Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Obliviate


__ADS_3

...[Episode terakhir]...


...BAB 37...


...OBLIVIATE...


...a novel by youmaa...


...❝Sebuah takdir tidak akan pernah bisa lari darimu. Takdir itu akan terus mengejarmu walaupun itu pada kehidupan selanjutnya sekalipun.❞...


...Happy Readingβ™₯...


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


SLAP!


Sebuah anak panah kembali menyerang Shaula. Namun kali ini dia tidak bisa menghindarinya, sehingga anak panah itu mengenai lengan kanannya.


Shaula masih tidak percaya jika dia adalah orang yang dicintainya selama ini. Sosok yang sangat dipercayai tidak akan menyakiti ataupun melukainya.


Lee Soobin.


Shaula menekuk lutut karena dia merasa jika sarafnya mulai melemah. Dia sudah menduga jika anak panah ini mengandung racun bunga Aconicum Blue.


Shaula menundudukkan kepalanya. Setelah itu dia dapat merasakan jika Soobin turun dari kudanya. Kemudian laki-laki itu melangkahkan kaki menuju ke arahnya.


Shaula memicingkan mata untuk dapat menatap wajah Soobin yang terlihat dingin. Namun wajah itu tertutup oleh sinar matahari, sehingga dia tidak dapat melihat dengan jelas.


Dia dapat melihat jika Soobin mengeluarkan pedang dan mengarahkannya padanya.


"Siapa kamu?" kata Soobin, dingin.


"Kenapa kemampuan panahmu sangat hebat?" lanjutnya.


Shaula mencoba untuk bangkit dari posisinya, walaupun pedang tajam itu mengarah pada lehernya. Sayangnya laki-laki itu sama sekali tidak mengetahui identitasnya saat ini.


Shaula mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas. "Kamu tidak perlu tahu siapa aku, Lee Soobin," katanya, penuh penekanan.


Soobin napak terkejut dengan sahutan yang baru saja Shaula lontarkan. Kemudian dia menurunkan pedangnya dengan air muka yang terkejut setengah mati.


Mungkin dia baru mengetahui siapa seseorang yang baru saja diserangnya.


"Shaula?" gumam Soobin, terkejut.


Shaula mengulurkan tangannya diantara udara. Setelah beberapa detik, sebuah pedang mundul digenggaman tangan gadis itu. Dengan manik mata yang tajam, gadis itu langsung menyerang Soobin.


SLING!


"Lupakan jika aku Shaula!" seru Shaula.


Pergerakan Soobin sangat gesit, sehingga laki-laki itu dapat dengan mudah menghindari serangan Shaula. Walaupun gadis itu menyerang Soobin secara bertubi-tubi, namun laki-laki itu selalu saja berhasil menangkisnya.


Bahkan tanpa ingin menyerangnya.


Shaula tahu hal tersebut, jika Soobin sama sekali tidak menyerangnya balik. Namun dia merasa jika laki-laki yang ada didepannya ini sedikit berbeda dengan Soobin yang biasanya dia kenal.


Soobin yang ada didepannya ini memiliki aura yang berbeda.


"Hentikan, Shaula!" seru Soobin.


Nampaknya Shaula menulikan pendengaran dan mencoba untuk tidak memperdulikan seruan dari Soobin. Dia merasa kecewa dengan hal besar yang selama ini Soobin sembunyikan padanya.


Ternyata Soobin adalah pangeran kerajaan Hanggangβ€”musuh kerajaannya sendiri.


Soobin menangkis serangan Shaula dengan napas yang tersenggal. "Hentikan!" serunya, lagi.


Soobin menarik sisa cadar yang menutupi sebagian wajah Shaula. Karena hal tersebut, sontak membuat wajah sang empunya terpampang dengan jelas.


Soobin menurunkan pedangnya. "Tolong hentikan ini," katanya, lembut.


Sudah sejak tadi bulir bening yang ada dipulupuk mata Shaula mengalir deras. Bola matanya memerah karena hal tersebut dengan napas yang tersenggal.


Setelah itu, dia langsung melempar pedang elang emasnya ke sembarang arah.


Soobin juga melempar pedangnya diatas tanah. "Maafkan aku," katanya, lirih.


