I Love You, Pak

I Love You, Pak
18.


__ADS_3

Sudah 3 hari Shandy tidak masuk sekolah dan hari ini ia memutuskan untuk kembali masuk ke sekolah. Sejak pagi bunda sudah heboh bolak-balik bertanya bagaimana kondisinya. Ia bahkan diberi 1001 nasehat oleh bunda yang sebenarnya sebagian besar berisi kekhawatiran sang bunda. Sampai ayah harus ikut bicara agar bunda berhenti dengan nasihat panjangnya.


Jangan lupakan Dirga yang rasanya sudah seperti penghuni tetap rumah Shandy. Setiap hari sebelum berangkat dan pulang dari sekolah ia selalu mampir ke rumah Shandy dengan dalih kunjungan rumah oleh guru sekolah. Sungguh sangat konyol.


Seperti pagi ini juga. Ini bahkan baru pukul 6 pagi dan pria itu sudah duduk di meja makan bersama ayah dan bunda, bersiap untuk sarapan.


“Pagi yah, bun,” sapa Shandy begitu ia tiba di ruang makan. Shandy segera mengambil tempat duduk di sebelah sang bunda, berseberangan dengan Dirga.


“Kok ayah sama bunda aja yang disapa? Dirga gak mau disapa juga?” Tegur bunda yang mendengar Shandy tidak menyapa Dirga.


Shandy melirik Dirga sekilas. “Pagi.” Sapanya singkat tanpa basa basi.


Dirga yang mendapat sapaan pagi seperti itu hanya tersenyum simpul. “Pagi juga Shandy,” balasnya ramah yang membuat Shandy memutar bola matanya malas.


“Jadi sayang, sebelumnya bunda minta maaf karena ambil keputusan ini sepihak. Tapi mulai hari ini, bunda minta Dirga buat antar jemput kamu.” Shandy membelalakan matanya mendengar kalimat bunda. “Hanya sampai keadaanmu membaik kok.” Tambah bunda cepat.


“Kenapa harus sama dia bunda? Kan Shandy bisa berangkat sama Dara atau Monik.” Protes Shandy yang masih tidak terima dengan keputusan bunda.


Bunda mendekati sang putri dan mengelus rambutnya pelan. “Bunda khawatir sama kamu. Dan teman kamu sama-sama anak sma juga, bunda gak tenang. Dirga sudah lebih dewasa dan lebih paham apa yang harus dilakukan sayang. Mau ya? Paling lama juga cuma sampai minggu depan.” Bujuk bunda yang masih belum mau kalah.


Shandy menghembuskan nafasnya kasar. Ia sayang bunda dan tidak ingin membuat wanita cantik itu khawatir. “Yaudah, terserah bunda saja,” sahutnya pasrah.


Senyum ceria dan lega merekah di wajah bunda. “Yaudah, ayo lanjutin sarapannya. Nanti kalian keburu telat lo.”


Waktu menunjukkan tepat pukul 6.15 ketika Shandy dan Dirga akhirnya bersiap untuk berangkat. “Nanti pulang sekolah langsung pulang aja ya, gak usah ke butik bunda. Pulang dan langsung istirahat.” Shandy hanya mengangguk kecil mendengar pesan bunda yang entah untuk yang ke berapa kali hari ini.


“Bunda, Shandy berangkat dulu ya,” pamit Shandy sambil mencium pipi bundanya.

__ADS_1


Bunda balas mengecup kedua pipi Shandy. “Iya sayang. Kamu hati-hati di jalan ya.Kalau udah sampai sekolah, kabari bunda. Dirga juga nyetirnya hati-hati ya.” Dirga mengangguk mantap mendengar pesan bunda.


Sepanjang perjalanan menuju sekolah, seperti yang sudah diperkirakan. Tidak ada pembicaraan apapun antara keduanya. Mereka sibuk dengan pikiran dan kegiatan masing-masing. Shandy sibuk berbalas pesan dengan teman-temannya dan Dirga sibuk dengan acara mengemudinya.


20 meter sebelum tiba di gerbang sekolah tiba-tiba saja Shandy bersuara. “Turun sini aja.” Dirga refleks menginjak pedal rem dan menepikan mobilnya.


“Gimana?” Tanyanya bingung dengan kalimat Shandy.


Shandy tidak menggubris pertanyaan Dirga. Ia segera meraih tas dan memasukkan ponselnya ke dalam saku seragam. Ia turun dari mobil tanpa mengatakan apapun pada Dirga.


Dirga yang tidak terima dengan kelakuan Shandy, ikut turun dari mobil dan menghadang langkah gadis itu. “Apa maksudnya ini? Kamu kenapa turun disini?”


Shandy menghadapkan tubuhnya pada Dirga. “Terus mau kamu gimana? Aku turun di sekolah begitu? Dari mobil kamu? Tidak, terima kasih. Aku masih ingin menyelesaikan masa sma ku tanpa gosip murahan.” Sahutnya ketus dan kembali berjalan meninggalkan Dirga.


Dirga hanya menatap punggung gadis itu semakin menjauh. “Dasar keras kepala. Susah juga ternyata sama anak sma.” Gumamnya sambil kembali masuk ke dalam mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju sekolah yang hanya tinggal beberapa meter itu.


