Hufflepuff Auror

Hufflepuff Auror
Save Me


__ADS_3

...BAB 11...


...SAVE ME...


...a novel by youmaa...


...โPermainan ruang dan waktu ada disekitarmu saat ini. Jangan lupa untuk menebak kejutan apa yang akan terjadi setelah ini.โž...


...Happy Readingโ™ฅ...


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Jangan pernah mempercayai siapa pun."


Perkataan itu membuat Shaula menautkan kedua alisnya dalam. Pikirannya mendadak tertuju kepada orang-orang yang berada disekitarnya. Namun apakah dia juga harus mempercayai sosok didepannya ini juga?


"Maksudmu?" tanya Shaula, binggung.


Laki-laki dengan tudung hitam yang menutupi sebagian wajahnya itu tidak membalas apa yang dikatakan oleh Shaula. Bibirnya nampak tidak bergeming sama sekali, bahkan sepertinya dia tidak memiliki niat untuk menjawabnya.


Ketika Shaula hendak membuka tudung yang dari laki-laki itu, langsung ditepisnya dengan kasar.


Namun, hal yang mengejutkan terjadi. Pergelangan tangan Shaula justru dicekal kuat, sehingga gadis itu merintih kesakitan.


"Leโ€”lepaskan," rintih Shaula, pelan.


Tangan kanan laki-laki itu terangkat, seperti hendak melakukan sesuatu. Setelah beberapa detik, Shaula menatap pergerakan tangan laki-laki misterius itu.


Dirinya dibuat terkejut ketika menyadari jika waktu yang ada disekitarnya mendadak berhenti.


Sepontan Shaula membulatkan mata dengan kaki yang mendadak melemas. "Baโ€”bagaimana bisa kamu melakukan hal ini?" kejutnya.


Setelah mengatakan hal tersebut, Shaula langsung memejamkan matanya karena takut. Dia berharap jika laki-laki bertudung hitam itu akan menjawab pertanyaannya saat ini, namun harapannya pupus karena laki-laki ini masih tetap diam.


"Bukalah matamu," kata sang lawan bicara.


Shaula pelahan membuka matanya, ketika dirasa kakinya itu menginjaki permukaan tanah kembali. Ketika manik matanya terbuka sempurna, pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah sebuah ruangan kosong.


Diatas lantai ruangan ini berserakan serpihan kertas yang tersebar secara sembarang.


Ketika pandangannya jatuh pada satu kertas yang menarik perhatiannya, lantas tangan Shaula tetulur untuk mengambilnya. Dia pun kembali menegakkan badan dengan salah satu tangan menggenggam secarik kertas.


Ketika lipatan kertas itu dibuka, mendadak sebuah tulisan muncul dipermukaan kertas tersebut.


Save me.


"Apa maksud kalinat ini?" gumam Shaula, pelan.


Shaula pun keluar dari ruangan yang sejak awal dia pijaki. "Siapa yang harus diselamatkan?" lanjutnya seraya melangkahkan kaki.


Dirinya terdiam tanpa bergeming karena barisan dua kata yang membinggungkan baginya. Namun dirinya baru tersadar jika laki-laki yang tadi membawanya menuju ke tempat ini mendadak menghilang.


Bahkan dia sudah mengedarkan pandangannya tanpa melewatkan jarak sesenti pun, namun dia tetap tidak menemukan laki-laki itu.


"Tuan, anda dimana!" teriak Shaula.


Langkahnya ini membawa Shaula menuju ke sebuah lorong karena mencari keberadaan laki-laki tadi. Sudah hampir berkali-kali dirinya menyusuri jalan ini, namun tidak ditemukannya jalan keluar.


"Apakah disini ada orang?" teriaknya, sekali lagi.


Namun yang terdengar hanya suara derap kaki dan teriakannya yang menggema.

__ADS_1


DRAP DRAP DRAP..