Terdengar suara isakan kecil dari Soobin yang dapat didengar oleh Shaula. Dia hanya dapat menatap laki-laki itu dengan napas yang naik turun. Bibirnya langsung bungkam dengan jejak air mata yang mengalir diantara lereng pipinya.


"Maafkan aku. Aku memanglah laki-laki bodoh yang menyakiti wanita yang aku cintai," kata Soobin, lagi.


Dalam diam, Shaula mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya itu memutih. Hanya terdengar suara arus sungai yang menghiasi atmosfer hening.


"Kenapa?" sahut Shaula, pelan.


Suara Shaula hampir terdengar seperti sebuah bisikan, namun sepertinya Soobin dapat mendengarnya. Setelah itu, laki-laki itu pun mengangkat pandangan dan menggenggam erat kedua tangannya.


Soobin berlutut. "Aku bisa menolak permintaan abeoji untukβ€”"


SLAP!


Sebuah anak panah langsung melesat tepat mengenai dada sebelah kanan Soobin. Karena hal tersebut, sontak langsung membuat Shaula terkejut setengah mati.

__ADS_1


Tubuh tegap Soobin langsung tumbang, walaupun laki-laki tersebut masih tersadar.


Shaula langsung melemparkan tatapannya ke arah belakang. "Eoraboni?" katanya, terkejut.


Mars datang dari belakang dengan manik mata tajam yang nampak merah. Air muka laki-laki tampan itu nampak sangat marah karena adiknya terluka karena ulah musuh kerajaan.


"Beraninya kamu menyakiti adikku," kata Mars, dingin.


Setelah mendengar hal tersebut, Soobin langsung melemparkan tatapannya ke arah Mars. Manik mata laki-laki itu nampak berair dengan napasnya yang tersenggal.


Mars mengulurkan tangan, hendak mengeluarkan tongkat sihir miliknya. "Aku tidak akan memaafkanmu!" serunya.


Shaula tersentak ketika dia menyadari jika kakaknya akan menyerang Soobin dengan kekuatan yang dimilikinya. Setelah itu, dia langsung menarik lengan kakaknya untuk menghentikan serangan tersebut.


"Eoraboni, jangan!"


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Sejak tadi anggota kerajaan khawatir akan keselamatan Shaula yang baru saja terkena serangan Mars. Sedangkan laki-laki itu sangat merasa bersalah telah menyerang adiknya, padahal dia hendak menyerang Soobin.


Namun dia justru menyerang Shaula.


"Jangan khawatir, tuan putri sekarang baik-baik saja," kata seorang tabib.


Setelah mendengar hal tersebut, atmosfer yang awalnya memanas secara perlahan mulai kembali ke semula. Sang raja sama sekali tidak mengerti dengan putrinya ini.


Padahal tingkat keaman kerajaan begitu ketat.


Mars menunduk. Nampaknya dia sangat merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan.


"Maafkan saya, aboeji. Saya tidak bermaksud untuk menyakiti tuan putri," kata Mars.


Sang raja menggangguk pelan. "Aku tahu kamu pasti ingin melindungi adikmu," balasnya.


Setelah itu, sang raja langsung memasuki kamar putrinya. Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah sosok ringkih yang terbaring diatas tempat tidur.


Secara mendadak Shaula membukanya perlahan, sehingga membuat sang raja makin mempercepat langkahnya.


Manik mata Shaula langsung menelisik ke setiap sudut yang ada diruangan ini, hingga tatapannya terpaku pada sang raja. Setelah itu, dia langsung menegakkan punggungnya dan bersandar pada ujung ranjang.


"Aboeji, sangat mengkhawatirkanmu. Tidak seharusnya kamu ikut perang itu," kata sang raja.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya lagi.


Shaula menggangguk sebagai jawaban, tanpa ingin menjawab pertanyaan sang raja sama sekali. Karena kediamannya itu, sontak membuat raja Kuan merasakan ada hal aneh yang menimpa kepada putrinya.


Salah satu tangan sang raja terulur, lalu mengusap pincak kepala sang putri dengan lembut. Dia merasa jika keputusannya ini akan berdampak pada putinya nanti.


Dia harus segera menyelesaikan perang ini dengan kerajaan Hanggang.


