
Minggu ujian akhirnya berlalu bagi Shandy dan teman-temannya dan liburan semesterlah yang akan menyambut mereka berikutnya.
"Aaahhh, akhirnya. LIBURAN DATAAANGG," sorak Dara semangat.
Shandy sendiri hanya menatap temannya itu sambil tersenyum. Ia juga senang dengan libur. Walaupun sejujurnya ia akan sedikit merindukan teman-temannya di sekolah. Rindu dengan canda tawa dan juga kekonyolan mereka.
"Shan, kamu kenapa murung begitu? Liburan lho ini. Gak suka?" tanya Dara yang melihat wajah Shandy terlihat murung.
"Gak pa pa Dara. Takut kangen aja sama kalian," ujar Shandy sambil tersenyum menatap Dara.
"Ahh, Shandy manis banget. Kalo kangen, call aja langsung. Dara akan siap siaga main ke rumah Shandy," yang hanya dibalas Shandy dengan senyuman manis.
"Eh, ngomong-ngomong kamu jadi magang di tempat bunda kamu? Kamu pernah cerita kalo liburan mau magang di bunda kamu kan?" tanya Dara tiba-tiba.
"Jadi kok. Daripada bosen liburan gak ngapa-ngapain. Bukan magang sih lebih tepatnya. Cuma bantuin bunda aja," sahut Shandy.
Shandy sendiri memang ada niatan untuk menjadi desainer seperti sang bunda. Itulah kenapa ia ingin mulai belajar sejak dini. Agar nantinya bisa sudah di bangku perkuliahan, ia tidak terlalu sulit mengikuti.
"Ooh, gitu. Sukses deh," ujar Dara memberi semangat.
Shandy telah berada di rumah siang itu dan dilihatnya bunda juga sedang berada di rumah. Tidak biasanya sang bunda di rumah siang-siang begini. Biasanya bunda akan pulang sebelum papa pulang. Tidak ingin berspekulasi sendiri, Shandy segera berjalan ke arah sang bunda.
"Bunda kok udah di rumah jam segini? Ada acara apa?" tanya Shandy pada sang bunda yang asyik menonton tv. Ia segera duduk di sebelah sang bunda
"Eh, kamu udah pulang?" tanya bunda balik.
"Nanti malam tante Diah sama suami dan anaknya mau main kesini. Makanya bunda pulang cepet. Mau nyiapin makan malam dulu," sahut sang bunda santai.
"Tante Diah? Mau jodohin anaknya lagi ke Shandy?" sahut Shandy ketus.
__ADS_1
"Mungkin. Bunda juga gak mau asal nebak. Minggu lalu tante Diah telfon ngajakin makan malem bareng. Katanya cuma pengin kenal lebih deket aja," jawab bunda.
Shandy sejujurnya tidak terlalu suka acara seperti ini. Acara perjodohan. Mana mau dia ikut begituan.
"Kalo sampe akhirnya tante Diah beneran jodohin kamu sama anaknya, jalanin aja kali. Kalo gak cocok, ya bubar aja. Bunda sih sesukanya kamu aja," jawab bunda.
Shandy sendiri hanya menghela nafas panjang dan mengangguk singkat. Ia sepertinya sudah tidak punya pilihan lagi.
'Yaudah deh, jalanin aja. Kayak yang bunda bilang. Cocok lanjut, gak cocok ya bubar,' batin Shandy.
"Kamu ganti baju sana gih. Bi Ijah udah siapin makan siang. Abis itu istirahat. Ntar malem acaranya jam 7 ya," perintah sang bunda.
"Iya bun. Shandy ke kamar dulu ya," pamit Shandy pada sang bunda yang kembali asyik nonton tv.
Waktu menunjukkan pukul 18.30 ketika Shandy selesai bersiap. Kata bunda pakai long dress saja. Rambutnya hitam panjangnya hanya ia jepit kecil ke belakang. Wajahnya yang sudah cantik pun hanya ia beri pulasan sedikit. Tidak terlalu menot karena ia juga tidak suka. Natural saja sudah sangat pas, pikir Shandy. Ia juga tidak menggunakan banyak perhiasan. Hanya sepasang anting mungil yang menghiasi telinganya dan sebuah kalung kecil yang menghiasi leher jenjangnya.
