
Shandy sudah akan tertidur ketika ponselnya berbunyi kencang meminta atensi darinya. Segera diraihnya ponsel yang berada di nakas disamping tempat tidurnya. Tanpa melihat siapa yang menelepon, langsung saja digesernya tombol terima.
“Ya, halo,” sapanya setelah teleponnya tersambung. Ia bahkan tidak membuka matanya.
Tidak ada suara balasan di seberang telepon. Shandy mengerutkan dahinya. Segera dijauhkan ponsel dari telinganya dan melihat siapa kiranya yang mengganggu acara tidurnya untuk sesuatu yang tidak penting.
Begitu melihat siapa yang menelepon, Shandy kembali menempelkan ponsel ke telinganya.
“Mau bicara apa cuma diam saja? Kalau cuma diam saja, teleponnya akan aku matikan.”
Suara diseberang cepat menyela. “Sebentar, aku cuma mau bicara sebentar.”
“Silahkan. Sebaiknya benar cepat karena aku sudah sangat mengantuk.” Balas Shandy. Ia bahkan menekankan kata cepat karena ia tidak berbohong. Matanya sudah sangat panas karena mengantuk.
Terdengar helaan nafas halus di seberang sebelum si penelepon mulai berbicara. “Sebelumnya maaf karena menelpon semalam ini. Aku cuma mau tanya soal tadi pagi. Kemarin kamu bilang mau berangkat dengan Dara, tapi kenapa tadi pagi jadinya sama tante Liliana? Kamu sengaja menghindari aku?”
Ya, Dirga lah si penelpon yang mengganggu acara tidur Shandy. Dengan pertanyaan yang sangat tidak penting, atau itulah yang dipikirkan Shandy.
“Dan apa hubungannya dengan kamu aku berangkat dengan siapa? Mau dengan bunda ataupun Dara, aku rasa itu bukan urusan kamu.”
“Bukan begitu maksudnya.” Suara Dirga terdengar lelah di seberang telepon. “Aku merasa kamu menghindar semenjak Alea masuk ke sekolah. Atau bahkan sebelum itu?”
Shandy tertawa sinis. “Wah, aku tidak tahu kalau kamu peduli dengan hal-hal seperti itu. Dan asal kamu tahu tuan yang terlalu percaya diri, aku rasa sejak pertemuan pertama kita memang sudah sangat tidak akur. Dan hal seperti ini rasanya wajar.”
Shandy melanjutkan kalimatnya. “Dan kalau kamu tanya kemarin kenapa aku mau diajak beli kado ataupun pulang pergi bersama, aku tekankan sekali lagi. Ini semua cuma karena bunda. Kalau sudah tidak ada yang mau dikatakan lagi, teleponnya aku tutup.” Tanpa menunggu jawaban di seberang, telepon langsung diputuskan secara sepihak oleh Shandy.
Ponselnya ia lemparkan ke sebelahnya. Langsung selimut ia tarik hingga menutupi kepalanya. Mau tidur juga masih aja ada gangguan, dumalnya dalam hati.
Pagi telah tiba dan Shandy sedang sarapan bersama bunda. Ayah masih sibuk di ruang kerjanya dan memutuskan untuk sarapan sendiri di ruang kerjanya.
“Bunda, Shandy boleh belajar mengemudi gak? Biar gak merepotkan siapapun.”
Bunda mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Shandy. “Kan bunda sama ayah masih bisa antar jemput kamu. Dara sama Monik juga masih siap buat diajakin bareng. Bahkan sekarang tambah Dirga lagi supirnya.”
__ADS_1
Shandy memasang tampang sebal. “Itu dia masalahnya. Shandy jadinya merepotkan semua orang. Padahal kan kalau Shandy bisa mengemudi, kan bisa kemana-mana sendiri. Boleh ya bunda?” Rengek Shandy yang masih belum menyerah.
“Tanya ayah deh. Kalau ayah boleh, bunda iya deh.”
Shandy tersenyum lebar. “Beneran ya? Tapi bunda juga gak boleh mempengaruhi ayah buat bilang gak. Pokoknya harus netral.”
Bunda mengangguk malas. Shandy memang begitu. Kalau sudah ada keinginan, tidak bisa dihalangi.
“Tapi ada satu syarat dari bunda.”
Shandy mengangkat alisnya. “Apa bun?”
Bunda tersenyum misterius. “Kalau ayah setuju kamu belajar, yang ngajarin harus Dirga.”
