I Love You, Pak

I Love You, Pak
10.


__ADS_3

Disapa oleh seorang wanita cantik yang sangat modis dan keren membuat Shandy dan Dirga seketika menoleh serempak menatap wanita itu. Wanita itu masih memasang senyum ramah di wajahnya.


    “Ya itu saya. Anda siapa?” Tanya Dirga pada wanita itu.


    Senyum di wajah wanita itu semakin lebar menyadari yang disapanya merupakan orang yang benar. “Aku Alea. Alea Harmanto, temen sma kamu. Kamu lupa ya? Kita dulu kan satu kelas juga.” Seru wanita itu ceria.


    Dirga mengerutkan dahinya. Ia berusaha mengingat siapa wanita di hadapannya ini. Setelah berusaha mengingat, akhirnya otaknya bisa diajak kerja sama. “Alea? Alea yang mantannya Bagas itu? yang kapten cheerleaders itu?” Tanya Dirga sambil berusaha mengingat.


    “Yang diingat selalu soal pacarnya Bagas. Tapi iya, Alea yang itu.” 


    “Ya ampun, tambah cantik aja kamu. Eh, ayo duduk.” Ajak Dirga pada Alea dan wanita itu langsung duduk di sebelah Dirga.


    “Kamu kemana aja sih? Lulus sma langsung terbang ke Amerika abis itu udah gak ada kabar sama sekali. Reuni juga gak pernah datang. Untung aja tadi aku lihat kamu disini.” Cerocos Alea panjang.


    “Kamu tu masih aja cerewet kayak dulu. Aku baru balik ke Jakarta minggu lalu. Abis kuliah juga stay di Amerika. Jadi ya gitu deh.” Jelas Dirga.


    “Eh ngomong-ngomong siapa ini? Jangan bilang pacar kamu?” Tanya Alea sambil menatap Shandy yang asyik dengan makanannya. Ia terlihat tidak begitu peduli dengan reuni dadakan di hadapannya itu.


    Dirga mengikuti arah pandangan Alea. “Namanya Shandy, anaknya teman mamaku. Kami lagi nyari kado buat papaku. Kebetulan ini tadi lagi makan siang.” Ujar Dirga singkat.


    Alea mengulurkan tangan kanannya. “Kenalin, Alea. Teman sma sekaligus cinta pertama Dirga.” Shandy mengangkat sebelah alisnya mendengar kalimat perkenalan Alea. 


    Shandy menyambut tangan itu dan menggenggamnya. “Shandy.” Sahut Shandy singkat.


    “Shandy kuliah dimana? Kayaknya lebih muda dari Dirga ya?” Tanya Shandy lagi.


    “Dia masih sma. Masih bayi.” Dirga lah yang menjawab sebelum Shandy sempat menjawab. Shandy hanya melirik malas dan kembali melanjutkan acara makannya.


    “Eh, masih sma? Pantesan masih kelihatan muda banget.” 


    “Kamu tadi kesini sama siapa? Gak mungkin kan sendiri, Sekelas Alea gak mungkin lah jalan sendiri.” Tanya Dirga sarkas dan dibalas pukulan manja Alea di lengannya.


    “Dirga kok ngomongnya gitu sih? Emang kenapa kalau aku jalan sendiri? Mau nemenin?” Rajuk Alea manja.


    Dirga hanya meliriknya sekilas. “Ya kalau mau ayo sih.” 

__ADS_1


    Senyum ceria langsung terbit di wajah Alea. Jangan lupa matanya yang berbinar mendengar jawaban Dirga. “Serius? Sayang banget hari ini aku lagi jalan sama temen. Tapi aku minta nomor ponsel kamu deh. Harus ditagih ini janjinya.” 


    Keduanya pun bertukar nomor ponsel dan kembali asyik bercerita. Shandy sejujurnya tidak peduli mereka mau bicara sampai kapan, tapi dirinya mulai bosan hanya menjadi pendengar tidak berguna.


    Shandy sudah akan menyela pembicaraan mereka ketika ponsel Alea berdering kencang. Segera diterimanya panggilan itu dan ia terlihat berbincang sebentar dengan seseorang di seberang telepon.


    “Maaf ya Dirga, aku harus pergi duluan. Temenku udah selesai dari salon.” Ujar Alea setelah ia mematikan panggilan telepon itu.


    “Iya santai aja.” Sahut Dirga singkat.


    “Jangan lupa janji kamu ya. Dan Shandy, aku permisi dulu ya.” Shandy hanya tersenyum kecil sementara Dirga justru hanya melirik malas.


    “Cinta pertama. Berarti pacar pertama juga?” Tanya Shandy tiba-tiba ketika Alea hilang dari pandangannya.


    Dirga mengangkat pandangan dari makanannya dan menatap Shandy. “ Kamu ngomong sama aku?”    


    Shandy memutar bola matanya malas. “Gak. Sama hantu. Ya iyalah sama kamu. Emang ada orang lain di meja ini selain kita?” Sahutnya ketus.


