
Harapan tinggallah harapan. Nyatanya ketika perjalanan ke kantin, Shandy bisa merasakan bila semua mata menatapnya. Bahkan ada yang terang-terangan menunjuknya dan berbicara sangat keras. Mereka menatapnya dari atas ke bawah bolak-balik seolah menilai dirinya.
Ia tidak peduli, sungguh. Ia memang tidak ingin terlibat gossip murahan hingga kelulusan beberapa bulan lagi. Tapi kalau sudah seperti ini, sejujurnya ia sudah ditahap tidak peduli dengan apa kata orang.Ia hanya perlu segera lulus dan semua masalah akan selesai dengan sendirinya.
Tapi sepertinya tidak dengan kedua sahabatnya. Mereka terlihat menahan diri untuk tidak melabrak segerombol gadis di pojok kantin yang terang-terangan menatap Shandy sejak gadis itu masuk ke kantin.
“Kalau berantem sekarang, kira-kira masuk BK gak ya? Rasa pengen jambak rambut orang lagi tinggi nih,” gumam Dara yang sepertinya batas kesabarannya sudah hampir habis.
“Ikutan dong kalau mau jambak. Pengen asah kuku juga nih,” sahut Monik tak kalah sadisnya.
Shandy tersenyum geli mendengar kedua sahabatnya. “Terus nanti begitu di ruang BK kalian ditanya apa masalahnya, mau jawab apa?” Tanya Shandy.
Dara melirik sinis. “Bilang aja olahraga pelampiasan diri. Kan jam olahraga kita masih besok lusa. Nah ini pemanasan dulu.” Tawa meledak dari bibir Monik dan Shandy.
“Wah, jadi ini dia yang sok akrab sama pak Dirga dan minta bareng? Gak cantik juga. Masih cantikan Hana gak sih?”
Sebuah suara bernada menyindir menghentikan tawa mereka seketika. Ketiganya serempak membalik badan mereka dan disitulah para gadis tadi. Hana dan para dayangnya.
“Kalian ada masalah apa sama kita? Kalau gak suka ngomong langsung say, gak usah main sindir begitu,” sahut Dara sinis.
“Iya nih Dar. Mainnya kok saling sindir. Kalau mau, ayo ngomong langsung,” tambah Monik.
Salah satu teman Hana tampaknya tidak terima dengan sindiran Dara dan Monik. “Eh, kalian gak gitu juga ngomongnya. Emang kita nyindir siapa? Kalian ada yang merasa?” Balas mereka sambil tertawa genit.
Dara langsung berdiri dan menunjuk mereka. “Kan kalian sendiri yang nyindir Shandy karena bareng sama pak Dirga. Dan aku gak terima kalian nyindir temanku!” Bentak Dara.
Hana tersenyum sinis sambil menatap Dara. “Jadi kamu emang mengakui ya kalau teman kamu itu minta bareng sama pak Dirga? Bagus deh kalau begitu. Berarti kan bukan fitnah.”
Dara baru akan menjawab lagi ketika sebuah suara menyela mereka. “Bukan Shandy yang minta bareng. Tapi saya yang ajak dia.”
__ADS_1
Mereka semua serempak menoleh dan Dirga berdiri tegak disana bersama Alea disebelahnya. Wanita itu tersenyum melihat Shandy dan teman-temannya.
“Wah, ada apa ini kok pada emosi siang-siang? Udah pada makan belum? Mau miss Alea belikan?” Tanya Alea mencoba mencairkan suasana, walaupun sepertinya gagal.
Hana dan para temannya terlihat bingung dengan situasi yang ada. Mereka masih kesal karena Shandy bisa berangkat dengan Dirga. Tapi disisi lain, mereka juga malu karena Dirga sendiri yang mengatakan bila dirinyalah yang mengajak Shandy.
Dirga tersenyum simpul menatap Hana dan teman-temannya. “Kalau kalian juga mau berangkat sama saya, bilang saja. Saya akan dengan senang hati mengajak kalian.”
