
Liburan telah berakhir dan Shandy kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang siswa sma.
Seperti saat ini. Waktu baru menunjukkan pukul 5 pagi tapi dirinya sudah duduk di pinggir kasur. Wajahnya masih terlihat sedikit mengantuk tapi itu tidak mengurangi niatnya untuk segera bangun.
Ia meraih gelas berisi air putih di meja sebelah tempat tidurnya. Segera diteguknya air itu dan berharap kesadarannya akan segera terkumpul.
Setelah ia selesai meminum air putihnya, gelas kembali ia letakkan di meja dan ia beranjak menuju kamar mandi untuk sekedar sikat gigi dan cuci muka sebelum menyiapkan perlengkapan sekolahnya.
Waktu menunjukkan pukul 5.30 ketika dirinya memutuskan untuk mandi dan bersiap berangkat sekolah.
Begitu tiba di ruang makan, sudah ada bunda dan bi Ijah yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi mereka.
“Pagi bunda, pagi bi.” Sapa Shandy pada kedua orang itu.
“Pagi non,” balas bi Ijah.
“Pagi sayang. Tidurnya nyenyak?” Shandy hanya mengangguk singkat. Ia sedang sibuk berbalas pesan dengan teman-temannya. Grup chat kelasnya mulai ramai lagi karena mereka akan masuk sekolah.
“Nanti diantar papa ya berangkatnya. Papa ada rapat pagi soalnya. Yang jemput tetap bunda kok.” Sekali lagi Shandy hanya mengangguk.
Bunda yang melihat putrinya sibuk dengan ponsel mengernyitkan dahi. “Kamu lagi chat sama siapa sih? Kok kayaknya sibuk banget.” Sindir bunda.
Shandy langsung mendongakkan kepalanya dan menatap bunda yang menatap dirinya kesal. “Maaf bun, grup kelas lagi rame. Lagi saling tanya soal jadwal hari ini.” Jawab Shandy sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Tapi jangan di meja makan ya sayang. Gak sopan main hp di meja.” Nasihat bunda sambil mengelus kepala Shandy.
“Iya bun. Shandy minta maaf.” Ujar Shandy lirih.
Bunda tersenyum simpul. Putrinya memang mudah untuk dinasehati. “Yaudah sekarang kamu makan. Rotinya mau pakai selai coklat atau stroberi?”
“Stroberi aja bun. Susunya juga stroberi ya.”
__ADS_1
Tidak lama ayah ikut bergabung dengan mereka. Segera bunda menyediakan kopi dan roti bakar tanpa selai di depan ayah.
“Terima kasih bunda.”
“Sama-sama ayah.” Sahut bunda ceria.
Setelah selesai makan, Shandy dan ayah segera berangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi dan mereka tidak mau terlambat ke tempat tujuan hanya karena macetnya jalanan.
“Terima kasih ayah. Ayah hati-hati di jalan ya.” Pamit Shandy begitu mereka sampai di depan sekolahnya.
“Iya sayang. Kamu juga belajar yang rajin ya.” Shandy mengangguk dan segera turun dari mobil ayahnya.
Baru saja Shandy memasuki gerbang sekolahnya, ia sudah langsung disambut oleh Dara dengan senyum lebarnya.
“Selamat pagi cantikku. Gimana liburannya? Kamu beneran gak kemana-mana?” Cerocos Dara.
“Selamat pagi juga Dara. Dan buat pertanyaan kamu, no. Aku menghabiskan liburan di butik bunda.” Sahut Shandy.
“Eh, kamu udah tau belum. Guru ekonomi kita baru lho. Bu Ayu kan cuti melahirkan, nah gantinya masuk hari ini. Dan katanya cowok. Masih muda pula.” Ujar Dara berapi-api.
“Asal kamu tau aja. Di rombonganku ke Lombok kemarin ada anaknya pak Eko bagian kesiswaan. Jadinya update banget dong infonya.”
Shandy hanya tersenyum kecil. “Tapi apa gunanya? Kan gak masuk ke kelas kita juga. Cuma di kelas anak ips.”