Shandy hampir saja menyemburkan susu yang sedang diminumnya jika saja ia tidak memiliki kontrol yang baik. “Kenapa Dirga sih? Kan kursus mengemudi banyak bunda. Kalau gak begitu, kan bisa diajarin Dara atau Monik.” Protes Shandy.
Belajar mobil mau menghindari Dirga malah suruh belajar sama orangnya. Lelucon macam apa ini, batin Shandy kesal.
“Dirga juga cowok ya kalau bunda lupa,” gumam Shandy sambil memutar bola matanya.
“Tapi kan kita sudah kenal keluarganya juga. Kalau nanti dia nakal, bunda tinggal bilang ke tante Diah dan masalah selesai.”
Shandy menghembuskan nafas kasar. “Terserah bunda deh.” Ujarnya malas.
Shandy sudah akan pergi ketika suara bunda kembali terdengar. “Oh ya, hari ini kamu berangkat sama Dirga ya. Bunda harus ke butik pagi dan ayah juga masih sibuk. Bunda udah telepon Dirga kok. Mungkin sebentar lagi datang.”
Dan benar saja, tidak lama kemudian terdengarlah suara mobil yang berhenti di depan rumah mereka.
“Bunda kenapa gak bilang ke Shandy? Tahu begitu tadi Shandy berangkat sama Monik atau Dara.”
Bunda hanya tersenyum simpul. “Bunda juga lupa sayang. Baru aja ingat. Udah sana berangkat, keburu telat lho.”
“Gak mau bunda. Shandy naik taksi aja ya,” rengek Shandy yang masih belum terima dengan keputusan sepihak bunda.
__ADS_1
“Sayang jangan begitu dong. Kasihan Dirga itu sudah sampai disini kamu malah naik taksi.” Bujuk bunda.
Shandy tidak membalas kalimat bunda. Ia bergegas meraih tasnya dan berjalan keluar dari rumahnya. Mobil Dirga sudah terparkir rapi begitu ia keluar dari pintu rumahnya.
Shandy masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apapun. Ia bahkan tidak menatap Dirga maupun menyapanya.
Dirga juga sepertinya belum mau cari masalah sepagi ini. Begitu ia lihat Shandy sudah duduk dengan baik dan sabuk pengaman sudah terpasang, segera dijalankan mobilnya.
Sepanjang jalan pun begitu. Keduanya diselimuti oleh keheningan yang sangat tidak menyenangkan. Dirga beberapa kali mencoba mengajak Shandy bicara yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Shandy.
Akhirnya ia memutuskan untuk ikut diam hingga mereka tiba di sekolah. Seolah menguji Shandy, Dirga tidak menghentikan mobilnya sebelum sekolah. Ia terus menjalankan mobilnya hingga masuk ke parkiran sekolah. Dan ia tidak mendengar kalimat protes sama sekali dari Shandy.
Begitu mobil benar berhenti, Shandy langsung melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Dan sesuai tebakan, semua mata langsung tertuju padanya. Tapi ia tidak peduli. Ia hanya mau segera menjauh dari Dirga.
Begitu tiba di kelasnya, sudah ada Dara dan Monik yang terlihat sedang berbincang seru. Segera dihampirinya kedua sahabatnya itu.
“Pagi Shandy. Tadi diantar ayah apa bunda?”
Shandy memilih tidak menjawab pertanyaan Monik. Ia segera mengeluarkan buku pelajaran dan mulai mereview materi yang akan diterimanya hari ini.
“Shandy, tadi kamu berangkat sama pak Dirga? Ketemu dimana?”
Pertanyaan Dara membuatnya langsung menatap gadis itu. “Kamu tahu darimana?”
Dara menunjukkan ponselnya dan terdapat halaman chat antara Dara dan beberapa temannya. Disitu juga terlihat Shandy yang baru turun dari mobil Dirga.
“Tadi gak sengaja ketemu di jalan. Aku berangkat naik taksi dan mobilnya mogok. Kebetulan pak Dirga lewat dan aku diajakin berangkat sama-sama.” Jawab Shandy lugas.
Semoga mereka percaya sama omonganku, batin Shandy.
Dara mengangguk paham. “Oh begitu. Yaudah biar aku sampaikan ke teman-teman biar gosipnya gak tambah parah,”sahut Dara sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
Semoga gosipnya berhenti sampai disini. Semoga.
__ADS_1