
...BAB 28...
...LIONTIN HIJAU...
...a novel by youmaa...
...❝Keajaiban ada didalam naungan genggamanmu.❞...
...Happy Reading♥...
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
Kastil mewah dengan luas wilayah kekuasaan yang luas, hingga rakyat yang makmur. Memiliki raja bijaksana dan adil adalah kata yang sangat sempurna.
Namun apa arti dari semua itu ketika sang raja hanya tinggal dengan harta tanpa adanya keluarga?
TOK TOK TOK..
Suara ketukan pintu langsung menguar ke setiap penjuru ruangan yang ada ditempat ini. Manik mata sang raja langsung terlempar ke arah pintu yang saat ini terbuka.
Karena hal tersebut, langsung memperlihatkan sosok sang panglima kerajaan Hanggang.
Si panglima membukkukan badan. "Saya membawa laporan, yang mulia," katanya.
Sang raja menegakkan punggung. "Berita apa yang kau bawa, panglima?" tanyanya.
"Saya berhasil menemukan pangeran," balasnya.
Kegiatannya dalam membuat kaligrafi hanzi mendadak langsung terhenti. Manik matanya sontak terlempar pada si panglima yang saat ini berada jauh didepannya.
Sang raja meletakkan kuasnya diatas meja. "Bawa dia ke hadapanku," katanya.
"Ampun, yang mulia. Tapi saat ini dia tengah menyelesaikan pendidikannya di Hogwart," balas si panglima.
Sang raja menghela napasnya pelan. "Baiklah, aku akan menunggunya di kastil ini nanti," katanya.
"Sebaiknya kau tetap mengawasinya," lanjutnya.
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
"Kalian selalu saja berulah. Saya pusing karena tingkah kalian berdua," sungut Profesor Sean.
"Kenapa kalian justru bersikap seperti anak-anak?" lanjutnya.
Kepala Profesor Sean dibuat pusing oleh ulah kedua pangeran angkuh yang memiliki sikap keras kepala. Bukannya berdamai satu sama lain, karena dijadikan dalam satu tim—mereka justru bertengkar layaknya kucing dan tikus.
Kedua pangeran itu sejak tadi saling melempar tatapan tajam. Sedangkan sang profesor menghela napasnya pasrah—dia sudah menyerah untuk menghukum keduanya.
"Bersihkan lapangan ini. Jika kalian bertengkar lagi, saya tidak segan-segan untuk memberi kalian surat pelanggaran," jelas Profesor Sean seraya berkacak pinggang.
Ankaa dan El kontan membulatkan matanya ketika mendengar hukuman apa yang saat ini dibelakan oleh Profesor Sean pada mereka. Namun hal yang lebih mengejutkan adalah mendapat surat pelanggaran.
Jika sampai mereka mendapatkan surat tersebut, kemungkinan keduanya akan didepak dari Hogwart.
"Jangan, profesor!" seru Ankaa dan El, kompak.
Profesor Sean membenarkan letak kacamata yang sedikit melorot. "Bagus. Kalau begitu saya harap kalian segera memulainya," katanya.
Ankaa langsung mendapatkan ide bagus ketika mendengar hal yang baru saja dilontarkan oleh sang profesor. Dia tersenyum dalam hati karena idenya ini pasti akan segera menyelesaikan hukuman.
Setelah itu sang profesor langsung membalikka badan. "Ah~ tanpa menggunakan sihir," lanjutnya.
Raut muka Ankaa langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Niatnya untuk menggunakan ilmu sihir, langsung gagal dilakukannya.
Merasa jika urusannya telah rampung, Profesor Sean langsung pergi dari hadapan kedua laki-laki tersebut. Sedangkan keduanya hanya menganga tidak percaya atas perintah konyol dari sang profesor.
Tapi mereka tidak bisa memprotes hal tersebut.
Jika saja mereka melakukan hal tersebut, bisa saja hukuman yang akan mereka dapatkan akan berkali-kali lipat. Mungkin saja jika akan mendapatkan dua surat pelanggaran.
Tanpa memikirkan hal tersebut, kedunya langsung menjalankan hukuman.
Tiba-tiba ada sebuah angin kencang yang menerpa lapangan, sehingga menimbulkan dedaunan kering itu berserakan. Padahal mereka belum saja memulai menjalani hukuman ini, sudah ada kendala lain yang menyebalkan.
__ADS_1
Namun mereka mengetahui satu hal, jika peristiwa ini adalah ulah iseng dari salah satu murid Ravenclaw. Memangnya siapa lagi yang dapat mengendalikan elemen angin, selain murid dari asrama tersebut?