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


"Pangeran, ada hal apa yang membuatmu menyerangku seperti ini?"


Napas Mars tersenggal dengan salah satu tangan yang memegang tongkat sihirnya. Sedangkan sang lawan bicara hanya menatap dirinya dengan mata merah dan sudut bibir yang terluka.


"Jangan pernah sekali-kali kamu mendekat ke arah adikku. Aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu, Pangeran Hanggang!" seru Mars dengan menaikkan beberapa oktaf.


Soobin menaikkan salah satu sudut bibir ke atas, lalu dia menyeka darah yang ada disudut bibirnya dengan kasar.


"Seberapa marahnya kamu padaku? Aku bahkan tidak tahu jika itu adalah Shaula," kata Soobin.


Mars terkekeh sarkasme singkat. "Mungkin jika aku mengatakan sebarapa marahnya aku padamu pun tidak akan pernah cukup," balasnya.


SLING!


Secara tiba-tiba, Mars menyerang Soobin dengan pedang naga emas yang ada digenggaman. Mungkin dia tidak akan bisa mengalahkan pangeran Hanggang ini dengan mudah, karena lawannya ini memiliki kemampuan bertarung yang hebat.


Mereka itu lawan yang seimbang.


Soobin menangkis pedang naga emas hanya dengan busur elang yang selalu dibawanya.


SLING!


Pedang naga emas itu berhasil menggores lengan kanan Soobin. Melihat ada kesempatan yang sangat bagus, Mars kembali menyerang Soobin secara bertubi-tubi.


SLING!


GREP!


Tanpa sadar, Soobin justru menggengam pedang naga emas tersebut. Sehingga membuat darah mengalir melalui pergelangannya karena goresan pedang tajam itu.


Mungkin dia akan menyesali jika melakukan hal tersebut, karena menggengam pedang bukanlah hal yang benar. Soobin menyesal karena tidak membawa pedangnya, dia justru membawa busurnya.


"HENTIKAN PERTARUNGAN KALIAN!"


Setelah mendengar seruan tersebut, kedua laki-laki itu langsung melempar tatapannya. Suasana malam ini membuat penglihatan mereka tidak sepenuhnya jelas, sehingga tidak dapat melihat dengan jelas.


Yang dapat mereka lihat hanyalah bayangan seorang gadis.


Namun mereka sudah dapat menebak jika gadis itu adalah sosok yang sedang mereka perdebatkan. Setelah itu, nampak jika gadis itu langsung berlari mendekat ke arah keduanya dengan napas yang tersenggal.

__ADS_1


Mars kontan membulatkan matanya. "Kaβ€”kamu? Bagaimana bisa kamu keluar dari istana?" tanyanya, terkejut.


Nampaknya Shaula sama sekali tidak mengindahkan perkataan yang baru saja Mars lontarkan. Tanpa mengatakan hal apapum lagi, dia langsung menarik lengan Soobin dan membawanya menjauh.


Tingkah adiknya itu, membuat Mars hanya bisa terdiam ditempat.


"Seumur hidup pun aku tidak akan pernah bisa menerima kehadiran Soobin dimanapun," gumam Mars, pelan.


"Sekali pun dia akan terlahir kembali. Aku bersumpah," lanjutnya.


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


Shaula terus menarik ujung pakaian Soobin agar menjauh dari tempat tersebut. Langkah keduanya langsung membawanya pada hutan surga yang sebelumnya pernah mereka kunjungi.


Langkah Shaula terhenti, lalu melepaskan cekalannya dari Soobin secara perlahan.


"Kenapa?" tanya Soobin.


Pandangan Shaula langsung jatuh pada kelopak Apprikot yang berguguran karena tersapu angin. Dia memunggungi laki-laki itu dan hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.


Soobin menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang terkepal. Karena hal tersebut, sontak membuat darahnya mengalir diantara tangannya lalu menetes diatas rumput hijau.


Shaula pun membalikkan tubuh, lalu langsung menarik lengan Soobin yang terluka. Dia menutup luka tersebut menggunakan pita yang mengikat rambutnya.


Pergerakan Shaula sontak membuat Soobin terkejut.


"Jangan hentikan aku," sahut Shaula.


