
Hari sudah menjang malam ketika papa dan bunda pulang dari acara mereka. Shandy sendiri sedang menikmati camilannya di depan tv ketika suara mobil papa terdengar memasuki garasi.
Bunda yang telah memasuki rumah duluan mendapati Shandy yang asyik menonton tv sambil memakan jajanannya.
"Sayang, itu di meja bingkisan dari siapa?" tanya bunda begitu melihat sebuah bungkusan rapi yang terdapat di meja di hadapan Shandy.
"Ooh ini? Tadi siang Dirga kesini nganter ini. Katanya dari tante Diah yang baru pulang dari luar negeri gitu deh," sahut Shandy tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tv.
"Isinya apa sayang? Udah kamu buka?"
"Udah bun. Isinya makanan sama ada beberapa souvenir,"
"Oh yaudah kalo gitu. Bunda mau ganti baju dulu sekalian telfon tante Diah bilang makasih," ujar bunda sambil berlalu meninggalkan Shandy.
Shandy kembali asyik menonton hingga panggilan bunda yang mengajaknya makan menghentikan aktifitasnya. Ia bergegas menuju ruang makan dan makan malam bersama keluarganya.
"Papa tau gak, tante Diah ngasih oleh-oleh lho pa buat kita. Dari Swiss sih kelihatannya," ujar bunda di tengah makan malam mereka.
"Oh ya? Kapan ngasihnya? Perasaan semalam gak ada tuh?" tanya papa balik.
"Tadi siang, yang nganter Dirga. Eh iya, Dirganya kamu suruh masuk dulu gak?" tanya bunda pada Shandy yang fokus makan.
Shandy langsung tersedak begitu ia ditanyai oleh sang bunda.
'Mampus, kalo bilang gak diajak masuk kayaknya bakalan langsung kena marah nih. Bikin alasan apa ya?' batin Shandy panik.
"Shandy? Sayang? Gak kamu ajak masuk ya?" tanya bunda lagi.
"Hehehe, gak bun. Lagipula tadi Shandy lagi sendiri. Bi Ijah lagi ke supermarket. Kan bahaya kalo berduaan di dalem rumah," ujar Shandy mencoba membela diri.
"Ya ampun, kamu ini. Kalo gak di dalem rumah kan bisa ngobrol di teras. Ih, abis ini bunda telfon tante Diah deh buat minta maaf. Kasihan kan Dirga udah jauh-jauh kesini malah langsung disuruh pulang," ujar bunda yang hanya dijawab cengiran tanpa dosa oleh Shandy.
"Udahlah bun, nanti telfon aja. Bilang aja maaf gak diajak masuk tadi. Udah ayo lanjut makan lagi," lerai papa yang melihat perdebatan kedua wanita di hadapannya.
Selesai makan malam, Shandy memilih untuk masuk kamarnya daripada terkena omelan sang bunda lagi. Ia berencana menelfon Monik atau Dara untuk diajak mengobrol. Dan keputusannya berakhir pada Dara.
"Selamat malam wahai sahabatku yang kurindukan," ujar suara di seberang begitu telfon Shandy diangkat.
__ADS_1
"Pliss ya, lebay banget kamu,"
"Ya emang kamu gak rindu apa sama aku?"
"Dar, kita baru libur beberapa hari. Belum lah rindunya. Minggu depan mungkin,"
"Shandy jahat ih. Yaudah, ada apa nih nelfon? Mau minta gosip apa?"
"Gak gosip juga sayangku. Cuma butuh temen ngobrol aja,"
"Tumben, biasanya ngobrol sama bunda kalo lagi libur,"
Shandy menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur sebelum menjawab pertanyaan Dara.
"Bunda lagi asyik telfon sama temennya. Gak bisa diajak ngobrol,"
"Ooh gitu. Terus, mau ngobrolin apa?"
"Apa aja boleh. Kamu liburan di rumah aja?"
"Gak deh. Gak bolehpun sama bunda. Masih kecil kalo kata bunda,"
"Hahaha, kamu emang masih kecil sih. Ntar nangis lagi kalo malem gak ada yang puk-puk bokongnya sebelum tidur,"
"Enak aja, dikira bayi apa. Ngomong-ngomong ke Lombok sama siapa?"
