I Love You, Pak

I Love You, Pak
9.


__ADS_3

Setelah dari butik, keduanya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka mengitari mall tersebut. Awalnya mereka hanya melakukan window shopping hingga sebuah boneka beruang di etalase menarik perhatian Shandy.


“Mampir sebentar yuk. Mau lihat bonekanya,” ajak Shandy yang langsung berjalan memasuki toko.


Dirga mau tak mau mengikuti langkah kaki gadis itu. Walaupun sebenarnya ia sedikit “alergi” dengan tempat imut dan manis seperti itu. Tapi apa boleh buat. Kalau ia meninggalkan gadis itu dan Shandy melaporkannya pada bunda, alamat dirinya.


Di dalam toko Shandy terlihat mengitari toko. Beberapa kali ia mengambbil boneka di rak dan melihatnya lebih dekat, namun hanya diletakkannya kembali.


“Selamat siang kakak. Ada yang bisa dibantu?” sapa si pramuniaga toko.


Shandy segera menolehkan kepalanya mendengar sapaan itu. Ia hanya tersenyum. “Cuma mau lihat-lihat aja kak. Siapa tahu ada yang cocok.”


“Mau cari buat kakaknya atau buat kado?” tanya pramuniaga itu lagi.


“Buat saya sebenarnya. Awalnya tertarik sama yang dietalase itu, tapi masih pengin lihat-lihat yang lainnya juga,” dan pramuniaga itu memilih meninggalkan Shandy.


Dirga yang malas berkeliling akhirnya memilih duduk di sebuah kursi yang disediakan di toko itu. Ia hanya melihat pergerakan Shandy dari jauh.


Sejujurnya, ia sedikit terpesona dengan penampilan gadis itu. Gaun berwarna peach yang ia gunakan membuat gadis itu terlihat sangat segar dan manis. Sangat cocok untuk usia remajanya. Jangan lupakan tubuh mungilnya yang membuat ia terlihat semakin imut dan menggemaskan. Apalagi dipadu dengan sepatu yang manis, penampilannya terlihat semakin luar biasa.


Apa yang aku pikirkan barusan, batin Dirga yang menyadari bila ia memikirkan penampilan Shandy hari ini.


20 menit berlalu dan Shandy masih asyik mengitari toko boneka itu. Dirga mulai tidak sabar dengan dia.


“Masih lama gak? Mulai lapar nih,” protes Dirga yang tiba-tiba sudah berada di belakang Shandy.


Segera Shandy menolehkan kepalanya dan melihat jam yang melingkar manis di tangan kirinya. Ternyata waktu telah menunjukkan pukul 1 siang, waktu yang sangat pas untuk makan siang.


“Ah, udah kok. Sebentar ya, aku bayar ke kasir dulu." Shandy pun berjalan ke kasir dan membayar boneka beruang tadi. Boneka beruang coklat berukuran sedang yang terlihat sangat nyaman dan hangat.


Keduanya pun beranjak menuju area tempat makan di mall itu. Karena ini akhir pekan dan tepat dengan jam makan siang, terlihat tempat makan itu dipadati oleh banyak pengunjung. Keduanya pun akhirnya memilih duduk di sudut karena hanya itu tempat duduk yang kosong.


“Mau pesan apa?” tanya Dirga yang melihat Shandy sibuk mengedarkan pandangannya, melihat menu apa yang kiranya ia ingin lahap siang itu.


“Nasi goreng sama es jeruk aja deh,” sahut Shandy setelah melihat kedai nasi goreng yang cukup ramai pengunjung.


“Yaudah, aku pesen dulu. Kamu tunggu disini,” ujar Dirga sambil beranjak dari tempat duduknya dan menuju kedai nasi goreng itu.


Shandy asyik bermain dengan ponselnya ketika ia dikejutkan dengan panggilan telpon dari sang bunda.


“Halo bunda,” sapa Shandy.


“Halo sayang, kamu dimana ini?”


“Lagi di mall bun. Baru abis belanja, sekarang lagi mau makan siang.”

__ADS_1


“Kalian makan siang dimana sih? Kok ribut banget?”


“Di food court mall bunda. Biasalah, weekend rame banget ini.”


“Sebentar, kok kamu bisa angkat telfon bunda? Dirga mana?” Tanya bunda kemudian.


“Dirga masih pesen makanan bun. Shandy disuruh nunggu aja.”


“Sayang, kakak dong. Kan udah bolak-balik bunda bilang. Atau jangan-jangan hari ini kamu gak panggil Dirga kakak sama sekali?” Tuduh bunda yang langsung tepat sasaran.


Aduh, mampus. Alamat diomelin bunda kalo jujur, batin Shandy.


“Panggil kak kok bun. Cuma keceplosan aja barusan. Hehe." Sanggah Shandy.


Shandy masih asyik bertelepon dengan bunda ketika Dirga kembali ke meja mereka sembari membawa nomor antrian pesanan mereka. Pria itu menggerakkan bibirnya bertanya dengan siapa Shandy sedang bicara.


“Sama bunda,” sahut Shandy lirih dan hanya dijawab anggukan paham oleh Dirga.


