
...BAB 14...
...PENCULIKAN SLYTHERIN...
...a novel by youmaa...
...โJangan hanya melihat pada luar kenyataan.โ...
...Happy Readingโฅ...
...๐ ๐ ๐ ๐...
Shaula berusaha untuk melepaskan cekalan kuat yang menghambat pergerakannya. Dengan pakaian serba hitam, sang laki-laki misterius itu membawa dirinya menjauh dari keramaian.
Apa yang dilakukan oleh laki-laki ini?
"Lepaskan aku," sergah Shaula.
Secara mendadak, laki-laki itu melepaskan Shaula tanpa melontarkan satu patah kata apapun. Setelah itu, sang lawan bicaranya membuka cadar hitam yang menutupi wajahnya.
Ketika semua patahan wajahnya nampak secara menyeluruh, sempat membuat sang empunya tersentak hebat.
"Kaโkamu?!" seru Shaula, terkejut.
Sosok misterius yang menculik Shaula secara tidak sopan adalah Ankaa Magellanicโsi pangeran arogan yang sangat menyebalkan. Gadis itu masih nampak terkejut dengan kemunculan Ankaa yang tidak pernah dia duga.
Bahkan Ankaa yang baru saja menculiknya itu nampak santai dengan air muka yang datar.
"Kenapa kamu menculikku seperti tadi?" sambar Shaula, ketus.
Ankaa menghela napas pelan, lalu membuang mukanya ke arah lain. "Aku tidak ada pekerjaan, jadi aku menculikmu," balasnya.
TUK!
Shaula memukul Ankaa lumayan keras, sehingga membuat sang empunya mengaduh. Setalah itu, manik mata Ankaa secara tidak sengaja menatap benda yang tidak asing dimatanya.
"Baiklah, aku pergi dulu," final Ankaa.
Shaula hanya melongo mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Ankaa. Bukannya meminta maaf atau semacamnya, laki-laki itu langsung pergi meninggalkannya sendirian.
"Dasar sinting," gerutu Shaula, pelan.
Ankaa yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini lantas menghentikan langkahnya, kemudian membelikkan badan.
"Hei, aku bisa mendengarnya," sahut Ankaa.
Shaula mencebikkan bibirnya pelan. "Sana pergi," sungutnya seraya mengibaskan kedua tangan.
Ankaa pun menggendikkan bahunya acuh dan memilih untuk pergi dari hadapan Shaula. Dia masih tidak mengerti dengan hal konyol yang baru saja dilakukan oleh si pangeran Magellanic itu.
Karena hal apa, sehingga Ankaa menyeretnya menuju ke tempat yang tidak terlalu ramai?
"Dasar pangeran aneh," gerutu Shaula.
"Shaula?"
Shaula yang hendak melangkahkan kakinya menjauh dari tempatnya berdiri, lantas terhenti karena telinganya mendengar sesuatu hal. Dia pun melemparkan pandangan ke arah belakang tubuhnya.
Dia sangat mengenal suara berat ini dimanapun juga.
"Tuan Hwang?" sahut Shaula.
Sang lawan bicara pun langsung melemparkan senyumnya ke arah Shaulaโsebuah senyum yang sangat manis. Namun dilain sisi, gadis itu binggung kenapa tuan Hwang menghampirinya.
Apakah ada sesuatu hal?
"Kenapa kamu ada disini?" tanya tuan Hwang, lembut.
Shaula menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. "Ah~ tadi ada peristiwa kecil, jadi aku kemari," balasnya.
Tuan Hwang terkekeh pelan mendengar balasan yang baru saja Shaula katakan padanya. Sedangkan gadis itu hanya memainkan pandangan karena binggung dengan respon yang lawan bicaranya itu lontarkan.
"Kamu pasti bertemu dengan Ankaa," balas tuan Hwang, tepat.
Shaula sedikit terkejut dengan perkataan yang baru saja dikatakan oleh sang lawan bicara. Bagaimana bisa laki-laki paruh baya ini mengetahui jika dirinya baru saja bertemu dengan Ankaa?
Obsidian hazel Shaula kontan membulat. "Bagaimana bisa tuan Hwang mengetahui hal itu? tanyanya.
"Ah~ aku belum menceritakan hal ini padamu ternyata," balas tuan Hwang.
Shaula mengerutkan keningnya dalam. "Tentang?" tanyanya.
"Aku adalah panglima dari kerajaan Magellanic."
...๐ ๐ ๐ ๐...
