
...BAB 25...
...HANTU PERPUSTAKAAN...
...a novel by youmaa...
...โSudahkah kamu bersiap untuk babak selanjutnya?โ...
...Happy Readingโฅ...
...๐ ๐ ๐ ๐...
"Jadi, gadis itu adalah penjaga selanjutnya dari buku Avada Kedavra itu?"
Sosok transparan dengan pakaian ala perpustakawan itu hanya mangut-mangut mendengar pernyataan mengejutkan dari sang rekan. Kedua sosok itu adalah hantu perpustakaan yang selama beberapa hari ini mengintai Shaula.
Mereka mengincar buku Avada Kedavra itu untuk kepentingan mereka sendiri. Tentu saja untuk mengembalikan hidup mereka dan membalaskan dendam yang tersumbat salama ribuan tahun lalu.
Hantu bertubuh kurus itu menyeringai tajam. "Hm, sangat menarik juga. Aku bahkan mendengar jika dia adalahโ"
GUBRAK!
Hantu bertubuh gempal itu tak sengaja menyenggol buku yang tadinya dia sandari.
"Bodoh, bagaimana kalau dia tahu jika kita tengah mengintainya? Kauโ"
GUBRAK!
PRANG!
Suara itu datang dari arah lain. Kedua hantu itu seketika lenyap ketika menyadari jika ada buku yang sengaja dilempar ke arah mereka. Sepersekian detik setelahnya, keluar sosok laki-laki dengan sorot mata yang tidak bisa lepas ke segala penjuru arah.
Laki-laki itu mengendap-endap layaknya tengah mempergoki seseorang dibalik sela rak disampingnya.
"Ah~ kenapa mereka lari," keluhnya.
DRAP DRAP DRAP..
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Dengan sigap, laki-laki itu bersembunyi dibalik rak yang tidak jauh darinya. Lalu obsidian hitam itu menangkap sosok gadis yang tengah memungut beberapa buku yang ada dilantai.
Gadis itu adalah Shaula.
Perlahan, laki-laki itu mendekati Shaula dan memutuskan untuk berdiri didepannya, tanpa gadis itu tahu sedikit pun. Ketika gadis itu mendongak, ternyata hal yang tidak terduga menimpa laki-laki itu.
Shaula secara refleks melempar buku yang cukup tebal, sehingga mengenai tepat pada dahi sang lawan bicara. Laki-laki itu ternyata adalah Ankaa, yang secara tidak sengaja memergoki hantu perpustakaan.
Kenapa dia melemparku dengan buku, batin Ankaa.
Shaula berteriak seraya melempar buku. Karena teriakan menggema itu, membuat Ankaa sepontan mendekap mulut Shaulaโtentu saja tanpa seizin dari sang empu.
"Apakah kamu bisa diam?" sungut Ankaa dengan nada mendesis.
Karena dekapan tangan dari Ankaa, membuat Shaula menepis tangan laki-laki itu dari mulutnya secara kasar. Dia berpikir jika laki-laki ini sudah gila karena mendekap mulutnya seenak jidat.
"Kenapa ada disini? Kamu membuatku terkejut setengah mati," sambar Shaula.
Ankaa menggendikkan bahunya acuh, lalu membuang mukanya ke arah lain. "Hanya iseng," balasnya, singkat.
Shaula menautkan kedua alisnya setelah mendengar pengakuan konyol dari Ankaa. "Iseng?" tanyanya.
Ankaa hanya bergumam sebagai jawaban atas pertanyaan yang baru saja Shaula katakan. Karena hal tersebut, membuat Ankaa lupa jika harus mengatakan sesuatu hal terhadap gadis itu.
"Aku tidak sengaja melihat makhluk aneh yang sedang mengintaimu," sahut Ankaa, santai.
Reaksi yang dikeluarkan Shaula nampak tenangโbahkan tidak ada respon terkejut sama sekali. Karena reaksi ini, sempat membuat Ankaa mengerutkan kening binggung.
Hal ini diluar ekspetasinya.
