I Love You, Pak

I Love You, Pak
26.


__ADS_3

Shandy merasa tubuhnya diguncang keras hingga membuatnya terbangun secara paksa. Begitu ia membuka mata, dilihatnya wajah jenaka Dara dan Monik yang sepettinya menahan tawa menatap dirinya.


“Kenapa kalian ketawa?” Tanya Shandy sambil berusaha duduk.


Tawa Monik dan Dara pecah seketika hingga mereka mendengar suara teguran dari penjaga perpustakaan yang membuat keduanya membungkam mulut mereka. Tapi tawa masih terdengar dari bibir keduanya.


“Kalian kenapa sih? Apanya yang lucu?” Tanya Shandy lagi. Ia segera meraih ponselnya dan membuka aplikasi kamera. Ia memastikan bila wajahnya tidak ada sesuatu yang aneh.


Dan benar saja. Tidak ada yang aneh dari wajahnya. Semuanya normal. Tapi kenapa kedua sahabatnya tertawa seheboh itu?


“Maaf ya kita ketawa heboh banget. Abisnya kamu lucu banget sih ternyata kalau tidur. Manggil-manggil bunda begitu. Kayak anak kecil tahu,” ujar Dara yang mulai bisa menguasai dirinya walaupun tawa kecil kadang masih terdengar dari bibirnya.


Monik mengangguk heboh. “Baru kali ini lho lihat Shandy seimut ini. Tapi kamu kok bisa sih sampe ketiduran di perpustakaan? Kamu melewatkan kelas bahasa Indonesia sama kesenian lho. Untung aja tadi pak Dirga ke kelas buat ngijinin kamu.”


Shandy menatap Monik bingung. “Pak Dirga ngijinin aku? Beliau ngomong apa?”


Dara mengangguk.”Iya. Beliau bilang kalau kamu kurang sehat. Tapi begitu aku keluar kelas, beliau bilang kalau kamu ketiduran di perpustakaan. Katanya beliau gak sengaja lihat kamu waktu mau cari buku.”


Pintar juga Dirga mengarang cerita, batin Shandy. “Iya, tadi ceritanya mau cari buku bacaan. Eh malah ketiduran deh.”


“Yaudah, yuk pulang. Sekolah sudah mulai sepi dan sebentar lagi perpustakaan juga mau tutup.”


Shandy segera bangkit dari duduknya hingga ia menyadari bila dirinya berselimut jaket seseorang. 


“Jaket siapa itu? Kok bukan jaket kamu yang biasa?” Tanya Dara yang heran melihat jaket hitam yang berada di pangkuan Shandy.


Dari aromanya saja Shandy langsung tahu bila itu milik Dirga. Tapi jelas ia tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Ia akan dikira penguntit bila hafal aroma parfum Dirga.

__ADS_1


Shandy menggeleng lemah. “Gak tahu juga. Mungkin punya salah satu siswa yang kasihan lihat aku ketiduran. Besok deh kita cari. Pasti akan ada yang minta jaketnya balik.”


“Atau juga gak. Siapa tahu dia penggemar rahasia kamu? Jadi memang segala ninggalin jaketnya buat kamu,” goda Monik yang disambut tawa heboh oleh Dara.


Shandy memutar bola matanya malas. “Apaan sih kalian. Eh, aku sama Dara ya. Ayah sama bunda gak bisa jemput hari ini. Nanti anter aja aku ke butik bunda.”


Dara mengangguk. Mereka berpisah dengan Monik di parkiran. Dara dan Shandy masuk ke dalam mobil Dara sementara Monik mengendarai mobilnya sendiri.


“Kamu serius gak tahu siapa pemilik jaket itu? Itu jaket mahal lho. Kayaknya gak sembarang siswa bisa punya jaket kayak gitu. Apa mungkin itu punya Dion?” Tanya Dara yang masih penasaran dengan jaket yang dibawa Shandy.


Shandy tersenyum kecil. “Kan aku udah bilang tadi. Yang punya pasti akan nyariin aku buat ambil jaketnya lagi. Dan bukan. Ini bukan punya Dion. Sad to know kalau aku masih hafal bau parfum Dion.”


Dara tersenyum menatap sahabatnya. “Don’t worry. Cinta pertama memang susah hilangnya. Kalau kamu udah menemukan yang lebih baik dari Dion, kamu pasti akan melupakan dia secepat cahaya. Orang kayak Dion itu udah gak perlu diingat-ingat lagi.”