Ankaa berdecak pelan, lalu melempar sapu lidi yang dipegangnya. "Tundukkan wujudmu, sialan. Aku sedang malas untuk bermain-main," sungutnya.
Sedangkan El hanya menghalangi mata dengan salah satu tangan seraya melangkahkan kakinya menuju ke Ankaa. Keduanya saling memunggungi dengan pandangan yang mengedar ke setiap tempat.
"Sepertinya bukan kamu saja yang merasa dikerjai," sahut El, datar.
Setalah angin itu berhenti berhembus, manik mata mereka berdua langsung menangkap sosok yang berdiri dengan kedua tangan tersilang dibalik punggung. Secara perlahan pandangan mereka pun mulai jelas, sehingga menampakkan wujud dari si pelaku.
"Soobin?" seru Ankaa dan El, kompak.
Soobin mendonggakkan kepalanya, kemudian napak sebuah senyum tipis yang tercetak dari sang empu. Lalu dia melangkahkan kaki menuju ke arah kedua temannya dengan menahan tawa.
Sepertinya mengerjai kedua laki-laki ini menyenangkan juga.
Soobin melepas silangan tangan itu. "Bagaimana? Kalian ingin merasakannya lagi?" tanyanya.
Reaksi yang pertama kali terlihat dari kedua laki-laki itu adalah raut muka datar. Lalu Ankaa menyabet sapu lidi yang tergeletak diatas tanah dan menggengam ujungnya erat.
Dari raut wajahnya itu, sepertinya Ankaa hendak memukul Soobin dengan benda itu.
"Aish," desis Ankaa, kesal.
El mendengus kesal. "Kenapa kamu muncul seperti itu?" sungutnya.
"Harus mengerjaiku seperti itu?" lanjutnya.
Setelah mendengar hal tersebut, Ankaa langsung melemparkan tatapan tajamnya ke arah El. Hingga keduanya terlibat dalam tatapan sengit satu sama lainnya.
"Aku yang dikerjai Soobin," sungut Ankaa.
El membuang mukanya ke arah lain. "Aku tidak suka nada bicaramu itu," protesnya.
Soobin sekarang baru saja merasakan tingkat kekesalan yang selama ini Shaula rasakan. Namun dia mencoba untuk mengontrol sikap kesalnya dengan menghela napas.
"Hentikan pertengkaran gila kalian," kata Soobin, datar.
Kedua pangeran itu saling menatap satu sama lain, lalu tatapan mereka jatuh pada Soobin. Setalah itu keduanya langsung membuang muka ke arah lain dengan dengusan.
"Hei, mau kemana!? Hukuman belum selesai," seru Ankaa menaikkan beberapa oktaf.
Setelah mengatakan seruan tersebut, Ankaa terkejut ketika keberadaan Soobin juga ikut menghilang. Ternyata dirinya ditinggal seorang diri dengan hukuman menyebalkan ini.
"Aish, bagaimana bisa aku menyelesaikan ini sendirian?"
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
Shaula terdiam tanpa mengatakan sepatah kata apapun, dengan salah satu jari yang mengetuk-ngetuk meja. Dia masih memikirkan hal mengenai buku Avada Kedavra yang saat ini ada padanya.
Sebenarnya buku ini tidaklah seburuk apa yang selama ini dipikirkannya. Tapi beragam informasi yang diketahuinya adalah buku ini memuat banyak mantra terlarang—mantra yang ditulis oleh penyihir terhebat sepanjang sejarah.
Mantra itu banyak terdapat misteri, hingga kisah seram yang tersembunyi dibaliknya.
"Kenapa aku justru merasa takut memikirkannya?" gumam Shaula, pelan.
Menjadi penjaga buku ini, justru mengantarkannya menjadi incaran banyak penyihir juga hantu. Shaula merasa jika sosok misterius yang tengah mengamatinya akhir-akhir ini adalah hantu perpustakaan.
Dia mengira jika hantu itu ingin mengambil buku ini untuk mengembalikan kehidupan mereka.
Secara tidak sengaja, ekor mata Shaula terlempar ke arah buku Avada Kedavra yang ada didepannya saat ini. Dia langsung memutuskan untuk membuka buku tersebut.
Dia mengusap cover buku itu pelan menggunakan jemarinya.
"Sebenarnya aku penasaran apa keguaan buku ini benar-benar nyata," gumam Shaula.
Ketika hendak membuka buku tersebut, Shaula langsung teringat perkataan dari Profesor Aludra mengenai buku tersebut. Dia langsung mengurungkan niatnya untuk membuka benda itu dan membuang muka.
"Jangan pernah kamu sekali-kali untuk menggunakan salah satu mantra dari buku ini."
