Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Vanidad


__ADS_3

...BAB 6...


...VANIDAD...


...a story by youmaa...


...❝Dunia yang membuatku tersembunyi.❞...


...Happy Readingβ™₯...


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


"APA?"


Madam Aluna tersentak kala mendengar apa yang diucapkan oleh Profesor Aludra. Wanita itu langsung melangkahkan kakinya menuju meja sang guru besar dengan air muka panik.


"Bagaimana mungkin mereka mengirim pesan seperti itu?" kilah Madam Aluna.


Profesor Aludra menghela napas. "Ini undangan terbuka yang saya maksudkan tadi," katanya.


Profesor Aludra memberikan undangan yang terbuat dari emas murni itu. Dia yakin jika negara Domos hanyalah pamer harta sekaligus mengancam keamanan negara Kuan.


Madam Aluna menerima undangan terbuka itu dan membacanya dengan seksama. "Tunggu dulu, profesor. Sepertinya dia juga mengetahui tentang murid Slytherin dan kekuatannya," katanya.


Profesor Aludra membatu. Jika kekuatan Slytherin disalah gunakan oleh penyihir hitam, akan terjadi kekacauan yang luar biasa.


"Jadi mereka tahu soal ini," gumam Profesor Aludra.


Madam Aluna membuang undangan itu ke sembarang arah. "Hanya satu jalan kita, profesor!" serunya, menginterupsi.


Profesor Aludra menatap Madam Aluna dengan air muka yang penuh tanya. Kepalanya benar-benar pusing karena memikirkan hal gila ini.


"Kita harus mengirim murid auror dari semua asrama untuk menebas raja itu, karena hanya itu jalan satu-satunya yang kita miliki."


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


"Shaula, katakan siapa yang kamu sukai. Apakah dia anak asrama Hufflepuff juga?"


Sejak tadi Adara terus menghujami Shaula dengan pertanyaan yang sama sekali tidak ingin dia katakan. Bukannya dia tidak percaya padanya, hanya saja dirinya malu untuk mengatakan hal ini.


Karena aku tidak terlalu terbiasa mengatakan hal ini pada orang lain.


"Ada yang bertengkar!" seru salah seorang murid.


Seruan seorang murid Gryffindor itu membuat jantung Shaula hampir saja mencuat dari tempatnya. Pikirannya terus berpikir hal gila, jika Soobin yang bertarung dengan laki-laki bernama El.


Tanpa memperdulikan kelas ramuan ini, Shaula langsung pamit untuk keluar kelas dan menghampiri pertarungan itu. Perasaannya mendadak tidak enak, jangan sampai jika ada hal buruk yang terjadi.


"Soobin, kamu ini membuatku khawatir saja!" gumam Shaula, pelan.


Langkah gadis itu terus berlari menuju ke tempat pertarungan. Bahkan dia tidak segan-segan untuk menabrak setiap murid yang menghalangi jalannya.


Karena hal tersebut, banyak yang mengumpatinya.


Setelah sampai pada tempat pertarungan itu terjadi, napas Shaula menjadi tersenggal. Dia pun langsung menerobos kerumunan itu dan mendapati dua orang tengah berkelahi.


"HENTIKAN!" teriak Shaula


Sudah dia duga sebelumnya, jika Soobin adalah salah satu pelaku dari pertarungan itu. Lawannya kali ini berbeda dari sebelumnya, nampak sedikit asing bagi Shaula.


Tapi tunggu dulu, manik mata Shaula terpaku pada lawan Soobin saat ini.


"Gadis sialan, kenapa kamu beraninya menghentikan pertarungan ini?" hardik sang lawan.


Shaula mendadak menulikan pendengaran. Dia pun menarik Soobin yang terluka karena pertarungan ini. Ujung mataknya mendadak berair ketika melihat keadaan laki-laki itu saat ini.


Shaula menatap laki-laki yang saat ini menjadi lawan Soobin. Dia pun langsung kembali pada tengah lapangan, namun pergerakannya mendadak terhenti karena cekalan Soobin.


"Lepaskan aku," desis Shaula.


Shaula pun saat ini tengah berdiri jauh didepan laki-laki yang tadinya menjadi lawan Soobin.

