I Love You, Pak

I Love You, Pak
14.


__ADS_3

Waktu istirahat telah tiba dan seluruh siswa langsung berlarian menuju ke kantin. Perut mereka sudah berteriak meminta untuk diisi.


Begitu pula di kelas Shandy. Baru hari pertama masuk dan mereka langsung mendapat kuis Kimia mendadak yang membuat otak seisi kelas mendadak berasap.


“Ayo cepetan ke kantin. Kepalaku udah kayak kereta uap ini. Berasap terus dari tadi.” Oceh Dara yang sudah heboh dari tadi.


Monik dan Shandy hanya mengikuti langkah cepatnya menuju kantin. Dan seperti yang sudah diperkirakan, kantin sekolah mereka penuh dengan lautan manusia. Ketiganya saling berpandangan dan menghela napas berat.


“Gimana? Masih nekat mau makan di kantin? Kuat ngantri?” Tanya Shandy pada kedua temannya.


Wajah Dara yang tadinya sudah bahagia karena akhirnya bisa segera mengisi perutnya langsung berubah keruh karena melihat keadaan kantin mereka. Ini lebih buruk daripada musim ujian.


“Gak papa deh. KIta bagi tugas aja kalo gitu. Karena Dara yang paling laper, jadi Dara cari tempat duduk. Aku cari makanan dan Shandy cari minuman. Gimana?” Usul Monik yang langsung mendapat anggukan semangat oleh Dara.


Dan ketiganya langsung berpencar. Monik menuju kedai nasi campur kesukaan mereka. Sementara Shandy beranjak menuju kedai jus yang berada di ujung kantin.


Monik selesai terlebih dahulu dan segera menuju ke arah Dara yang mendapat tempat duduk di dekat tempat Shandy mengantri jus. Sepertinya antrian di kedai jus jauh lebih banyak karena hampir 15 menit dan Shandy masih belum mendapat gilirannya.


Suasana kantin yang awalnya ramai tiba-tiba menjadi hening. Mata semua orang tertuju pada seorang pria yang membuat kehebohan sejak kedatangannya pagi ini. Ya, disanalah guru baru itu. Memasuki kantin dengan gaya kerennya. Berjalan dari ujung ke ujung, seolah sedang mengamati apa yang dijual di kantin sekolah ini.


Dan tidak sengaja matanya bertemu pandang dengan Shandy yang juga tengah menatapnya. Dan katakan mata Shandy salah, tapi ia melihat pria itu memasang senyum miringnya saat melihat gadis itu sedang mengantri.


Apa maksudnya senyum kayak gitu? Mau ngejek, gerutu Shandy sambil memutus kontak mata dan kembali memandang antrian di hadapannya yang tinggal sedikit.


“Mau pesen jus apa non?” Sapa si penjual jus yang membuat Shandy sedikit terkejut.


“Jus jeruk tiga pak. Diantar ke meja di situ ya.” Ujar Shandy sambil menunjuk mejanya dan teman-temannya.


Si penjual hanya mengangguk dan memberinya sebuah nomor sebagai penanda meja bila ia memesan jus. Ketika akan menyerahkan uang untuk membayar, sudah ada tangan lain yang mendahuluinya.

__ADS_1


“Sekalian bayar punya saya ya. Uang saya 100 ribu soalnya. Kalau cuma beli 1 kayaknya kebanyakan kembaliannya.” Ujar Dirga yang entah bagaimana bisa, telah berada di sebelah Shandy. Dan entah bagaimana ceritanya sampai hanya tinggal mereka berdua yang mengantri di kedai jus itu.


Shandy hanya menatap pria itu datar. “Terima kasih atas traktirannya pak. Saya permisi.” Pamit Shandy dan langsung menyingkir dari pria itu.


“Tunggu.” Suara Dirga menahan langkahnya. “Di meja kamu masih bisa tambah 1 orang lagi? Saya sudah tidak dapat tempat duduk.”


Shandy menghela nafas pelan sebelum membalikkan tubuhnya yang berada 4 langkah di depan Dirga. Ia memasang senyum palsu semanis mungkin. “Masih bisa pak. Saya rasa, saya dan teman-teman saya berhutang budi karena telah dibelikan jus oleh bapak. Mari pak, kita menuju ke meja saya.” Dan Shandy kembali melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi.


Tolong tahan Shandy agar tidak tertawa terbahak melihat ekspresi kedua temannya saat dirinya tidak kembali sendiri. Ia bisa melihat keduanya melongo dengan tampang yang sangat bodoh. Mereka seperti baru saja melihat keajaiban dunia nomor 9 di hadapan mereka.


“Silahkan duduk pak. Kursi di samping Dara saya rasa masih kosong.” Ujar Shandy sambil duduk di samping Monik yang otomatis membuatnya duduk berhadapan dengan Dirga.


“Selamat siang. Maaf ya saya mengganggu acara makan siang kalian.” Ujar Dirga yang membuat Monik dan Dara langsung menggeleng heboh.