"Jadi, bagaimana rencana kalian?"
Sang ketua klam mengangkat salah satu kakinya dipaha seraya menyatukan kedua tangan didepan wajahnya. Tekukan muka yang nampak dingin membuat semua orang didepannya merinding.
Aura sang ketua memang berbeda.
"Kami sudah melaksanakan perintah tuan dengan sebaik mungkin. Tapi kami belum berhasil untuk melaksanakannya," balas sang pengikut klam.
Raut muka sang ketua langsung berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Aura yang awalnya dingin, berubah dua kali lipat menjadi lebih menyeramkan.
"Jadi kalian gagal menyingkirkan anak itu?" sungut sang ketua, dingin.
Sang pengikut klam pun mendadak gemetaran karena ucapan dingin dari sang ketua. Dia akhirnya mengganggukkan kepalanya pelan dengan perasaan takut yang saat ini menghinggapinya.
"Argh, bagaimana bisa kalian gagal?" sentak sang ketua, gahar.
__ADS_1
Sang pengikut itu menegak salivanya dengan susah payah. "Itu karena gadis Hufflepuff yang menyelamatkan laki-laki itu, tuan!" balasnya.
Sang ketua memejamkan mata seraya meremat ujung bajunya kuat. Dia mencoba meredam rasa kesalnya yang saat ini menjalar ke ubun-ubun.
Jika dia terus marah, nantinya akan cepat keriput.
"Raja Demon!"
Semua pasang mata langsung melemparkan tatapannya ke sosok gadis yang tergopoh berlari menuju ke singasana sang raja. Dia menatap ke arah pengikut klam itu dengan tatapan dinginnya.
Raja Demon langsung melemparkan tatapan dinginnya ke arah gadis ituโputri kesayangannya.
"Ada apa putriku?" tanya sang raja.
Atmosfer mendadak lebih tenang karena aura dingin sang raja langsung luntur karena kehadiaran sang putri.
"Aku ingin ayah segera membunuh gadis itu," balas sang putri.
Raja Demon menaikkan salah satu alisnya ke atas. "Siapa yang saat ini kamu maksud?" tanyanya, binggung.
"Gadis Hufflepuff yang kalian maksud tadi."
...๐ ๐ ๐ ๐...
"Kita tidak bisa tinggal diam, profesor."
Profesor Aludra menghela napasnya pelan karena seruan yang baru saja dilontarkan oleh sang lawan bicara. Seiring bertambahnya waktu, ulah dari penyihir hitam itu menggila.
"Profesor, saya baru saja mendengar ada salah satu murid Ravenclaw yang hampir saja celaka," balas sang lawan bicara.
"Banyak yang mengatakan jika itu adalah ulah dari penyihir hitam itu," lanjutnya.
Kedua alis Profesor Aludra saling menaut satu sama lain ketika telinganya mendengar pemaparan dari sang lawan bicaranya katakan.
"Maksudmu siapa yang hampir celaka, Profesor Sean?" tanya Profesor Aludra, binggung.
Profesor Sean memijat pelipisnya pelan. "Auror dari asrama Ravenclaw," balasnya.
"Choi Soobin," lanjutnya.
"Profesor! Gawat!"
Karena seruan itu, membuat kedua profesor tersebut melemparkan tatapannya ke arah pintu yang terbuka. Keduanya menatap Madam Aluna yang nampak panik karena sesuatu hal yang sama sekali tidak mereka mengerti.
"Ada apa ini?" tanya Profesor Sean, binggung.
"Salah satu murid Slytherin menghilang dari kamar asramanya," balas Madam Aluna dengan napas yang tersenggal.
Kedua profesor itu langsung beranjak dari duduknya dengan raut muka yang terkejut. Ketakutan yang selama ini mereka khawatirkan akhirnya terjadi juga.
Ternyata peringatan dari penyihir hitam itu tidak bisa mereka remehkan.
Profesor Aludra menghela napasnya pelan. "Jika seperti ini, saya yang harus turun tangan," katanya.
Profesor Sean melamparkan tatapannya ke arah Profesor Aludra. "Saya ikut dengan anda, profesor!" serunya.
Profesor Aludra mengambil tongkat sihirnya, kemudian menyabet jasnya yang berada dikursi putar. Hal itu langsung menarik Profesor Sean untuk mengikuti langkah dari sang kepala sekolah itu.
"Gantikan saya menjadi kepala sekolah untuk sementara," sahut Profesor Aludra.