Setelah mendengar hal tersebut, Soobin langsung mengurungkan niatnya untuk menghentikan pergerakan Shaula. Kemudian tangannya kembali turun dan nampaknya dia hanya bisa pasrah dengan hal itu.


Setelah itu, Soobin menundukkan kepalanya dengan bibir yang mengatup rapat.


"Maafkan aku," sahut Soobin, tiba-tiba.


Shaula tidak kunjung menjawab pertanyaan Soobin dan tetap melanjutkan kegiatannya untuk menutup luka lain yang ada di lengan kiri Soobin. Setelah itu dia mengambil selendang yang dia pakai dan melilitkannya pada luka tersebut.


Soobin sedikit meringis ketika Shaula mengikat selendang itu dilengannya. Setelah semuanya selesai, Shaula pun beranjak dari posisinya. Namun pergerakannya terhenti ketika Soobin menyekal lengannya.


Soobin melemparkan tatapannya ke arah Shaula. "Aku bersalah padamu," katanya, lagi.


Shaula berdecak pelan. "Bisakah kamu tidak mengatakan hal itu lagi?" sungutnya.


"Aku bosan mendengarnya," lanjutnya.


Setelah mengatakan hal tersebut, Soobin mengira jika Shaula telah memaafkannya. Setelah itu manik matanya berbinar sedikit, walaupun tidak dapat dilihat secara langsung.


Soobin menaikkan salah satu alisnya. "Jadi, apakah kamu memaafkanku?" tanyanya, datar.


Tatapan tajam dari Soobin yang nampak tenang itu, sontak membuat Shaula tercekat. Dalam hal ini, dia sama sekali tidak dapat berkata-kata dengan benar.


Dia justru derpedaya akan pesona Lee Soobin.


Shaula langsung mendorong tubuh tegap Soobin yang semakin lama, semakin mendekat ke arahnya. Setelah itu, dia langsung membuang pandangannya ke arah lain.


"Hentikan hal konyol itu," sungut Shaula.


DUAR!


Secara mendadak, petir muncul bersamaan dengan awan gelap yang ikut melengkapinya. Beberapa detik kemudian, angin berhembus kencang sehingga membuat puluhan kelopak bunga Apprikot berhamburan secara acak.


"Ada apa ini?" gumam Shaula, pelan.


DUAR!


"*Seumur hidup pun aku tidak akan pernah bisa menerima kehadiran Soobin dimanapun."


"Sekali pun dia akan terlahir kembali, aku bersumpah*."


Shaula tersentak setelah mendengar suara samar yang lewat ke dalam telinganya bersamaan dengan hembusan angin. Kemudian dia langsung menatap Soobin yang secara perlahan dikelilingi cahaya hijau kebiruan.


Shaula yakin jika itu adalah sebuah mantra.


Manik mata Shaula kontan membulat ketika menyadari jika hal itu memanglah sebuah mantra kutukan. Mantra kutukan yang tidak pernah termaafkan dari si pengirim. Mantra tersebut, berasal dari buku Avada Kedavra.


Mantra Obliviate.


Mantra itu adalah penglihang ingatan yang dapat membuat si penerima melupakan semuanya. Shaula tidak hanya melihat mantra itu saja, melainkan ada mantra lain yang ada dalam penglihatannya.


"Soobin!" seru Shaula dengan menaikkan beberapa oktaf.


Secara tiba-tiba, tubuh Soobin langsung lenyap dalam hitungan detik. Hal itu membuat Shaula panik setengah mati karena takut kehilangan laki-laki itu.


Manik matanya langsung mengedar ke setiap sudut tempat yang dia pijak saat ini.


"Lee Soobin tidak akan pernah bisa bersatu denganmu selamanya."


Shaula mendongakkan pandangan ke atas langit. Setelah kalimat tersebut terdengar, mendadak awan hitam itu lenyap secara misterius. Tanpa dia sadari, bulir bening itu membasahi pipinya hingga mengalir ke lereng.


Shaula menekuk lutut. "Selamat tinggal matahariku," gumamnya.


"Aku akan tetap menantimu. Walaupun hal ini tidak ada ujungnya sekali pun," lanjutnya.

__ADS_1


...𓆝 π“†Ÿ π“†œ π“†ž...


...THE END...


__ADS_2