Hana dan teman-temannya tersenyum lebar. “Terima kasih banyak pak. Dan maaf sudah salah paham tadi.”
Dirga menggeleng pelan. “Bukan pada saya kalian harus minta maaf.” Ia melirik Shandy yang tampaknya sama sekali tidak tertarik dengan masalah di hadapannya.
“Kalian harus minta maaf pada Shandy dan teman-temannya. Dan Dara, kamu juga minta maaf ya sama Hana. Kalian sama-sama salah disini.”
Hana melirik Dara dan Monik malas. “Maaf ya,” gumamnya pelan.
Alea tersenyum lebar. “Nah, begitu dong. Kalau begitu kan jadi lebih enak dilihat. Jadi gimana nih? Mau ditraktir gak?”
Mereka semua mengangguk semangat. Semua, kecuali Shandy.
“Saya gak dulu miss. Saya mau ke perpustakaan dulu miss. Permisi semua.” Pamit Shandy. Tanpa menunggu balasan siapapun, ia langsung berjalan menjauhi kantin.
Monik dan Dara saling berpandangan. “Kita ada tugas apa sih kok Shandy sampai harus ke perpustakaan? Perasaan tugas esai juga sudah selesai,” tanya Monik. Dara mengangkat bahunya acuh. Ia melanjutkan makan siangnya yang tertunda karena acara pertengkaran tadi.
Sesampainya di perpustakaan sekolah, Shandy memilih duduk di sofa paling pojok dan terlindung dari pandangan siapapun. Ia tidak ada tujuan apapun ke perpustakaan ini. Ia hanya menghindari Dirga, itu saja.
Tiba-tiba saja ponsel yang ia letakkan di meja bergetar pertanda ada pesan masuk. Langsung dibukanya dan ternyata dari Dirga. Ia tidak membalas pesan itu, hanya membacanya dan langsung keluar dari aplikasi pengirim pesan itu.
Shandy sudah akan memejamkan matanya ketika ponselnya kembali bergetar. Kali ini pesannya membuat ia mengedarkan pandangan mencari eksistensi seseorang.
__ADS_1
“Cari siapa? Aku dari tadi di sebelah kamu kok.”
Shandy menolehkan kepalanya ke kanan dan disanalah Dirga, dengan senyum sok akrabnya.
Shandy membuang pandangan dan kembali bersandar sambil memejamkan matanya. Ia merasa seseorang duduk di sebelahnya dan tak lama ia merasa sinar matahari mulai hilang dari pandangannya.
Ia membuka sebelah matanya dan melihat tangan seseorang menutupi pancaran sinar ke matanya. Ia melirik sekilas dan kembali menutup matanya tidak peduli.
“Gak ada ucapan terima kasih nih setelah aku tutupi begini?”
“Aku gak minta kok. Kalau gak mau, gak perlu gak papa kok. Daritadi juga gak papa," sahut Shandy datar.
Ia mendengar suara tawa kecil bergema dan membuatnya membuka mata dan melirik Dirga bingung. “Ada yang lucu?”
Pria itu masih mempertahankan senyum di wajahnya. “Kamu lucu, kayak anak kecil.”
Shandy menegakkan tubuhnya dan duduk menghadap Dirga. “Dan bagian mananya dari aku yang lucu?” Tanya Shandy sarkas.
“Bilangnya gak mau, tapi diterusin diam aja.”
Shandy mendengus kesal. “Terserah.”
Kembali, suara tawa terdengar dari Dirga. “Iya iya, begitu aja marah. Lanjut deh tidurnya.” Dan Shandy kembali memejamkan matanya.
Tak berapa lama, Dirga merasa bahunya memberat dan benar saja. Shandy benar-benar tertidur.
Dirga mengulas senyum kecil. “Sleep well, princess.” Bisiknya pelan sambil membetulkan posisi kepala Shandy.
Tanpa mereka tahu bila sejak tadi sudah ada yang mengamati dan mengambil video maupun foto mereka.
__ADS_1