
Setelah drama penuh air mata di mall, Shandy enggan kembali ke butik. Ia meminta Dirga untuk mengajaknya berkeliling. Ia juga malas untuk pulang. Perasaannya masih carut marut.
Ia tahu, ini cuma kekesalan sepihaknya. Ia kesal karena bunda menemui keluarga mantan kekasihnya. Ia kesal karena bunda tidak membicarakan hal sepenting itu. Ia yakin janji itu tidak dibuat mendadak hari ini mengingat bagaimana sibuknya bunda.
“Jadi, kamu mau kemana? Atau muter-muter aja?” Tanya Dirga sambil melirik Shandy sekilas. Mata gadis itu terlihat masih sedikit bengkak. Dan jangan lupakan hidungnya yang juga masih merah.
“Terserah mau kemana aja. Lagi gak ada tujuan kok,” sahut Shandy lirih. Matanya masih tertuju pada jalanan di depan mereka.
Dirga mengangguk pelan. Lagi, ia mendengar ponsel Shandy berbunyi. Tapi gadis itu sepertinya masih enggan untuk meraih ponselnya di dalam tas.
“Gak mau diangkat itu panggilannya? Nanti khawatir lho.”
Shandy menghembuskan nafas keras sebelum meraih ponselnya di dalam tas. Ia akhirnya menjawab panggilan yang entah ke berapa kalinya itu.
“Sayang kamu dimana sih? Bunda telepon dari tadi kok gak diangkat? Kata bi Ijah kamu juga belum sampai rumah. Tadi kamu ke butik? Mbak Dewi bilang kamu langsung pergi begitu dengar bunda keluar makan siang. Ini kamu dimana sih? Sama siapa?”
Kalimat demi kalimat bernada khawatir langsung disemburkan oleh bunda. Shandy bahkan belum mengatakan satu patah kata pun. Ia hanya mendengarkan bunda saja.
Alih-alih menjawab telepon itu, ia justru menyerahkan ponselnya ke arah Dirga yang dibalas tatapan bingung oleh pria itu.
Apa?Pria itu bertanya dengan suara lirihnya. Shandy hanya diam dan masih belum menarik tangannya. Dirga menepikan mobilnya dan meraih ponsel itu. Ditempelkannya ke telinganya dan mulai berbicara.
“Selamat sore tante. Ini Dirga.”
“Lho Dirga? Shandy sama kamu?” Tanya bunda yang terkejut karena justru Dirga yang mengangkat panggilannya.
“Tadi gak sengaja ketemu di mall tante. Ini mau ngajakin Shandy jalan. Mumpung masih sore. Maaf ya tante gak ngabarin dulu.”
Terdengar helaan nafas lega di seberang telepon. “Iya Dirga. Tante lega karena Shandy sama kamu. Tolong jaga Shandy ya. Maaf sudah merepotkan.”
Dirga tersenyum kecil. “Sama sekali gak tante. Dirga juga lagi santai kok. Kalau begitu teleponnya Dirga tutup ya.” Dan panggilan itu pun terputus.
Dirga mengembalikan ponsel Shandy tanpa mengatakan apapun. Ia kembali menjalankan mobilnya menembus kemacetan kota.
Mobil terus berjalan tidak tentu arah. Hingga Shandy merasa mereka sedang tur kota Jakarta. Ia tidak mempermasalahkan itu. Dirinya menyukai keheningan ini. Hanya suara pendingin mobil dan penyiar radio yang sangat bersemangat.
__ADS_1
Mobil mulai memelan dan memasuki area perumahan. Perumahan mewah di daerah Jakarta Selatan. Perumahan yang terkenal dengan harganya yang fantastis dan penghuninya yang juga tak kalah luar biasa. Mulai dari selebriti hingga pejabat tinggi negara tinggal di perumahan itu.
Mobil terus berjalan hingga tiba di depan sebuah rumah bertingkat dengan pagar hitam yang menjulang tinggi. Rumah itu salah satu yang paling megah dibandingkan rumah lainnya.
Pagar rumah otomatis terbuka ketika Dirga menekan salah satu tombol di ponselnya. Sepertinya tersambung langsung dengan pagar rumah itu.
Shandy sepertinya tidak perlu bertanya lagi ini rumah siapa. Dan benar saja. Begitu mobil memasuki halaman, terlihat tante Diah yang sedang asyik minum teh dan membaca majalah di teras depan.
Wajahnya terlihat sangat terkejut ketika melihat Shandy dan Dirga turun dari mobil. Lebih terkejut lagi karena melihat penampilan Shandy yang masih mengenakan seragam. Begitu berhadapan langsung, ia juga melihat mata Shandy sedikit bengkak seperti habis menangis.
“Hai sayang. Ayo masuk dulu, kita ngobrol di dalam.” Tante Diah merangkul bahu Shandy dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Keadaan dalam rumah Dirga tidak kalah megah dari bagian luarnya. Jika bagian luarnya terdapat pagar hitam besar nan kokoh, maka dalamnya didominasi oleh warna putih dan gold. Satu set sofa berwarna putih yang berada di tengah ruang tamu. Belum lagi lampu gantung kristal yang terlihat menonjol di ruangan itu.
Di sebelah kiri sofa terdapat buffet yang berisi banyak album foto berbagai warna. Sementara tepat di dinding depan sofa terdapat foto ukuran raksasa yang berisi potret Dirga bersama ayah, bunda dan kakaknya yang belum pernah Shandy temui.
Tante Diah mengajak Shandy duduk di salah satu sofa panjang dan meminta makanan manis kepada asisten rumah tangga mereka. Dirga sendiri memilih duduk di sofa single di depan mereka.