Shandy tersenyum kecil mendengar jawaban Dara. “Ya, memang harus dilupakan dan buka lembaran baru.”


Setibanya di butik, ia melihat mbak Dewi tengah menata baju yang akan jadi koleksi terbaru bunda untuk musim ini. Ia juga mendengar bunda akan turut berpartisipasi dalam Jakarta Fashion Week tidak lama lagi.


“Lho Shandy? Sama siapa kesini?” Tanya mbak Dewi yang terkejut dengan kedatangan Shandy yang tiba-tiba di butik.


Shandy memasang senyum tanpa dosa. “Sama Dara mbak. Bunda ada?” Tanya Shandy sambil celingukan mencari sang bunda.


Mbak Dewi menggeleng. “Ibu lagi ada janji makan siang sama salah satu klien. Ingat gak yang waktu itu kesini mau bikin gaun pengantin? Keluarganya ngajak ibu buat makan siang sama-sama. Katanya kenalan lama ibu ya?” Oceh mbak Dewi yang tidak memperhatikan raut muka Shandy yang berubah keruh.


“Makan siang dimana mbak? Bunda cerita gak?” 


Mbak Dewi terlihat berpikir sejenak. “Katanya sih di Sushi Tei yang di Gandaria City. Ibu soalnya mau sekalian cuci mata katanya.”

__ADS_1


Tanpa berpamitan pada mbak Dewi, Shandy bergegas keluar dari butik dan memanggil taksi online. Ia ingin segera bertemu dengan bunda dan membawanya pulang.


Ia tahu, bunda sudah dewasa. Bunda pasti tahu apa yang harus dilakukan. Tapi entah kenapa perasaan Shandy tidak enak. Ia tidak mau bunda dekat dengan seseorang yang jelas-jelas adalah mantan kekasihnya. Walaupun ia percaya, bunda tidak akan mengkhianati dirinya dan ayah.


Perjalanan tidak berjalan mulus. Kemacetan yang menjadi hal umum di Jakarta membuat Shandy semakin jengah dibuatnya. Apalagi bunda sama sekali tidak menjawab teleponnya. Ia sudah berusaha mengirim pesan dan menelepon, tapi tak satupun mendapat balasan.


Akhirnya setelah perjalanan penuh emosi, Shandy tiba di tempat tujuan. Ia bergegas menuju tempat makan yang didatangi oleh bunda. 


Begitu ia tiba di tempat itu, kepalanya celingukan mencari sang bunda. Tapi ia masih tidak bisa menemukan bundanya. Ia mencoba menelepon bundanya dan kali ini panggilannya dijawab.


“Bunda dimana?” Tanya Shandy cepat. Bunda bahkan belum mengucapkan apapun.


“Bunda? Bunda lagi di perjalanan balik ke butik. Tadi abis makan siang sama klien. Ada apa?”


Kaki Shandy lemas hingga ia terduduk di depan restoran sushi itu. Beberapa orang pelayan restoran segera mendatanginya dan menanyakan keadaannya. Tapi ia memilih mengabaikan mereka.


“Sayang, kamu kenapa? Kamu dimana sih kok rame?”


Tak ada jawaban dari Shandy. Ia memilih memutus sambungan telepon dan berjalan menjauhi restoran sushi itu. Beberapa masih menanyakan keadaannya, memastikan bila ia baik-baik saja walaupun kembali diabaikannya.


Ia berjalan pelan menuju pintu keluar. Beberapa kali ia menabrak orang yang berpapasan dengannya karena matanya yang tidak fokus.


Ia merasa matanya panas dan kepalanya pusing. Belum lagi dadanya yang sesak karena emosi yang berkecamuk. 


Ia hampir menabrak orang lagi ketika tubuhnya ditarik oleh seseorang dan dipeluk pelan. Begitu mencium aroma parfum yang sangat dikenalnya, tiba-tiba saja air matanya tumpah.


Ia menangis sesenggukan sambil memeluk orang dihadapannya dengan sangat erat. Ia meremat punggu jaket orang itu dengan sangat kuat dan bergetar.

__ADS_1


“Dirga, tolong. Rasanya sesak banget,” cicit Shandy dengan suaranya yang bergetar dan ia merasa pelukannya di tubuhnya semakin erat.


__ADS_2