"Lalu?" tanya Shaula dengan nada tenang.
Ankaa melipat kedua tangannya didepan dada dengan kening berkerut. "Kamu tidak terkejut?" balasnya.
Shaula menggeleng. "Tidak," finalnya seraya membalikkan badan.
GREP!
Ankaa menarik lengan Shaula, hingga gadis itu mendekat ke arahnya. Lalu dia mendekatkan mulutnya ke telinga Shaula.
"Jangan khawatir. Aku akan melindungimu," bisik Ankaa dengan salah satu sudut bibir yang naik.
Shaula langsung mendorong tubuh Ankaa agar menjauh darinya. Dia merasa tidak nyaman dengan tingkah yang baru saja dilontarkan oleh murid asrama Gryffindor itu.
__ADS_1
Ankaa menjentikkan jarinya. "Ah~ jangan sampai buku bersampul hitam itu jatuh ke orang yang salah," finalnya.
Setelah itu, laki-laki dari asrama Gryffindor itu langsung meninggalkan tempat. Kepergian darinya sontak membuat Shaula mengerutkan kening dengan pemikiran yang terpaku pada perkataan Ankaa.
"Dia mengetahui sesuatu tentang buku itu?"
.........
Perkataan dari Ankaa kemarin siang justru membuat Shaula masih terngiang-ngiang dalam pikiran. Hal paling menyebalkan lainnya adalah ujian Oseanografi yang saat ini dikerjakannya.
Karena terus memikirkan hal konyol itu, sempat membuat fokusnya buyar dalam hitungan beberapa detik. Sejak tadi Shaula hanya mengisikan beberapa kata didalam satu nomor saja.
"Waktu kurang lima menit lagi," sahut Profesor Sean.
Kurang beberapa nomor lagi yang harus dijawab Shaula, tapi pikirannya sama sekali tidak bisa berkerja sama. Tanpa sadar gadis itu melupakan jika waktu ujian sudah habis sejak satu menit yang lalu.
"Murid Hufflepuff yang berada ditegah. Kenapa belum juga mengumpulkan lembar jawaban?"
Shaula tersentak karena bias suara berat dari sang profesor tampan langsung membuyarkan lamunannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung beranjak dari tempatnya duduk.
Shaula bergegas mengumpulkan lebar jawabannya, walaupun akan berakhir dengan hasil yang mengenaskan. Ketika sampai diluar kelas, gadis itu mengacak-acak surainya secara abstrak.
"Ah~ kenapa aku bisa melakukan hal gila ini!" seru Shaula, frustasi.
Karena tingkah konyolnya itu, sontak membuatnya mendapatkan panen sorotan tajam dari murid yang berada disekitarnya. Ketika menyadari jika sikapnya menjadi pusat perhatian, dia langsung pergi meninggalkan tempat dengan menutup wajahnya.
...๐ ๐ ๐ ๐...
Malam yang sunyi untuk sekedar menghabiskan waktu luang. Hanya ada perpaduan suara jangkrik dengan hembusan angin yang meracau ditelinga Shaula secara lembut. Dia nampak merasa tenang, namun tidak dengan pikirannya saat ini.
Di merasa tidak paham dengan rencana konyol Ankaa untuk menelusuri lorong perpustakaan malam-malam seperti ini. Bahkan hanya bermodalkan senter yang dipegang saat ini dipegangnya.
"Kenapa kamu mengajakku?" protes Shaula.
Ankaa menatap Shaula dengan tatapan datar. Bahkan dia nampaknya tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan gadis itu tadi.
Karena hal tersebut, membuat Shaula semakin kesal dengan sikap Ankaa yang selalu saja membuatnya naik darah.
DRAP DRAP DRAP..
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang datang dari arah koridor dibalik tembok. Sepontan tangan Ankaa langsung menahan Shaula untuk berhenti ditempat.
Seketika langkah keduanya langsung terhenti.
Shaula menghela napasnya, lalu mematikan senter yang tadinya menyala. Sepertinya Ankaa ingin menangkap seseorang yang akan mendekat ke arah mereka.
