
Esok paginya, Shandy telah siap untuk ikut bunda ke butiknya. Ia sudah tidak sabar menunggu hari ini. Akhirnya acara liburannya bisa bermanfaat.
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi ketika mereka berangkat ke butik dengan mobil yang dikemudikan sendiri oleh bunda.
“Kamu mau beli sesuatu dulu sebelum ke butik?” Tanya bunda pada Shandy yang asyik bergumam mengikuti lagu yang berkumandang dari radio di mobil.
“Apa ya bun? Cake gitu gimana? Yang di dekat butik?”
“Boleh deh. Bunda kebetulan lagi pengen brownies juga.”
Tidak lama keduanya tiba di toko kue yang dimaksud. Karena hari yang masih cukup pagi, keadaan pun masih cukup sepi. Hanya ada seorang wanita bersama pria muda yang telah berada di dalamnya.
Shandy sendiri langsung menuju ke area sandwich. Entah kenapa ia menginginkan roti isi itu. Padahal ia tadi sudah sarapan dengan menu bergizi dari bi Ijah.
Ketika ia dan bunda akan membayar, wanita yang telah berada di dalam toko kue itu menyapanya.
“Lho jeng Liliana dan Shandy? Mau beli roti juga?” Sapa wanita yang ternyata tante Diah.
Oh good. Pagi-pagi udah ribet aja, gerutu Shandy mendengar suara tante Diah.
“Eh jeng. Iya ini mau berangkat ke butik sebenarnya. Tapi masih cari snack dulu. Sama siapa kesini?” Sapa bunda tak kalah ramah.
Tante Diah terlihat mencari seseorang hingga ia menemukan seorang pemuda tengah melihat-lihat display toko. “Dirga, kesini dulu.”
Dirga yang mendengar namanya dipanggil segera berjalan ke arah sang bunda. Tidak peduli dengan wajah Shandy yang sudah menatapnya masam.
“Ini, sama bujang satu nih. Semenjak pulang ke Jakarta pokoknya wajib jadi sopir bunda.”
“Oh gitu. Eh, kami duluan ya jeng. Udah kesiangan nih ke butik.” Pamit bunda pada tante Diah yang membuat Shandy bersorak dalam hati.
“Oh iya iya. Aduh, jadi menghambat nih karena diajak ngobrol terus.” Seru tante Diah yang panik meminta maaf.
Bunda tersenyum kecil. “Gak papa kok jeng. Yuk Shandy, pamit dulu sama tante Diah.”
__ADS_1
Shandy tersenyum kecil. “Tante, Shandy pamit dulu ya.”
“Iya sayang. Gak mau pamit sama Dirga juga?” Tanya tante Diah.
Shandy melirik pria itu sekilas. “Pamit kak.” Ujarnya singkat dan langsung mengambil plastik berisi pesanan mereka dan menarik tangan bunda untuk keluar; tanpa mendengar balasan dari Dirga.
Begitu Shandy dan sang bunda keluar dari toko kue, tante Diah langsung melempar tatapan tajam pada Dirga. “Kemarin apa yang terjadi antara kamu sama Shandy? Kenapa dia ketus begitu? Kamu pasti berbuat yang gak gak sama dia.” Tuduh tante Diah.
Dirga melirik sang bunda malas. “Gak kok. Gak ada apa-apa. Emang dia aja yang mungkin lagi gak mood.” Ujarnya sambil mengambil pesanan mereka.
“Bunda gak percaya. Kelihatan di matanya kalau Shandy marah sama kamu.” Ujar tante Diah masih tidak mau kalah.
Dirga menghela nafasnya kasar. “Dirga gak tau bunda. Kalau bunda masih penasaran, kenapa bunda gak tanya langsung aja ke Shandy atau tante Liliana?”
Tante Diah menatap Dirga sejenak. “Yaudah nanti bunda tanya langsung ke mereka. Kenapa manisku marah begitu.”
Dirga hanya buang muka mendengar ibunya yang terlalu berlebihan itu.
