I Love You, Pak

I Love You, Pak
22.


__ADS_3

“Bunda, Shandy besok boleh berangkat sekolah sama Dara aja gak? Gak usah sama Dirga.”


Tanya Shandy pada bunda yang sedang menonton berita di televisi. Ia juga ikut duduk di sebelah sang bunda.


“Lho ada apa sayang? Kamu ada masalah Dirga?” Tanya bunda sambil menghadapkan tubuhnya pada Shandy.


Shandy menggeleng pelan. “Gak kok bun. Gak ada masalah apa-apa. Cuma kangen aja udah lama gak berangkat sama Dara.”


Bunda memandang Shandy curiga. “Beneran gak ada apa-apa? Kamu gak lagi bohong kan sama bunda?”


“Gak kok bun, serius gak ada apa-apa.” Maaf bunda Shandy bohong, batin shandy.


Bunda tersenyum kecil. “Yaudah kalau itu mau kamu. Abis ini bunda telefon tante Diah.” Ujar bunda sambil melanjutkan acara menontonnya.


Sementara itu, Shandy meraih ponselnya yang ia letakkan di meja di depan mereka. Ia akan mengirimkan pesan pada Dara.


Shandy : Dara, besok berangkat bawa mobil sendiri apa diantar?


Pesan Shandy terkirim tapi Dara tidak langsung menjawabnya. Ia memilih membuka sosial medianya yang lain. Saat ia tengah melihat foto teman-temannya, sebuah foto menarik perhatiannya.


Itu merupakan foto yang diposting oleh seorang teman di sekolah yang terkenal sebagai biang gosip dan foto itu menampakkan seorang wanita yang tengah duduk berdua di taman sekolah mereka. Dan mereka terlihat duduk sangat dekat. Dan sepertinya foto ini baru diambil hari ini melihat seragam yang digunakan oleh siswa di sekitarnya. 


Di foto itu si pengunggah memberi tulisan “cintaku bersemi di taman sekolah. Buat yang belum tahu aja, mereka berdua merupakan guru baru di sekolah kami. Dan foto ini sudah dapat ijin buat di upload.”


Mood Shandy entah kenapa langsung memburuk melihat foto itu. Ia langsung keluar dari aplikasi foto itu dan kembali membuka aplikasi pesannya. Dara masih belum membalas pesannya.


“Bunda, Shandy balik ke kamar lagi ya. Mau lanjut belajar.” Pamit Shandy yang hanya dibalas anggukan oleh bunda.


Setibanya di kamar, Shandy tidak menuju ke meja belajar. Ia justru berbalik menuju ke arah tempat tidurnya. Ia melemparkan tubuhnya ke kasur dan membenamkan kepalanya ke bantal. Ponselnya ia letakkan di sebelah tubuhnya.


Moodnya buruk seharian ini. Mulai dari kedatangan Alea di sekolahnya, bagaimana wanita itu mengajaknya berdebat hingga acara pulang sekolah yang menguras emosi. Dan ia masih harus bertemu kedua manusia itu hingga ia lulus. 


Ia sudah kelas 12 dan sudah seharusnya ia sibuk dengan ujian akhir yang tidak lama lagi. Tapi semua masalah ini seakan meminta seluruh kapasitas otaknya. Dan ini membuat baik hati dan pikirannya berantakan.

__ADS_1


Shandy masih berkutat dengan pikirannya yang kusut seperti benang ketika ponselnya bergetar pertanda ada pesan masuk. Langsung diraihnya ponsel yang tadi ia letakkan di sebelahnya.


Segera dibukanya pesan itu dan ternyata bukan dari Dara. Sebuah nomor tidak dikenal ternyata. Segera dibukanya pesan itu dan dahinya mengerut membaca isi pesannya.


Kamu kenapa gak mau berangkat sama aku lagi? Kamu masih marah soal tadi siang? Itulah isi pesan yang membuat Shandy mencoba menerka siapa kiranya si pengirim pesan. Setelah mendapat hikmah kiranya siapa si  pengirim pesan, Shandy segera bangkit dari kasurnya dan berlari menuju ke arah bunda di ruang tv.


“Kamu kenapa sih lari-lari di dalam rumah? Kayak anak kecil aja.” Tegur bunda pada Shandy yang membuat keributan di dalam rumah dengan suara langkahnya.


Tidak memperdulikan omelan bunda, Shandy langsung duduk di samping bunda. “Bunda kasih nomer aku ke tante Diah?” Tanyanya cepat.