"Saya percayakan hal ini pada anda, Madam Aluna," lanjutnya.
...๐ ๐ ๐ ๐...
Sebelum itu..
Malam ini mungkin akan menjadi malam yang paling menyebalkan bagi Shuala. Padahal hari ini sudah sangat malam, namun dia tidak kunjung menjemput alam mimpinya.
Shaula menatap jam pasir yang berada diatas nakas disamping tempat tidurnya. "Aish, kenapa aku tidak dapat tidur!" gerutunya, pelan.
Shaula mengalihkan tatapannya ke arah Adara yang sudah tertidur amat pulas. Beberapa detik kemudian, dia pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya.
Mungkin dengan berjalan-jalan dapat menghilangkan rasa kesalnya saat ini.
CEKREK..
Shaula membuka pintu itu dengan sangat perlahan, karena dia tidak ingin mengganggu tidur temannya itu. Ketika berhasil keluar, dia pun mulai melangkahkan kakinya untuk menyusuri lorong.
"Semoga saja aku tidak bertemu dengan kepala asrama," gumam Shaula, pelan.
Pandangannya lantas mendongak ke atas. Matanya langsung disuguhkan dengan hamparan bintang yang menghiasi sang cakrawala yang gelap.
Sungguh, sebuah pemandangan yang sangat memanjakan mata.
Ketika dia sampai pada perbatasan antara asrama Hufflepuff dengan Ravenclaw, manik matanya tidak sengaja menatap seseorang. Karena hal tersebut, membuatnya langsung menghentikan langkah secara mendadak.
Terlihat Soobin yang tengah duduk dipinggir kolam yang airnya terpantul oleh cahaya bulan. Shaula mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas ketika melihat laki-laki manis itu tengah memainkan alat musiknya.
Namun senyuman itu langsung luntur dalam sekejap karena ada seorang perempuan yang duduk disebelah Soobin. Dia pun memutuskan untuk bersembunyi dibalik tembokโtidak jauh dari tempat Soobin berada.
"Siapa dia?" gumam Shaula, pelan.
"Permainan alat musikmu sangat indah, Soobin!"
Shaula mendengar suara perempuan yang berada disamping Soobin saat ini. Gadis itu memakai seragam Slytherin nampak samar karena pencahayaan yang minim.
"Benarkah? Terima kasih, aku senang kamu menyukai musikku."
Shaula terkejut ketika manik matanya menangkap hal yang tidak diketahuinyaโsenyuman dari Soobin. Karena hal tersebut, membuatnya meremat ujung seragamnya kuat.
"Apa aku tidak punya kesempatan, Soobin?" gumam Shaula.
__ADS_1
Hatinya teremat karena melihat keakraban yang tercipta antara Soobin dan gadis asrama Slytherin itu. Mungkinkah gadis itu adalah kekasih dari seorang Choi Soobin?
"Kenapa aku merasa sakit melihat ini?" kata Shaula, pelan.
"Eh, Shaula?"
Shaula terkejut ketika dirinya secara tidak sengaja mendengar sebuah bias suara. Lantas dirinya langsung melemparkan tatapannya ke arah sumber suara.
"El? Kenapa kamu ada disini?" kejut Shaula.
El melipat kedua tangannya didepan dada. "Aku mengikutimu," balasnya.
"Astaga, jujur sekali," sungut Shaula.
El menatap ke arah Soobin yang saat ini tengah bercanda gurau dengan seorang gadis. Kemudian tatapannya teralih ke arah sang lawan bicara dengan tatapan datar.
El langsung melepas jas seragamnya, lalu menutup kepala Shaula menggunakannya. Sedangkan Shaula hanya menatap ke arah laki-laki itu dengan tatapan terkejut.
"Jangan dilihat."
...๐ ๐ ๐ ๐...
Terlihat Soobin yang baru saja datang ke taman kecil yang berada diperbatasan asrama Ravenclaw dan Hufflepuff. Dia memutuskan untuk duduk dipinggir kolam dan memainkan alat musik petiknya.
Dia mulai memetik alat musiknya dan memainkan sebuah lagu.
Dia mulai hanyut dalam lagu yang saat ini dia mainkan. Didalam keheningan malam ini, suara lembutnya menambah suasana tenang dan damai.
Soobin mendadak menghentikan permainan musiknya secara tiba-tiba. Salah satu tangannya memegang dagu dengan senyuman tipis yang menghiasi wajahnya.