__ADS_1


Laki-laki itu mendesis karena tingkah Shaula. "Oh, jadi gadis aneh yang waktu itu menabrak punggungku dan menyuruhku meminta maaf," katanya.


Shaula mentap lawan yang ada didepannya itu dengan tatapan tajam. Dia nampaknya tidak ingin mengatakan hal apapun lagi pada sang lawan, dia lebih memilih untuk diam.


"Hei, jangan bilang kamu mau melawanku?" tanyanya.


Shaula terkekeh pelan karena ucapan dari sang lawan. "Kamu boleh saja meremehkanku," balasnya.


Sang lawan nampak geram sendiri dengan balasan singkat dari Shaula. Lalu gadis itu pun mengulas senyum puas dalam hati, ternyata lawannya ini mudah terpancing emosi.


"Ah~ dari asrama Gryffindor rupanya," gumam Shaula, pelan.


Shaula hanya diam sejak tadi, sedangkan sang lawannya itu nampaknya hendak mengeluarkan sebuah jurus. Karena hal tersebut, membuat beberapa murid yang menonton hal ini merasa tegang.


Akankah hal ini akan menjadi sebuah pertarungan?


Shaula hanya menatap sang lawan datar, tentu tanpa melakukan apapun.


Tiba-tiba sebuha api menyerang ke arah Shaula, namun hal itu langsung diterjangnya menggunkaan perisai besi yang tiba-tiba muncul. Tentu saja benda itu muncul dari kekuatan yang dimiliki oleh gadis ini.


Tatapan semua orang tidak percaya akan apa yang mereka lihat saat ini. Namun sepertinya tidak hanya mereka saja, Soobin yang menatap hal ini juga nampak terkejut.


Shaula mengangkat salah satu sudut bibirmya ke atas. "Masih mau bermain perisai dan api denganku?" sahutnya.


Sang lawan nampak terkejut setengah mati karena kekuatan yang dimiliki oleh Shaula. "Bagaimana bisa kamu bisa melakukan hal itu?" tanyanya.


"Melakukan apa?" tanya Shaula, ketus.


Sang lawan mengepalkan tangannya kuat, hingga buku jarinya memutih. Sedangkan Shaula masih mempertahankan air muka datar yang nampak belum berubah.


"Apa yang kalian lakukan?"


Shaula sepontan menoleh ke arah sumber suara. Dia dapat melihat ada seorang murid yang berlari menuju ke arah sang lawan.


Namun, Shaula terkejut ketika yang dilihatnya saat ini adalah Hena.


"Hena? Kenapa diaβ€”"


Hena menatap Shaula dengan tatapan yang tidak percaya. "Shaula? Kenapa kamuβ€”"


Soobin yang ditariknya itu hanya bisa pasrah dengan tingkah laku gadis ini.


"Hei, kamu berhutang penjelasan padaku," sahut Soobin, ketus.


Sedangkan Shaula hanya bisa terdiam, tanpa berniat untuk membalas perkataan Soobin. Sekarang giliran gadis itu yang menjadi diam dan Soobin yang bergantian mengoceh.


Kenapa bisa terbalik seperti ini?


"Kamu terluka, Soobin. Aku akan membawamu ke ruang penyembuhan sekarang," final Shaula.


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


"Shaula, kamu gila ya sudah menyerang putra mahkota seperti itu?"


"Apa kamu tidak takut jika kamu akan dipenggal oleh Raja Magellanic?"


Sejak tadi Hena dan Adara terus menyerang Shaula dengan berbagai macam perkataan yang intinya sama. Dia mendadak menulikan pendengaran karena ocehan temannya itu.


Shaula memutar bola mata malas. "Kenapa aku harus takut? Aku tidak bersalah, aku hanya memberi sedikit pelajaran padanya," jelasnya.


"Tapi dia adalah putra mahkota," kata Hena, menimpali.


"Jadi?" sahut Shaula dengan alis yang naik sebelah.


"Kita sebagai penyihir biasa tidak diperkenankan menyakiti keluarga kerajaan," timpal Adara.


"Ankaa adalah putra mahkota kerajaan Magellanic," lanjutnya.


Shaula mencebikkan bibirnya. "Lalu?" tanyaku dengan helaan napas.


"Sebaiknya kamu harus meminta maaf padanya sekarang. Jika kamu masih sayang nyawamu," balas Adara.