“G-Ganggu gimana? Sama sekali tidak.” Sahut Dara heboh lengkap dengan suaranya yang sedikit bergetar. Sepertinya ia masih tidak menyangka bila guru yang mereka gosipkan sepanjang pagi kini duduk di sebelahnya.


“Baguslah kalau begitu. Eh, kalian anak ipa ya? Lambang kalian terlihat beda warna.” Ujar Dirga sambil melihat lambang kelas di lengan kanan siswi di hadapannya.


Dirga tersenyum menatap gadis itu. “Saya mengajar ekonomi kelas 12. Kalian juga kelas 12 kan?” Monik balas mengangguk. “Iya pak. Kita bertiga kelas 12 ipa. Cuma Dara sama Shandy di ipa 1 saya di ipa 3. Anak pintar ini berdua.”


“Semua orang pintar kok. Hanya pintar di bagian yang berbeda-beda.” Sahut Dirga.


Tidak lama, pesanan makanan dan minuman mereka pun tiba. Ternyata pria itu hanya memesan segelas kopi dan tidak memesan makanan.


“Bapak gak makan? Gak laper pak?” Tanya Monik yang melihat hanya ada kopi tanpa makanan apapun di hadapan gurunya.


Dirga hanya menggeleng pelan. “Saya belum terlalu lapar. Cuma sedikit mengantuk saja.” 


Monik mengangguk. Ia kembali melanjutkan acara makannya. Jangan tanya soal Dara. Gadis itu sudah seperti orang yang tidak makan 3 hari. Ia sudah fokus pada makannya tanpa menoleh kemanapun.

__ADS_1


Shandy juga makan dengan tenang. Sesekali berbalas pesan dengan sang bunda yang memastikan perihal pukul berapa ia akan pulang.


15 menit dan ketiganya selesai dengan acara makan mereka. Masih ada 5 menit sebelum bel masuk kembali berbunyi. Dirga sendiri masih asyik menikmati kopinya sambil melihat keadaan kantin yang mulai sepi.


“Bapak habis ini masih ada jadwal kelas lagi?” Tanya Dara yang mencoba membuka pembicaraan lagi.


Dirga mengangguk singkat. “Masih ada 1 lagi.”


Dirga tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menatap Shandy tepat di matanya. “Shandy tidak suka dengan saya kah? Sepertinya sedikit keberatan saya ikut bergabung di meja ini.” Ujarnya sambil melirik nama yang terpasang di dada kanan gadis itu. Seolah ia baru saja tahu nama gadis itu.


Shandy yang ditanya begitu hanya memasang ekspresi datarnya. Ia sedikit terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu, tapi ia tidak mau pria itu apalagi teman-temannya tau ia terkejut.


“Apa maksud bapak?” Tanya Shandy balik dengan nada suara yang ia buat seramah mungkin.


“Iya. Saya merasa kamu tidak nyaman dengan keberadaan saya disini. Kedua teman kamu mengajak saya bicara dengan ramah. Sementara kamu sama sekali tidak terlibat dalam perbincangan kami.”


Shandy memejamkan matanya sejenak dan kembali menatap mata pria itu. “Saya memang begini adanya pak. Saya kurang bisa ramah dengan orang baru. Maaf kalau sifat saya ini menyinggung bapak.” Sahutnya tegas.


Dirga mengerutkan dahinya mendengar jawaban Shandy. “Kalau begitu kenapa kamu ajak saya duduk di meja kamu? Kalau kamu keberatan, harusnya langsung kamu tolak saja tadi.” Dirga masih mempertahankan nada suaranya tetap rendah.


“Kan saya sudah bilang tadi. Ini sebagai ucapan terima kasih atas jus yang bapak belikan untuk kami. Tidak ada maksud lain.”


Shandy tiba-tiba berdiri dari duduknya. “Aku duluan ya. Kepalaku tiba-tiba pusing.” Ujarnya dan langsung berjalan meninggalkan kantin.


“Maafin Shandy ya pak. Dia kalau lagi gak mood ya begitu. Kami juga permisi pak, sebentar lagi bel masuk.” Ujar Monik sambil menarik tangan Dara dan mengejar Shandy.


Dirga yang melihat ketiganya pergi hanya menghela nafasnya. “Dasar keras kepala. Lihat, bahkan makan siangnya tidak dihabiskan.” Gumam Dirga yang menatap piring di hadapannya yang masih tersisa sepertiga bagian.


Di dalam kelas, Shandy langsung membenamkan kepalanya pada lipatan tangannya di meja. Ia kesal dengan kelakuan pria itu. Kenapa sejak kedatangannya hidup Shandy terasa sangat berantakan.

__ADS_1


“Kamu gak papa? Tumben banget kamu lepas kendali kayak gitu.” Ujar Dara sambil mengusap punggung Shandy halus.


Shandy tidak menjawab. Ia hanya terus membenamkan kepalanya hingga guru mereka masuk kelas.


__ADS_2