“Jadi, mau cerita ke tante ada apa ini? Kenapa Shandy masih pakai seragam sekolah dan mata kamu bengkak? Kamu bertengkar dengan Dirga?”
Dirga melotot ke arah sang bunda. Kenapa jadi dia yang disalahkan? Padahal dirinyalah yang menolong gadis itu.
Tante Diah mengangguk pelan. Beliau kembali merangkul pundak Shandy dan mengelusnya pelan. Dirga sendiri hanya melihat interaksi mereka dalam diam.
“Oh iya, tadi kalian ketemu dimana? Atau memang pulang bareng?” Tanya tante Diah sambil menatap Dirga.
Dirga melirik Shandy sejenak, seolah bertanya bolehkah ia menceritakan pada sang bunda yang dijawab anggukan kecil oleh Shandy. “Gak bun. Tadi pulang sekolah aku jalan sama temenku ke mall. Terus kami pisah karena dia ada keperluan lain. Dan begitu Dirga mau pulang ketemu Shandy.” Ia rasa ibunya hanya perlu tahu sebatas itu saja. Ia khawatir beliau berpikir yang tidak-tidak bila ia bertemu dengan Shandy yang kacau dan sibuk menangis di tengah mall yang ramai pengunjung.
Tante Diah mengangguk paham. Saat itu, asisten rumah tangga mereka membawakan semangkuk puding coklat dengan topping cherry yang terlihat sangat menggoda mata.
“Ayo Shandy, dimakan ya. Itu buatan tante sendiri lho. Mungkin rasanya tidak semanis yang kesukaan kamu karena Dirga kurang suka manis. Lebih enak dimakan sekalian sama cherrynya.”
Shandy tersenyum dan meraih mangkuk kecil itu. Ia segera menyendokkan puding beserta potongan cherry ke mulutnya. Benar kata tante Diah. Ini tidak semanis yang biasa dibuat bi Ijah atau bundanya. Tapi rasa cherry yang legit membuat puding itu terasa sangat legit. Tidak manis tapi tetap menyenangkan.
“Gimana? Enak? Semoga suka ya.”
__ADS_1
Shandy mengangguk pelan dan tersenyum menatap tante Diah. “Ini enak. Rasanya pas. Tidak terlalu manis tapi tetap menyenangkan di lidah.”
Tante Diah tersenyum lebar. “Syukur deh kalau Shandy suka.”
Tante Diah kembali menatap DIrga. “Jadi, tadi mau kemana sebenarnya? Bunda gak yakin kalau tujuan awal kalian ke rumah ini.”
Dirga tersenyum lebar. “Tadi cuma muter-muter aja bun, gak ada tujuan. Tiba-tiba udah sampai dekat rumah aja. Yaudah Dirga belok.”
“Udah pamitan sama tante Liliana belum? Nanti kamu dikira nyulik anaknya lagi,” sahut tante Diah sambil menatap Dirga curiga.
“Udah dong. Tadi Dirga sendiri yang bicara sama tante Liliana dan bilang kalo Shandy sama aku.”
“Berarti bundanya Shandy belum tahu kalau kalian kesini? Biar bunda telepon deh sekalian ajak makan malam sama-sama,” ujarnya sambil meraih ponsel yang berada di meja tamu.
Belum sempat mencari nomor di ponselnya, tante Diah kembali menatap Shandy. “Eh, tapi Shandy mau kan makan malam disini?” Tanya tante Diah sambil menatap Shandy penuh harap.
“Shandy ikut apa kata bunda aja.” Dan senyum cerah langsung terpatri di wajah tante Diah.
“Yaudah, tante telepon bunda kamu dulu. Dan Dirga, ajak Shandy ke kamar tamu yang di sebelah kamar kamu ya. Yang di lantai 1 masih belum dibersihkan soalnya.”
Dirga mengangguk dan segera beranjak dari kursinya. “Ayo,” ajaknya pada Shandy yang membuat gadis itu turut berdiri dan mengikuti langkah Dirga menuju lantai 2 rumah mewah itu.
Mereka memasuki sebuah kamar yang merupakan kamar tamu utama.Kamarnya sangat luas namun sederhana. Tidak banyak ornamen dan warna yang diambil pun mayoritas putih.
“Kamu bisa istirahat dulu sampai jam makan malam. Kamarku tepat berada di sebelah kamar ini. Kalau ada apa-apa, panggil aja. Aku tinggal ya.”
Dirga sudah akan pergi ketika ia merasa kemeja bagian belakangnya ditarik halus. Ia segera menoleh dan Shandy menunduk sambil menggenggam kemejanya.
“Ada apa? Ada yang kamu butuhkan?”
Shandy menggeleng lemah. “Terima kasih untuk gak bilang semuanya. Dan makasih mau ngajak aku kesini.”
Dirga tersenyum kecil mendengar cicitan Shandy. “Kalau mau terima kasih yang benar, diangkat dong kepalanya. Gak sopan banget kayak gitu.”
Shandy langsung mengangkat kepalanya dan sebuah kecupan didapatkan di pucuk kepalanya. “Sama-sama Shandy. Senang rasanya aku yang menemukan kamu tadi. Aku gak bisa membayangkan kalau orang lain yang menemukan kamu.”
__ADS_1
Shandy membelalakan matanya dengan aksi spontan Dirga. Tapi entah kenapa ia enggan melepaskannya. Ia menikmati bagaimana pria itu mengecup kepalanya lembut, bagaimana kini tangan itu merangkul pinggangnya dan aroma parfum yang menguar kuat dari jarak sedekat itu.
“Istirahat ya. Aku tinggal dulu.” Dan Dirga keluar dari kamar itu meninggalkan Shandy dengan wajah memerahnya dan jantung yang bertalu kencang.