I Love You, Pak

I Love You, Pak
19.


__ADS_3

“Tadi heboh banget di kantin. Dia siapa kamu?” Itulah kalimat pertama yang Shandy dengar ketika ia memasuki mobil Dirga. Ia bahkan belum duduk dengan benar dan sudah diberi pertanyaan seperti itu.


Shandy hanya melirik sekilas dan kembali memperbaiki posisi duduknya. Tidak lupa ia memasang sabuk pengaman ke tubuhnya. Tidak, ia tidak ikut naik ke mobil dari sekolah. Ia masih serius dengan perkataannya tadi pagi. Ia tidak mau diterpa gosip murahan. Jadi, seperti tadi pagi juga, ia naik 20 meter dari sekolah.


“Hei, aku tanya lho. Kok gak dijawab?” Tanya Dirga lagi.


“Harus dijawab? Apa untungnya buat kamu?” Sahut Shandy sarkas tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Dirga mengangkat bahunya acuh. “Entahlah, sebagai guru cuma merasa perlu tahu apa yang menyebabkan kantin ramai siang ini. Apalagi itu berhubungan dengan kamu.”


Shandy tersenyum miring. “Mulai menghayati  peran sebagai guru? Dan memangnya kenapa kalau aku? Kalau murid lain gak peduli begitu?” 


Dirga menghela nafas pelan. “Bukan begitu maksudnya. Yasudah kalau kamu tidak mau cerita. Pasti besok sudah banyak informasi yang masuk ke telingaku.” Sahutnya santai.


Hening sejenak, Shandy melipat tangannya di atas tas yang berada di pangkuannya. “Namanya Dion. Dia mantan pacarku. Kami pacaran gak lama, cuma 6 bulan kalo tidak salah ingat. Awalnya aku juga gak mau pacaran dulu. Aku merasa hidupku sudah cukup ribet dengan sekolah dan belajar desain dengan bunda.” Shandy mulai bercerita.


“4 bulan Dion berusaha melakukan pendekatan. Dari yang paling sederhana sekedar say hi dari jauh atau ikut gabung di meja kantinku dan teman-teman hingga menghujani dengan hadiah dan ungkapan manis setiap hari. Lama-lama, semakin banyak yang mendukung kami untuk jadian. Dan entah kenapa akhirnya aku menerima dia sebagai pacarku. Kalau kamu mau tahu, Dion adalah pacar pertamaku.” Tawa sumbang keluar dari bibir Shandy.


“Banyak yang mengatakan kami pasangan serasi. Dion si idola sekolah, Dion si kapten basket bersanding dengan Shandy si juara sekolah. Sungguh pasangan yang sangat menggemparkan. Itulah yang mereka lihat. Mereka tidak pernah tahu kalau semua itu hanya kamuflase di depan kamera. Selama 6 bulan pacaran, entah sudah berapa kali aku lihat Dion dekat gadis lain. Awalnya aku berpikir mereka hanya teman biasa dan someday boom! seorang wanita melabrak ku dan mengatakan bila dia dan Dion telah berkencan selama setahun.”


Dirga masih terus mendengarkan cerita Shandy. Ia sama sekali tidak mengeluarkan komentar apapun. Ia hanya merasa Shandy butuh mengungkapkan segalanya. Ia orang baru di dunia gadis itu dan entah kenapa ada perasaan ingin mengenal gadis itu lebih dalam.


“Aku kaget, sangat bahkan. Aku langsung mengajak Dion bertemu tentu saja bersama dengan gadis itu. Awalnya Dion mengelak. Ia mengatakan bila sudah putus lama dengan gadis itu tapi setelah didesak terus oleh gadis itu, akhirnya dia mengaku. Disitu aku tanpa basa-basi langsung memutuskan hubungan. Bahkan hari itu aku tidak menangis sama sekali. Mungkin aku sudah lelah berpura-pura selama 6 bulan. Dan benar saja, tidak lama setelah putus dia langsung menggandeng idola sekolah kita, Nadia.”


Shandy tersenyum kecil setelah selesai bercerita. “Maaf ya jadi cerita yang gak gak. Lupakan saja kalau memang mengganggu. Cuma kisah cinta picisan anak sma. Gak level sama kamu yang udah dewasa.”