Langkah itu semakin mendekat, sedangkan Ankaa sudah siaga dengan tongkat sihir yang berada digenggaman. Mendadak deru napas Shaula menjadi menggebu karena ketegangan yang terjadi saat ini.
Shaula langsung memejamkan mata rapat-rapat seraya meremat senter.
BUGH!
Secara tiba-tiba Shaula mendengar sebuah suara. Karena rasa penasaran dia memutuskan untuk membuka mata. Tatapannya saat ini terpusat pada kedua laki-laki yang saat ini tengah saling tatap satu sama lainnya.
Shaula mengendurkan alis. "El? Bagaimana bisa kamu ada disini," tanyanya.
El menyengir tanpa dosa, sedangkan Ankaa menatap sang lawan bicara seraya mengebasi seragamnya. Melihat tingkah kedua laki-laki itu, membuat Shaula memutar bola matanya malas.
"Jadi kamu mengajakku malam-malam seperti ini hanya untuk menangkap El?" tuding Shaula, kesal.
El menatap Shaula dan Ankaa secara bergantian. "Apa maksudnya dengan menangkap?" sungutnya.
Shaula menghela napas pelan. Lalu Ankaa menatap ke arah gadis itu dengan dengusan tipis namun dengan mempertahankan wajah datarnya.
"Aku mengajakmu untuk menangkap hantu perpustakaan," sambar Ankaa.
"Bukan untuk menangkap makhluk ini," lanjutnya.
Karena kalimat yang baru saja dilontarkan Ankaa, sontak membuat El langsung melempar tatapan tajam. Tidak dimanapun, kedua laki-laki itu nampak selalu bertengkar satu sama lain.
"Apa maksud dari perkataanmu tadi?" sambar El dengan nada kesal.
Ankaa melipat kedua tangannya didepan dada. "Memang ingin kusebut apa, jika bukan makhluk?" ketusnya.
Merasa tidak ingin terjebak dalam pertengkaran konyol dari kedua pangeran itu, Shaula langsung membalikkan badan. Sebaiknya dia tidur dikasur daripada harus berhadapan dengan kedua murid ini.
"Aku akan kembali ke asrama," final Shaula.
Tanpa menunggu jawaban dari kedua pangeran itu, Shaula langsung berhambur pergi dari sana. Bahkan kepergiannya itu sama sekali tidak membuat kedua pangeran itu terpecah.
"Dasar dua pangeran gila," gerutu Shaula.
__ADS_1
CRREEEKK..
Langkah Shaula langsung terhenti ketika telinganya secara tidak sengaja menangkap bias suara berupa decitan pintu. Dia hanya terdiam seraya mendengar suara yang mengalun secara samar itu.
"Sepertinya mulai sekarang, aku harus berhati-hati."
...๐ ๐ ๐ ๐...
Sinar dari sang surya sangat terik saat ini, sehingga siap membakar kulit kapan pun. Karena nilai ujian Oseanografi Shaula yang buruk, pada akhirnya juga dia mendapatkan hukuman. Tentu saja dengan membersihkan perpustakaan dari debu-debu.
Shaula menyeka peluh yang mengalir diarea dahi.
Hak yang paling menyebalkan adalah beberapa buku yang basah karena alasan yang tidak jelas. Shaula sempat terheran karena peristiwa aneh ini, setahunya tidak ada sama sekali air yang memasuki area perpustakaan.
Lalu kenapa buku ini bisa basah seperti ini?
Shaula membawa semua buku yang basah ke terik matahari yang merajalela. Alasan yang masih menjadi sebuah misteri adalah Profesor Sean yang suka menghukum murid disiang hari.
Hukuman dari profesor tampan itu memanglah unik dan juga terdengar menyebalkan bagi setiap murid.
"Aish~ tugasku menjadi dua kali lipat," desis Shaula, kesal.
Shaula langsung menata rapi buku yang akan dijemur dibawah terik matahari. Namun tanpa sengaja, manik matanya mengangkap sebuah tangan yang ikut menata buku ini bersamanya.