Sebuah daheman membuat Soobin tersentak dan membuatnya langsung menetralkan raut wajahnya menjadi datar. Ketika manik matanya terlempar ke arah sumber suara, harapannya langsung sirna.
"Kamu Choi Soobin bukan?" tebak sang lawan bicara.
Soobin mengangguk pelan, lalu bergumam sebagai jawaban. Hal yang lebih mengejutkan adalah gadis itu langsung duduk disampingnya tanpa meminta izin.
"Aku Se Hwa," sahut gadis itu.
"Sepertinya kita berasal dari tempat yang sama," lanjutnya.
Soobin mengerutkan keningnya dalam ketika baru saja mendengar apa yang dikatakan oleh Se Hwa. Setelah itu dia meletakkan alat musiknya disamping kakinya.
"Jangan mengada-ada. Bahkan kamu tidak tahu aku berasal dari mana," sungut Soobin.
Se Hwa terkekeh pelan dengan hal yang baru saja Soobin lontarkan padanya. Bukannya kesal dengan perkataan laki-laki itu, dia justru tertawa.
Apakah ada hal yang salah dari Soobin, sehingga membuatnya tertawa seperti sekarang?
"Aku hanya menebaknya," balas Se Hwa.
"Bisakah kamu memainkan satu lagu untukku?" lanjutnya.
Soobin menghela napasnya pelan, lalu mengambil alat musiknya. "Baiklah," balasnya.
Soobin mulai memetik alat musiknya. Nada lembut beradu dengan ketenangan malam yang tenang. Ditambah dengan angin yang bertiup pelan, hal yang ikut melengkapi kesempurnaan dari sang penyihir lagu.
Se Hwa menatap Soobin dengan senyuman yang tercetak diwajahnya. Sedangkan sang empunya hanya melempar senyum tipis ke arah gadis itu.
Setelah Soobin menyelesaikan lagu itu, Se Hwa bertepuk tangan untuk permainan lagu ini. Gadis itu nampak begitu menyukai lagu yang baru saja Soobin mainkan.
"Permainan alat musikmu sangat indah, Soobin!" seru Se Hwa, antusias.
Soobin tersunyum tipis. "Benarkah? Terima kasih, aku senang kamu menyukai musikku," balasnya.
Se Hwa tersenyum manis dengan respon yang Soobin keluarkan. Kemudian gadis itu melempar tatapannya ke arah sang lawan bicara.
"Aku tahu kamu tengah bimbang sekarang," sahut Se Hwa.
Soobin menatap Se Hwa dengan air muka yang penuh tanya. Dia merasaka aura yang berbeda dari gadis yang saat ini berada disampingnya. Apakah gadis ini memiliki keistimewaan seperti yang dia duga?
"Maksudmu?" tanya Soobin dengan salah satu alis yang naik.
"Kamu menyukai seseorang," balas Se Hwa.
Soobin menegakkan badan. "Aku harus kembali ke kamarku dan sebaiknya kamu juga kembali," finalnya.
Ketika Soobin hendak kembali, manik matanya secara tidak sengaja menatap El bersama dengan seseorang. Air mukanya langsung berubah seratus delapan puluh derajat karena melihat gadis itu adalah Shaula.
Tanpa pikir panjang, Soobin langsung berhambur pergi dari sana.
...๐ ๐ ๐ ๐...
Shaula berlari menyusuri koridor gelap, karena dia hampir saja ketahuan oleh kepala asrama. El yang menarik tangannya, membuat mereka berlari bersama.
Napas keduanya tersenggal ketika Shaula sampai pada depan kamarnya.
"Cepat masuk ke kamarmu," balas El kemudian pergi dari hadapan Shaula.
El langsung berlari, hingga punggung tegapnya melewati persimpangan. Shaula belum kunjung masuk ke kamarnya karena manik mata itu terus membawanya untuk menatap El.
"Semoga tidak seperti yang aku pikirkan," gumam Shaula.
"TOLONG!"
Ketika Shaula hendak memasuki kamar, telinganya mendadak mendengar sebuah bias suara. Dia langsung mencari sumber suara itu, hingga tatapannya terpaku dilangit malam.
Matanya kontan membulat ketika dia melihat ada seseorang yang membawa gadis diatas permadani. Shaula menutup mulutnya yang menganga dengan kaki yang mendadak melemas.
"Bukankah itu, gadis yang kulihat bersama Soobin?"
...๐ ๐ ๐ ๐...
__ADS_1
...See you next part~...