Bunda mengangkat alisnya bingung kemudian tertawa mengingat sesuatu.”Kenapa? Dirga udah telefon kamu?”


Shandy membelalakkan matanya. “Bener bunda yang kasih? Kenapa dikasih sih bun?” Protes Shandy setengah merengek.


“Emangnya kenapa? Kalian kan gak ada masalah jadi gak masalah dong.” Sahut bunda santai.


Shandy melipat tangannya di depan dada dan memajukan bibirnya. “Ya tapi gak dikasih sembarangan gitu juga bun.”


“Dirga telefon kamu? Ngomong apa?” Tanya bunda penasaran.


“Kok gak dibalas? Sana balas chatnya. Kasihan tuh dianggurin.”


Shandy menghembuskan nafas kasar. “Iya, ini juga baru mau dibalas.” Sahutnya sambil kembali membuka aplikasi pesannya.


Shandy menatap halaman chat nya. Ia bingung mau membalas apa pada Dirga. Jawaban yang sekiranya akan mengakhiri percakapan ini.


Akhirnya Shandy memutuskan untuk membalas gak papa, mau sama Dara. Dan ia kembali membuka halaman pesannya dengan Dara. Terlihat temannya sudah membaca pesannya tapi tidak membalasnya.


“Gimana, udah dibalas pesannya?” Tanya bunda.


Shandy mengangguk pelan, pandangannya masih tertuju pada ponselnya. Ia kembali mengirim pesan pada Dara, menanyakan kepastian gadis itu.


“Dara udah oke buat besok?”

__ADS_1


Shandy menghembuskan nafas kasar dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. “Itu dia. Shandy chat dari tadi gak dibalas. Kalo Dara gak bisa, bunda ya yang antar Shandy. Atau ayah aja?”


“Sama Dirga aja lagi. Kenapa harus bunda atau ayah?”


“Bunda ih. Pokoknya gak mau sama Dirga.” Sungut Shandy.


Bunda tersenyum dan menatap putrinya. “Benar kan apa kata bunda. Kamu berantem ya sama Dirga? Ada masalah apa?”


Shandy mengangkat kakinya ke atas sofa dan menyangga dagunya pada lutut. “Gak tahu deh bun. Males mau diomongin. Panjang pun ceritanya.” Sahut Shandy lirih.


Bunda mengelus punggung putrinya. “Ada masalah itu diomongin, bukannya saling diam begini. Kayak anak kecil aja kamu. Ngambek segala.”


“Gak tahu deh bun. Pusing aku. Mau tidur aja.” Ujar Shandy dan bangkit dari duduknya. Ia memilih kembali ke kamarnya.


“Jadi gimana? Sama bunda aja?” Teriak bunda kembali meyakinkan.


“Terserah bunda aja.” Balas Shandy dan menutup pintu kamarnya.


Terserah deh siapa yang mau antar. Kalau gak ada yang mau, naik taksi aja, gumam Shandy dalam hati. 


Pagi telah tiba dan Shandy telah siap untuk berangkat sekolah. Dara tetap tidak membalas pesannya. Pagi ini bahkan ponselnya tidak aktif sewaktu Shandy meneleponnya.


“Jadinya siapa yang antar? Atau aku naik taksi aja?” Tanya Shandy selesai meminum susunya.


“Sama bunda kok. Tapi nanti siang pulang sendiri ya. Bunda ada acara soalnya.”


Shandy mengangguk paham. Ia segera meraih tas sekolahnya dan mengikuti langkah bunda menuju ke mobil.


Setibanya di sekolah, Shandy bergegas menuju kelas dan mencari Dara. Tapi gadis itu sepertinya juga belum tiba di sekolah. Dara tengah berusaha menghubungi Dara ketika Monik menghampiri mejanya.


“Kamu kemarin pulang sama Dara gak? Hari ini udah ketemu dia?” Tanya Monik. Wajahnya terlihat panik.


Shandy menggeleng cepat. “Gak, kemarin aku pisah waktu pulang. Dan dari semalam juga ponselnya gak bisa dihubungi. Dia kemana sih?’

__ADS_1


“Nanti pulang sekolah kita ke rumahnya gimana? Aku khawatir sama Dara. Baru kali ini dia gak bisa dihubungi.”


Shandy mengangguk pelan. “Iya, nanti aku bilang bunda.”


__ADS_2