I Love You, Pak

I Love You, Pak
30.


__ADS_3

“Kamu jadi belajar mengemudinya?” Tanya bunda selesai mereka makan siang. Keduanya kini tengah berada di ruang keluarga mereka. Bunda memutuskan tidak kembali ke butik dan memilih menemani Shandy.


Shandy mengangguk mantap. “Jadi dong. Kan bentar lagi udah kuliah. Repot kalo masih mengandalkan orang lain.”


“Kalau gitu, bunda hubungi tante Diah dulu. Rencana mulai kapan belajar?” Tanya bunda sambil mencari nomor tante Diah di dalam ponselnya.


“Secepatnya sih bun. Kalau udah persiapan ujian kan udah gak bisa lagi. Akhir tahun udah harus bisa sih.”


Bunda mengangguk dan menempelkan ponselnya di telinga. “Sore jeng. Maaf nih ganggu sore-sore. Dirga lagi di rumah gak? Saya mau bicara.”


Setelahnya terjadi pembicaraan antara bunda dan Dirga yang tidak terlalu didengarkan oleh Shandy. Ia asyik berkirim pesan dengan kedua temannya. Mereka berencana makan bersama akhir pekan ini.


“Oke udah beres. Dirga mulai besok siap ngajarin kamu. Nanti kamu belajarnya pakai mobil bunda aja. Kalau mobil Dirga kayaknya terlalu besar buat kamu.”


Shandy tidak menjawab. Ia hanya mengangguk asal sambil tetap menatap layar ponselnya.


“Sayang, kamu gak dengerin bunda bicara?”


“Dengerin kok bun,” sahut Shandy sambil tetap menatap ponselnya.


“Kalau dengar, ditaruh dulu dong hapenya. Hadap bunda dulu sini.”


Menyerah. Shandy akhirnya meletakkan ponselnya di meja dan menghadap sang bunda.


“Iya bunda. Shandy dengerin bunda kok,” sahutnya sambil memasang cengiran jahil.

__ADS_1


Bunda mencubit hidung putri cantiknya itu. “Dasar anak nakal. Jadi, mulai besok belajar sama Dirga ya. Sebelum malam harus sudah pulang,” pesan bunda.


Shandy bergaya hormat pada bunda. “Siap bunda sayang. Shandy janji akan pulang sebelum malam.” Dan mereka tertawa bersama.


Keesokan harinya, sesuai janji Dirga mulai mengajari Shandy mengemudi. Keduanya memutuskan untuk pulang bersama agar lebih mudah.


Dan disinlah mereka. Di dalam mobil bunda. Mereka berlatih di sekitar rumah Shandy. Karena letak rumah Shandy berada di kawasan perumahan membuat lalu lintas di sekitarnya tidak terlalu ramai. Sangat cocok untuk arena belajar mengemudi.


“Sekarang dimulai dengan kamu nyalain mesin mobilnya dulu,” perintah Dirga. Shandy langsung menekan tombol start dan mesin mobil menyala.


“Sekarang, kamu gerakkan pelan-pelan kemudinya. Jaga juga kaki kamu. Jangan sampai menginjak pedal gasnya terlalu kencang.”


Shandy mengangguk mendengar arahan dari Dirga. Perlahan-lahan mobil itu mulai berjalan. Ia merasa sangat senang karena itu awal yang baik.


“Udah 1 jam. Mau istirahat dulu atau lanjut?” Tanya Dirga yang melihat wajah bahagia Shandy karena ia sudah jauh lebih mahir dari 1 jam yang lalu.


“Istirahat sebentar ya. Mulai haus,” sahut Shandy.


Dirga mengangguk mendengarnya. Merka bertukar posisi. Shandy belum bisa memarkirkan mobilnya dengan baik. Ia juga tidak mau setelah mereka belajar justru mobil bunda yang rusak.


Keduanya memutuskan kembali ke rumah Shandy. Setibanya di rumah, ternyata bi Ijah telah menyiapkan beberapa camilan dan minuman segar.


Keduanya duduk berhadapan di ruang tamu rumah Shandy. Tidak ada pembicaraan apapun diantara keduanya.


“Maaf kalau pertanyaan ini terlalu pribadi. Tapi, kamu pernah pacaran sama Alea?” Tanya Shandy.

__ADS_1


Dirga mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menatap Shandy bingung. Ia mengerutkan dahinya sambil menatap gadis itu.


“Kayaknya Alea udah pernah bilang kalau kami gak pacaran,” sahutnya tidak yakin.


“Tapi kan dia cinta pertama kamu. Kenapa dulu kalian gak pacaran?” Tanya Shandy lagi.


Dirga tersenyum kecil. “Dan atas dasar apa kamu mau tahu soal itu? Itu masa lalu. Waktu aku masih sma.” sahutnya ringan.


Shandy masih belum menerima jawaban Dirga. “Tapi kalian kelihatan sangat dekat,” cicit Shandy.


“Kalau kamu belum lupa ingatan, kami satu sekolah waktu sma dan pacar Alea waktu itu adalah sahabatku. Akan sangat aneh kalau kami justru tidak dekat.”


Shandy sudah tidak bisa menjawab lagi. Bukan itu maksudnya. Bukan itu jawaban yang aku mau, gerutunya dalam hati.


“Aku tahu bukan itu inti pertanyaan kamu. Jadi, apa yang sebenarnya mau kamu tanyakan soal kami? Tanyalah. Akan ku jawab semua.”


Mata Shandy membesar mendengar kalimat Dirga. Bagaimana bisa pria itu membaca pikirannya, batinnya terkejut.


“A-Ah bukan hal penting. Alea mengatakan sesuatu. Tapi aku sendiri sudah lupa apa yang ia katakan,” sahut Shandy berusaha mengelak.


“Ah, sudah jam segini ternyata. Aku rasa hari ini cukup sampai disini saja. Aku masih punya banyak peer. Terima kasih karena sudah mau mengajari. Dan untuk pertemuan berikutnya akan dikabari bunda,” ucap Shandy cepat dan bergegas beranjak dari ruang tamu. Hingga ia mendengar suara Dirga.


“Aku udah gak suka sama Alea kalau itu yang kamu tanyakan. Aku sedang ada perasaan dengan seseorang saat ini. Tapi aku sendiri tidak yakin apakah dia punya perasaan yang sama.”


Shandy merasa matanya memanas mendengar kalimat Dirga. Ia tidak menjawab kalimat Dirga dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya di lantai 2. Ia bahkan tidak menyapa bi Ijah yang berpapasan dengannya di dekat tangga.

__ADS_1


__ADS_2