dari galaksi yang berbeda dengan kami," kata Nam Joon, lagi.


Shaula mengernyitkan alisnya dalam. "Galaksi Bima Sakti?" ulangnya.


Nam Joon menggangguk pelan. "Ya, kamu ada di Bumi sekarang. Bukannya itu adalah tempat asalmu dulu?" jawabnya.


"Kamu pasti pernah mendengar teori dunia paralel, bukan?" timpal Jin.


Shaula menggeleng pelan setelah Jin mengatakan pertanyaan itu padanya. Sebaiknya dirinya menyimak apa yang akan dikatakan oleh para penyihir tampan ini selanjutnya.


Karena Shaula sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari perkataan mereka.


Nam Joon menghela napas pelan. "Kami semua—ah~ kecuali Suga," katanya.


Suga yang merasa disebut membuka matanya sekilas, lalu dia kembali memejamkan matanya. Perkataan Nam Joon mendadak terhenti karena ulah seniornya itu.


"Kami adalah doppelgander dari orang yang kamu kenal," lanjutnya.


Shaula mengerjapkan matanya. "Doppel apa?" ulangnya dengan nada binggung.


"Doppelgander," balas Nam Joon.


"Hanya itu yang kami ingin katakan padamu," imbuh Ho Seok, menginterupsi.


Shuala langsung menatap Ho Seok dengan sorot matanya yang nampak terkejut. "Tapi kenapa kalian malah mempercayaiku dengan semua kejutan ini?" tanyanya.


"Karena ada hal yang indah yang ada dalam dirimu."


...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...


...See you next part~...

__ADS_1


__ADS_2