    Dirga mengangkat bahu acuh. “Ya siapa tau aja ngomong sendiri. Dan apa tadi pertanyaan kamu?”


    Dirga menatap Shandy sejenak kemudian menggelengkan kepalanya. “Gak, gak pernah pacaran sama Alea. Alea tau aku suka dia juga ketika kelulusan sma. Jadi, ya gitu. Cuma temen aja.” Shandy mengangguk paham.


    Keduanya tidak terlibat pembicaraan lagi hingga makanan mereka selesai. Entahlah, mereka hanya merasa tidak ingin berbincang lagi. Selain karena suasana tiba-tiba menjadi aneh setelah kedatangan Alea.


    “Abis ini mau kemana lagi? Masih mau cari yang lain atau pulang aja?” Tanya Shandy begitu makanan di hadapan mereka telah selesai disantap.


    Dirga melirik jam yang tertera di ponselnya. Waktu menunjukkan hampir pukul 3 sore. “Aku udah gak ada yang mau dibeli. Kamu?” Tanyanya balik.


    Shandy terlihat berpikir sejenak. “Mampir ke toko kue sebentar bisa? Pengen beli kue.” Dirga mengangguk menyetujui.


    Keduanya segera beranjak dan menuju lantai dasar mall. Terdapat sebuah toko kue yang cukup terkenal di mall tersebut.


    Keduanya segera masuk dan berjalan ke arah etalase toko yang memajang banyak kue yang membuat siapapun yang melihatnya tergiur untuk membeli. Bentuknya yang lucu dan warnanya yang menarik membuat para wanita terutama gadis remaja sangat menyukainya.


    Setelah berkeliling sejenak, Shandy akhirnya memilih red velvet dan cheese cake. Kalau kalian tanya dimana Dirga, pria itu memilih duduk di salah satu kursi yang disediakan bagi pengunjung yang akan makan di tempat. Pria itu terlihat asyik bermain dengan ponselnya.

__ADS_1


    Selesai dengan pembayaran kue nya, Shandy segera menuju ke arah Dirga. “Ayo pulang.” Ujarnya singkat sembari berjalan meninggalkan toko kue itu.


    Dirga mengangkat kepalanya dan segera mengikuti arah langkah Shandy. Keduanya segera menuju ke parkiran dan bersiap untuk pulang


Setibanya mereka di rumah Shandy, gadis itu sudah akan turun dari mobil ketika Dirga bersuara. “Makasih ya buat hari ini. Maaf juga bunda aku maksa kamu buat ikut.”


    Shandy meliriknya sekilas. “Gak masalah.” Ujarnya singkat.


    Dirga terlihat tidak puas dengan jawaban Shandy. Sebenarnya ia sudah merasa gadis itu bersikap sedikit aneh semenjak kedatangan Alea. Tapi ia tidak mau mengambil kesimpulan sepihak.


    “Kamu marah?” Tanya Dirga langsung dan benar saja. Ia bisa menangkap keterkejutan di mata gadis itu.


    Shandy berdehem sejenak sebelum menjawab pertanyaan Dirga. “Gak, siapa yang marah? Dan buat apa aku marah?” Sahut Shandy berusaha mengontrol nada suaranya.


    Dirga menatapnya dalam diam. “Baiklah kalau begitu. Sekali lagu terima kasih.”


    Shandy hanya mengangguk singkat sebelum benar-benar turun dari mobil dan berjalan ke arah rumahnya.


    Setibanya ia di dalam rumah, bunda langsung menyambutnya dengan senyum lebar. “Gimana tadi? Jadi beli apa?” Tanya bunda antusias.


    “Bunda kok udah di rumah? kan baru jam 4?” Tanya Shandy yang bingung melihat sang bunda yang sudah berada di rumah.


“Bunda pengen pulang cepet aja. Gimana pertanyaan bunda tadi? Kalian jadi beli apa?”


“Beli jas sama dasi bun. Oh ya, ini tadi Shandy beli red velvet sama cheese cake di toko langganan kita.” Ujar Shandy sambil menyerahkan bungkusan berisi cake tersebut.


    Bunda segera menerimanya. “Sayang, cerita dulu dong kalian ngapain. Bunda penasaran ini.” Desak bunda yang masih belum menyerah.


    Shandy menghela nafas lelah. “Bunda, Shandy capek. Shandy istirahat dulu ya. Nanti malam aja ya Shandy cerita.” Ujar Shandy sambil meninggalkan sang bunda dan berjalan ke arah kamarnya.


    Setibanya ia di kamar, segera dilemparnya tas yang ia bawa ke kursi yang ada di kamar. Ia juga segera melempar tubuhnya ke kasur dan menenggelamkan wajahnya ke bantal.


Ia lelah, sangat lelah. Tapi dirinya sendiri juga tidak tau kenapa. Ia hanya lelah.


   

__ADS_1


__ADS_2