Dara memutar bola matanya malas mendengar jawaban asal Shandy. “Shandy ku yang cantik dan pintar, apa gunanya jam istirahat? Kita pepet waktu jam istirahat dong sayang.” Sahut Dara yang masih tak mau kalah.
“Kita? Kamu aja deh. Aku gak minat.”
Keduanya masih asyik berbincang ketika halaman sekolah mereka dihebohkan dengan masuknya mobil Range Rover hitam. Sekolah Shandy memang sekolah mahal, tapi guru mereka tidak pernah ada yang membawa mobil seperti itu.
Dan semakin heboh karena seorang pria tinggi dan tampan keluar dari mobil itu. Kemeja warna biru melekat pas di tubuhnya. Ditambah dengan sepatu pantofel hitam yang membuat penampilannya semakin memukau.
__ADS_1
“Waduh, siapa itu? Guru baru itukah?” Seru Dara sambil melongokan kepalanya menatap pria yang baru saja turun dari mobil itu.
Kayak kenal, batin Shandy sambil menatap pria yang sedang berjalan ke arah mereka itu. Dan benar saja. Begitu pria itu semakin dekat dan berjalan melewati mereka, Shandy langsung membelalakkan matanya.
Itu Dirga? Ngapain dia disini? Batin Shandy panik
“..Ndy, Shandy? Halo? Kamu melamun?” Guncangan di tubuhnya dan suara Dara membuat kesadarannya kembali.
“Hah? Apa? Kamu manggil aku?” Dara hanya memutar bola matanya malas.
“Iya aku manggil kamu. Kamu kenapa sih? Liat guru baru itu kayak lihat hantu.”
Shandy hanya menggeleng singkat. “Kayak kenal. Tapi kayaknya bukan sih.” Sahutnya acuh dan keduanya kembali melanjutkan langkah mereka menuju kelas.
Begitu mereka tiba di kelas, sudah ada beberapa murid yang sedang bersenda gurau sekedar menghilangkan rindu karena lama tidak bertemu teman.
“Shandy, Dara. Kangen banget sama kalian.” Suara teriakan Monik langsung terdengar begitu keduanya masuk ke dalam kelas. Ketiganya berlari kecil dan langsung berpelukan ala teletubbies.
“Kalian berdua kemana aja selama liburan? Bisa-bisanya gak ada yang ngajakin aku jalan.” Rungut Monik setelah mereka duduk di kursi masing-masing.
“Salahin Dara tuh. Dia yang liburan sendiri. Aku sih di sini aja. Liburan full di butik bunda.” Sahut Shandy sambil menunjuk Dara menggunakan dagunya.
Dara yang ditunjuk hanya memamerkan senyuman lebarnya. “Shandy aku ajak gak mau. Aku gak ajak kamu karena aku pikir juga gak mau. Maaf ya,” sahut Dara masih dengan senyum lebarnya.
“Dasar penghianat.” Balas Monik sadis.
“Eh, daripada ngomongin liburan yang sudah lewat, mari kita bicarakan guru baru itu. Itu beneran guru baru atau sekedar tamu aja sih? Kok keren banget begitu?” Seru Dara semangat.
Mata Monik langsung berbinar. “Iya dong. Tadi aku ketemu waktu lewat depan kelas kita dan ya Tuhan, mau pingsan lihatnya. Ada ya spesies manusia seganteng itu. Gantengnya gak normal.” Sahut Monik tak kalah heboh.
“Kalian kenapa sih? Di sekolah kita juga banyak yang ganteng kan. Gak kalah kok sama guru itu,” ujar Shandy acuh.
__ADS_1
“Shandy, guru tadi itu gantengnya beda tau. Kalo di sekolah kita, yang ganteng paling juga anak basket atau anak yang biasa nongol di majalah sekolah. Lainnya? Lewat lah. Ini tiba-tiba dateng gak tau darimana dan gantengnya gak masuk akal banget dong.” Seru Dara dan Monik saling bersahutan mengagumi guru baru mereka.
Gak tau aja gimana sifat aslinya. Kalau udah tau, mungkin gak jadi suka lagi. Gerutu Shandy.