
Shandy tengah sarapan pagi bersama ayah dan bunda ketika bel rumah mereka berbunyi. Bi Ijah bergegas ke depan untuk membukakan pintu tamu yang sepertinya datang terlalu pagi itu.
“Siapa sih bertamu sepagi ini? Baru juga jam 6 udah ada tamu,” gerutu Shandy sambil memakan nasi gorengnya.
Tidak terdengar suara apapun dari depan. Entah mungkin seseorang yang tidak penting. Hingga langkah kaki terdengar kembali menuju ruang makan.
“Lho Dirga ternyata tamunya. Selamat pagi Dirga.” Kalimat bunda membuat Shandy hampir saja menyemburkan susu yang sedang diminumnya. Ia langsung menolehkan kepalanya dan benar saja, pria itu berdiri menjulang tinggi di sana.
Drama apa lagi sepagi ini? Batin Shandy sambil melanjutkan meminum susunya. Ia tidak mempedulikan Dirga yang mengambil tempat duduk di sebelahnya.
“Dirga ada perlu apa sepagi ini sudah kesini? Mau ajak Shandy berangkat sama-sama nih jangan-jangan.” Goda bunda yang hanya ditanggapi lirikan malas oleh Shandy.
“Lho kok bisa berangkat sama-sama Shandy? Emang tempat kerja Dirga dekat sekolah Shandy?” Tanya ayah yang tidak tahu ada masalah apa.
“Ah bunda lupa cerita sepertinya. Jadi, Dirga ini sekarang jadi guru di sekolah Shandy. Kalau kata Shandy sih Dirga mengajar di kelas ips. Betul Dirga?”
Dirga menganggukkan kepalanya. “Betul tante. Saya mengajar ekonomi, jadi tidak masuk ke kelas Shandy.” Sahut Dirga.
“Kok jadi guru? Om kira kamu mau lanjutin perusahaan papa kamu.”
Dirga tersenyum kecil. “Rencananya begitu om. Ini juga sambil belajar sama papa sebenarnya. Tapi kata bunda, daripada Dirga menganggur di rumah, disuruh cari kegiatan baru. Dan kayaknya bunda punya kenalan di sekolah Shandy dan Dirga diminta untuk jadi guru pengganti sementara.” Jelas Dirga panjang.
Ayah Shandy mengangguk paham. “Lumayan deh kalau begitu. Ajakin Shandy berangkat tiap hari aja kalau kamu gak keberatan. Kan tujuan kalian sama.” Saran ayah.
“Ayah kok gak tanya pendapat Shandy dulu? Emangnya Shandy mau diajak berangkat sama-sama?” Protes Shandy atas usul ayahnya.
__ADS_1
“Kenapa gak mau sayang? Toh kalian bertemankan?” Tanya bunda sambil menatap putrinya dan Dirga bergantian.
“Kata siapa?/Iya tante.” Jawaban yang berbeda keluar dari bibir keduanya. Shandy langsung menatap Dirga dengan tatapan kesalnya.
“Sejak kapan kita berteman? Perasaan dari awal ketemu kita gak pernah berteman.” Sahut Shandy dengan suara ketusnya.
Dirga mengangkat bahunya. “Aku pikir kita berteman karena kamu mau jalan sama aku beberapa kali.”
Shandy menghembuskan nafasnya kasar. “Itu kan dipaksa bunda.” Kesal dengan perdebatan tanpa ujung ini, Shandy segera menuntaskan sarapannya dan bersiap untuk berangkat.
“Kalau ayah sama bunda gak mau nganter aku, gak papa. Aku sama Monik atau Dara aja. Tapi maaf, jangan suruh aku berangkat sama dia. Aku berangkat dulu.” Ujar Shandy dengan suara dinginnya. Ia segera meraih ponselnya dan menelepon teman-temannya.
Semua orang dibuat terkejut dengan sikap Shandy. Belum pernah mereka melihat gadis itu sebegitu emosinya. Biasanya, Shandy merupakan tipe gadis yang sangat pintar mengontrol emosinya. Tapi ini? Sangat bukan Shandy.
“Maaf ya Dirga. Kayaknya Shandy lagi banyak masalah makanya jadi ketus begitu. Kamu sudah sarapan belum? Mau makan dulu?” Suara bunda lembut mengalun. Suaranya terdengar sarat akan penyesalan.