“Kenapa sayang? Kamu ngomong sama siapa?” tanya bunda.


“Sama Dirga bun. Abis pesen makanan, baru balik.” Jawab Shandy.


“Ooh gitu. Eh, bunda mau ngomong dong.” Dan Shandy langsung memberikan ponselnya pada Dirga.


Dirga hanya mengangkat alisnya bingun. “Bundaku mau ngomong sama kamu.” Sahut Shandy menjawab kebingungan Dirga.


“Halo, ini Dirga tante.”


“Halo Dirga. Ini tante Lili, mamanya Shandy. Shandy gak merepotkan kamu kan?”


“Gak tante, sama sekali gak kok. Justru Dirga yang terima kasih udah mau dibantu cariin kado buat papa hari ini.”


“Ih, gak usah formal gitu. Kan biar akrab.” Dan terdengar tawa jenaka diseberang telepon.


Biar akrab dong katanya. Padahal berdebat mulu dari tadi, batin Dirga.


“Oh iya Dirga. Tante mau tanya satu hal. Tapi kamu janji, jujur ya sama tante.”


“Tanya apa tante?” tanya Dirga penasaran.


“Shandy manggil kamu kakak gak?” Dan dirga hampir menyemburkan tawanya mendengar pertanyaan itu.


Kakak? Shandy bahkan berlaku sangat tidak sopan padanya. Dan mereka berharap gadis itu memanggilnya kakak? Dunia mungkin akan segera runtuh bila Shandy memanggilnya kakak.


Dirga yang pada dasarnya ingin menjahili Shandy pun memulai aksinya. “Kakak? Gak tuh tante. Emang disuruh manggil kakak ya?” Jawaban Dirga sontak membuat mata Shandy melotot menatapnya.

__ADS_1


Gadis itu kemudian berkata lirih. “Kok jujur banget sih? Boong dikit apa susahnya?” Dan hanya dibalas senyuman mengejek oleh Dirga.


“Ih, kan udah tante duga. Shandy susah banget sih dibilangin.” Terdengar bunda Shandy mengomel tentang kelakukan putrinya.


Tapi jawaban Dirga selanjutnya membuat Shandy tercengang.


“Gak pa pa kok tante. Lebih nyaman begitu kok. Kalo dipanggil kakak, nanti Dirga yang gak enak. Berasa tua.” Sahut pria itu sembari mengalunkan tawa kecilnya.


Dan Shandy hanya bisa terpaku menatapnya. Well, ternyata Dirga tidaklah terlalu buruk.


Setelah Dirga selesai berbincang dengan bunda, ponsel ia kembalikan pada Shandy.


“Ngomong apa aja sama bunda? Kok kayaknya seru banget?” Tanya Shandy penasaran.


Dirga melirik sejenak dari layar ponselnya. “Bunda kamu titip pesen, kalo anaknya nakal marahin aja.”


Wajah Shandy langsung cemberut mendengarkan kalimat Dirga. Apa tadi katanya? Bunda gak mungkin ngomong gitu, batin Shandy.


“Kamu pasti bohong. Bunda gak mungkin ngomong gitu.”


DIrga hanya mengangkat bahunya acuh. “Kalo gak pecaya, tanya aja sendiri. Apa untungnya aku bohong sama kamu.”


Shandy melipat kedua tangannya di depan dada. Ia masih tidak percaya dengan kalimat pria itu.


Keduanya masih saling diam ketika pesanan mereka datang. 2 piring nasi goreng dan 2 gelas es jeruk.


“Lho, kamu pesen sama kayak aku?” Tanya Shandy yang kaget melihat makanan yang datang.


“Iya, males mikir.” Dan Shandy hanya mengangguk acuh. Ia juga tidak peduli dengan apapun pesanan pria itu. Hanya penasaran saja.


Dan keheningan menyelimuti keduanya. Mereka fokus dengan makanan yang ada di hadapan mereka. Dan satu yang Shandy tangkap dari kebiasaan makan Dirga. Pria itu tidak suka sayur. Lihatlah, betapa keringnya nasi goreng itu.


“Kamu gak suka sayur ya?” Tanya Shandy begitu sesi makan mereka berakhir.


Dirga menatap gadis itu sejenak sebelum mengangguk pelan. “Kayak anak kecil.” Ejek Shandy.


Dirga menatap Shandy tidak suka. “Emangnya cuma anak kecil yang boleh gak suka sayur? Orang dewasa juga boleh dong,” bantah Dirga tak terima.


"Ya, gak juga sih. Cuma lucu aja liat orang dewasa gak suka sayur. Tapi waktu di rumahku dulu kamu makan sayur kan?"


"Terpaksa. Ada bunda. Bisa disemprot bunda kalo gak makan sayur." Dan Shandy sontak menyemburkan tawanya mendengar jawaban Dirga.


"Dasar, anak mama." Ejek Shandy.


Keduanya masih asyik saling mengejek ketika meja mereka dihampiri oleh seorang wanita yang sangat cantik.

__ADS_1


"Dirga ya? Dirga Wijaya?" Tanya wanita itu yang sontak membuat Dirga menatapnya.


__ADS_2