"Sama pacar aku dan temen-temennya. Kebetulan dia lagi libur kuliahnya, jadinya kita liburan deh,"
"Boleh sama bunda kamu? Masih pacaran udah liburan bareng gitu?"
"Hello, ini 2021 ya. Kamu jangan kolot amat gitu lah,"
Shandy tiba-tiba mendengar ketukan pada pintu kamarnya yang kemudian bi Ijah masuk dan memberitahunya bila ia dipanggil sang bunda.
Shandy hanya mengangguk sambil menunjuk ponsel yang sedang ia pegang di tangannya dan mengatakan bila ia akan segera turun.
"Yaudah deh kalo gitu. Have fun ya,"
__ADS_1
"Iya, makasih sayangku. Kamu juga have fun ya,"
"Iya. Eh, aku tutup dulu ya. Bunda manggil nih. Bye,"
"Iya, bye," dan Shandy segera menutup telfonnya dan keluar dari kamar menuju ruang tv. Telah ada papa dan bunda yang sedang duduk bersama.
"Ada apa bun manggil Shandy?" tanya Shandy begitu ia duduk di hadapan orang tuanya.
"Sayang, tadi bunda kan telfon-telfonan sama tante Diah. Terus, besok itu tante Diah mau minta tolong sama kamu buat temenin Dirga nyari kado buat papanya. Papanya Dirga mau ulang tahun minggu depan dan tante Diah lagi gak ada waktu. Kamu mau kan?" tanya sang bunda yang langsung mendapat tatapan tidak setuku dari Shandy.
"Kenapa Shandy bun? Kenapa gak nunggu tante Diah longgar aja?" protes Shandy.
"Sayang, kalo tante Diah yang nyari takutnya om Ian tahu kalo mau dikasih kado. Kamu mau ya?"
"Hah, yaudah deh gak pa pa. Tapi gak lama kan? Shandy kan juga mau ke butik bunda," rengek Shandy.
"Gak akan. Besok jam 11 kata tante Diah. Sorenya juga kamu udah bisa ke butik. Yaudah, kalo gitu bunda hubungi tante Diah dulu," ujar bunda semangat segera menghubungi tante Diah.
Shandy sendiri hanya merebahkan kepalanya di sandaran kursi sambil menghela nafas berat. Sepertinya kedua orang mereka serius mau menjodohkan dirinya dan Dirga.
'Hah, susah juga kalo jadi anak tunggal gini. Mau gak mau jadi harus mau deh,' batin Shandy.
"Eh, bun mau tanya deh. Dirga punya kakak atau adek gak sih? Kemarin pas kesini cuma dia ya? Anak tunggal juga kayak Shandy?" tanya Shandy tiba-tiba.
"Gak, Dirga punya kakak kok. Tapi lagi di luar negeri. Kerja kata tante Diah. Udah lama juga di luar negeri. Katanya dulu Dirga ngotot sekolah di luar negeri juga gara-gara kakaknya itu," ujar bunda sambil mengingat-ingat cerita tante Diah.
"Ooh, gitu,"
"Eh, bentar. Kok bunda baru sadar ya. Kamu manggil Dirga gak pake kak? Dia 8 tahun lebih tua lho dari kamu. Panggil kak dong sayang," tegur bunda yang langsung dibalas cengiran lebar oleh Shandy.
"Kebiasaan bun. Dari awal kan manggilnya gak pake kak. Eh, keterusan deh. Udah, gak pa pa ya. Toh Dirga juga gak protes kok,"
"Tapi gak bisa gitu dong sayang. Panggil kak ya mulai sekarang," bujuk bunda yang masih tidak mau kalah.
"Iya deh iya. Kak Dirga," sahut Shandy malas.
'Panggil kak nya di depan bunda aja. Dibelakang mah, beuh. Mana enak panggil kak. Panggil Dirga aja udah paling pas,' batin Shandy cengengesan sendiri.
__ADS_1