I Love You, Pak

I Love You, Pak
4.


__ADS_3

Makan malam dilewati dengan kondisi yang sangat buruk. Shandy dan Dirga tidak hentinya saling menyindir. Dan sialnya lagi, keduanya duduk berhadapan di meja makan rumah Shandy.


Seperti saat ini. Shandy hendak mengambil udang goreng tepung kesukaannya ketika garpu yang digunakan oleh Dirga juga akan mengambil udang yang sama. Dan langsung saja, tatapan tajam saling mereka lemparkan.


“Lepasin gak. Aku mau makan yang ini,” perintah Shandy.


“Aku kan tamu. Kamu dong yang ngalah,” ujar Dirga tak mau kalah.


Keduanya mungkin masih akan bertahan dengan garpu masing-masing bila bunda Shandy tidak menegur mereka.


“Sayang kamu dong yang ngalah. Kan Dirga tamu disini,” lerai bunda Shandy yang langsung disambut senyuman sombong Dirga untuk Shandy.


“Ih, gak pa pa kali jeng. Dirga ini cowok tapi gak mau ngalah. Ngalah dong sama Shandy,” bantah bunda Dirga.


Sekarang ganti Shandy yang tersenyum sombong pada Dirga.


“Udah-udah, masalah udang goreng aja gak beres-beres. Ayo lanjutin makannya. Keburu dingin itu yang lainnya,” ujar ayah Shandy.


Akhirnya mereka pun melanjutkan makan malam dengan tenang. Shandy sendiri sudah terlalu lapar untuk meladeni Dirga.


Setelah makan malam, bi Ijah menyediakan puding cokelat kesukaan Shady. Dan lagi-lagi Dirga seolah mencari masalah dengannya. Dirga mengejek Shandy yang seperti anak kecil karena rasa sukanya yang berlebihan pada makanan mais.


“Emang kenapa kalo suka manis? Gak boleh? Kan gak ada yang melarang,” ujar Shandy kesal.


Ia sangat kesal karena makanan kesukaannya dihina seperti itu. Ya, Shandy memang penggemar manis kelas berat. Ia suka sekali dengan segala jenis makanan manis. Es krim dan cokelat adalah posisi 2 teratas makanan favoritnya.


Berbalik dengan Dirga. Ia justru sangat tidak menyukai rasa manis di lidahnya. Apapun itu. Ia tidak suka cake, es krim apalagi cokelat. Dan bila harus memakan es krim, ia biasanya memilih es krim yang tidak terlalu manis. Atau justru sekalian saja tidak usah makan es krim. Kesehariannya hanya diisi dengan black coffee, minuman kesukaannya.


“Iya Dirga. Shandy ini penggemar berat makanan manis. Bahkan ya, dulu waktu kecil, Shandy langganan ke dokter gigi lho karena giginya sering bolong kebanyakan makan permen,” ujar sang bunda yang mengundang gelak tawa semua orang.

__ADS_1


“Dan dulu ya, karena saking sukanya sama makanan manis, temen tante sama om panggil dia sweet princess. Karena tiap main ke rumah siapapun yang ditanya pertama kali selalu punya permen apa gak,” lanjut bunda Shandy yang membuat wajah Shandy memerah karena rahasianya dibuka.


“Kamu manis banget sih. Sweet princess; julukan yang cocok banget sama kamu. Tante yakin, Shandy pasti udah manis banget dari kecil. Jadi pengin liat Shandy kecil nih,” ujar tante Diah memuji Shandy.


“Ada kok fotonya. Aku bahkan masih punya fotonya waktu umur 5 tahun dengan mulut belepotan cokelat,”


“Bunda udah ih. Malu Shandy,” sergah Shandy yang melihat sang bunda akan berdiri mengambil album foto.


Tapi sang bunda tak kalah kekeuh, beliau tetap berdiri dan mengambil album foto yang terletak di lemari di ruang tv.


Tak lama, sang bunda kembali dengan membawa sebuah album foto berwarna emas yang merupakan kumpulan foto kecil Shandy. Dan karena dirinya merupakan anak tunggal, kedua orang tuanya berusaha semaksimal mungkin mengabadikan setiap momennya.


“Ini lho fotonya. Lucu kan,” tunjuk sang bunda pada tante Diah.


“Ih, lucu banget. Apalagi rambutnya diiket dua kayak telinga kelinci gini. Minta duplikatnya dong, mau aku simpen,” ujar tante Diah.


“Gak usah bun. Ntar jadi bahan buat ngejekin Shandy pula,” Shandy berusaha menghalangi.


“Iya deh iya. Eh kalian berdua gak pengin keluar kemana gitu. Biar makin akrab,” tawar tante Diah.