Namun rasa penasaran Shaula mampu membuat rasa takutnya itu lenyap. Dia langsung membuka buku tersebut dan membalik setiap halaman secara satu persatu.
Napas Shaula langsung tercekat, ketika manik matanya menangkap sebuah mantra yang menarik perhatiannya.
"SHAULA!"
__ADS_1
Shaula langsung menutup buku itu karena teriakan yang baru saja terdengar ditelinganya. Dia pun langsung meletakkan buku itu dibawah buku mantranya.
Setelah itu, Shaula langsung melemparkan tatapan ke arah sumber suara. Namun ketika dirinya menangkap sosok yang sangat dia kenal, lantas manik matanya membulat.
"Soobin?"
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
Shaula menekuk tangan dengan dagu yang mendarat diatasnya. Manik mata hazelnya itu sama sekali tidak lepas dari tulisan diatas kertas putih yang ada didepannya. Dia nampaknya telah tenggelam dalam suasana yang dia ciptakan sendiri.
"Shaula."
Shaula tidak bergeming dengan posisinya. Bahkan dia hanya bergumam kecil sebagai jawaban atas panggilan yang diserukan oleh Adara.
"Benarkah jika Soobin sudah kembali?" tanya Adara.
Shaula melemparkan tatapannya ke arah si lawan bicara sejenak, lalu menggangguk. "Aku bertemu dengannya tadi siang," balasnya.
Setelah mendengar balasan tersebut, Adara langsung menghampiri Shaula dan duduk disamping gadis itu. Nampak raut muka tertekuk yang saat ini dia lontarkan.
"Pantas saja sejak tadi aku melihat sinyar dimukamu itu terpancar terang," kata Adara, datar.
Kegiatan Shaula langsung terhenti, lalu dia menutup bukunya. Setelah itu dia menegakkan badan, sehingga duduk dengan posisi yang sama seperti Adara.
"Berhentilah bersastra, Adara. Memangnya setiap hari aku tidak seperti itu?" sungut Shaula, kesal.
Adara berdecak pelan. "Ah~ kenapa kamu menjadi kesal?" helanya.
Shaula mendengus. "Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya.
Adara menyenggol pundak Shaula dengan siku seraya memasang sebuah senyuman. Sepertinya gadis ini hendak menggoda Shaula saat ini, lihat saja tingkahnya itu.
Sedangkan Shaula hanya menghela napas pelan.
"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan," sahut Adara, antusiasme.
Setelah mendengar hal tersebut terlontarkan dari bibir Adara, kedua alis Shaula sontak menaut. Kira-kira hal apakah yang akan ditunjukkan oleh gadis itu?
Adara langsung beranjak dari tempatnya untuk mengambil sesuatu. Namun dia tidak kunjung kembali, hal itu membuat Shaula menggendikkan bahu acuh.
Lalu dia kebali pada buku bacaannya.
Namun ketika dirinya baru saja membaca satu kata, Shaula langsung disuguhi dengan pemandangan sebuah kalung dengan liontin hijau yang cantik. Dia langsung menutup bukunya dan hendak meraih benda itu dari tangan Adara.
Namun rencana itu gagal ketika Adara menarik kalung itu dengan sigap.
"Ini punyaku. Aku yang menemukannya," protes Adara.
Shaula menghela napas pelan, kemudian dia memutar bola matanya malas. Padahal dirinya hanya ingin melihatnya saja—tidak ingin mengambilnya.
Karena dia sudah memiliki kalung seperti itu.
"Berikan. Aku hanya ingin melihatnya," pinta Shaula, datar.
Adara mendengus pelan, lalu memberikan kalung dengan liontin hijau itu kepada Shaula. "Baiklah. Sebagai gantinya aku akan menceritakan—"
"Dari mana kamu mendapatkan benda ini?" potong Shaula.
Adara menghela napas pelan. Secara tidak sopan, gadis itu langsung memotong perkataannya.
"Aku ingin mengatakan itu," balas Adara, datar.
"Aku memukannya dilorong area asrama Slytherin beberapa hari lalu," lanjutnya.
Setelah mendengar penjelasan singkat dari Adara, kedua alis Shaula kontan menaut satu sama lain. Dia merasa binggung kenapa benda ini dapat berada disana?
Apakah ada seseorang yang menjatuhkannya?
"Kenapa ada disana?" tanya Shaula, binggung.
"Aku tidak tahu. Tapi aku merasa jika beda ini bukanlah benda sembarangan," balas Adara.
Shaula kembali menautkan alis. "Mungkin kamu benar. Benda ini adalah giok dari asrama Slytherin," katanya.
...𓆝 𓆟 𓆜 𓆞...
__ADS_1
...See you next part~...