I Love You, Pak

I Love You, Pak
17.


__ADS_3

“Kalian dari mana saja jam segini baru masuk kelas?” Tegur guru mereka ketika Dara dan Shandy masuk ke kelas mereka. Pandangan seluruh penjuru kelas langsung tertuju pada mereka.


Shandy memilih menundukkan kepalanya. Ia masih tidak punya tenaga untuk menjawab wanita di depan mereka. Kepalanya masih sedikit pusing dan tubuhnya juga dirasanya mulai sedikit hangat.


“Maafkan kami bu. shandy kurang enak badan ketika kami berangkat sekolah tadi. Jadi, kami berinisiatif untuk ke uks terlebih dahulu.” jawab dara.


Ia juga menyerahkan surat izin yang dikeluarkan oleh guru piket. “Ini surat izin dari guru piket.”


Wanita itu membacanya sebentar dan menyuruh keduanya untuk segera duduk. Shandy dan Dara langsung berjalan menuju kursi mereka dan bersiap mengikuti pelajaran.


Di tengah pelajaran, Shandy merasakan seseorang menyentuh bahunya. Segera ia menolehkan kepalanya dan Dara lah ternyata yang melakukannya.


“Kamu gak papa? Wajah kamu tambah pucat. Kamu juga mulai berkeringat dingin.” Gadis itu nampak khawatir melihat keadaan Shandy yang tampaknya memburuk. Dan Shandy juga tidak berhenti memijat kepalanya sejak tadi.


“Agak pusing aja. Abis ini kan udah istirahat. Nanti habis makan siang pasti udah baik-baik saja. Kamu tenang saja,”sahut Shandy berusaha menenangkan Dara.


Dara terlihat masih tidak percaya dengan kalimat Shandy. Tapi senyum gadis itu membuatnya mau tak mau menganggukkan kepalanya menerima penjelasan Shandy. “Tapi kalau kamu merasa memburuk, bilang aku ya. Jangan diam saja.” Shandy hanya tersenyum mendengar kalimat khawatir dari Dara.


Ya, kamu hanya perlu bertahan sampai istirahat Shandy. Tidak lama lagi. Kuatkan dirimu, batin Shandy berusaha menguatkan dirinya sendiri.


Jam istirahat telah tiba dan Dara adalah orang terakhir yang keluar setelah sukses menyeret Shandy yang ogah-ogahan keluar. Dara sudah hampir meledak jika saja Monik tidak datang dan ikut menyeret Shandy keluar.


Sesuai perkiraan Shandy, nyeri di kepalanya semakin menjadi. Ia bahkan sudah hampir tidak bisa merasakan kakinya lagi. Matanya juga sudah mulai hilang fokus. Ia melihat Dara dan Monik sudah ada dua.


Dan akhirnya tubuhnya dirasa meringan dan limbung terjatuh. Hal terakhir yang diingatnya adalah teriakan Dara dan Monik serta tubuhnya yang ditangkap oleh seseorang tepat sebelum dirinya menghantam kerasnya lantai kantin sekolah mereka.


...***...


Cahaya senja telah memasuki sela-sela jendela kamar ketika akhirnya Shandy sadar dari pingsannya. Ia mencoba mengedarkan pandangannya dan menganalisa dimana ia berada saat ini.


Ah, di rumah ternyata. Siapa yang akhirnya mengantarku pulang? Tidak mungkin Monik, dia tidak bawa mobil. Dara? Mana bisa dia menyetir sambil panik. Lalu siapa?

__ADS_1


Shandy masih sibuk dengan pikirannya sendiri ketika seseorang memasuki kamarnya. Ternyata itu bunda bersama bi Ijah yang sepertinya membawa sesuatu di nampan. Bi Ijah bergegas meletakkan mangkuk yang dibawanya ke atas meja dan kembali keluar dari kamar Shandy.


“Sayang, kamu sudah sadar? Oh, syukurlah anak bunda yang cantik ini sudah bangun.”Seru bunda sambil memeluk tubuh Shandy erat.


Ia juga baru menyadari bila di tangan kirinya terdapat selang infus. Separah apa kondisiku? Batinnya sambil melihat selang infus itu.


“Kamu gak papa kok. Kata dokter cuma kecapekan saja.” Jelas bunda yang melihat kemana arah pandangan Shandy.


Shandy mengangguk paham. Ia menggunakan sebelah tangannya untuk memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja kembali nyeri. Tiba-tiba saja tangan bunda ikut memijat kepalanya.


“Masih pusing? Kata dokter kamu stress juga. Kamu ada masalah? Tadi waktu pulang sekolah Dara kesini dan cerita katanya kamu nangis di mobil dia tadi pagi. Ada apa sayang?” Tanya bunda. Kekhawatiran tampak jelas di wajah cantiknya.


Shandy menghela nafas kesal. Dasar Dara ember, umpatnya dalam hati. “Maaf bun, bukannya Shandy gak mau cerita ke bunda. Cuma kayaknya ini masih belum saatnya. Nanti kalau Shandy siap, Shandy pasti akan cerita semua ke bunda. Bunda mau kan nunggu sampai Shandy siap?” Ia menggenggam tangan bundanya erat.


Belum, ini belum saatnya. Ini masih perasaan yang belum jelas. Belum saatnya siapapun tahu, batin Shandy berusaha meyakinkan keputusannya.


Bunda menatap Shandy dan mengangguk pasrah. “Baiklah kalau itu mau kamu, bunda ikuti. Tapi janji sama bunda, kalau ada masalah apapun cerita sama bunda ya. Ingat, Shandy masih punya bunda dan ayah.” Ujar bunda sembari memeluk putrinya kembali.


