
Hari senin selalu jadi hari yang panjang dan melelahkan bagi semua orang. Tidak terkecuali gadis manis berambut hitam panjang itu. Jam istirahat selalu jadi waktu kesukaannya disamping jam pulang sekolah.
"Shandy, ngantin yuk. Laper gila nih," ajak seorang teman kepada si gadis manis yang ternyata bernama Shandy itu.
"Ayok lah. Panas pula ini. Pengin yang seger-seger," dan keduanyapun berjalan menuju kantin sekolah mereka.
Setibanya di kantin, mereka disambut dengan tumpukan manusia yang memiliki satu tujuan sama; mengisi perut yang berteriak kelaparan.
Segera Shandy dan temannya, Dara mencari tempat duduk di tengah lautan manusia itu. Saat mereka tengah celingukan, nampak seseorang mengangkat tangan dan memanggil Shandy.
"Shandy, Dara sini. Udah kusiapin tempat nih," ujar gadis itu yang juga teman Shandy.
"Eh, Dar. Itu udah disiapin tempat sama Monik. Kita kesana yuk. Pegel nih, berdiri mulu disini," dan keduanya bergegas menuju ke arah Monik.
"Kalian berdua lama banget sih jalan kesini aja? Aku sampe udah selesai makan nih," ujar Monik pada Shandy dan Dara.
"Ya maaf neng. Kita baru selesai kelas ini. Tadi ada ujian kimia mendadak, makanya telat dateng kesini," ujar Shandy menjelaskan.
"Udah gih buruan pesen. Aku udah laper banget nih. Udah mau pingsan rasanya," ujar Dara yang celingukan memilih menu apa yang ia makan siang ini.
"Aku mie ayam sama es jeruk deh. Kamu apa Dar? Monik mau pesen lagi?" tanya Shandy yang melihat mangkuk bakso dan es teh Monik yang isinya tinggal setengah.
"Aku gak deh. Dara tuh udah pucet banget wajahnya," ujar Monik sambil menatap Dara khawatir.
"Aku samain sama kamu deh. Udah gak bisa mikir mau makan apa," jawab Dara.
"Oke deh, aku pesenin dulu ya," ujar Shandy sambil beranjak menuju penjual mie ayam.
Sesampainya ia di penjual mie ayam, ternyata telah banyak teman sekolahnya yang mengantri. Mie ayam di sekolah Shandy memang terkenal enak. Dengan harga bersahabat untuk kantong pelajar, si penjual tidak pelit memberikan ayam dan sayuran.
"Mang, pesen mie ayam 2 sama es jeruk 2 ya. Dianter ke meja yang diujung sana ya," pesan Shandy kepada si penjual.
"Siap neng. Ntar mamang anter ya," jawab si penjual.
"Bayar sekalian nanti aja ya mang. Gak bawa duit nih," ujar Shandy sambil cengengesan.
__ADS_1
"Iya neng, gak pa pa. Kayak sama siapa aja," ujar si penjual.
"Makasih mang Udin. Aku tunggu ya," ujar Shandy sambil berlalu dan dibalas acungan jempol oleh mang Udin.
"Gimana? Masih kebagian?" tanya Dara begitu Shandy kembali ke tempat duduknya.
"Masih kok. Aku minta dianter aja. Capek ngantri, mana banyak banget pula yang beli," ujar Shandy sambil memainkan ponselnya.
"Eh, aku mau tanya. Kamu masih sama Dion gak sih? Aku denger kabar kalian udah bubar," tanya Monik pada Shandy.
"Ih, Monik ini kemana aja sih. Aku sama Dion itu udah lama lagi bubar. Kayaknya dari sebulan yang lalu deh," ujar Shandy sambil menatap Monik jengah.
"Iya nih, Monik macem udah ketinggalan gosip aja," ujar Dara yang dihadiahi pelototan dari Monik.
"Shandy sama Dion putus tu udah macem gosip artis tahu. Dua most wanted student bubar dong. Yang ngantri langsung gercep pdkt dong," ujar Dara sambil melirik Shandy.
"Most wanted apaan sih. Dion mungkin iya, tapi aku gak lah," ujar Shandy.