Tiba-tiba saja Shandy merasa kepalanya diusap oleh sebuah tangan yang besar. “Tidak ada yang salah dengan bercerita pada orang lain. Dan tidak ada kisah cinta yang menggangu. Semua cinta itu berharga. Dan setiap luka dan sakit yang ditorehkan di perjalanan hidup kamu, akan membuat kamu semakin dewasa dalam menghadapi kejamnya dunia.”

__ADS_1


Shandy tersenyum kecil. “Terima kasih atas sarannya. Tidak kusangka kamu bijaksana juga.”


Dirga mengerutkan dahinya. “Ini pujian atau ejekan maksudnya?”


Shandy mengangkat bahunya acuh. “Terserah yang menerima.” Ia tertawa semakin lebar. 


“Mau es krim?” Tawar Dirga tiba-tiba


Shandy menolehkan kepalanya. “Tiba-tiba banget. Ada angin apa nih?”


“Entahlah. Katanya makanan manis bisa bikin mood lebih baik. Jadi, take it or leave it?”


“Take lah. Demi apa ditolak.” Sahutnya semangat.


“Jadi, mau makan dimana? Atau ada tempat yang mau kamu datangi?”


Setibanya di drive thru mcdonald, ternyata benar perkiraan Shandy. Mungkin karena memang belum jam sibuk sehingga hanya ada 1 mobil di depan mereka. 


Mereka akhirnya memesan mcflurry oreo, chocopie dan kopi untuk Dirga. “Ngajak makan es krim malah beli kopi. Gak bosen apa kopi terus? Sekali kali butuh gula juga itu.”


Dirga tersenyum kecil. “Gak kuat kalau semanis itu. Paling juga cuma teh pake sweetener aja. Memang gak suka manis.”


Shandy hanya mengangguk paham. Ia masih sibuk memakan es krim dan chocopienya bergantian. Es krimnya bahkan kini mengotori bibirnya tanpa ia sadari. 


“Bibir kamu ada es krimnya tuh. “Tegur Dirga yang melihat bekas es krim di bibir atas Shandy.


Shandy mencoba membersihkannya dengan tisu tapi sepertinya masih belum bersih juga hingga tangan Dirga maju untuk membersihkannya. “Makan es krim kayak anak tk, kotor kemana-mana,” ujarnya santai sambil membersihkan bibir Shandy yang terkena es krim.

__ADS_1


Shandy langsung menunjukkan wajahnya yang tiba-tiba saja. Ia merasa wajahnya panas bahkan hingga ke telinga. Dan ia yakin wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus saat ini. Ini pertama kalinya seorang pria. Dan ia bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


“Malu ya? Jadi penasaran dulu pacaran sama Dion udah diapain. Dihapus gitu aja langsung merah,” goda Dirga sambil menyesap kopinya.


Shandy tidak menyahut. Ia masih sibuk meredakan wajahnya yang memerah dan jantungnya yang berdetak tidak karuan. Hingga suara dering ponselnya membuat tubuhnya terlonjak kaget.


“Iya bunda?” Ternyata sang bundalah yang menghubungi.


“Sayang, udah di rumah?”


”Belum bunda. Sebentar lagi sampai.”


“Yaudah kalau gitu. Sampai rumah langsung makan dan istirahat ya. Sampai ketemu nanti malam.” Dan sambungan telefon pun diputuskan.


“Masih mau mampir lagi atau langsung pulang aja?” Tanya Dirga sambil menghabiskan kopinya.


“Pulang aja. Nanti dimarahin bunda kalau main terus,” cicit Shandy yang masih belum berani menatap Dirga.


“Terus itu nanti es krim dimarahin gak kira-kira?”


Shandy menggeleng heboh. “Gak, gak boleh ketahuan bunda pokoknya. Kamu juga diem aja, gak usah ember.” Dirga hanya mengangkat bahu mendengar ancaman Shandy.


20 menit dan mereka tiba di depan rumah Shandy. “Makasih ya udah dianter pulang dan terkhusus udah dijajanin es krim. Dan..”


Shandy mengulas senyum amat manis dan menatap mata Dirga. “Terima kasih udah mau dengar ceritaku. Ini mungkin gak ada hubungannya dengan kamu, tapi makasih udah mau mendengar tanpa memberi nasehat apapun. Hati-hati di jalan.” Shandy segera turun dari mobil dan masuk ke halaman rumahnya.


Dirga menatap punggung gadis hingga menghilang dibalik pintu rumahnya. “Hidup anak sma ternyata rumit juga ya.” Gumamnya sambil menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah Shandy.

__ADS_1


__ADS_2