__ADS_1


Shuaula terkekeh renyah. "Hal gila apa yang kalian katakan ini? Aku membela orang tertindas karena peraturan kerajaan yang konyol ini. Apakah aku salah?" sungutnya.


Adara menggeleng kukuh. "Intinya, kamu harus meminta maaf pada Ankaa."


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Saat ini, Shaula tengah berada dikelas pemeliharaan hewan gaib bersama dengan Soobin. Kebetulan sekali mereka dapat menjadi satu kelas sekarang.


"Astaga, apakah makhluk ini menggigit?"


Shaula nampaknya seperti takut kala menatap makhluk berbentuk seperti kelinci ini. Memang terlihat imut diluar, namun makhluk ini memiliki gigi setajam hiu.


Mendadak Shaula melupakan jika makhluk ini adalah hewan gaib.


Soobin menghela napas singkat. "Mungkin akan menggigit jika kamu mengganggunya," balasnya.


Shaula menatap Soobin dengan tatapan datar. Apakah saat ini laki-laki bermarga Lee ini tengah bencada sekarang?


"Maafkan saya, Profesor Nebula. Jika saya terlambat datang ke kelas ini."


Telinga Shaula secara tidak sengaja mendengar suara murid perempuan dari arah depan. Namun nampaknya dia tidak memperdulikan hal tersebut sama sekali.


"Oh~ Shaula!"


Shaula terkejut ketika dia baru menyadari jika Adara berada satu kelas dengannya. Ketika gadis itu duduk disampingku, manik matanya menatap ke arah Soobin yang tengah sibuk dengan laporannya.


"Siapa dia?" tanya Adara.


Soobin tidak berkutik sama sekali, sedangkan Shaula hanya ber-oh ria sebagai jawaban.


Ketika Soobin mendongakkan kepala air muka Adara langsung berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Dia nampak begitu terkejut karena melihat wajah tampan dari Soobin.


"Kaβ€”kamu?" tanya Adara, terkejut.


Melihat jika Adara yang akan teriak, Shaula langsung mendekap tubuh gadis itu secara tiba-tiba. "Ah~ ini Lee Soobin," katanya.


Shaula menginjak kaki Adara pelan. "Jangan berteriak. Jika tidak ingin membuat hewan disini menyerangmu," bisikku, penuh penekanan.


Soobin hanya menatap kedua gadis yang ada didepannya ini secara bergantian. Kemudian Adara ber-oh ria dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.


"Ah~ kamu murid baru asrama Ravenclaw," sahut Adara.


Soobin hanya menggangguk sebagai jawaban. Namun setelah itu, sang profesor pun menghampiri ketiga murid itu secara tiba-tiba.


"Ah~ profesor," kata Shaula dan Adara kompak lalu membungkukkan badan.


"Kalian Shaula dan Soobin bukan?" tanya Profesor Nebula.


Keduanya menggangguk pelan sebagai jawaban. Mendadak perasaan Shaula tidak enak karena perkataan yang baru saja sang profesor lontarkan.


"Bisa ke ruangan saya sebentar?" tanya Profesor Nebula.


"Baik, profesor!" balas Shaula dan Soobin, kompak.


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Entahlah ada hal penting apakah yang terjadi, sehingga Shaula berada pada tempat ini. Setelah menyadari jika dirinya adalah satu-satunya murid perempuan disini, dia hanya diam.


"Jadi, kalian sudah tahu apa alasan saya memanggil kalian kemari?" tanya Profesor Aludra.


Shaula binggung dengan pertanyaan yang baru saja sang guru besar itu katakan. Bahkan jika dia mengetahui hal itu, sudah sejak tadi dia dapat mengatakannya.


"Shaula, kamu adalah murid perempuan satu-satunya yang menjadi auror tahun pelajaran ini," sahut sang profesor.


Shaula terkejut dengan perkataan sang profesor. "Auror?" kejutnya.


Sang profesor menggangguk. "Bukankah ini terlalu awal jika aku mengatakan hal ini pada kalian?" tanyanya.


"Tidak sama sekali, profesor!" balas ke empatnya, kompak.


"Jika saya memberikan tugas pada kalian, apakah kalian akan keberatan dengan hal ini?"

__ADS_1


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


...See you next part~...


__ADS_2