I Love You, Pak

I Love You, Pak
29.


__ADS_3

Sarapan pagi dilewati dengan suasana yang sangat canggung. Lebih buruk karena ayah tidak ikut sarapan dengan mereka. Hanya ada bunda dan Shandy. Dan sikap Shandy masih belum berubah dari semalam.


“Kamu berangkat sama siapa sayang? Mau bunda antar?”


Shandy menggeleng pelan. “Tadi udah janjian sama Dara,” sahut Shandy singkat.


Bunda mengulas senyum simpul sarat kesedihan. “Baiklah. Nanti siang bunda jemput ya. Kita makan siang sama-sama.”


Lagi-lagi, hanya anggukan yang menjadi jawaban Shandy. Dia juga lebih pendiam dari biasanya. Bahkan sarapan yang biasanya menjadi ajang curhat maupun mengobrol santai, kini terasa sangat hampa.


Shandy memutuskan menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Ia tidak tahan dengan situasi aneh dengan bunda saat ini. Dan beruntung, tidak berapa lama terdengar suara mobil Dara yang telah tiba di depan rumahnya.


“Shandy berangkat dulu. Sampai ketemu nanti siang,” pamitnya pada bunda. Ia langsung meraih tasnya dan berjalan keluar rumah tanpa menunggu jawaban bunda.


Di dalam mobil, Shandy masih mempertahankan sikap diamnya. Moodnya belum membaik dan membuatnya malas berbicara dengan siapapun. Bahkan hingga mereka tiba di halam sekolah, Shandy masih terus diam seribu bahasa.


Ia sudah akan keluar dari mobil ketika tangannya ditarik oleh Dara. “Kamu kenapa? Ada masalah? Gak mau cerita dulu? Masih ada waktu 30 menit sampai bel masuk berbunyi.”


Shandy memandang Dara ragu. “Aku belum bisa cerita ke siapapun. Dan aku mohon, jangan tanya apapun dulu. Aku masih mau menata pikiranku dulu. Aku akan cerita ke kamu ketika aku siap. Tapi untuk saat ini, aku masih mau diam dulu.”


Dara menghela nafas berat. Ia melepaskan genggamannya pada tangan Shandy. “Baiklah kalau itu mau kamu. Tapi, kamu harus janji ya. Kalau ada masalah, aku da Monik akan selalu ada buat kamu.”


Shandy tersenyum mendengarnya. “Iya, tenang saja. Aku pasti akan langsung cari kalian kalau butuh teman curhat. Ngomong-ngomong gimana perut kamu? Masih mual gak?” Tanya Shandy sambil menatap perut Dara yang masih datar.


Dara mengelus perutnya penuh kasih sayang. “Udah gak sih. Kayaknya dia tau kalo ibunya harus sekolah kalau pagi. Makanya udah gak rewel lagi.”


“Baguslah kalau begitu. Aldi udah tau masalah ini?”


Senyum sumringah langsung muncul di wajah Dara begitu ia mendengar pertanyaan Shandy. “Aku mau cerita itu sama kalian. Tapi, daripada aku cerita bolak-balik, nanti siang kita kumpul di perpustakaan aja. Aku punya berita besar buat kalian.”


“Baiklah kalau begitu. Ayo masuk kelas. Sebentar lagi udah mau bel masuk.” Dan keduanya berjalan beriringan menuju kelas mereka.


Begitu jam istirahat tiba, ketiganya langsung melesat menuju perpustakaan. Dara sudah menghubungi Monik melalui pesan singkat dan gadis itu juga tidak sabar untuk mendengar berita dari Dara.


“Jadi, berita besar apa yang akan diumumkan?” Tanya Shandy tidak sabar begitu ketiganya duduk di sofa pojok perpustakaan yang Shandy tiduri kemarin.