Lalu gadis itu melempar tatapannya ke arah si pelaku yang membuatnya binggung.
Shaula sedikit tersentak ketika melihat sang lawan bicara. "Ankaa? Kenapa kamu ada diโ"
"Sudahlah, jangan terlalu banyak protes!" potong Ankaa dengan nada ketus.
Shaula berdecak pelan karena kalimatnya dipotong oleh Ankaa secara tiba-tiba. Setelah dipikir-pikir, dia pun akhirnya memutuskan untuk menggendikkan bahunya acuh.
"Jika itu maumu, aku akan kembali ke dalam perpustakaan," final Shaula.
Ankaa menghentikan pekerjaannya ketika Shaula mengatakan hal tersebut. Sebelum dia melontarkan balasan, gadis itu audah pergi meninggalkannya.
"Ah~ kenapa dia malah balik ke dalam," hela Ankaa seraya mengacak-acak surainya.
.........
Shaula kembali masuk ke dalam perpustakaan untuk membersihkan debu dari rak buku. Ternyata banyak terdapat debu yang menempel ditempat ini. Bahkan seingatnya ketika berkunjung ke tempat ini, dia selalu melihat tempat ini bersih.
Setelah melakukan sesi pembersihan yang melelahkan, Shaula pun menghela napas gusar. Lalu dirinya langsung duduk dilantai dengan kaki terselonjor dan punggung yang menempel dirak buku.
"Ah~ akhirnya selesai juga," kata Shaula dengan nada yang nampak lelah.
Shaula mendongak ke arah atas rak yang ada didepannya. "Sekarang tinggal bagian atas," lanjutnya.
Shaula bangkit dari posisinya, lalu hendak untuk mencari tangga disekitar sini. Namun dia sama sekali tidak menemukan diarea sekitar. Hingga dia pun memutuskan untuk mencarinya digudang perpustakaan.
Shaula melangkahkan kakinya menuju gudang, lalu membuka pintunya. Setelah mengedarkan pandangan, dia langsung menemukan tangga yang tersandar didinding.
Shaula pun melangkah maju untuk mengambilnya.
Namun ketika tangannya hendak menggambil tangga tersebut, kelereng hazelnya secara tidak sengaja menangkap sebuah pintu. Benda itu berwarna hitam dengan hiasan angka tujuh belas dengan warna emas.
Kedua alis Shaula sontak mengernyit dalam, hanya karena pintu misterius yang ditemukannya ini.
BRAK!
Ketika hendak membuka pintu tersebut, mendadak dirinya dikejutkan dengan suara gaduh yang memekakkan telinga. Karena hal tersebut, sepontan membuatnya menoleh ke arah belakang.
Manik mata Shaula kontan membulat ketika dirinya baru saja menatap pintu gudang itu tertutup rapat. Karena panik, dia berlari menuju pintu yang membawanya menuju tampat ini.
Shaula langsung menukul-mukul pintu itu dengan kepalan tangan.
"Siapapun, tolong buka pintu!" seru Shaula dengan menaikkan beberapa oktaf.
Shaula memundurkan langkah, lalu dia mencoba mantra Alohomora untuk membuka pintu. Tapi hal yang dia lakukan justru sia-sia saja. Dalam kepalanya langsung terpaku kenapa mantranya tidak mempan sama sekali.
Apakah efek karena panik?
Jalan satu-satunya untuk keluar dari tempat ini hanya pintu dengan angka tujuh belas itu. Dengan langkah ragu, Shaula berjalan mendekat ke arah pintu hitam tersebut.
Perlahan tangan Shaula terulur untuk memegang knop pintu tersebut, lalu membukanya. Ketika sudah terbuka secara sempurna, matanya langsung disuguhkan dengan cahaya putih yang menyilaukan.
Karena hal tersebut, sontak membuatnya memejamkan mata.
"Tempat apa ini?"
...๐ ๐ ๐ ๐...
__ADS_1
...See you next part~...