Telinga Shaula tidak sengaja mendengar sesuatu yang ambruk. Ketika dirinya melempar tatapannya ke arah belakang, lantas dia terkejut. Lantai yang ada jauh dibelakangnya runtuh tanpa sebab.


Tanpa memikirkan apapun, dirinya langsung berlari.


"Siapapun tolong aku!" teriaknya, lantang.


Terlihat percuma saja ketika Shaula meneriaki seseorang untuk menolongnya. Hanya ada dirinya seorang diri yang terjebak ditempat ini, tanpa ada satu orang pun yang menemani.


Ketika dirinya melemparkan pandangan ke belakang, ternyata sudah tidak ada lagi runtuhan lantai itu.


"Syukurlah sudah berakhir," gumamnya seraya mengatur napas.


Shaula menyeka keringat yang mengalir deras dipelipisnya itu menggunakan lengannya. Setelah itu, dirinya melanjutkan langkahnya lagi untuk mencari jalan keluar.


Bukannya jalan keluar yang saat ini dilihaynya, namun tulisan sama seperti yang dilihatnya dikertas itu. Tulisan itu menempel ditembok yang berada dipersimpangan jalan.


Kedua kata itu menggunakan warna merah yang terlihat seperti darah.


BYUR!


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...


"Shaula!"


Shaula tersentak dengan bias suara yang mendadak berkuar masuk ke dalam telinganya dengan cara tidak sopan. Karena hal tersebut, dirinya langsung menggeleng kecil dengan mata yang memejam sejenak. Ketika sinyal kesadarannya itu hinggap kembali, pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah seseorang dengan air muka binggung.


Shaula terdiam dengan bibir yang mengantup. Pikirannya langsung terbayang akan sesuatu hal, namun dirinya sama sekali tidak dapat mengingat dengan jelas.


Apa yang terjadi padaku? batinnya.


Adara menepuk pundak Shaula cukup keras, sehingga membuat sang empunya mendengus kesal. Sang empu langsung melempar tatapan tajamnya dengan sesekali mengelus pundaknya yang terasa panas.


"Kamu tidak sedang kerasukan, bukan?" lanjutnya.


Shaula mendengus pelan. "Kamu ini yang kenapa? Seenaknya memukul pundakku," protesnya.


Adara merotasikan bola matanya malas. "Kamu yang kenapa? Melamun seperti orang ling-lung saja," sungutnya.


Shaula membuang mukanya ke arah lain, lalu kembali berkutat pada bukunya tanpa mengatakan hal apapun lagi. Sepertinya dirinya ini sudah gila, karena melamunkan hal yang tidak seharusnya dia pikirkan.


Ah, kenapa menjadi dirinya seperti ini?


Adara memegang dahi Shaula yang tertutupi oleh anak rambutnya. Karena hal tersebut, sang empunya langsung menepis tangan milik gadis itu dengan cepat.


"Jangan menyentuhku seperti itu. Aku tidak gila, kau tahu?" sungut Shaula.


"Jangan pernah mempercayai siapa pun."


Shaula tersentak karena telinganya mendadak mendengar sebuah bias suara. Dirinya langsung terpatung dengan matanya yang membulat sempurna.


"Aku takut kamu benar-benar kerasukan," sahut Adara, asal.


"Karena kamu terus memejamkan mata sejak tadi," lanjutnya.


Shaula menatap ke arah Adara dengan kedua alis yang menyatu. "Maksudmu?" tanyanya.


"Apa kamu mengantuk?" tanya Adara balik.


Shaula menggeleng. "Mungkin saja," balasnya.

__ADS_1


Shaula beranjak dari duduknya, lalu diikuti oleh Adara. Keduanya langsung menuju ke kelas yang sebentar lagi akan segera dimulai. Disepanjang perjalanan, keduanya tidak saling mengeluarkan sepatah kata apapun lagi.


Suasana mendadak menjadi hening.