...***...
“Udah lama mbak mereka nunggu?” Tanya Shandy pada mbak Dewi yang sibuk menyiapkan contoh desain yang akan ia tunjukkan pada klien mereka.
Mbak Dewi melirik jam tangannya. “Sekitar 10 menit lah. Awalnya mau mbak tunjukin koleksi kita dulu, tapi orangnya maksa mau nunggu ibu. Yaudah, mbak suruh masuk ke ruang fitting aja.” Shandy mengangguk mendengar penjelas mbak Dewi.
Begitu masuk ke butik, bunda bergegas menemui kliennya itu. Tidak lupa dibawanya contoh yang telah disiapkan oleh mbak Dewi tadi.
Sementara bunda sibuk dengan kliennya, Shandy mengikuti mbak Dewi ke ruang desain. Ia ingin mencoba membuat desainnya sendiri hari ini. Shandy merasa dari semua elemen, keterampilan menggambar nyalah yang paling kurang.
Shandy tengah asyik dengan gambarnya ketika bunda masuk ke ruang desain. Terlihat berbincang sedikit dengan mbak Dewi dan menyerahkan kertas berisi rancangan desain yang diinginkan oleh klien.
“Dia kenalan bunda? Kata mbak Dewi dia maksa mau ketemu bunda.”
Bunda diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Shandy. “Dia anak mantan pacar bunda.” Sahut bunda lirih.
__ADS_1
Shandy terlihat terkejut dengan kalimat bunda. “Mantan pacar bunda? Kok bisa tau ini butik punya bunda?”
“Ayahnya yang rekomendasikan bunda ke dia. Bunda juga gak paham kenapa harus bunda?” Ujar bunda sambil menghela nafas kasar.
“Buat apa sih? Kan udah mantan juga. Lagipula kan semua udah punya keluarga, ngapain ganggu bunda lagi?” Sahut Shandy. Nada suaranya mulai naik karena ia kesal.
“Bunda gak akan bertanya apapun masalah itu. Bunda akan tetap bersikap profesional. Dia klien bunda dan akan bunda perlakukan sama seperti yang lain. Terlepas dari latar belakangnya.” Sahut bunda tegas.
Shandy tersenyum lebar. “Gitu dong. Itu baru bundanya Shandy.” Ujar Shandy sambil memeluk bunda dari samping.
“Eh iya. Barusa tante Diah kirim pesan ke bunda. Tanya kenapa kamu marah ke Dirga. Harus bunda jawab apa ini?”
Shandy memutar bola matanya malas. “ Bilang aja Shandy lagi gak mood. Apaan sih tanya kayak gitu?” Sungut Shandy sambil kembali ke meja desainnya.
“Kamu masih marah sama Dirga? Gak mau baikan aja?” Goda bunda yang melihat wajah Shandy yang kusut.
“Gak berantem kok. Ngapain baikan?”
“Itu cemberut mulu tiap ngomongin soal Dirga. Kalau bukan berantem terus apa?”
Shandy menelungkupkan kepalanya pada tangannya yang ia llipat di meja. “Gak tau deh bun. Bodo amat deh.”
Bunda mengelus kepala Shandy. “Yaudah, bunda gak akan tanya lagi. Sana lanjutin desain kamu.” Shandy mengangguk pelan.
...***...
Sementara itu, di rumahnya tante Diah yang baru saja mendapat jawaban dari bunda Shandy hanya mengerutkan dahinya. Beneran cuma bad mood?
“Gimana? Udah dapat jawaban?” Tanya Dirga yang duduk di depan sang bunda.
“Katanya cuma bad mood aja.” Ujar bunda lirih.
“Kan, apa yang Dirga bilang? Bunda juga santai aja sih. Anak itu kan emang moodnya gampang berubah-ubah.” Sahut Dirga santai.
__ADS_1
Tapi nampaknya tante Diah masih belum percaya dengan Dirga. Pasti terjadi sesuatu. Aku harus cari tau lagi, batin bunda.