
Setibanya di rumah, terlihat para orang tua yang sedang asyik bercanda di ruang tv sambil menonton acara tv. Mereka bahkan tidak menyadari bila putra putri mereka telah tiba. Mereka baru sadar ketika Shandy sudah duduk di sebelah sang bunda.
“Lho, sayang? Kok udah pulang? Baru juga jam 9,” tanya sang bunda yang terkejut melihat putrinya.
“Capek bun. Ngantuk pula,” ujar Shandy sambil bermanja memeluk sang bunda.
“Gini nih kalo nagntuk. Manjanya naik berlipat ganda. Apalagi kalo sakit, bundanya ini udah gak boleh kemana-mana. Cuma boleh nemenin dia aja,” ujar sang bunda yang membuat semua orang langsung tertawa dan menatap mereka.
“Gemes banget ya jeng. Dirga umur segitu udah main mulu gak pernah pulang. Emang udah paling enak punya anak cewek,” ujar tante Diah sambil menatap Shandy dengan tatapan sayang.
“Bun, tidur tuh anaknya. Suruh bangun deh biar pindah ke kamar,” ujar papa yang melihat Shandy sudah tertidur di pelukan sang bunda. Shandy terlihat tidur sangat lelap.
Sebelum sang bunda membangunkan Shandy, Dirga segera mendekat dan menawarkan bantuannya.
“Biar aku gendong aja ke kamarnya. Kasihan itu kelihatan capek banget,” ujar Dirga yang membuat semua orang terkejut dibuatnya.
“Oh? Oh iya. Dirga gak pa pa? Ntar ngrepotin lagi,” ujar sang bunda yang masih terkejut dengan tindakan Dirga.
“Gak pa pa kok tante. Kamar Shandy disebelah mana?” tanya Dirga yang sudah menggendong Shandy ala bridal.
“Kamar Shandy ada di lantai 2. Di sebelah kanan tangga ruangan nomer 2. Ada tulisan Shandy di depannya,” sahut sang bunda memberi arahan.
Segera setelah diberi arahan Dirga membawa Shandy menuju kamarnya. Mereka pun pergi diiringi tatapan bingung dan penasaran dari para orang tua. Mereka tentu tidak lupa bila anak mereka masih saling ejek 2 jam lalu. Dan sekarang? Apa yang terjadi selama mereka berdua keluar tadi?
__ADS_1
Sementara itu Dirga kini masih menggendong Shandy menuju kamarnya. Ia sendiri bingung kenapa dirinya menawarkan diri. Ia hanya merasa kasihan bila gadis itu dibangunkan ditengah tidur nyenyaknya. Ya, pasti itu alasannya. Batin Dirga berusaha meyakinkan dirinya.
Begitu tiba di kamar Shandy, ia berusaha membuka pintu dengan sedikit sulit. Shandy bukannya berat, hanya saja kedua tangannya sudah ia gunakan untuk membopong Shandy dan ia tidak tega bila gadia itu tiba-tiba terbangun karena gerakannya membuka pintu. Setelah beberapa saat mencoba, akhirnya terbukalah pintu kamar itu.
Pertama memasuki kamar, bau aromatherapy langsung menyapa hidungnya. Aromanya lembut dan sangat memikat. Tipe aroma kesukaan para gadis remaja. Masuk ke dalam kamar, langsung disambut sebuah kasur ukuran queen size berseprai warna pink yang menyambutnya. Tidak lupa dengan bedcover berwarna putih yang terlihat sangat hangat dan lembut.
Di bagian sebelah kiri kamar terdapat satu set meja belajar dan kursi. Di mejanya terdapat laptop yang Dirga duga biasa Shandy gunakan. Jangan lupakan rak buku kecil yang berisi buku-buku sekolah Shandy. Di kursinya sendiri terdapat tas ransel yang biasa Shandy gunakan untuk sekolah. Di sebelah kanan ruangan terdapat kamar mandi dan walk in closet yang tersambung jadi 1.
Tepat di sebelah kiri dan kanan tempat tidur terdapat meja kecil yang terdapat lampu kecil dan juga pot bunga kecil yang menambah manis keadaan kamar itu. Dan jangan lupakan jejeran foto polaroid yang terdapat di atas meja belajar tadi. Sungguh sangat manis.
Dirga segera membaringkan Shandy di kasurnya. Ia juga segera menyelemuti tubuh Shandy. Ketika ia akan menarik bed cover untuk menyelimuti Shandy, ia melihat pergelangan kaki gadis itu terluka.
‘Apa karena sepatu hak tingginya tadi? Siapa suruh pake sepatu hak ke mall’ batin Dirga sambil segera menyelimuti tubuh Shandy. Shandy sendiri langsung memeluk guling yang berada di sebelahnya. Ia sama sekali tidak terganggu dengan apapun yang Dirga lakukan.
Tidak ingin berlama-lama di kamar Shandy, Dirga beregas keluar dari kamar.
“Lagi pada ngomongin apa sih? Kayaknya seru banget,” tanya Dirga begitu ia duduk di sebelah sang bunda.
“Eh, kamu udah balik aja,” sapa sang bunda.
“Iya dong. Gak baik lama-lama di kamar seorang gadis,”
“Alah lagak kamu aja. Kemarin waktu di Amerika aja keluar masuk kamar cewek,” goda papa Dirga.
__ADS_1
“Eh, papa fitnah aja nih. Jadi, lagi ngomongin apa nih? Kok Dirga denger nama Dirga sama Shandy disebut-sebut,”
“Kita lagi bingung sama kalian. Perasaan tadi dateng kayak anjing sama kucing. Pulang dari mall kok jadi sweet begitu. Mana bunda liat tadi Shandy pake jaket kamu waktu masuk,”
“Ooh itu. Tadi waktu di mall Shandy kedinginan jadinya aku pinjemin jaketku dulu. Dan sweet gimana sih? Perasaan biasa aja deh,” sahut Dirga santai.
"Dasar ya kamu tuh. Playboy cap kadal. Cewek itu, kalo dikasih perhatian lebih jadinya merasa spesial. Nanti kalo Shandy baper gimana hayo?" tanya sang bunda menggoda.
"Waduh, kalo itu bukan salah Dirga dong. Kan Dirga hanya berlaku selayaknya pria yang baik," sanggah Dirga lagi.
"Heuh, susah emang ngomong sama playboy. Yaudah, kami pamit dulu ya. Udah malam ini," pamit bunda Dirga yang diikuti ayahnya.
"Eh iya jeng. Kapan-kapan main lagi ya. Seneng lho ngobrol-ngobrol kayak gini," sahut bunda Shandy.
"Iya jeng. Kami pamit dulu ya. Selamat malam," dan keluarga Dirgapun pergi meninggalkan kediaman Shandy.
"Pa, gimana? Cocok gak Shandy sama Dirga?" tanya bunda Shandy begitu mereka bersiap tidur.
"Kalo papa sih, selama Shandy suka papa gak masalah. Kayaknya juga masih lama ma. Shandy kan masih sma," sahut sang papa santai.
"Kan gak harus langsung nikah pa. Pacaran dulu aja,"
"Ya kita lihat perkembangannya aja bunda. Ayo tidur, udah malem nih," sahut papa sambil menepuk-nepuk kasur.
__ADS_1
Akhirnya bunda pun menyerah dan ikut membaringkan badannya. Tapi pikirannya belum lepas dari Shandy.
'Apa aku harus ajak jeng Diah buat deketin mereka ya? Tapi gimana caranya?' batin bunda Shandy sebelum akhirnya beliau tertidur.