
“Lama banget nyusulnya. Mampir kemana dulu?” Tanya Dara begitu Shandy menyusul duduk di hadapannya di kantin.
“Tadi ngobrol sebentar sama miss Ale di jalan makanya agak lama.” Sahut Shandy singkat.
Dara mengangguk paham. “Aku tadi pesenin kamu nasi goreng sama jus jeruk sama kayak aku. Gak papa kan?”
“Gak papa kok. Aku juga lagi gak tahu mau makan apa.”
Keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dara sibuk berbalas pesan dengan kekasihnya sementara Shandy mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin yang ramai seperti biasanya.
Dari kantin sekolah mereka juga bisa langsung terlihat lapangan basket. Disana ada Dion dan teman-temannya yang sedang bertanding basket. Pria itu memang hobi main basket setiap kali jam istirahat. Dan di kursi samping lapangan sudah ada Nadia yang siap dengan handuk dan minuman isotonik.
“Hei, melamun aja. Udah datang tuh makanannya.” Tegur Dara yang melihat Shandy sibuk menatap ke arah lapangan basket.
Shandy langsung menolehkan kepalanya dan menatap makanan mereka telah tersedia dengan apik di hadapannya.“Ah, maaf. Yuk makan.”
Keduanya kembali diselimuti keheningan. Mereka memilih fokus dengan makanan masing-masing. Hingga seseorang menghampiri meja mereka.
“Wah, kayaknya enak tuh.” Itu Alea yang tiba-tiba saja duduk di sebelah Shandy.
Shandy dan Dara serempak menatap ke arah Alea dengan pandangan yang berbeda. Bila Dara menatap Alea dengan senyum lebar berbeda dengan Shandy yang menatapnya malas.
“Iya miss. Miss Ale harus cobain nasi goreng di kantin ini. Enaknya gak ada obat.” Ujar Dara semangat.
“Wah, jadi tambah penasaran. Sayang banget saya juga baru selesai makan.”
__ADS_1
“Kalau sudah selesai makan, ngapain ke kantin lagi miss? Lagipula sebentar lagi sudah jam masuk kelas.” Sahut Shandy ketus.
Dara menatap Shandy bingung. Kenapa Shandy tiba-tiba ketus dengan miss Ale? Apa mereka terlibat perdebatan waktu mau kesini tadi? Batin Dara.
Alea tersenyum mendengar kalimat Shandy. “Saya cuma mau menyapa kalian kok. Dan karena sudah menyapa, saya duluan.” Sahut Alea sambil berlalu meninggalkan meja Shandy.
“Kamu kenapa sih? Kayak punya dendam gitu ke miss Ale. Tadi kalian berantem waktu mau kesini?”
Shandy memilih tidak menjawab pertanyaan Dara. Ia melanjutkan makan siangnya yang tertunda. Walaupun kalau mau jujur, ia sebenarnya sudah tidak bernafsu menghabiskan nasi goreng yang masih separuh itu. Mood nya rusak karena kedatangan Alea.
Dara menghela nafas kasar. “Yaudah kalau kamu memang mau cerita. Tapi kalau kamu butuh teman, aku akan selalu siap buat jadi tempat sampah kamu.”
Dara tersenyum tipis mendengar kalimat Dara. “Iya, makasih ya.”
“Sudah cukup mellow nya, 5 menit lagi bel masuk bunyi dan kamu pasti gak mau dihukum bu Ayu karena telat masuk kelas fisika kan.” Dan keduanya menuntaskan makan siang mereka dengan cepat.
Hari sudah semakin panas dan Shandy sedang tidak mau berdebat dengan siapapun. Ia segera masuk ke kursi penumpang dan memasang sabuk pengamannya.
Alea menolehkan tubuhnya menghadap Shandy. “Maaf ya Shandy hari ini aku numpang kalian. Tadi aku diantar sama papaku dan papaku sekarang lagi rapat jadinya gak bisa jemput. Besok aku udah bawa mobil sendiri kok.” Ujar Alea pada Shandy yang menatap pemandangan diluar jendela.