Dara memasang senyum lebarnya sebelum memulai cerita. “Jadi, aku udah cerita semuanya ke Aldi dan orang tua kami. Awalnya jelas, sesuai perkiraan kita semua. Kedua orang tua kami marah besar. Bahkan ayahku sampai mau gugurkan bayi ini. Tapi aku bersikeras buat mempertahankan. Aku bahkan ngancem mau keluar dari rumah kalau mereka tetap mau menggugurkan bayi ini. Dan kalian tahu apa yang diucapkan Aldi?”

__ADS_1


Serempak, Shandy dan Monik menggelengkan kepalanya. “Aldi bilang begini dong, kalau om dan tante gak mau nerima bayi Aldi, biar Adli yang menghidupi Dara dan bayinya. Aldi udah punya bisnis kecil-kecilan yang pastinya bisa menghidupi Dara dan bayinya. Bayangkan, gak melayang kalian dibuatnya?” Cerita Dara penuh semangat. Dia terlihat sangat bahagia dengan ceritanya.


“Gak ku sangka Aldi sekeren itu. Kalau dilihat selama ini kan dia kayak gak serius gitu sama kamu. Kayak pacaran cuma buat main-main aja. Eh, begitu kayak begini kelihatan deh kalau dia pria sejati,” ucap Monik yang dijawab anggukan serempak oleh yang lain,


“Iya sih. Dan akhirnya orang tua kalian gimana?”


Senyum Dara masih belum luntur. “Setelah drama itu, aku sama orang tuaku sempat saling diam beberapa hari. Aldi sih jangan ditanya. Dia jadi super protektif sekarang. Ini tadi aja sebenarnya aku gak boleh nyetir sendiri. Cuma aku bilang aku kangen nyetir. Mulai besok Aldi yang antar jemput aku. Jadi, maaf ya Shandy. Mulai besok aku gak bisa nebengin kamu lagi.”


Shandy menggeleng heboh. “Santai aja sih. Aku juga mau belajar mengemudi kok guys. Bentar lagi aku udah gak nebeng siapapun lagi,” sahut Shandy sambil memasang senyum sombong.


“Wah sombong nih. Diajarin siapa? Aku yakin bunda kamu gak mungkin lepas putri satu-satunya ini ke sembarangan orang.”


Shandy tersenyum gugup. “Ada kok kenalan bunda. Emang udah biasa ngajarin mengemudi. Hahaha,” sahutnya dengan tawa garingnya.


Alamat aku kalau sampai mereka tahu yang ngajarin Dirga. Pokoknya rahasia ini gak boleh ada yang tahu, batin Shandy. Ia panik kalau sampai ada temannya yang tahu.


“Bunda kamu banget sih kalau begitu. Protektif banget sama anaknya,” sahut Monik yang disambut tawa oleh Dara dan senyum terpaksa oleh Shandy.


“Eh ya, terus sekarang gimana? Kamu masih saling diam sama orang tua kamu?” Tanya Shandy.


Dara menggeleng santai. “Gak dong. Dan berita baik lainnya adalah aku bakalan nikah sama Adit begitu kami lulus sekolah. Kata orang tuaku, kalau aku mau kuliah, nanti aja kalau anakku sudah agak besar. Aku juga udah gak begitu peduli sih. Yang penting, bayi yang aku kandung ini bisa lahir ke dunia dengan sehat tanpa kekurangan apapun,” ujar Dara sambil mengelus perutnya. Tatapannya melembut setiap kali ia menatap perutnya.


“Oh iya, gimana sama sekolah? Kamu udah konsultasi ke orang tua kamu?” Tanya Shandy penasaran.


“Kata mereka, kalau memang aku melahirkan sebelum kelulusan, aku akan ikut ujian paket C aja. Dan kalau sekolah memaksa aku keluar begitu mereka tahu aku hamil, aku terima keputusan itu. Ini memang salahku sendiri dan aku terima semua konsekuensinya."


Dara menjawab dengan penuh keyakinan. Pandangannya juga mengatakan ia bersungguh-sungguh dengan kalimatnya. Betapa bayi yang dikandungnya itu membawa begitu banyak dampak besar pada Dara.