Sebelum Shandy dan Dirga sempat menjawab, bunda sudah ikut menimpali omongan tante Diah.


“Iya Shan. Dirga kan baru pulang dari luar negeri, siapa tau udah lupa Jakarta. Ajakin main gih, kemana gitu,” timpal sang bunda yang dibalas pelototan tak terima dari Shandy.


‘Ngajak main? Yang ada ngajak berantem sih,’ batin Shandy sambil melirik Dirga.


“Nih, bawa mobil papa. Hati-hati ya nyetirnya,” ujar ayah Dirga sembari mengulurkan kunci mobil. Mau tak mau mereka berdua akhirnya pergi juga.


Di dalam mobil, tidak ada pembicaraan sama sekali. Hanya suara penyiar radio yang sibuk mengoceh. Sesekali lagu mengiringi kesepian diantara keduanya.

__ADS_1


“Mau kemana? Gak mungkin balik sekarang. Dan lebih gak mungkin lagi kalo Cuma duduk di dalem mobil aja,” suara Dirga memecah keheningan mereka.


“Kata bunda sama tante Diah kamu yang mau kenal Jakarta lagi. Ya kamu lah yang nentuin tempatnya,” sahut Shandy ketus.


Rumah Shandy sendiri berada di daerah Jakarta Selatan, daerah yang cukup gaul menurut warga luar Jakarta. Tapi sejujurnya, Shandy sendiri merasa bingung dengan julukan itu. Ia lahir dan besar di Jakarta dan sama sekali tidak merasa Jakarta selatan itu keren. Ia merasa semua sudut Jakarta sama saja.


Akhirnya mobil berbelok ke salah satu mall di wilayah Jakarta selatan. Shandy sendiri tidak mempermasalahkan kemana mereka akan pergi. Hanya saja, dengan tampilannya sekarang ia merasa kurang “cocok” masuk ke mall.


“Ayo turun. Gak tau mau kemana dan kita gak begitu akrab. Jadi ini tempat paling tepat. Rame dan kita bisa jalan sendiri-sendiri. Karena aku gak berminat nyimpen nomer kamu, jadi kita ketemu lagi disini jam 9 malam,” ujar Dirga sambil melenggang masuk mall.


‘Enak banget ngomong gitu. Gimana mau main di mall kalo duit aja kagak bawa,’ akhirnya Shandy memutuskan ikut masuk ke dalam mall. Ia sudah tidak peduli dengan penampilannya. Ia hanya ingin mengusir penat selama di mobil tadi.


Akhirnya Shandy berjalan menyusuri mall sendirian. Kalau kalian lupa, ia masih mengenakan gaun terusan dengan sepatu berhak tinggi dari rumah. Jadi bayangkan saja, berjalan mengelilingi mall dengan pakaian seperti itu. Bukan masalah penampilannya, hanya saja jari kakiknya sekarang mulai menjerit minta istirahat.


Akhirnya, Shandy memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang disediakan oleh pihak mall. Ia memutuskan untuk duduk saja disitu sampai waktu yang ditentukan oleh Dirga. Ia hanya meliha lalu lalang orang-orang yang sedang asyik berbelanja.


Sedang asyik dengan lamunannya, tiba-tiba seseorang duduk di sebelahnya. Segera ia menolehkan kepalanya dan tak menyangka bila Dirga sudah duduk kembali di sebelahnya.


“Lho gak jadi main? Katanya mau jalan sendiri-sendiri,” sindir Shandy.


Dirga langsung menoleh ke arah Shandy dan pandangannya tertuju pada pakaian gadis itu. Memang, baju yang dikenakan Shandy memiliki lengan yang cukup pendek dan saat ini sudah di penghujung tahun. Yang artinya, udara malam sudah lebih dingin daripada biasanya. Shandy tentu merasa kedinginan, bahkan sejak mereka keluar dari rumah. Tapi ia enggan memberitahu Dirga.


Tiba-tiba saja sebuah jaket disampirkan oleh pria itu di kedua bahu Shandy. Shandy yang mendapatkan perlakuan seperti itu sontak kaget dan langsung menatap Dirga. Yang ditatap justru menatap balik tanpa ada niat melepas pandangan.


“Jangan geer dulu. Kalo kamu sakit abis keluar sama aku, yang ada aku yang dimarahin sama bunda kamu dan bundaku. Jadi, jangan berpikir terlalu jauh,” ujar Dirga ketus.


“Iya iya. Siapa juga yang geer,” sahut Shandy tak kalah ketus.


Tapi ia tetap mengenakan jaket itu. Hangat, itulah yang Shandy rasakan.

__ADS_1


__ADS_2