I Love You, Pak

I Love You, Pak
6.


__ADS_3

Esok paginya, Shandy terbangun lebih awal dari biasanya. Ia terkejut karena terbangun di kamarnya sendiri. Karena seingatnya, kemarin malam ia tertidur di ruang keluarga. Dan ia juga tidak merasa berjalan ke kamarnya.


Ditambah lagi ia masih mengenakan pakaian yang semalam ia gunakan. Minus sepatu yang telah terletak rapi di samping tempat tidurnya. Tak ingin berspekulasi lebih jauh, ia segera bangkit dan berjalan menuju lantai dasar rumahnya. Tak lupa mengganti bajunya dengan pakaian rumah terlebih dahulu.


Ia akhirnya memutuskan menggunakan celana pendek setengah paha dan kaos kebesaran kesukaannya. Begitu ia tiba di ruang makan, telah ada bi Ijah yang menyiapkan sarapan mereka.


“Pagi bi. Bunda sama papa belum bangun?” sapa Shandy sambil duduk di salah satu kursi.


“Pagi juga neng Shandy. Ibu tadi udah bangun, tapi balik lagi ke kamar. Kalo bapak lagi di ruang kerjanya neng,” sahut bi Ijah tanpa menghentikan pekerjaannya.


“Eh iya bi, Shandy tanya ya. Tadi malem keluarga tante Diah pulang jam berapa?”


“Lumayan malem kok neng. Bibi bersihin ruang tv itu hampir jam 11 malam kok. Berarti sebelum itu ya. Lepas jam 10 mungkin,” ujar bi Ijah sambil berusaha mengingat.


“Malem juga ya. Oh ya, bibi tau gak siapa yang nganter aku ke kamar? Soalnya semalem aku ketiduran di ruang tv,”


“Waduh, bibi gak tau neng. Begitu orang-orang pindah ke ruang tv, bibi bersihin meja makan. Abis itu nyiapin bahan buat hari ini. Jadi bibi gak ke ruang tv sama sekali,”


“Oh yaudah bi, gak pa pa kok," sahut Shandy


Dan keheningan menghampiri mereka. Shandy sibuk sendiri dengan ponselnya sambil menunggu sarapan yang disiapkan bi Ijah. Bi Ijah sendiri kembali sibuk dengan pekerjaanya.


Tak berapa lama, datanglah papa dan bunda bergabung di meja makan.


“Pagi sayang. Tumben jam segini udah di meja makan? Biasanya masih di kamar aja,” sapa bunda begitu bergabung dengan bi Ijah menyiapkan sarapan.


“Iya bun. Gak tau deh, kebangun terus gak tau mau ngapain. Akhirnya Shandy turun aja nyari temen ngobrol,” sahut Shandy.


“Wajar sih. Kamu kan tidur cepet tadi malem. Capek banget ya sayang?” tanya bunda sambil menatap Shandy.

__ADS_1


“Lumayan sih bun. Tapi gak pa pa kok,”


“Oh ya bun, ngomong-ngomong keluarga tante Diah pulangnya malem banget ya. Perasaan Shandy pulang dari mall masih sore deh. Sekitar jam 9 gak sih? Kok tante Diah pulangnya bisa malem gitu?”


“Ya kami ngobrol dulu dong sayang. Kan lucu banget malahan kalo kalian abis main terus tante Diah langsung pulang,” sahut papa dibalik koran paginya.


Akhirnya sarapan pagi mereka pun siap. Hanya sarapan sederhana yaitu nasi goreng dengan telur goreng. Sarapan kesukaan Shandy di akhir pekan. Karena bila hari biasa, ia hanya sempat makan roti dan minum susu.


Di tengah acara makan mereka, Shandy teringat lagi akan pertanyaannya sejak pagi tadi.


“Oh ya, Shandy mau tanya lagi. Tadi malem yang nganter Shandy ke kamar siapa ya? Shandy jalan sendiri kah? Kok gak kerasa ya?” tanya Shandy kepada papa dan bunda.


Dan wajah bunda yang mendadak sumringah membuat Shandy langsung berpikiran yang tidak-tidak. Jangan-jangan…


“Iya, kamu emang gak jalan. Dirga yang gendong kamu ke kamar,” sahut bunda ceria.