Shandy dan Monik tersenyum memandang Dara. “Dara udah dewasa ya sekarang. Padahal rasanya baru kemarin kita ke mall sama-sama, coba baju, cari pacar sama-sama, eh sekarang Dara udah mau jadi ibu,” ujar Monik sambil masih tersenyum menatap Shandy.


“Tapi lucu mungkin ya kalau 10 tahun lagi kita ketemu dan udah bawa anak gitu. Kita udah heboh dengan anak-anak belum lagi nanti mereka berantem atau nangis. Jadi gak sabar nunggu saat itu tiba,” timpal Shandy yang membuat kedua sahabatnya ikut tersenyum menatapnya.


“Pasti bisa. Gak, harus bisa. Kita harus tetap sahabat sampai kita jadi kakek nenek. Kan siapa tau kita bisa besanan,” celetuk Dara yang membuat ketiganya tertawa bersama.


Siang hari mobil bunda sudah terparkir rapi begitu Shandy keluar dari halaman sekolah. Segera saja gadis itu berjalan menuju ke mobi sang bunda. 


“Siang sayang. Gimana tadi sekolahnya?” Tanya bunda begitu Shandy masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


“Biasa aja. Gak ada yang spesial,” sahut Shandy datar.


Bunda masih belum menyerah. Beliau kembali bertanya. “Mau makan dimana nih? Di fast food aja apa di restoran?”


"Terserah bunda aja. Shandy ngikut aja." Kembali Shandy menjawab dengan singkat.


Bunda tidak menanggapi lagi perkataan Shandy. Beliau melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Shandy dan bergabung dengan keramaian jalanan ibukota.


Shandy masih asyik dengan ponselnya ketika disadarinya perjalanan mereka mengarah ke rumah.


"Kok ke rumah? Katanya mau makan siang sama-sama?" Tanya Shandy penasaran.


Bunda tersenyum simpul. "Dimana lagi tempat yang paling enak untuk ngobrol selain di rumah? Lagipula bunda udah pesan ke bi Ijah untuk bikin makan siang kesukaan kamu. Jadi, kita makan di rumah aja."


Shandy hanya mengangguk mendengar penuturan bunda.


Tidak berapa lama, tibalah mereka di halaman rumah. Shandy bergegas keluar dari mobil dan melangkah menuju kamarnya. Ia ingin membersihkan diri dulu sebelum makan siang.


Begitu ia tiba di meja makan, bunda telah siap dengan piring berisi nasi dan lauk di hadapannya.


"Ayo duduk dan makan. Abis ini bunda mau balik lagi ke butik. Ada tamu yang telpon barusan."


"Tamu siapa?" Tanya Shandy penasaran. 


Bunda diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Shandy. "Yang waktu itu pesan gaun."


"Yang anak mantan pacar bunda itu?" Tanya Shandy dengan nada suara yang terdengar kesal. 


Bunda mengangguk pelan. "Boleh gak kalau Shandy bilang jangan bunda lagi yang melayani? Lanjutkan gaunnya, tapi biar mbak Dewi yang menyelesaikan. Bunda cukup di belakang layar."


"Tapi sayang. Kan bunda pemilik butiknya dan dia secara khusus mau bunda yang mengerjakan."


"Tapi Shandy gak suka bun!" Suara Shandy meninggi dan tanpa sengaja ia membanting sendok yang ada di tangannya dan membuat bunda serta bi Ijah terkejut.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu keberatan kalau bunda melayani dia?"


Shandy merasa matanya mulai memanas. "Iya bun. Shandy keberatan. Shandy takut bunda balik lagi sama dia. Shandy takut bunda bakal ninggalin Shandy sama ayah," cicit Shandy yang tanpa terasa air mata mulai mengalir di pipinya.

__ADS_1


Bunda meraih tubuh Shandy dan memeluknya erat. "Maafkan bunda sayang. Bunda gak sadar telah menyakiti hati kamu. Maafkan bunda ya. Bunda janji. Bunda akan lepas klien itu." Bunda terus membujuk Shandy sambil mengelus punggungnya dan memberinya kata-kata penenang.


__ADS_2