Sepeninggal Dirga, bunda menghela napas berat. “Shandy kenapa ya? Kok jadi ketus begitu?” Suara bunda terdengar sedih mengingat kelakuan putrinya pagi ini.
Ayah segera meletakkan tablet yang digunakannya sejak tadi. “Capek mungkin bun, jadi gampang emosi. Lagipula kan Shandy sebentar lagi mau ujian nasional, pasti stres juga mau ujian. Nanti sore coba bunda ajak bicara pelan-pelan.” Saran ayah. Diraihnya tangan bunda yang berada di atas meja dan mengelusnya pelan.
Bunda hanya menatap ayah dan tersenyum kecil. “Semoga ya. Bunda gak enak banget sama Dirga tadi.”
Sementara itu, Shandy akhirnya berangkat ke sekolah dengan Dara. Sepanjang jalan, Dara terus memberondongnya dengan pertanyaan tentang kenapa ia tidak diantar oleh ayah atau bunda, kenapa dirinya berangkat dengan wajah kusut dan mobil siapa yang sudah terparkir di depan rumahnya sepagi ini.
Semua pertanyaan yang tanpa sadar membuat Shandy membentak Dara. “Bisa berhenti bertanya? Kepalaku lagi pusing banget ini!” Bentak Shandy tanpa sadar.
__ADS_1
Dara membulatkan matanya mendengar bentakan Shandy. Selama dirinya berteman dengan Shandy beberapa tahun terakhir, belum pernah sekalipun gadis iru membentaknya. Ini pertama kalinya.
“Shan, kamu gak papa? Kalo ada masalah kamu bisa cerita ke aku.” Ujar Dara dengan nada suara yang sangat pelan.
Bukannya menjawab pertanyaan Dara, Shandy justru menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai menangis. Bahunya terlihat bergetar dan suara isakan mulai terdengar. Segera Dara menepikan mobilnya dan memeluk Shandy.
“Hei, kamu kenapa? Ada masalah?” Tanya Dara sambil terus mengelus punggung Shandy, berusaha menenangkannya.
Shandy sama sekali tidak bersuara. Ia hanya terus menangis hingga Dara merasa bajunya ikut basah karena air mata Shandy.
“Udah ya nangisnya. Nanti mata kamu bengkak lho. Udahan yuk, udah mau telat lho ini.” Shandy mengangguk dan melepaskan pelukannya dari Dara. Ia segera meraih tisu yang berada di dalam tas nya.
Begitu ia melihat penampilannya di kaca spion di mobil Dara, benar saja mata dan hidungnya terlihat sangat merah. Jangan lupa matanya yang mulai membengkak.
“Nanti kita bolos jam pertama ya. Ke uks dulu, buat kompres mata.” Ujar Shandy lirih dan dibalas anggukan singkat oleh Dara.
Mereka tiba di sekolah tepat 5 menit sebelum gerbang ditutup. Keduanya langsung bergegas menuju ke uks.
Keduanya kini telah berada di uks. Shandy memutuskan untuk berbaring di salah satu kasur yang tersedia disana sementara Dara ke kantin untuk membeli es yang digunakan untuk mengompres mata Shandy.
Shandy hampir saja terlelap ketika ia mendengar ponselnya berbunyi pertanda ada pesan masuk. Segera ia meraih ponselnya yang berada di dalam tas dan membuka pesan itu.
Ternyata itu dari Monik yang menanyakan keberadaannya dan Dara. Ia hanya membalas bila dirinya kurang enak badan dan tengah berada di uks saat ini.
Dara kembali dengan membawa seplastik es batu dan segelas teh hangat yang langsung ia berikan pada Shandy.
__ADS_1
Gadis itu meraih es batu dan menempelkannya di matanya yang bengkak. Hanya beberapa kali dan ia merasa matanya sudah tidak bengkak lagi. Setelahnya ia meraih gelas teh yang berada di meja tidak jauh dari mereka. Ia memang butuh asupan tenaga setelah menangis seheboh tadi.
“Nanti sebelum masuk, kita ke guru piket dulu ya buat minta ijin masuk. Gak akan lama kok. Tadi aku udah bilang ke guru piketnya kalau kamu sakit. Nanti kita tinggal minta tanda tangan aja.” Shandy hanya mengangguk singkat mendengar penjelasan Dara.