Setibanya di sekolah, Dirga melihat Shandy tengah berpelukan dengan kedua sahabatnya. Dirga sendiri memilih acuh dan melanjutkan langkahnya menuju ruang guru.


Dirga menolehkan kepalanya dan turut menyapa guru tersebut. “Selamat pagi juga bu Indah. Bu Indah juga cantik sekali pagi ini.” Balas Dirga tak kalah ramah pada guru sejarah itu.


Bu Indah memukul lengan Dirga manja. “Ah, pak Dirga bisa aja. Jadi malu saya dipuji orang ganteng.” Dirga hanya tersenyum kecil. 


Jam istirahat telah tiba dan Shandy beserta ketiga sahabatnya juga telah berada di kantin. Kali ini mereka cukup beruntung karena mendapat pesanan terlebih dahulu dan meja yang strategis, tepat di tengah kantin.


“Jadi, kata dokter kamu sakit apa? Perasaan hari sebelumnya kamu masih baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba sakit?” Tanya Monik di sela-sela makan siang mereka.


Shandy menatapnya dan tersenyum kecil. “Kecapekan katanya. Mungkin karena aku terlalu forsir diri di butik bunda. Terus tanpa sadar sudah waktunya masuk sekolah dan sama sekali belum istirahat yang betulan. Jadi ya gitu deh.”

__ADS_1


Monik menggelengkan kepalanya. “Kamu terlalu ambisi sih. Santai aja lah, sambil jalan begitu.” 


Shandy hanya tersenyum kecil, tidak mau membahasnya lagi. Ia sudah bosan dengan komentar semua orang tentang dirinya yang terlalu ambisius. Ia hanya berpikir untuk melakukan yang terbaik dalam segala hal. Hanya itu.


Mereka masih asyik dengan acara makan siang ketika segerombolan tim basket mendatangi meja mereka. Itu Dion dan teman-temannya.


“Hai Shandy. Dengar kabar katanya kamu habis sakit ya? Jaga kesehatan dong. Kan aku juga sedih kalau kamu sakit.” Ujar Dion yang hanya ditanggapi senyum kecil oleh Shandy.


“Eh Dion, gak papa nih kamu ke meja mantan kamu? Nanti Nadia marah lho pacarnya masih deket sama mantan.” Ujar Dara sinis sambil menekankan kata mantan. Nadia merupakan pacar Dion yang sekarang. Gadis cantik dan seksi teman sekelas Monik.


Dion melirik Dara tidak kalah sinis. “Kamu kenapa sih? Perasaan dari aku pacaran sama Shandy dulu sinis melulu bawaannya. Kamu suka sama aku?” 


Dara membelalakan matanya menatap Dion. Ia bahkan kini sudah berdiri dari kursinya. “Heh, asal kamu tahu ya. Pacarku bahkan jauh lebih bagus daripada kamu. Dan kamu tanya kenapa aku sinis sama kamu? Aku gak rela Shandy pacaran sama kamu. Playboy gak tahu malu yang suka mainin cewek. Aku pikir kamu berubah setelah sama Shandy, ternyata kamu sama aja. Shandy terlalu berharga karena pernah menjalin hubungan sama orang kayak kamu.” Bentak Dara dengan sepenuh tenaga. Nafasnya tersengal dan wajahnya memerah karena emosi yang baru saja ia keluarkan.


Shandy dan Monik menatapnya terkejut. Baru kali ini mereka melihat Dara marah yang sangat marah. Biasanya Dara hanya marah main-main atau bahkan hanya mengomel tidak jelas. Tapi kali ini, ia seperti meluapkan seluruh isi hatinya pada Dion.


Ternyata tidak hanya Shandy dan Monik, anggota tim basket lainnya juga terkejut dengan emosi Dara. Kalau itu Monik, mungkin mereka tidak akan kaget lagi. Tapi ini Dara, si manusia paling riang seangkatan.


Dion sendiri sepertinya enggan membalas luapan emosi Dara. Ia hanya melirik Dara dan Shandy sekilas dan beranjak dari tempat duduknya. Segera ia pergi dari sana dan baru disadarinya mereka jadi tontonan seru para pengunjung kantin siang ini.


Setelah Dion dan teman-temannya pergi, Shandy segera menghampiri Dara. Ia segera duduk di sebelah gadis itu. Segera diberikannya minuman dan diteguk oleh Dara dengan cepat.


“Pelan-pelan aja, nanti kamu tersedak,” ujar Shandy sambil mengelus punggung Dara.


“Gimana udah enakan? Kamu tadi keren banget deh. Makasih banget ya udah mau belain aku.” Ujar Shandy disertai senyum manisnya.


Dara menatapnya dan segera memeluk gadis itu. “Aku marah banget sama kelakuan Dion. Aku gak peduli dia ganteng atau anak basket, sahabatku terlalu baik buat disakiti.” Shandy memeluk Dara semakin erat. Betapa beruntungnya dia memiliki sahabat seperti Dara.

__ADS_1


“Ikut peluk dong.” Ujar Monik sambil memeluk kedua sahabatnya. Sungguh persahabatan yang sangat manis.


Mereka bahkan tidak menyadari bila sedari tadi ada seseorang yang terus menatap semua kejadian yang terjadi.


__ADS_2