Kan, benar prediksi Shandy. Wajah bunda sudah mengatakan semuanya secara jelas.


“Kamu kok ngomong gitu sih? Dirga udah baik gitu mau gendong kok malah mikirnya negatif gitu,”


“Ya, habisnya. Kan waktu pertama datang tatapannya macem gak enak gitu sama Shandy. Kenapa tiba-tiba jadi baik? Atau, jangan-jangan disuruh sama tante Diah ya?” tuduh Shandy.


“Bukanlah sayang. Dirga sendiri kok yang menawarkan diri. Iya kan pa?” ujar sang bunda yang meminta persetujuan sang papa yang langsung disahuti anggukan setuju oleh papa.


“Harusnya tuh yang tanya malah bunda. Kalian berdua ngapain aja diluar sampe Dirga jadi manis gitu ke kamu? Dan kamu sadar gak kalo kamu balik sambil pake jaketnya Dirga?” tanya bunda lagi.


Sontak wajah Shandy memerah dan otaknya spontan memutar adegan dimana Dirga memakaikannya jaket pria itu. Ia bahkan lupa bila ia masih mengenakan jaket pria itu hingga ke dalam rumah.


‘Shandy ceroboh. Kalo gini kan malah bunda jadi mikir yang aneh-aneh,’ batin Shandy merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


“Jadi, Shandy Putri Darmawangsa. Ada pembelaan?” goda bunda yang melihat wajah putri cantiknya memerah.


“Bunda apaan sih? Pembelaan apaan? Macem persidangan aja,” sergah Shandy sambil melanjutkan makannya.


“Yah, dia malu pa. Dasar anak muda,” ujar bunda Shandy yang membuat wajah Shandy semakin tertekuk antara malu dan kesal karena terus-terusan digoda.


Dan sarapan itu berlanjut meriah diiringi celotehan bunda yang masih tidak bosannya menggoda putri tunggalnya itu.


Hari sudah beranjak siang ketika Shandy sedang menonton film di tv ruang keluarga mereka. Ngomong-ngomong ia sedang sendirian di rumah. Bi Ijah sedang berbelanja ke supermarket. Sedangkan papa dan bunda ada janji makan siang dengan salah satu teman lama papa. Shandy awalnya diajak, tapi ia malas ikut. Jadi, disinilah ia. Sendirian menjaga rumah.


Sedang asyik dengan tv nya, ia mendengar bel rumah mereka berbunyi nyaring. Tak ingin membuat sang tamu menunggu lama, Shandy bergegas membuka pintu rumahnya. Dan tampaklah Dirga berdiri menjulang dihadapannya.


"Tante Liliana ada?" tanya Dirga tanpa basa-basi.


"Bunda sama papa lagi pergi. Ada perlu apa?" tanya Shandy ketus.


"Ditanya baik-baik jawabnya malah ketus. Bundaku nyari tante Liliana. Ini ada sesuatu dari bunda, katanya buat tante Liliana," sahut Dirga sambil mengulurkan sebuah bungkusan pada Shandy.


"Ooh, gitu. Titipin aku aja gak pa pa. Nanti kusampaikan ke bunda," sahut Shandy sambil menerima bingkisan itu.


"Sampaikan beneran ya. Awas kalo gak," ancam Dirga.


"Iya iya, takut banget sih. Udah kan? Aku tutup dulu pintunya," ujar Shandy tanpa menunggu Dirga menjawab. Dan pintu itu tertutup tepat di depan muka Dirga.


'Dasar cewek bar-bar,' batin Dirga sambil meninggalkan halaman rumah Shandy.


Sementara itu ,Shandy yang penasaran dengan isi bungkusan yang dibawa segera membukanya begitu ia duduk kembali dk sofa depan rv.


Ternyata itu meruapakan oleh-oleh dari Swiss, terlihat dari bendera dan tulisan di bungkusan makanan itu. Mungkin saja tante Diah atau suaminya baru pulang dari Swiss.

__ADS_1


'Tapi kenapa gak dibawa kemarin aja sekalian? Kenapa repot-repot ngirim hari ini,' batin Shandy heran.


Ia tak mau pusing dengan pemikirannya sendiri. Segera ia letakkan oleh-oleh itu di meja dan melanjutkan acara menontonnya.


__ADS_2