"Wah, neng Shandy cantik sekali. Jarang bibi liat neng Shandy dandan," puji bi Ijah.
"Ih, bi Ijah bisa aja nih. Shandy cuma dandan biasa aja bi. Menghormati tamu bi," sanggah Shandy malu-malu.
"Itu baju sample yang kamu minta waktu itu kan? Bagus juga ya. Harus bunda kembangin lagi nih," ujar sang bunda yang melihat baju yang dikenakan oleh Shandy.
Memang, baju yang digunakan Shandy malam ini merupakan baju yang waktu itu menjadi sample model sang bunda. Dan Shandy langsung menyukainya begitu ia melihat baju itu di kantor sang bunda.
"Iya bun. Kan Shandy udah bilang dari waktu itu. Baju ini tuh bagus banget. Lanjutin deh bun. Pasti laris banget," sahut Shandy semangat.
Saat keduanya sedang asyik mengobrol, terdengar bel pintu rumah mereka berbunyi. Segera bi Ijah menuju pintu depan dan membukakan pintu. Ternyata itu tante Diah dan keluarganya yang datang.
Bunda dan papa segera menyambut tamu mereka. Terlebih bunda dan tante Diah yang terlihat sangat semangat. Shandy hanya mengikuti di belakang punggung sang bunda.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya ia ketika dilihatnya seorang pria tinggi berdiri di belakang tante Diah. Pria yang membuatnya emosi beberapa minggu lalu. Pria yang tidak sengaja akan menambaknya di depan butik sang bunda.
Tante Diah yang melihat gelagat Shandy segera melihat sang putra yang juga terlihat terkejut melihat Shandy.
"Kalian berdua kenapa sih? Udah pernah ketemu sebelumnya?" tanya Tante Diah penasaran.
Shandy segera mendekat pada sang bunda dan berbisik di telinganya,"bun, dia orang yang waktu itu hampir nabrak Shandy di depan butik bunda," sang bunda terkejut dengan kalimat Shandy.
"Kenapa jeng? Ada apa?" tanya tante Diah tambah penasaran.
"Ah, jadk gini jeng. Beberapa minggu yang lalu, nak Dirga dan Shandy tidak sengaja hampir terlibat kecelakaan di depan butik saya," ujar sang bunda.
Shandy yang tidak terima dengan kalimat sang bunda segera menyela.
"Shandy hampir ditabrak lebih tepatnya tante. Anak tante nyetir ngebut banget dan hampir nabrak Shandy yang waktu itu mau nyebrang," sembur Shandy.
Dirga yang terlihat tidak terima terlihat akan membantah. Dan sebelum ia sempat membantah, sang bunda sudah terlebih dahulu bertanya padanya.
"Apa betul itu Dirga? Kamu hampir nabrak Shandy?" tanya sang bunda galak.
"Gak kok bun. Dia aja yang gak hati-hati mau nyebrang. Asal nyelonong aja," bantah Dirga tidak terima.
Shandy sudah akan membantah lagi ketika sang bunda menyela perdebatan mereka," aduh, kok jadi berantem gini sih. Ayo masuk dulu. Kok jadi berdebat di depan pintu gini," ujar sang bunda yang bingung dengan suasana sedang terjadi.
Akhirnya mereka segera bergeser menuju meja makan untuk segera menyantap makanan yang telah disiapkan.
Tapi tidak dengan Shandy dan Dirga. Kedunya masih terus saling menatap sengit. Masih tidak terima dengan perdebatan mereka. Keduanya merasa merekalah yang paling benar.
'Kayaknya bakalan susah ini. Harus ada usaha ekstra buat deketin mereka,' batin tante Diah yang melihat interaksi keduanya.
__ADS_1