Shandy menatap Alea dan tersenyum simpul. “Ini mobil Dirga. Kamu gak perlu minta maaf sama aku. Aku juga numpang kok hitungannya.” Sahut Shandy singkat.
Alea tersenyum lebar. “Syukurlah kalau kamu gak masalah. Tuh, kamu dengar sendiri kan. Shandy aja gak keberatan kenapa jadi kamu yang keberatan?” Ujar Alea sambil memukul manja lengan Dirga.
Pria itu menatap Shandy dari kaca spion dan tersenyum singkat pada Alea. “ Ya baguslah kalau begitu.”
__ADS_1
“Eh ngomong-ngomong siapa dulu nih yang diantar? Aku dulu apa Shandy dulu?” Tanya Alea.
“Aku dulu/ Kamu dulu.”Jawaban berbeda keluar dari mulut Shandy dan Dirga.
“Lho, gimana? Aku duluan apa Shandy duluan?” Tanya Alea bingung.
“Aku dulu aja ya. Udah capek banget ini.” Sahut Shandy cepat.
“Wah kalau begitu Shandy duluan aja deh. Kasihan udah kecapekan.” Dan lagi, Dirga kembali melirik Shandy dari kaca spion. Pria itu hanya menghembuskan nafas pelan.
30 menit dan mereka tiba di depan rumah Shandy. “Oh, ini rumah Shandy. Ternyata iya, lebih dekat ke rumahku tapi gak papa lah. Selamat istirahat ya Shandy, besok ketemu lagi di sekolah.” Shandy hanya tersenyum menanggapi kalimat Alea. Ia bergegas menuju ke arah rumahnya.
“Shandy ternyata anak yang manis ya. Pintar juga ternyata. Tipe gadis yang selalu jadi bintang utama di novel romantis. Pantas kamu suka sama dia.”
Dirga menolehkan kepalanya cepat menatap Alea. “Apa maksud kamu?”
Alea tersenyum miring. “Iya, kamu. Dirga Wijaya si idola jaman sma suka sama Shandy si bocah sma yang usianya 8 tahun lebih muda dari kita. Am i right?”
“Aku gak tahu kamu dapat pikiran itu dari mana. Kalau yang kamu pikirkan soal kenapa aku sering jalan bareng atau bahkan ajakin dia pulang bersama, semua karena bunda. Bunda Shandy dan bundaku berteman. That’s it. Cuma itu alasannya.”
“Bagaimana dengan tindakan heroik kamu waktu Shandy pingsan? Dirga, aku kenal kamu gak cuma satu dua hari. Kamu bukan orang dengan jiwa sosial tinggi. Kamu gak akan pernah bantu orang yang gak ngasih impact apapun ke kamu. Oke, mungkin kamu memang sudah lebih dewasa sekarang. Tapi, aku rasa sifat itu tidak serta merta muncul di kamu secara cepat.”
“Kamu suka sama Shandy tanpa kamu sadari. Tindakan kamu berbeda ke dia. Kamu pikir aku gak sadar kalau kamu emang pengen nganterin aku pulang duluan karena mau berduaan sama dia? Aku bukan anak kecil Dirga. And i’m not stupid buat lihat kamu khawatir sama pemikiran Shandy soal kita.”
Dirga tidak mengatakan sepatah katapun. Entah ia memang tidak mau atau tidak bisa menjawab argumen Alea.
__ADS_1
Karena sejujurnya ia juga masih mempertanyakan perasaannya sendiri. Ia merasa semua dilakukan atas perintah bunda. Tapi di satu sisi, ia menyukai ini. Ia suka dengan rutinitas hariannya.
“Pikirkan lagi kalimatku. Kalau kamu memang gak serius sama Shandy, jangan beri dia harapan. Karena sepertinya dia juga ada rasa sama kamu.” Ujar Alea terakhir sebelum turun dari mobil dan masuk ke halaman rumahnya.