“Nah, sekarang kamu makan dulu ya. Tadi siang kan kamu belum makan, nanti gak sembuh-sembuh kalau gak makan.” Ujar bunda sambil mengambil mangkuk di atas meja.


Begitu mangkuk yang diletakkan di meja dibuka penutupnya, bau harum langsung menyerbak masuk ke hidung Shandy. Ternyata bi Ijah memasak bubur dan sup ayam. Menu kesukaan Shandy ketika dirinya sedang tidak enak badan. Jangan lupakan segelas teh manis hangat yang akan segera mengembalikan tenaganya yang hilang.


Segera diambilnya sesendok bubur beserta lauknya dan dimasukkannya ke dalam mulut. Rasa hangat langsung menyerbak ke seluruh tubuh Shandy. Rasanya sangat hangat dan nyaman.


“Oh ya sayang, nanti habis makan kamu telepon Dirga ya. Jangan lupa bilang makasih.” Ujar bunda di tengah acara makan Shandy.


Shandy menatapnya dengan tatapan bingung. “Emangnya kenapa bun?” Tanya Shandy.


“Lho kamu belum tahu ya? Eh iya bunda belum bilang. Nanti itu yang nganter kamu ke rumah itu Dirga. Dia juga yang telepon bunda bilang kalau kamu pingsan. Bahkan dia juga yang telepon dokter keluarga mereka buat datang kesini buat rawat.” Shandy hampir saja menyemburkan teh yang sedang diteguknya.


Apa tadi kata bunda? Kenapa jadi dia yang berperan? Kenapa kedua sahabatnya? Batin Shandy panik.

__ADS_1


“Kok bisa bun? Dara sama Monik gak ikut nganter pulang? Perasaan tadi Shandy pingsan di kantin deh. Eh tunggu dulu.” Shandy berhenti berbicara. Ia teringat akan sesuatu.


“Jangan bilang yang nolongin Shandy di kantin itu Dirga? Ah, kak Dirga maksudnya.” Ralat Shandy cepat sebelum bunda sadar ia salah.


Bunda mengangguk semangat. “Iya sayang. Dirga cerita katanya lagi jalan ke kantin. Eh pasti dia berdiri di belakang kamu dan teman-teman kamu, awalnya dia mau menyapa kalian. Malah kamu yang limbung, langsunglah dia tangkap. Dan langsung dibawa ke rumah. Kamu tahu gak, dia tadi disini sampai jam 2 lho. Cuma katanya dia harus balik lagi ke sekolah buat kasih pr dan tugas buat kelasnya. Katanya sih nanti mau kesini lagi.” Ujar bunda panjang lebar yang jujur membuat kepala Shandy terasa semakin pusing.


Bunda masih asyik menjelaskan bagaimana hebatnya Dirga hari ini ketika pintu kamar Shandy diketok seseorang dari luar.


“Neng, ada mas Dirga disini. Boleh bibi suruh masuk?” 


Wajah bunda langsung berubah sangat semangat. “Suruh masuk aja bi. Bilang langsung ke kamar Shandy aja ya.” Sahut bunda sambil berdiri dari duduknya.


Shandy belum sempat mengatakan apapun ketika bunda telah menghilang dari kamarnya secepat kilat. Ia hanya menghela nafas berat dan menutup matanya dengan sebelah tangannya.


“Masih pusing? Kok gak berbaring aja?” Suara Dirga terdengar memasuki indra pendengarannya dan membuat Shandy memejamkan matanya semakin erat.


“Begitukah tindakanmu sama orang yang udah rela repot hari ini karena kamu pingsan gak kenal tempat?” Shandy naik pitam mendengar kalimat Dirga.


Ditatapnya pria yang tengah berdiri di depan tempat tidurnya itu. “Siapa yang minta kamu buat repot? Dan kenapa mau repot buat aku? Kamu bisa aja suruh teman-temanku atau siapapun di sekolah buat antar aku pulang. Aku rasa kamu tidak punya tanggung jawab apapun yang membuat kamu harus melakukan semuanya.” Sembur Shandy emosi.


Ia merasa suhu tubuhnya kembali naik. Jangan lupa nafasnya yang berhembus cepat dan detak jantungnya yang berdetak semakin cepat. Perpaduan lengkap antara kesal, lelah dan kondisi tubuhnya yang belum sembuh.


Dirga hanya menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Pria itu tiba-tiba berjalan mendekati Shandy dan menarik kursi yang diduduki bunda tadi mendekati kasurnya. 


“Maaf sebelumnya kalau aku bilang kayak begitu. Aku gak ada maksud buat bikin kamu salah paham. Aku sama sekali gak keberatan atas apa yang sudah aku lakukan hari ini. Dan aku kesini cuma mau memastikan kalau kamu udah gak papa. Melihat kamu yang udah bisa ngomel sepanjang itu, aku rasa kamu sudah sehat.” Ujar Dirga sambil mengulas senyum simpul.


 Shandy membuang pandangannya ke arah lain. Ia tidak suka dengan situasi seperti ini. Canggung dan aneh. 


“Kalau begitu aku pergi dulu. Kamu gak usah sekolah dulu besok. Pastikan kondisi kamu sehat betul baru masuk sekolah.” Ujarnya sambil berdiri dari kursi. 


“Udah, gak usah ngambek lagi. Aku pergi ya. Cepat sembuh.” Pamitnya sekali lagi. Jangan lupakan tangannya yang mengacak rambut Shandy sekilas.

__ADS_1


Begitu pria itu keluar dari kamar Shandy, ia langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa wajahnya sangat panas dan jantungnya berdetak jauh lebih cepat.


Aku kenapa sih? Batinnya bingung merasakan reaksi tubuhnya dengan afeksi kecil Dirga.


__ADS_2