BRUK!


Secara tidak sengaja, tubuh Shaula tiba-tiba saja tertabrak oleh seseorang. Sehingga membuat dirinya sedikit terhuyung ke belakang karena hal tersebut.


Ketika manik mata gadis itu teralihkan oleh seseorang yang ditabraknya itu, lantas dia langsung mendengus. Karena laki-laki ini justru berdiri ditengah jalan dengan sikapnya yang sangat santai.


"Hei, bisakah kamu tidak berdiri ditengah jalan!" protes Shaula, ketus.


Shaula menyapu dan merapikan segaramnya yang sedikit berantakan karena hal ini. Setelah itu, manik mata hazelnya itu langsung terlempar ke arah sang lawan bicara yang tidak segera membalikkan tubuhnya.


Memangnya ini jalannya sendiri, sehingga laki-laki ini seenaknya berdiri ditengah jalan seperti ini?


Laki-laki itu pun membalikkan tubuh dengan air mukanya yang terlihat datar. Sedangkan Shaula tetap dalam ekspresinya yang kesal. Bukannya merasa bersalah atau langsung meminta maaf, laki-laki itu hanya terdiam.


Pantas saja sikapnya ini menyebalkan, karena Shaula tidak terkejut sama sekali.


"Kenapa? Apakah seorang pangeran tidak boleh berdiri disini?" sungut Ankaa.


Shaula menghela napasnya pelan. "Terserah," sambarnya, singkat.


Adara yang sejak tadi hanya terdiam, kini langsung menatap Shaula dan Ankaa secara bergantian. Kira-kira apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu saat ini?


Apakah dia masih merasa ganjal dengan sikap Shaula kepada Ankaa saat ini?


Adara langsung menarik Shaula untuk mendekat padanya, lalu dia membungkuk singkat pada Ankaa.


"Maaf, karena temanku bersikap seperti itu padamu," kata Adara.


Shaula menghela napasnya pelan, lalu gadis itu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ankaa hingga jarak diantara mereka terkikis. Gadis itu langsung melempar tatapan tajamnya ke arah laki-laki angkuh itu.


Setelah melakukan kontak mata yang sengit, Shaula langsung membuang mukanya ke arah lain. "Urus saja pangeran kesayangan kalian ini. Aku sudah muak dengannya," finalnya.


Shaula langsung berhambur pergi dari sana setelah dia melontarkan kalimatnya meninggalkan Adara dan Ankaa. Bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan apa pun lagi saat ini.


"Jadi, bagaimana rencana kamu selanjutnya?"


Langkah Shaula mendadak berhenti, ketika telingnya secara tidak senagaja mendengar suara. Sebelum dirinya melewati tembok itu, dia menyempatkan diri untuk mendengar pembicaraan seseorang yang berada dibalik tembok.


"Berjalan lancar seperti yang kamu harapkan."


Yang didengarnya saat ini adalah suara seorang laki-laki dengan gadis. Namun sepertinya telinga Shaula merasa tidak asing dengan suara ini.


"Bagus. Sepertinya kita akan mendapatkan darah murni itu sebentar lagi."


Shaula mendadak tersentak akan apa yang dikatakan oleh si gadis itu. Siapakah mereka berdua ini?


"Rencana apa ini," gumam Shaula, pelan.


"Tapi ingat, jangan sampai aku menemukan satu kesalah lagi. Jika aku menemukannya, kamu akan tahu apa akibatnya."


"Kamu tahu aku, bukan? Aku tidak akan mengecewakanmu."


Shaula langsung menjauh dari tempatnya saat ini. Dia memutuskan untuk langsung mempercepat langkahnya dan menyelidiki ini segara.


"Apa ada hubungan antara gadis dan laki-laki itu dengan negara Demon?"


...๐“† ๐“†Ÿ ๐“†œ ๐“†ž...

__ADS_1


...See you next part~...


__ADS_2