"Yah, dia merendah lagi. Shandy Putri Darmawangsa, kamu sadar gak sih kalo banyak banget cowok yang suka sama kamu?" ujar Monik sambil menatap Shandy.
"Terserah kalian deh. Eh, itu mie ayamnya udah dateng. Makan dulu deh," ujar Shandy yang melihat mang Udin berjalan ke arah mereka.
"Ini ya neng. Semuanya 18 ribu ya," ujar mang Udin yang langsung Shandy berikan uang selembar 20 ribu.
"Kembaliannya sebentar ya neng,"
"Gak usah mang, buat mamang aja. Anggap aja ongkos kirim kesini," ujar Shandy sambil tersenyum.
"Wah, makasih neng. Kalo begitu mamang balik dulu ya,"
"Iya mang, makasih ya," ujar Shandy.
Ia dan Dara segera menikmati makan siang mereka. Begitu juga Monik yang melanjutkan makan siangnya. Tidak terasa, jam istirahatpu selesai. Ketiganya bergegeas kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran.
Waktu menunjukkan pukul 2 siang ketika bel pulang berbunyi di sekolah Shandy. Segera semua murid bersiap untuk pulang, begitu pula dengan Shandy.
__ADS_1
"Nanti pulang sama aku atau gimana?" tanya Dara yang telah berdiri di sebelah Shandy.
"Aku pulang sendiri naik taksi. Mau mampir ke butik bunda dulu soalnya," ujar Shandy sambil terus merapikan barang-barangnya.
"Gak mau aku anterin aja?" tanya Dara kembali.
"Gak usah, rumah kamu kan berlawanan arah sama butik bunda. Aku gak pa pa kok. Udah biasa naik taksi," Shandy mencoba meyakinkan Dara.
"Yaudah kalo gitu. Ntar kabari ya kalo udah sampe butik," dan hanya anggukan yang Shandy berikan.
Dirinya kini tengah duduk di pos satpam sekolahnya, menunggu datangnya taksi online pesanannya.
Tidak lama, datanglah mobil yang dipesan. Bergegas Shandy masuk ke dalam mobil.
"Dengan kak Shandy ya? Ke butik Le CheriƩ?" tanya si supir mengkonfirmasi.
"Iya pak, bener," jawab Shandy dan mobil segera berjalan.
Suasana kota metropolitas Jakarta di siang hari seperti ini membuat emosi siapapun naik. Bukan hanya karena panasnya matahari namun macetnya jalan juga berkontribusi menambah panas udara dan emosi.
"Kak, saya kayaknya salah jalan deh. Butiknya ada di seberang jalan itu. Tapi kalo saya harus muter lagi, kayaknya akan kena macet lagi. Gimana kalo kakak nyebrang disini? Boleh kok kak nyebrang disini," ujar si supir ketika mereka tiba di depan butik bunda Shandy.
"Yaudah deh pak, gak pa pa. Saya nyebrang sendiri aja," ujar Shandy sambil keluar dari mobil.
Setelah melihat kanan dan kiri, dirasanya aman Shandy langsung menyeberang. Hingga ia terkejut karena dari sisi kiri tiba-tiba muncul mobil Fortuner hitam yang hampir saja menabraknya. Saking lemasnya, Shandy bahkan hanya bisa terduduk di depan mobil itu.
Si pengendarapun turun dari mobil segera. Ternyata si pengendara merupakan seorang pemuda yang nampak sedang tergesa-gesa.
"Mbak, kalo mau nyebrang liat-liat dong. Udah tahu mobil saya ngebut, masih aja nyelonong," ujar si pengendara menyalahkan Shandy.
Shandy yang tidak terima disalahkan berusaha membantah
"Saya rasa anda yang salah disini. Batas kecepatan di jalan ini hanya 40 km per jam. Dan anda menyetir dengan sangat cepat. Dan saya sudah sangat berhati-hati tadi, namun anda tiba-tiba muncul," ujar Shandy
"Terserah anda. Sekarang, minggir dari depan mobil saya. Saya tidak punya waktu meladeni anda," ujar si pengendara kembali masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Shandy gegas berdiri dan berjalan ke arah butik sang bunda. Ia butuh air es untuk mendinginkan kepalanya.